DestinaRE ~ The Path I Followed

DestinaRE ~ The Path I Followed
Chapter 2. Sebelum Waktunya



"Naito, Naito!"


Aku menoleh, mengalihkan mataku dari layar televisi yang mempertontonkan anime action. "Ada apa?" tanyaku pada seorang teman yang duduk di sebelahku. Namanya Suiryuu. Meski dia memanggilku, matanya masih asik memandang layar televisi.


"Bagaimana kalau kau ter-isekai ke dunia lain? Isekai seperti apa yang kau mau?"


Aku terdiam. Kuakui, Suiryuu orangnya sangat random. Pertanyaan seperti ini seharusnya sudah biasa kudengar dari mulutnya.


"Kalau aku mau masuk isekai ke tempat di mana aku bisa harem. Ahaha! Pasti seru punya haremku sendiri!" sambungnya.


Aku hanya bisa diam mengelus dada melihat tingkahnya yang seperti itu. Seusai mengutarakan keinginannya 'masuk isekai', dia mulai membicarakan harem yang ingin dimilikinya. Ditambah lagi dia dengan senang hati mengutarakan imajinasi liar pikirannya tentang wanita. Dia ini benar-benar.


Tapi itu lebih baik daripada dia yang seperti ini. Dia yang tiba-tiba diam dengan aura aneh mengelilinginya. "Tapi bagaimana kalau kau masuk isekai ke dunia yang dipenuhi peperangan?" tanyanya tanpa tawa sedikit pun.


"Mana ada yang begitu! Kau ini terlalu banyak menonton anime!" ucapku. Ya mana mungkin kan ada yang seperti itu.


Aura di sekitarnya tiba-tiba kembali berubah ceria seperti sebelumnya. Sudah tidak ada lagi aura aneh yang mengelilingi kami. "Ahaha, jahat sekali kau! Kau menghancurkan impianku punya harem!" ucapnya. Terkadang aku heran, bagaimana seseorang bisa mengubah suasana dirinya semudah itu.


"Onii-chan, bisa tolong bantu aku kerjakan ini?" Nayu tiba-tiba datang di sebelahku. Dia menyodorkan buku tugas matematikanya padaku. Wajahnya benar-benar terlihat putus asa tiap kali memandangi angka dan huruf yang ada di lembaran buku.


"Aku pergi dulu yaa~" Suiryuu berjalan pergi begitu saja meninggalkanku saat Nayu datang. Aku tahu, dia pasti tidak ingin dimintai tolong.


Omong-omong, Nayu adik perempuanku. Dia benar-benar manis, usianya 8 tahun di bawahku dan ini tahun pertamanya di SMA. Dari sini kalian sudah tahu umurku, kan?


Dengan senang hati aku menerimanya. Jujur saja ini cukup rumit bagiku karena aku juga tidak begitu menyukai mata ajar hitung-hitungan seperti ini. Setidaknya dengan kemampuan matematikaku yang ala kadarnya, adikku itu mengerti. Rasanya waktu begitu cepat berlalu. Aku ingat dulu Nayu masih begitu kecil dan ada di gendonganku.


Aaa, Nayu-ku benar-benar manis, batinku sambil mencubit pelan pipi Nayu. Bisa dilihat wajahnya kesal karena terus kuperlakukan seperti anak kecil yang menggemaskan. Tapi apa daya, dia memang se-kawaii itu. Lama-lama aku terlihat seperti seorang ayah ketimbang kakak laki-lakinya, haha.


Tidak-tidak, aku tidak ingin menjadi seperti ayahnya.


Melihat Nayu-ku yang bersemangat membuatku berpikir ingin terus menemaninya seumur hidupku. Aku ingin melihatnya tumbuh sampai dia dewasa. Ibu pasti akan sangat bahagia melihat putrinya tumbuh sangat cantik. Setelah itu Nayu akan bertemu dengan pangerannya. Tentu tidak sembarangan, mana mungkin kubiarkan laki-laki jahat mendekati adikku.


"Naito, jangan lupa, hari ini jadwal kita belanja bulanan!" Suara nyaring seorang wanita memanggilku dari lantai satu.


Aku berpamitan sejenak pada Nayu sebelum aku turun ke lantai satu. Oh ya tentang wanita yang memanggilku tadi, namanya Lily Takahashi si anak bebek. Aku tidak tahu kenapa dia dijuluki begitu. Mungkin karena badannya yang mungil. Tinggi badannya 150 cm, lima senti lebih pendek dari Nayu. Kalau saja kami tidak saling kenal, aku akan berpikir dia seusia Nayu ketimbang diriku.


Kami tinggal di sebuah indekos. Tidak, kurang tepat rasanya jika disebut indekos. Rumah besar yang kutempati ini milik seorang wanita terkaya di Jepang. Dia sengaja membeli rumah besar ini untuk ditempati anak-anak seuisaku dan tidak membiarkan kami membayar. Dia bahkan memberikan biaya hidup dan biaya pendidikan pada kami yang tinggal di sini. Saat ini ada sekitar 25 anak yang tinggal di sini, termasuk aku, Suiryuu, Nayu, dan Lily.


"Ayoo!" Lily tampak begitu bersemangat. Dia benar-benar terlihat mungil dengan hoodie kuning oversize yang dikenakannya saat ini.


Lily berjalan di depanku dan aku mengekor di belakangnya seperti bebek. Kami berjalan bersama menuju supermarket. Jarak dari rumah ke supermarket tidak begitu jauh, karena itu kami hanya berjalan kaki.


Andai saja saat itu aku tidak ke supermarket.


Aku mulai tenang saat angin mulai mereda. Saat itu aku masih belum menyadari kalau sekelilingku sudah berubah drastis. Aku sudah tidak lagi berdiri di Jepang, tapi di negeri aneh yang isinya pun tidak bisa dipercaya akal sehat. Yang muncul di hadapanku bukan Lily, tapi wanita berambut kuning yang sampai sekarang kuketahui namanya Laura dan seorang laki-laki yang tidak kuketahui namanya.


"A... anu... aku bukan 'Yang Terpilih' seperti yang kaubilang." Sambil berjalan aku mencoba meyakinkan laki-laki yang tidak kuketahui namanya itu kalau aku bukan seperti yang ada di pikirannya. Aku tidak mengerti bagaimana aku yang hanya pria biasa masuk isekai di tempat penuh perang seperti ini.


Aku jadi teringat kata-kata Suiryuu. Ah, lupakan saja. Tidak mungkin kan ucapannya jadi nyata.


"Ahaha, kau pasti bingung ya. Tapi tidak apa-apa karena kau 'Yang Terpilih'." Uh, ucapannya ini benar-benar keras kepala.


"Sungguhan, aku tidak punya kekuatan apa-apa," bantahku jujur. Normalnya dalam cerita isekai dengan pola 'Yang Terpilih' pasti aku akan punya semacam skill khusus bukan. Tapi aku tidak punya yang semacam itu.


"Ayolah, jangan merendah! Kita sekarang akan menemui Ketua. Nanti kau ceritakan semuanya pada Ketua, ya!" Dia menghiraukan ucapanku. Dilihat-lihat, ketimbang Laura yang seorang wanita, laki-laki ini lebih banyak bicara.


Setelah sekitar setengah jam kami berjalan, akhirnya kami tiba di depan sebuah gerbang besar. Gerbangnya terkunci rapat dan dinding benteng mengelilingi bagian dalam gerbang. Beberapa penjaga gerbang membukakan pintu gerbang setelah Laura memberi perintah. Aku berjalan di belakang mereka berdua menuju sebuah gedung yang jaraknya sekitar seratus meter dari gerbang. Mataku berkelana memandangi bagian atas tembok yang mengelilingi kawasan ini. Ada begitu banyak meriam dan orang-orang yang bertugas di sana. Melihat musuh yang dihadapi, kurasa itu bukan hal yang berlebihan.


Dilihat-lihat dunia ini tidak jauh berbeda dari tempat asalku. Maksudku dari teknologinya. Di tempat ini punya kendaraan seperti mobil dan kendaraan perang lainnya, walau masih sedikit ketinggalan zaman. Kalau saja aku tidak melihat monster mengerikan seperti tadi aku mungkin berpikir aku ter-isekai ke masa lalu.


Akhirnya kami bisa berjalan masuk ke dalam gedung. Dari kejauhan gedung ini tampak kokoh, tapi jika dilihat dari dekat, gedungnya sepertinya sudah cukup tua. Sepertinya pun sudah pernah terkena serangan monster.


"Tunggu di sini dulu ya. Aku akan menemui Ketua dulu," ucap laki-laki itu meninggalkanku sendiri di ruang tunggu. Lalu Laura, entah dia sudah pergi ke mana. Sejak masuk ke dalam gedung dia menghilang begitu saja.


Aku duduk dengan bosan menunggu laki-laki itu kembali. Aku yang hanya duduk diam sepertinya menarik perhatian orang-orang yang berlalu. Beberapa tatapan penasaran ditujukan kepadaku, tapi tidak seorang pun mengajakku bicara. Mungkin ini karena mereka pertama kali melihatku.


Jujur saja, aku penasaran sejauh apa ruangan Ketua. Sudah cukup lama aku duduk menunggu sampai rasanya bokongku pegal. Aku benar-benar ingin kabur dari sini lalu mencari cara untuk pulang ke duniaku.


Pergi sebentar tidak apa-apa kan? Aku juga tidak akan keluar dari kawasan gedung ini, pikirku. Aku menyeret kakiku pergi. Sesuai yang kupikirkan, aku hanya ingin pergi sebentar menelusuri gedung ini.


Aku keluar lagi dari gedung tua yang kuyakini itu gedung utama di kawasan ini. Kakiku kuseret pergi ke kawasan belakang gedung. Di bawah langit malam, jalan setapak di sana hanya diterangi cahaya dari lampu jalan yang temaram. Ada papan penanda jalan juga. Dari yang kulihat di sana, kawasan belakang merupakan komplek asrama para tentara.


Deg.


Bisa kurasakan seseorang menyorot punggungku dengan senter. Kepalaku menoleh perlahan. Ternyata seseorang botak berbadan kekarlah yang menyorotiku. Badannya besar, dari kejauhan saja bisa kulihat dia lebih tinggi dariku. Mungkin tingginya dua meter, entahlah. Yang jelas akan berbahaya jika dia sampai menganggapku penyusup.


"Malam, Pak," sapaku dengan memasang senyum ramah di wajahku. Ya, aku harus tetap tersenyum agar dia tidak curiga.


Atau... aku malah membuatnya curiga.


"Penyusup!"


"Siala— tidak, tunggu! Jangan—"


Bugh!