DestinaRE ~ The Path I Followed

DestinaRE ~ The Path I Followed
Chapter 4. Tugas Pertama



Tidak. Kenapa jadi seperti ini.


Rasanya tidak lagi ada kata-kata yang bisa keluar dari mulutku. Para prajurit ini, tanpa babibu mereka memakaikanku zirah dan memberikan pedang padaku. Bukan hanya itu, mereka menggotongku menaiki mobil dan langsung menyeretku ke medan perang. Sebenarnya sama sekali tidak tepat disebut 'menyeret', tapi mau bagaimana lagi.


Perjalanan ini sama sekali tidak ringan. Mobil ini dibawa melewati jalanan berbatu yang mereka akui banyak ranjau terpasang di sini. Sungguhan deh, kenapa ini harus terjadi padaku?!


"Ada apa, Tuan?" tanya Venn, pelayanku. Sepertinya dia menyadari perubahan raut wajahku yang pucat pasi.


Aku menggeleng. Aneh sekali dipanggil dengan sebutan 'Tuan' seperti ini. Melihat seisi mobil, sepertinya hanya aku yang merasa pusing dan mabuk darat berkat jalan yang dilalui. Kucoba alihkan perhatian karena tidak ingin berlarut-larut dalam rasa mual yang berputar-putar dalam perut.


Entah kenapa Pasukan Elite dan kursi-kursi di ruang pertemuan tadi menarik perhatianku kembali. Ada lima kursi yang berjajar di samping kursi Ketua, tapi hanya tiga yang terisi. Aku belum sempat menanyakan ini pada Venn karena situasinya tadi tidak memungkinkan. Tapi sekarang mungkin bisa, kan?


"Venn, apa aku bisa bertanya sesuatu?" tanyaku.


"Iya Tuan, ada apa?"


"Apa kau tahu tentang Pasukan Elite?" Pertanyaan macam apa ini, tentu dia pasti tahu jawabannya.


Seperti dugaanku, Venn mengangguk. "Apa yang ingin Tuan tahu tentang mereka?"


Uh, rasanya benar-benar tidak nyaman dipanggil seperti itu.


"Ada berapa jumlah mereka?" tanyaku lagi.


"Pasukan Elite punya 5 anggota."


"Hanya 5?"


Venn mengangguk.


"Apa kursi di samping kursi Ketua adalah kursi milik mereka? Kenapa mereka punya tempat duduk spesial seperti itu?" tanyaku lagi. Venn mungkin merasa aku seperti anak kecil yang penasaran.


Aku kagum dengan kesabarannya. Dia menjawab pertanyaanku dengan begitu detil. Mulai tentang kursi yang memang disediakan untuk mereka. Hak-hak istimewa yang membuat mereka kebal aturan. Posisi mereka yang setara dengan Ketua, walau tidak punya otoritas mengatur organisasi. Hingga fungsi mereka yang sebenarnya sebagai dinding pertahanan terakhir atau untuk melawan monster yang ukurannya lebih dari lima meter. Aku mendengarnya menjelaskan sampai kami akhirnya tiba di medan perang.


Kondisinya benar-benar kacau. Ini tidak seperti perang melawan sesama manusia yang berakal. Lawan mereka bukanlah makhluk berakal yang paham dengan rasa kemanusiaan apalagi aturan perang. Baru pertama kali aku melihat begitu banyak korban berserakan akibat perang. Banyak sekali masyarakat sipil dan prajurit yang bersembunyi dengan kondisi cedera parah bahkan kehilangan anggota tubuh. Pemandangan seperti ini pasti bukanlah yang pertama kali untuk mereka di dunia ini bukan?


Melihat hal seperti ini langsung di depan mataku membuatku yakin betapa putus asanya mereka hingga menantikan sosok 'Yang Terpilih'.


"Mulai dari sini Kelas S akan mengambil alih!" ucap komandan pasukan kelas S. Mereka para prajurit kelas A langsung mundur. Para petugas medis membawa mereka yang masih hidup untuk diselamatkan. Sementara para prajurit kelas S langsung mengambil alih medan tempur.


Awalnya kupikir monster yang dihadapi hanya seperti yang dilaporkan. Setelah kulihat dengan mata kepalaku sendiri ternyata ada cukup banyak monster yang lebih kecil dari dua meter dan berwujud seperti hewan-hewan dari kisah mitologi. Monster berwujud mirip manusia pun ada yang setinggi manusia normal.


Semua orang sudah ada pada posisi masing-masing untuk melawan para monster.


Terkecuali aku. Meski mereka menempatkanku di sebelah komandan sekalipun, aku tidak mungkin bisa melakukan hal yang sama seperti mereka. Monster-monster ini sama sekali berbeda dengan manusia berhati iblis sekalipun.


Aku tidak mungkin lari sekarang. Walau tidak mau aku, hanya perlu bertahan sampai perang kali ini selesai lalu menyelesaikan kesalahpahaman yang terjadi.


Begitulah yang kupikirkan awalnya.


Bertahan dari monster-monster ini tidak semudah yang kubayangkan. Untuk mengayunkan pedang secara tepat mengenai monster yang ukurannya hanya sebesar diriku sulit kulakukan. Bahkan hanya ujung pedang ini saja sama sekali tidak bisa mengenai kulit monster di hadapanku. Benar-benar tidak seperti orang yang ter-isekai sebagai sosok 'Yang Terpilih'.


Berbeda denganku yang kesulitan, dalam satu kali kibasan tangan monster itu berhasil membuat genggamanku terhadap pedangku terlepas. Pedangku terlempar jauh. Mau tidak mau harus kuhadapi dia dengan tangan kosong.


Kupasang kuda-kuda terbaikku walau tidak tahu akan seperti apa hasilnya. Sebenarnya pertarungan tangan kosong sudah menjadi hal biasa untukku, mengingat hari-hari yang kujalani dulu. Kuarahkan tinjuku sekeras mungkin di ulu hatinya.


Kulit monster ini ternyata cukup tebal dan keras. Satu pukulanku berhasil mendarat di ulu hatinya, yang aku yakin sama sekali tidak berefek padanya. Jika melihat yang lain, mereka mungkin sudah menghabisi puluhan monster kecil seperti ini dalam sekali tebas. Ya, setidaknya kali ini bukan hanya monster ini yang menyerangku.


***


Tangan Laura meraih salah satu buku yang terpampang di rak bertuliskan Old Archive di sebuah perpustakaan. Buku tersebut tampak usang dan berdebu seolah tidak pernah disentuh sama sekali. Buku tersebut disampul hardcover berwarna merah dengan tulisan 'Misteri Darah Dewa'. Begitu dibuka, aroma khas buku tua langsung menyerbu indra penciumannya. Begitu pun ketika jemarinya menyingkap lembaran demi lembaran kertas yang sudah kuning dipenuhi jamur.


Seorang laki-laki yang lebih pendek darinya datang menghampiri dan berdiri di sampingnya. Wajahnya didekatkan pada lembaran buku yang tengah Laura baca. "Masih membaca buku ini?"


"Bukan urusanmu!"


Bibir laki-laki itu ditekuk manyun, tampak tidak senang dengan jawaban yang Laura berikan. Dia ikut menyandarkan punggungnya di tembok. Matanya menatap lurus pada deratan meja dan kursi perpustakaan yang kosong.


Ngiiing


Dengung sebuah suara tiba-tiba terdengar di telinga Laura. Dengungnya terdengar begitu memekakkan telinga, rasanya gendang telinganya seperti mau pecah. Laki-laki di sebelahnya itu tampaknya tidak menyadarinya.


Dengungnya semakin keras seiring waktu hingga kepalanya terasa sakit. Dadanya pun sesak seakan dengung itu menutup kerongkongannya. Dengan sedikit bersusah payah, Laura memfokuskan dirinya.


"Seseorang, tolong Kak Naito!!!" Suara seorang perempuan tertangkap telinganya saat fokusnya kembali. Suaranya terdengar begitu jauh.


"Aku penasaran, sampai kapan kau akan menutup matamu seperti itu," ucapnya kemudian menoleh menatap wajah samping Laura. Matanya fokus pada kain hitam penutup mata Laura yang tidak pernah dilepas.


Laura terdiam dengan fokusnya yang kembali buyar. Samar-samar, laki-laki itu merasakan perubahan suasana hati Laura. Diamnya cukup lama sampai tiba-tiba dia menutup buku tebal itu dengan keras. Laki-laki itu yakin dia telah menyentil hal sensitif Laura dengan kalimatnya. Sejak lama semua orang pun tahu, membicarakan hal itu dengan Laura adalah kesalahan.


"Bicara padaku kembali setelah kau bisa melampauiku," ucapnya. Laura mengembalikan buku merah itu pada tempatnya. Tangannya langsung meraih jaket hitam miliknya yang ia sampirkan di kursi. Cepat-cepat dia memakainya yang berlalu pergi meninggalkan pria itu terdiam seorang diri.


***


Aku duduk terdiam menatap lurus pada tanah. Suara-suara di kepalaku terus merutuki betapa payahnya diri ini. Ingatan pertarungan tadi diputar ulang di dalam kepala, membuatku semakin tidak enak hati dengan orang-orang di dalam tenda.


Tadi, saat aku akhirnya berhasil membuat monster itu jatuh, aku bergegas mengambil pedangku yang terlempar. Bodohnya aku, tidak kuperhatikan saat itu kaki monster setinggi tiga meter berada di atas kepalaku. Venn yang melihat hal itu langsung berlari ke arahku dan melukai kaki si monster dengan pedangnya. Karena hal itu, sekarang lengan kanannya cedera.


Andai saja aku tidak gegabah.


Tanpa sepengetahuanku seorang botak kekar yang berbeda dari semalam sudah berada di hadapanku. Aku akan menyebutnya 'Botak Kekar II'. Dia adalah salah seorang anggota prajurit kelas S. Bisa kulihat sorot matanya menatap tajam ke arahku, seakan mengisyaratkan kekesalannya.


"Apa kau benar-benar 'Yang Terpilih'? Rasa-rasanya kau terlalu payah untuk itu!"


Jleb.


Kata-kata yang meluncur begitu saja dari mulut Botak Kekar II seakan masuk begitu saja ke relung hati terdalamku. Begitu tajam karena aku sama sekali tidak bisa menyangkalnya. Karena diriku Venn terluka. Bahkan mengalahkan satu monster pun tidak bisa.


Setidaknya setelah ini mereka akan percaya kan kalau aku bukan 'Yang Terpilih'?


"Jaga bicaramu!"


Aku menoleh melihat Venn yang baru selesai diobati berjalan ke arah Botak Kekar II. Ekspresi wajahnya tampak begitu geram seakan dialah yang dihina.


"Kenapa kau? Tidak terima?! Jangankan Pasukan Elite, dibandingkan dengan prajurit kelas S saja belum tentu dia bisa lebih kuat! Apa bedanya dia dengan 'Darah Dewa' kalau begini?!" Suara Botak kekar II terdengar meninggi. Sorot matanya berapi-api menatap Venn yang membelaku.


"Tuan Naito hanya belum bisa beradaptasi!" sanggah Venn.


"Sebegitu putus asanya kah kalian sampai berharap pada pria payah sepertinya?!"


"Kau—"


"Venn!" potongku sebelum perdebatan mereka berlanjut lebih panjang. Sesak dadaku mendengar Venn membelaku seperti itu. Mata kami bertemu pandang saat Venn menoleh ke arahku. Aku tidak tahu kenapa matanya seakan memancarkan penyesalan atas kata-kata Botak Kekar II.


Aku terdiam cukup lama. Meski aku memanggilnya, aku tidak tahu apa yang ingin aku katakan. Aku tidak ingin dia merasakan sesal, karena yang seharusnya menyesal adalah diriku. Sungguh, aku tidak nyaman dengan sorot mata menyesalnya. Juga dengan harapan manusia di dunia ini yang menganggapku 'Yang Terpilih'.


Harapan mereka benar-benar membuatku sesak.


Aku ingin segera pulang.