
Aku Naito. Mereka menyebutku 'Yang Terpilih'. Kedatanganku di dunia ini membuat mereka yang menantikan kehadiran 'Yang Terpilih' menaruh harapan besar padaku. Tapi setelah pertarungan tadi, mereka tak lagi merasakan harapan itu padaku. Kecewa. Mungkin itu yang mereka rasakan melihat sosok yang telah dinantikan malah hanya menjadi beban.
Hembusan angin di tengah-tengah medan perang menggoyangkan beberapa helai rambutku. Aku berdiri seorang diri. Setelah dibela Venn habis-habisan, aku berlari meninggalkannya di dalam tenda pengungsian. Benar-benar pengecut. Sampai sekarang pun aku tidak mengerti kenapa sosok lemah seperti diriku harus menjadi 'Yang Terpilih'.
Kuangkat pedang yang terpasang di pinggangku, lalu kupandangi bayangan separuh wajahku di sana.
Apa tidak ada orang lain yang ter-isekai bersamaku? batinku. Memikirkan hal itu, aku merasa lebih baik. Andai saja benar, bisa saja sosok itu lah 'Yang Terpilih' yang sebenarnya. Tapi kalau tidak ada?
Entah kenapa, tiba-tiba saja bayangan Nayu terlintas di kepalaku. Bagaimana kabarnya sekarang, apa dia ikut ter-isekai bersamaku, pertanyaan-pertanyaan itu terus menghantuiku. Aku akan baik-baik saja jika dia tidak ter-isekai, tapi kalau dia sampai ada di tempat ini, aku benar-benar tidak tenang. Dia hanya adik kecilku yang tidak tahu apa-apa.
Semoga dia baik-baik saja.
"Tuan Naito!"
Cepat-cepat kumasukkan kembali pedangku ke sarungnya. Aku berbalik mendapati Venn yang terengah-engah memanggil namaku.
"Aku mencari Tuan ke mana-mana, ternyata Tuan di sini," ucapnya sambil menstabilkan napasnya. Aku tidak tahu dia mencariku ke mana saja, tapi melihat peluhnya yang mengalir, kurasa dia berlari cukup jauh.
Dia berdiri di depanku. Helai rambut pendek birunya banyak yang menempel di pipinya karena keringat yang hampir membasahi seluruh wajahnya. Tapi sepertinya keberadaan rambut itu pun membuatnya tidak nyaman, dia pun menyingkirkannya. Menyelipkannya ke belakang telinga dan sedikit merapikannya.
"Kenapa Tuan pergi ke sini? Apa Tuan marah karena mereka?" tanyanya.
Kepalaku tertunduk, tidak tahu harus jawaban seperti apa yang kuberikan. Dia tidak benar, tapi juga tidak salah di sisi lain.
Melihat kepalaku yang tertunduk, Venn meminta maaf padaku. Ingin aku berpikir kalau permintaan maafnya sekadar formalitas semata, tapi tidak. Suaranya bergetar. Dia bahkan sampai memohonkan maaf atas kata-kata Botak Kekar II dan tatapan sinis yang diarahkan padaku. Dia memujaku sebagai sosok 'Yang Terpilih', berpikir sosokku adalah penyelamat kuat bahkan setelah melihatku tak mampu mengayunkan pedang.
"Venn, apa kau benar-benar percaya aku adalah 'Yang Terpilih'?" tanyaku.
"Tentu saja! Keberanian Tuan sudah membuktikan padaku kalau Tuan benar-benar 'Yang Terpilih'," jawabnya penuh percaya.
"Tapi bagaimana kalau aku ternyata bukan sosok dalam ramalan itu? Bagaimana kalau ternyata aku ingin lari meninggalkan kalian?"
Venn terdiam. Walau samar, kurasakan raut mukanya berubah. Daun-daun berguguran tertiup angin. Rasanya mungkin daun-daun itu menjadi gambaran bagiku atas kepercayaan Venn padaku yang sebentar lagi pun akan berguguran hingga tak tersisa. Aku tidak ingin dia berharap lebih pada sosokku.
"Maafkan aku. Aku bukan sosok kuat seperti itu. Jadi berhenti bersikap seperti itu padaku," ujarku lalu berbalik. Aku tidak sanggup melihat wajahnya yang kecewa padaku.
Setelahnya aku tidak lagi mendengar suaranya. Mungkin dia sudah pergi meninggalkanku yang seorang pengecut seorang diri sekarang. Memang lebih baik seperti ini, pikirku. Kuseret kakiku pergi dari tempat itu, mencari tempat lain yang bisa kujadikan tempat pelarian.
"Kalau begitu aku hanya perlu melindungimu kan?"
Deg.
Baru tiga langkah, aku kembali berbalik. Tak kusangka Venn masih berdiri di sana. Sorot matanya masih sama tajamnya. Bahkan seinci pun tidak kulihat sorot kecewa di matanya. Lagi, aku tidak mengerti apa maksudnya 'melindungiku'?
"Kalau kau bukan 'Yang Terpilih', artinya kau hanya orang biasa. Seorang prajurit sepertiku, sudah tugasku melindungi warga sipil, bukan?" ujarnya yang terdengar begitu mantap di telingaku. Tekadnya begitu besar. Aku yang pengecut mana mungkin berani menerima tekadnya yang seperti itu.
Kembali kuputar badanku tanpa menjawab kalimat terakhirnya. Aku sudah tidak sanggup. Penyataannya hanya membuatku merasa semakin tertekan. Entah dia akan meninggalkanku, aku tidak tahu. Yang jelas kakiku sudah kulangkahkan pergi menjauh darinya.
Lagi-lagi, belum sempat melangkahkan kaki lebih jauh, informasi sampai lebih dulu di telingaku. Monster langka setinggi tujuh meter sedang menuju ke tempatku dan Venn saat ini. Tujuh meter, itu bahkan sudah melebihi batas kemampuan pasukan kelas S.
Bugh! Bugh!
Suara dentuman langkah kaki yang besar sudah terdengar di telingaku. Getarannya juga membuatku terguncang hingga sulit berdiri tegak. Rasanya seperti gempa yang tiada henti. Saat ku kembali berbalik, monster itu sudah berada di jarak yang cukup dekat. Sosoknya lebih mengerikan dari yang pertama kulihat begitu tiba di dunia ini.
Di punggung monster kali ini ada empat tangan tambahan dan dua tentakel besar yang wujudnya menjijikan. Jemari-jemari panjangnya sudah berlumur darah, tampaknya dia sudah membunuh banyak sebelum tiba di sini. Sudah tidak mungkin jika aku lari dari tempat ini.
Habislah riwayatku.
***
Aduh.
Seorang gadis berseragam SMA berdiri sambil memegangi kepalanya yang terasa pening, namanya Nayu. Mata hijaunya berpendar mengamati sekelilingnya yang mendadak berubah. Seingatnya dia tengah berada di dalam ruang kelas, mengamati gurunya menjelaskan trigonometri yang ia benci. Namun entah bagaimana, ruang kelasnya berubah menjadi sebuah kota yang bangunannya sebagian besar sudah hancur.
Apa aku sedang bermimpi? Tapi kenapa rasanya nyata sekali? Dia menyeret langkah kakinya tak tentu arah, menganggap dirinya tengah berada dalam sebuah lucid dream. Kedua sudut bibirnya terangkat sempurna, mengukir sebuah senyuman licik di wajahnya yang imut. Sorot matanya benar-benar tampak seperti seorang penjahat licik yang baru saja mendapatkan sesuatu yang berharga.
Akhirnya aku bisa membolos! begitu lah kira-kira isi kepalanya saat ini.
Dia terus menyeret langkah kakinya ke sebuah tempat. Sampai akhirnya sebuah getaran seperti gempa bumi membuat langkahnya terhenti. Sebuah monster raksasa bertangan empat dan dua tentakel muncul di hadapan wajahnya. Dia bergidik ngeri melihat monster itu membunuh banyak sekali orang dengan badannya yang sepenglihatan Nayu tingginya 7 meter.
Nayu berlari sekencang-kencangnya menghindari monster itu. "Kenapa mimpiku jelek sekali!" rutuknya sambil terus berlari. Walau monster itu seakan tidak mengejarnya, dia tetap berlari sampai ke suatu tempat.
Mata hijau Nayu menangkap bayangan sosok yang dikenalinya. Sosok pria muda berambut cokelat dan mata hijau yang sama sepertinya, siapa lagi kalau bukan Naito. Nayu hampir tidak mengenalinya karena zirah yang dipakai Naito. Kakaknya yang dari kemarin belum bertemu dengannya, sekarang malah muncul di 'mimpi'-nya Selain itu, dia mendapati kakaknya bersama seorang perempuan. Permpuan berambut biru tua sebahu yang belum pernah Nayu lihat sebelumnya, siapa lagi kalau bukan Venn.
Siapa dia? Nayu bertanya-tanya sambil bersembunyi di balik pohon mengintip kakaknya. Jika ini lucid dream bukankah seharusnya mimpi itu berada di bawah kehendak Nayu? Tapi kenapa dia tidak bisa mengendalikan hal lain selain dirinya sendiri.
Kakaknya dan Venn tampak tengah berbincang, tapi Nayu tidak bisa mendengar sepatah kata pun dari mulut keduanta. Tapi bisa dia lihat, kakaknya itu tidak nyaman dalam perbincangan itu. Seperti merasakan sesak. Nayu hendak menghampiri keduanya, bermaksud mengusir Venn dari hadapan kakaknya, tapi dia mengurungkan niatnya saat monster besar itu muncul lagi. Kali ini beberapa tank tempur menembaki monster itu.
Nayu mendapati Venn maju menghadapi monster raksasa itu dengan pedang di tangannya. Pemandangan di hadapannya saat ini terlihat seperti anime-anime action yang pernah ia tonton bersama kakaknya, tapi tampak begitu nyata. Melihat cara bertarung Venn, Nayu membuat asumsi kalau pertarungan seperti itu sudah biasa, dan kini sosok itu tengah melindungi kakaknya.
Walau begitu monster itu tampak dengan mudahnya melempar Venn dalam satu libasan tangan. Nayu pun akhirnya mendapati kakaknya mengangkat pedang, hendak melawan monster itu. Sorot mata penuh rasa marah bisa dia lihat dari mata hijau kakaknya. Tapi lagi-lagi monster itu dengan mudah melempar Naito. Lemparannya pun lebih keras dari ketika melempar Venn.
"Tidak, Kakak!!!" Nayu hendak berlari menghampiri Naito, tapi kakinya tertahan. Tubuhnya tidak bisa digerakkan dan dia hanya bisa memandangi Naito yang kesakitan di hadapan monster itu. Nayu yang masih menganggap itu semua mimpi terus menangis sesenggukan. Dia takut.
"Seseorang, tolong selamatkan Kak Naito!!!" Nayu berteriak sekencang mungkin, tapi tidak satu pun orang mendengar jeritnya. Sampai akhirnya sebuah cahaya yang begitu terang melahapnya, menariknya begitu jauh dari Naito.
"Selamatkan Kak Naito!!!" jeritnya untuk terakhir kali, sebelum akhirnya dia benar-benar menghilang dari dunia itu.
***
Mataku terus memerhatikan Venn, kini hanya dia satu-satunya prajurit yang berhadapan langsung dengan si monster. Jumlah tangan monster itu yang banyak membuatnya kewalahan, ditambah getaran akibat langkah kaki si monster. Gerakan tubuh Venn gesit, tapi serangannya beberapa kali meleset karena kondisi tangan kanannya yang tengah cedera. Bahkan setelah melihatnya kesulitan aku tetap tidak bisa membantunya.
Satu tangan monster itu berhasil membuat Venn terlempar jauh. Entah apa yang kupikirkan, tanganku refleks mengangkat pedang dan maju melawan monster itu. Gerakanku begitu asal dan tidak mengenai monster itu sama sekali. Dalam satu kali libas, jari monster itu melemparku jauh. Bahu kiriku cedera dan bisa kurasakan tulang rusukku juga retak.
Sakit sekali.
Rasa sakit yang tidak asing, yang tak pernah kuharap akan kembali kurasakan malah diberikan oleh monster yang ukurannya hampir 4 kali lebih besar dariku. Badanku benar-benar tak bisa kugerakkan.
"Kakak!!!" Sebuah suara yang tak asing tertangkap telingaku. Dengan susah payah aku menoleh, mencari-cari asal suara itu. Nayu, kau tidak ada di sini, kan? batinku tak karuan. Aku takut kalau itu benar-benar suara Nayu. Di saat yang sama, wajah monster itu berada tepat di atasku.
Apa kali ini aku akan mati?
Dalam durasi satu kedipan mata, Venn tiba-tiba saja sudah terbang di depan wajah monster itu. Dia tancapkan pedangnya di mata kanan monster itu, memancing murka si monster. Pedangnya yang tertancap belum sempat ia cabut, monster itu sudah keburu melempar Venn dengan salah satu tangannya. Lemparannya begitu keras, aku yakin tulang-tulang Venn pasti patah karena itu. Tubuhnya pun tidak kulihat bergerak setelahnya.
Sekuat tenaga aku berdiri, berusaha meraih Venn. Pikiranku kacau, dipenuhi hal-hal buruk yang kemungkinan menimpa gadis berambut biru tua sebahu itu. Aku takut. Setidaknya aku ingin menolongnya. Padahal jarak kami tidak begitu jauh, tapi kenapa begitu sulit aku ingin meraihnya.
Cahaya yang menerangiku tiba-tiba saja hilang, seakan ada sesuatu yang menutupi. Kulihat tentakel monster itu menuju cepat ke arahku, seakan hendak menikamku. Aku ingin lari, tapi tidak bisa. Seluruh tubuhku hancur. Saat itu pula kematianku terasa sangat dekat.
Sampai aku merasa begitu yakin kalau akulah yang selanjutnya akan menjadi korban monster ini.
Bukannya Venn.
Tubuhku yang sudah hancur terdorong. Entah apa yang terjadi, Venn menggantikan posisiku. Tentakel yang bergerak sangat cepat itu menusuk tubuh Venn, mengenai jantungnya, menembus hingga bagian belakang. Aku bisa melihatnya, mulut Venn yang memuntahkan darah dan matanya yang terbelalak.
Dengan teganya, monster itu mencabut tentakelnya dari tubuh Venn. Darahnya mengalir deras seperti air terjun. Setelah melihat itu aku tak lagi bisa menahan diri. Badan hancurku ini tak bisa menghalangiku. Sakit, tapi tetap kupaksakan berlari. Kuraih tubuh Venn yang terkulai lemas sebelum dia jatuh mencium tanah.
Mataku memanas. Darah dalam tubuhku mendidih memangku tubuh Venn yang bersimbah darah. Meski rasanya amarah dalam diri tak bisa lagi dikendalikan, otakku menghentikanku bertindak gegabah. Membuatku sadar kalau tak ada yang bisa kulakukan.
Ini karena diriku.
"AAARGH—" jeritku tertahan. Aku tak tahu apa diriku punya hak untuk berteriak putus asa setelah membuat orang lain meregang nyawa. Sakit. Sesak. Aku muak dengan perasaan bersalah tiada akhir seperti ini. Bahkan jika aku kembali, tidak mungkin bisa kumaafkan diri ini yang bisa hidup di atas kematian.
Seseorang berjongkok di sampingku. Tangannya mengusap wajah Venn, menutup matanya yang terbelalak lebar.
"Kau sudah bekerja bagus, sekarang istirahatlah."