
Mata Nayu terbelalak lebar. Nayu mendapati pemandangan di depan matanya sudah kembali berubah menjadi ruang kelas. Bukan lagi medan perang yang mengerikan dengan seekor monster raksasa.
Huh, syukurlah itu cuma mimpi, batin Nayu. Dia menangkupkan wajahnya di kedua tangan, kemudian menarik napas panjang. 'Mimpi' tadi benar-benar menguras energinya. Bisa dia rasakan seragamnya yang basah dengan keringat yang sampai sekarang bahkan masih menetes dari pori-pori kulitnya.
Pemandangan sekitarnya dipenuhi warna jingga. Lampu ruangan yang sudah dimatikan membuat pencahayaan di kelas itu menjadi temaram karena hanya mengandalkan cahaya mentari menjelang senja yang masuk melalui jendela. Papan tulis di depan kelas sudah kosong, tidak satu pun coretan ada di sana. Seingatnya dia tadi tengah mengikuti kelas matematika di jam terakhir, tapi ternyata saat terbangun, pelajaran telah usai. Teman-temannya pun sudah tidak ada di sana. Kelasnya kosong, sudah tidak ada seorang pun di sana.
Tidak. Masih ada satu orang.
Nayu berbalik hendak merapikan buku-bukunya ke dalam tas. Betapa terkejutnya dia saat mendapati seorang wanita berambut panjang duduk di belakangnya. Wanita itu seakan berniat menakuti Nayu, rambut panjangnya dia gunakan untuk menutupi wajah. Kemudian dia gunakan senter menerangi wajah untuk memberikan kesan horor.
"HANTU!!!"
Benar saja, Nayu langsung ketakutan. Bulu kuduknya meremang. Dia langsung berlindung di kolong meja sambil mulutnya berkomat-kamit seakan tengah membaca mantra. Padahal dia hanya berkomat-kamit kata tidak jelas saking ketakutannya.
"Sudah puas tidurnya, Nayu Midoriya?" tanya wanita berambut panjang itu. Dia menyibakkan rambutnya ke belakang hingga wajahnya kini terlihat jelas.
Nayu mengintip sosoknya perlahan. Wanita itu, ternyata guru matematikanya. Melihat sosoknya membuat bulu kuduk Nayu semakin meremang. Seharusnya bertemu hantu lebih baik daripada harus ditunggu oleh guru matematikanya. Perlahan-lahan Nayu keluar dari kolong meja. Dia mencoba menguatkan dirinya kalau-kalau dia harus mendengar omelan dari mulut gurunya.
"Maafkan saya, Bu," Nayu membungkuk meminta maaf.
Gurunya menghela napas, "Kau ini tidur pulas sekali, ya. Sampai-sampai kami semua tidak ada yang bisa membangunkanmu," katanya. Nayu hanya bisa menelan ludah, lalu cengengesan mendengar kata-kata yang keluar dari mulut gurunya.
"Maaf," ulangnya.
Gurunya bangkit dari duduk sambil mengibaskan rambut. "Ya sudah, tidak apa-apa. Jaga dirimu lebih baik, ya, Nayu." Dia menjabat tangan Nayu dan memberikan sesuatu padanya.
Nayu membuka telapak tangannya, melihat sesuatu yang diberikan oleh gurunya. "Ini...," dia menatap obat antidepresan itu dengan heran. Kenapa gurunya memberi obat antidepresan padanya?
Gurunya itu menempelkan satu tangan di bibirnya, "Ibu menemukan itu jatuh dari tasmu. Tenang, ibu tidak akan memberi tahu siapa pun. Nayu, kalau ada apa-apa kau bisa cerita pada Ibu, mungkin ibu bisa sedikit membantumu. Oke?" ucapnya kemudian berlalu meninggalkan Nayu seorang diri.
Kening Nayu berkerut. Kedua alisnya saling bertaut saking herannya. Punya siapa ini? batinnya sambil memikirkan siapa pemilik obat itu.
Sepertinya aku salah bawa obat, ucapnya dalam hati. Dia tersenyum kecut saat teringat dirinya yang pagi tadi berniat membawa obat tambah darah. Siapa sangka yang dia ambil ternyata obat antidepresan. Pasti ini punya yang lain, pikirnya mengingat dia tinggal bersama 24 orang lainnya.
Tapi baguslah, berkat obat ini setidaknya aku dimaafkan karena tidur di kelas, hehe, Nayu bermonolog ria dalam batinnya. Dia tahu itu tidak benar, tapi setidaknya kali ini dia tidak dimarahi. Cepat-cepat dia bereskan bukunya yang masih berantakan di meja ke dalam tas. Mentari mulai terbenam secara perlahan, dia tak ingin pulang saat bulan sudah menggantikan matahari.
Nayu melangkahkan kakinya menembus senja seorang diri. Seluruh teman-temannya sudah pulang sejak tadi sementara dia baru pulang sekarang hanya karena tidak bisa dibangunkan. Jujur saja, Nayu cukup heran dengan tidurnya tadi. Dia bukan tipe orang yang sulit dibangunkan, tapi kenapa dia tidak mendengar sedikit pun suara yang membangunkannya tadi?
"Mimpi tadi benar-benar terasa seperti nyata. Tidak, tidak, mimpi itu tidak boleh menjadi nyata. Kakak ada di sana. Omong-omong bagaimana nasib kakak ya di mimpiku?" ucap Nayu pada dirinya sendiri. Sesaat dia menyesal tidak menyelesaikan 'mimpi' itu dan melihat nasib kakaknya.
Tangan Nayu merogoh bagian dalam tasnya kemudian mengambil ponselnya. Jemarinya menggulir layar ponselnya, mencari-cari nomor ponsel kakaknya untuk dihubungi. Sejak hari di mana kakaknya pergi ke supermarket, Nayu belum bicara dengannya lagi.
Panggilannya tidak tersambung. Sudah beberapa kali dia coba hubungi dalam nyaris dua hari ini, tapi tidak sekali pun tersambung. Matanya berkaca-kaca memerhatikan layar depan ponselnya yang menampilkan fotonya dengan Naito. Entah kenapa, tiba-tiba saja mimpi itu kembali terputar dalam benaknya.
Tiba-tiba saja tubuhnya bergidik membayangkan tiap detil dari mimpi itu.
Bagaimana kalau itu semua jadi nyata dan kakak ternyata ada di sana? Ah, tidak, tidak mungkin, kan?
***
"Kau sudah bekerja keras. Sekarang istirahatlah!"
Suara ini, suara pertama yang kudengar begitu tiba di dunia ini. Aku menoleh, kudapati Laura lah yang berjongkok di sebelahku. Sebersit pemikiran di kepalaku ingin menyalahkannya. Kenapa dia yang Pasukan Elite baru datang? Kalau saja dia datang lebih cepat, Venn tidak akan meregang nyawa.
Tapi untuk apa aku menyalahkan orang lain kalau semua ini salahku.
Kulihat tidak satupun zirah menempel di tubuhnya. Hanya jaket hitam yang menjadi luarannya, menutupi turtleneck putih di bagian dalam.Tidak tampak seperti seorang prajurit yang tidak dalam posisi berperang, karena hanya pedang di pinggang dan payung di punggung yang dia bawa ke medan perang.
Rahangnya mengeras. Tak butuh banyak waktu, dia mengangkat pedangnya dan langsung melesat ke hadapan monster tujuh meter itu. Gerakan tubuhnya gesit mengelak dari tangan-tangan besar monster itu yang berusaha meraihnya. Ayunan pedangnya sama sekali tidak terlihat gegabah.
Bertumpu di atas kedua kakinya, Laura membuat kuda-kuda pertahanan yang baik. Tangannya berdansa indah dengan pedangnya, memotong satu per satu jemari panjang monster itu—yang kutahu kulit dan tulangnya pasti sangat keras. Kemudian dalam sekelebat mata, aku pun tidak melihat pergerakannya, dia sudah berpindah, melayang-layang dibalik punggung monster raksasa itu. Dia mengangkat pedangnya tinggi-tinggi, sama seperti hari itu. Kilatan petir pun kembali terlihat menari-nari di pedangnya.
Blar!
Pedangnya dia ayunkan sekuat tenaga membentuk huruf V ke punggung monster itu, membuat kedua tentakel si monster terputus. Monster itu meraung-raung. Tangannya berusaha meraih Laura yang melayang di belakangnya dan kini berpindah lagi di depan monster itu. Seperti sihir, di tangan kanannya muncul sebuah energi es yang lama-lama memadat, membentuk sebuah tombak. Setelahnya tombak itu dilempar, tentancap tepat di pahanya.
Tak lama setelah tombak itu tertancap, seluruh tubuhnya membeku, hingga monster itu tidak bergerak sejengkal pun. Saat itu perhatianku fokus pada Laura yang berdiri kokoh mengangkat pedangnya. Kilatan petirnya semakin menjadi-jadi. Saat kilatan itu sudah sangat besar, dia langsung melempar pedangnya, membuatnya melesat secepat kilat, hingga melubangi jantung si monster.
Aku kehabisan kata-kata. Tubuh monster itu yang membeku seketika dijilati kilat yang menyambar dan meledak begitu saja. Kepalanya terlempar dari tubuhnya dan tubuhnya hancur berkeping-keping. Apa semudah itu mengalahkannya?
Entahlah. Semua itu tidak mengubah kenyataan kalau karena diriku, Venn tiada di tangan monster itu
"Naito, bagaimana kabarmu?"
Suara seseorang tiba-tiba tertangkap di telingaku. Kupendarkan pandangan mataku, mencari-cari asal suara. Tidak ada seorang pun di sekitarku sekarang, selain Venn yang sudah tiada.
Suaranya sungguh tidak asing. Aku yakin sering mendengar suara ini saat masih ada di dunia asalku.
Mungkinkah itu—
"Suiryuu?!"