
"Argh," aku memekik kesakitan. Seseorang sejak tadi berdiri di belakangku, mengikat kedua tanganku, sekarang menendang kakiku. Membuatku hanya bisa berlutut pasrah di hadapan Ketua yang sorot matanya berapi-api memandangiku. Bukan hanya dia, dua laki-laki Pasukan Elite yang waktu itu kulihat juga ada di sebelahnya, menatapku dengan tatapan jijik.
Aku tidak ingat banyak hal tentang apa yang terjadi kemarin, meski aku tahu hari ini aku akan dieksekusi karena telah membuat seorang prajurit kehilangan nyawa. Yang aku ingat hanya tubuh dingin Venn dipangkuanku, lalu... Laura yang dengan mudah membantai monster setinggi tujuh meter. Lalu, hal aneh mulai menghampiriku. Entah bagaimana, suara Suiryuu terus terdengar di kepalaku, walau sosoknya sama sekali tidak kulihat batang hidungnya. Dia bicara padaku seakan dia ada di dekatku dan mengetahui keadaanku.
Terakhir, aku kehilangan kesadaran, dan di sekitarku tiba-tiba saja dipenuhi warna putih.
Di suatu tempat yang penuh dengan warna putih itu, Suiryuu tiba-tiba saja muncul.
Dia berjalan ke arahku. Senyumnya, bukan, raut wajahnya berbeda. Entah kenapa, rasanya berbeda dengan Suiryuu yang kukenal bodoh. Dia lebih tampak berwibawa, dan jujur saja mengerikan.
Auranya seperti Suiryuu yang 'serius'.
"Suiryuu, itu kau?" tanyaku.
Dia tertawa terbahak-bahak, seakan dia menertawakan jawabanku. Tapi itu tidak lama, setelahnya dia menatap serius ke arahku. "Bukan. Kalau kau sering dengar tentang 'takdir', anggap saja kalau akulah sang 'Takdir'."
Aku mengernyitkan dahi hingga bisa kurasakan dua alisku saling bertaut. Kata-katanya, kenapa bicaranya sangat aneh? Aku tidak mengerti. Dia bicara seperti itu bahkan tidak tampak seperti seseorang yang tengah bercanda.
"Kulihat kau tidak paham, yang jelas aku bukan Suiryuu. Aku adalah 'Takdir'. Di dunia ini ada begitu banyak ruang dan dimensi, ada yang berjalan mulus tapi ada juga yang berada di ambang kehancuran, seperti dunia yang kaudatangi sekarang."
"Lalu?"
"Seluruh yang ada di semesta ini berjalan beriringan. Saat suatu dimensi hancur, akan berpengaruh pada dimensi lainnya. Tentu saja semesta tidak sekejam itu, mereka yang akan saling menyeimbangkan, dan di sana lah tugasku," ujarnya. Dia membentangkan telapak tangannya, dan entah bagaimana caranya, sebuah galaksi melayang-layang di atasnya.
Dia menepuk kedua tangannya dan galaksi itu menghilang. Kemudian dia melanjutkan kalimatnya. "Untuk menjaga keseimbangan itu, aku harus mengirimkan seseorang untuk menolong dunia yang dilanda masalah, dan kau adalah orang yang kukirim. Tapi kemampuanku ini ada batasnya. Saat orang yang kukirim malah merenggut nyawa seseorang dari dunia tujuannya, maka aku tidak bisa mengirim orang lagi dalam beberapa waktu."
Kutarik napasku panjang-panjang lalu membuangnya perlahan. "Setelah kau tahu aku membuat nyawa seseorang melayang, kenapa kau tidak tarik aku kembali?!"
"Ini itu seperti kontrak dengan dunia lain, tahu! Hanya aku yang terkena imbasnya, walau kau melakukan kesalahan, aku tidak bisa menariknya. Kau harus selesaikan dulu kontraknya, baru kau bisa kembali," ucapnya begitu santai. Dia bahkan bisa tertawa ringan saat membicarakan nasibku.
"Maksudmu, aku baru bisa kembali setelah menyelesaikan perang di sini?"
Lagi, dia tersenyum tanpa perasaan bersalah. Katanya, "Benar sekali! Selamat menjalani hari!" Lalu dia berbalik, berjalan meninggalkanku sambil melambai-lambaikan tangan. "Tenang saja, adikmu dan yang lain tidak khawatir. Dengan tubuh temanmu ini aku sudah memberi alasan pada mereka agar tidak khawatir karena kau menghilang."
"Brengsek kau, BAKA (bodoh)!" Pada akhirnya aku tidak bisa menahan diri. Kurasa aku jadi tahu kenapa dia dijuluki 'Baka' selama ini. Aku berlari menghampirinya dengan kepalan tangan yang siap kudaratkan di kepalanya.
Dia melemparkan sesuatu ke arahku, membuat langkahku berhenti mendadak karena menangkap benda itu. Benda itu, sebuah gelang berhiaskan sebuah batu di tengahnya. Batunya memancarkan kilauan indah. Sangat cantik. Tapi untuk apa dia memberiku ini? Ini tidak tampak berguna selain sebagai perhiasan.
"Kurasa itu bisa membantumu di dunia ini. Aku tidak bisa memberimu semacam 'Sistem', tapi kau bisa mencari skill-mu sendiri, dan gelang itu akan membantumu melihat statistik orang lain," jelasnya.
"Tunggu!" Aku menghentikannya. Tubuh 'Takdir' yang hampir menghilang secara ajaib kembali. Kulihat dia menatapku kesal.
"Ada apa?" tanyanya.
"Apa ada orang lain yang ter-isekai ke sini bersamaku? Mungkin... kau juga mengirim... Nayu?" tanyaku hati-hati. Rasanya kemarin saat aku bertarung, aku merasakan keberadaan Nayu walau sebentar.
Dia menggeleng. Katanya, "Tidak." Kemudian dia benar-benar menghilang dari hadapanku.
Saat itu pula aku terbangun. Kupikir awalnya itu mimpi, tapi setelah melihat gelang itu terpasang di pergelangan tanganku, aku yakin dia benar-benar menemuiku. Gelang ini tidak bisa kulepaskan, pasti akan terlihat mencolok di tanganku yang kurus.
Pagi tadi, begitu aku membuka mata, aku sudah dikerumuni oleh para prajurit. Mereka menyeretku dengan paksa ke ruang Ketua yang mirip ruangan persidangan. Rasanya baru kemarin mereka memujaku, menganggapku layaknya 'Dewa Penyelamat' yang akan menarik mereka dari kegelapan. Hari ini aku diperlakukan layaknya pengkhianat, penipu, pembunuh, dan pelaku kejahatan lainnya. Kenapa rasanya takdir seperti tengah bermain-main denganku?
Melihat seorang berpedang yang berdiri di sebelahku, sepertinya orang ini lah yang akan menjadi tukang jagalku. Berkat gelang yang 'Takdir' berikan, bisa kulihat dia adalah seorang prajurit kelas A, dan kemampuan-kemampuan lainnya yang dia punya. Tapi apa gunanya kalau sekarang juga aku akan mati? Dia mengangkat pedangnya tinggi-tinggi, benar-benar siap untuk memisahkan kepala dan tubuhku. Hanya tinggal menunggu perintah Ketua saja, dan nyawaku akan terambil di tempat asing ini. Tidak ada Nayu atau siapa pun yang akan mengunjungi makamku nanti.
"Tuan Naito, katakan kebenarannya. Apa kau adalah 'Yang Terpilih'?"
***
Nayu merebahkan dirinya di atas kasur empuk di kamarnya. Sejak 'mimpi' hari itu, dia terus memikirkan kakaknya. Meski Suiryuu sudah mengatakan padanya kalau Naito ada di luar kota, hatinya tetap tidak tenang.
Dia membalikkan badannya dan tengkurap. Di hadapannya layar laptop sudah menyala, menampilkan laman pencarian. Jemarinya mengetik 'apakah perjalanan dunia lain benar-benar ada?' di laman pencarian. Jujur saja, Nayu bukan seseorang yang suka dengan hal di luar nalar seperti isekai, apalagi sampai percaya.
Tapi yang kemarin itu... terlalu nyata untuk disebut 'mimpi'.
Seperti yang ia duga, tidak mungkin ada hal seperti itu. Dia membuka begitu banyak artikel blog tapi tidak satu pun ada bukti yang menyatakan kalau isekai benar-benar nyata. Nayu juga menonton banyak video tentang isekai, yang pada akhirnya berujung pada penjelasan cerita fiksi.
"Haah, lelahnya...," Nayu menghembuskan napasnya. Dia kembali memutar badannya, sesak karena terlalu lama tengkurap. Kepalanya terus memikirkan kemungkinan isekai, tapi mau dipikir bagaimana pun itu hal di luar nalar yang tidak mungkin terjadi.
Layar ponselnya menyala karena sebuah notifikasi masuk. Notifikasi dari sebuah aplikasi media sosialnya membuat Nayu langsung tertarik membukanya. Entah keberuntungan atau kesialan, notifikasi itu berasal dari seseorang yang memposting utas mengenai isekai.
[Kalian mungkin akan menganggap aku gila, tapi kejadian ini memang benar-benar GILA!]
Nayu menggulir layar ponselnya lagi.
[Isekai benar-benar nyata! Aku mengalaminya kemarin! Aku sedang tertidur, tapi tiba-tiba saja jiwaku tertarik ke tempat lain!]
[Tidak! Itu bukan mimpi! Aku benar-benar pergi ke dunia lain! Aku bahkan membawa sebuah benda dari dunia itu!]
Pada akhirnya Nayu terus menggulir layar ponselnya sampai utas itu habis. Kepercayaannya tentang isekai yang tidak mungkin terjadi, terbantahkan oleh utas itu. Walau banyak orang berkomentar yang menganggap orang itu delusi, halusinasi, bahkan sampai skizofernia.
Kalau yang kemarin itu benar-benar isekai, maka kirim aku ke sana, ke tempat Kak Naito berada! Nayu bermonolog dalam hati sambil memejamkan mata. Dia berusaha sekeras mungkin agar bisa tertidur, tapi tidak bisa.
Saat ia mencoba untuk tidur, perutnya bergemuruh begitu keras. Ketimbang mengantuk, dia lebih merasa lapar saat ini. Dia melirik ke arah jam dinding, jarum jam sudah menunjukkan tengah hari, membuatnya teringat kalau hari ini dia belum sarapan.
Dengan begitu malasnya Nayu beranjak dari kasur. Dia memakai sendal ruangan berbentuk kelinci yang ia letakkan di sebelah kasur, kemudian beranjak dari kamar. Betapa malasnya dia turun ke lantai satu untuk mengambil makanan. Ia tak bisa abai kalau sebenarnya dia lapar, walau nafsu makannya saat ini pun tengah tidak baik.
Sesampainya di dapur, dia membuka kulkas. Dia mengambil sereal dan sekotak susu, sedang tidak tertarik untuk makan makanan berat. Setelah meracik, Nayu membawa semangkuk sereal itu, berniat menuju kamar.
Tes.
Setetes cairan merah jatuh ke dalam mangkuk sereal yang dibawa Nayu. Tetesan itu semakin banyak diiringi dengan kepala Nayu yang terasa sakit. Pandangannya pun terasa seperti menjadi merah.
"Nayu-chan~"
Nayu menoleh perlahan pada Lily yang memanggilnya dari belakang. "Kak Lily?"
Mata Lily terbelalak. Mulutnya ternganga melihat darah yang mengucur keluar dari hidung dan mata Nayu. Setelanya pegangan Nayu terhadap mangkuk serealnya terlepas.
Brak.
"NAYU!!!" Lily refleks mundur selangkah saat melihat Nayu jatuh menubruk lantai. Setelahnya, dia langsung berjongkok, berteriak-teriak meminta tolong pada orang-orang rumah.
***
Aduh.
Mata hijau Nayu berpendar mengamati sekelilingnya yang mendadak berubah. Seingatnya dia tengah berada di dapur mengambil semangkuk sereal, tapi sekarang tangannya sudah kosong. Sekelilingnya berubah menjadi tempat yang suasananya mirip dengan mimpinya hari itu.
Apa aku benar-benar ter-isekai? batinnya. Dia melihat ada begitu banyak orang yang berkerumun di hadapannya. Orang-orang itu tinggi sehingga sulit bagi Nayu yang hanya 153 cm bisa melihat apa yang ada di depan sana.
Nayu meloncat-loncat, berharap bisa melihat alasan orang-orang ini berkerumun di sana. Sampai akhirnya dia menemukan sebuah tempat kosong yang memungkinkan untuk membuatnya bisa maju ke depan. Dia pergi ke sana, berharap bisa mendapatkan posisi depan dan melihat apa yang sedang terjadi..
Apa sih yang terjadi? Nayu membatin. Matanya memerhatikan orang-orang yang seakan tidak merasakan keberadaannya. Seolah-olah Nayu hanyalah sebuah bayangan.
Matanya terbelalak saat mendapati kakaknya, Naito, menjadi pusat perhatian seluruh orang di tempat aneh itu. Kakaknya yang sudah tidak bertemu dengannya selama hampir tiga hari, akhirnya ia menemukannya di sebuah tempat asing dalam situasi yang buruk. Tatapan jijik dan benci, Nayu sadar semua itu diarahkan pada kakaknya yang duduk bersimpuh di hadapan seorang pria yang wibawanya terasa seperti seorang pemimpin. Seseorang di sebelah kakaknya memegang pedang, seakan siap untuk membuat kepala Naito terlepas dari tubuhnya.
Setelahnya, pria yang tampak seperti pemimpin itu membuka mulutnya. "Tuan Naito, apa yang kau lakukan saat Nona Venn melindungimu? Apa kau sama sekali tidak mengangkat pedangmu untuk membantunya?" tanyanya.
Nayu melihat kakaknya yang tertunduk diam tidak berkata apa-apa. Entah kenapa kejadian kemarin jadi terasa sangat nyata hanya dengan melihat kejadian hari ini.
"Tuan Naito, jawab atau aku akan memenggalmu sekarang juga!"
Tidak! Nayu menjerit dalam hatinya. Nayu ingat bagaimana kemarin kakaknya mengangkat pedang untuk membantu seorang wanita yang melindunginya. "Pasti orang berambut biru yang dia maksud kan? Kenapa Kakak tidak menjawab?!" teriaknya.
Naito tidak menoleh. Tidak satu pun orang di ruangan itu yang menoleh pada Nayu, seakan-akan mereka sama sekali tidak merasakan keberadaannya.
Entah apa yang Nayu pikirkan, dia berlari ke sisi Naito. Tangannya hendak meraih pedang yang dipegang oleh seorang di sebelah Naito, tapi ia tidak dapat menyentuhnya. Tangannya menembus pedang itu. Tidak ada satu pun benda di sana yang dapat di sentuh.
Apa-apaan ini?! Nayu membatin. Dia berusaha mengguncangkan tubuh Naito, tapi tetap saja tangannya menembus.
"Tuan Naito, jawab sekarang juga!"
Naito tetap terdiam. Tidak ada kata-kata yang berani keluar dari mulutnya. Dia sudah terlalu takut. Selain itu, batinnya pun masih menyalahkan dirinya sendiri atas kematian Venn. Tentu Nayu tidak tahu itu.
"Kumohon, seseorang tolong kakakku! Kumohon! Kenapa kalian malah bersorak seperti itu?!" Nayu berteriak-teriak seperti tengah orasi, tapi tidak ada orang yang mendengarnya. Seluruh mata fokus pada Naito
"Apa tidak ada seseorang yang mau menolong Kak Naito?! Kumohon, tolong kakakku!"
"Siapa kau?"
Sebuah suara terdengar di dalam kepala Nayu. Dia melihat sekelilingnya, tidak ada yang bicara padanya.
"Kenapa kau meminta tolong untuk Naito?" Suara itu kembali terdengar, kali ini dia menyebut nama Naito seakan orang itu mengenal kakaknya.
"Apa kau kenal Kak Naito? Siapapun kau, kumohon tolong kakakku! Seseorang akan membunuhnya!" pinta Nayu pada orang yang ia tidak tahu wujudnya seperti apa. Yang jelas suara itu terdengar seperti suara seorang perempuan yang usianya dua puluhan awal.
Suara itu berhenti terdengar di kepalanya. Kali ini Nayu benar-benar panik. Dia terus memanggil-manggil perempuan itu, tapi tidak ada jawaban terdengar. Nayu gemetar, dia menggigit ujung jarinya. Nayu yakin, orang itu tidak akan menunggu lebih lama lagi untuk memenggal kepala Naito.
Benar saja, tak sampai satu menit, pria itu langsung menjatuhkan titahnya.
"Tuan Naito, kau ditetapkan sebagai terdakwa atas kematian Nona Venn. Segera tebas dia!"
"Tidak! Jangan!"
Pria di sebelah Naito mengangkat pedangnya tinggi-tinggi, sementara Naito hanya bergeming pasrah. Hidup Nayu rasanya ada di ujung tanduk, dia benar-benar berharap ini semua hanya mimpi, dan kakaknya masih ada di tempat lain yang aman. Dia berharap untuk segera bangun, tapi tidak. Dia hanya berdiri di sana, memandangi sosok di sebelah kakaknya yang tengah memusatkan tenaganya pada pedangnya.
"KAKAKK!!"