DestinaRE ~ The Path I Followed

DestinaRE ~ The Path I Followed
Chapter 3. Yang Terpilih



Bugh!


"Aduh." Aku perlahan membuka kedua mataku setelah mendengar suara hantaman yang begitu keras. Seingatku, pria botak kekar tadi hendak memukulku karena mengira diriku seorang penyusup. Tapi entah kenapa setelah suara hantaman yang dahsyat itu badanku tidak sedikitpun terasa sakit. Apa dalam satu pukulan aku langsung mati?


Sepertinya tidak. Kulihat pria botak kekar itu tersungkur mencium tanah di depan kakiku. Hidungnya mimisan, sepertinya benturan tadi benar-benar keras ya. Entah sejak kapan Laura berdiri di belakang si pria botak kekar. Dia yang menggunakan hanya mengenakan turtleneck tanpa luaran jaket hitamnya terasa berbeda dengan dirinya yang tadi siang. Aku heran, siapa yang membuat pria botak kekar itu sampai seperti ini. Walau melihat Laura yang berdiri sambil menyilangkan kedua tangannya di depan dada membuatku curiga dia yang membuat si pria botak kekar itu sampai seeperti itu.


"Kau baik-baik saja?" Laura bertanya padaku. Untuk pertama kali aku mendengarnya mengkkhawatirkanku. Aku mengangguk mengiyakan. Toh memang benar aku tidak kenapa-napa. Justru si pria botak kekar itu lah yang harusnya ditanya.


"Aduh, apa yang Nona Laura lakukan? Kenapa Nona malah menyerangku?" tanya si pria botak kekar membuat diriku semakin yakin dengan dugaanku.


Ternyata benar Laura.


Aku cukup terkejut walau seharusnya aku tidak perlu ragu sejak awal. Sudah jelas-jelas pasti Laura lah yang membuat si botak kekar itu jatuh tersungkur. Dia harusnya bukan apa-apa untuk Laura kalau monster setinggi lima meter saja ditebasnya dengan mudah.


Tapi satu hal membuatku tercengang. Dari cara si botak kekar itu menyapa Laura, aku jadi tahu kalau Laura punya posisi yang lebih tinggi dan dihormati.


"Justru apa yang mau kau lakukan?" tanya Laura. Nadanya terdengar mengintimidasi.


Jelas-jelas bukan aku yang ditanya, tapi entah kenapa rasanya merinding. Dia menyilangkan tangannya di depan dada. Walau matanya ditutup, aku yakin pasti sekarang sorot matanya menatap lurus dengan tajam pada si botak kekar. Aku jadi kasihan padanya.


Si botak kekar bangkit dari tersungkurnya. Tangannya menutupi hidungnya yang mimisan. "Pria di sebelah Nona, dia penyusup!"


"A- anu... aku bisa jelaska—"


"Dia bukan penyusup." Laura menyela sebelum sempat aku selesaikan kalimatku.


"Tapi Nona—"


"Di-a bu-kan pe-nyu-sup," potong Laura tidak membiarkan si botak kekar menyelesaikan kalimatnya. Padahal dia hanya mengulangi kalimatnya yang sama persis. Yang berbeda dia mengeja setiap suku kata yang keluar dari mulutnya dengan penuh penekanan. Bisa kurasakan tekanan besar yang keluar dari dalam diri Laura


Sepertinya si botak kekar pun merasakan tekanan besar itu pada dirinya karena dia akhirnya berhenti menyebutku penyusup. Ya, kurasa dia tidak salah juga, sih. Toh, aku yang orang asing tiba-tiba muncul, siapa yang tidak akan mengiraku penyusup. Pada akhirnya aku baru benar-benar bersih dari tuduhan penyusup setelah Laura mengatakan padanya kalau aku 'tamu Ketua'.


Setelah beres berurusan dengan si botak kekar, Laura membawaku pergi dari sana. Dia berjalan di depanku. Rasanya canggung berada dalam posisi seperti ini. Ditambah dia tidak mengajakku bicara dan tidak mungkin juga aku yang memulai pembicaraan. Harus membicarakan apa aku dengannya.


Terima kasih? Haruskah aku berterimakasih padanya?


Laura tiba-tiba menghentikan langkahnya. "Tidak perlu berterimakasih. Si botak bau tanah itu memang kadang suka meresahkan."


Eh, apa ini? Dia membaca pikiranku? kurasa aku tidak bisa mengkondisikan ekspresi wajahku. Selain dia yang tiba-tiba 'menjawab pertanyaanku', kalimat terakhirnya benar-benar tidak kuduga bisa keluar dari mulut seorang Laura. Ya, aku memang baru bertemu dengannya, sih. Harusnya aku tidak membuat kesimpulan terlalu cepat.


Malam di tempat ini benar-benar sunyi. Angin malam yang berhembus terasa begitu damai, kontras sekali dengan di tempat asalku. Kesunyian yang berlangsung cukup lama antara aku dan Laura menambah keheningan malam. Hanya dersik daun yang terdengar mengisi kesunyian.


"Kenapa kau bisa sampai di sini?" tanyanya memecah keheningan.


"A-aku sebenarnya sedang menunggu temanmu. Dia bilang ingin menemui Ketua, jadi aku kabur ke sini. Maaf."


Laura diam tidak langsung meresponku. Dia memunggungiku sehingga aku tidak bisa melihat ekspresi wajahnya saat ini. Entah mengapa rasanya aku tidak menjawab pertanyaannya karena setelah dipikir lagi mungkin dia bertanya alasanku sampai di dunia ini. Ah, memalukan sekali kalau itu maksudnya.


Dia tidak mengoreksi maksud pertanyaannya dan malah memberitahuku kalau Ketua sedang tidak ada di kantor. Laki-laki tadi seharusnya sudah kembali sejak tadi dan memberitahuku kalau aku akan bertemu Ketua besok pagi. Setelahnya kami melanjutkan perjalanan dan Laura menunjukkan kamar tempatku akan bermalam.


Sebelum masuk ke dalam kamar aku diam sejenak memikirkan kembali kejadian yang baru saja menimpa diriku. "Laura... aku tidak tahu apa maksud dari 'Yang Terpilih' yang kalian bicarakan. Tapi aku bukan orang seperti itu," ucapku. Rasanya tidak tega membayangkan mereka berharap lebih padaku yang tidak tahu apa-apa.


Aku tidak mendengar sepatah kata keluar dari mulut Laura. Mungkinkah dia kecewa denganku. Ah, mau bagaimana lagi, daripada aku menyesal tidak mengatakan hal seperti ini.


"Katakan saja pada Ketua besok. Mungkin dia juga tahu cara untukmu pulang," katanya sebelum pergi meninggalkanku.


Pulang... apa itu mungkin ya? Semoga saja benar aku bisa pulang besok.


***


Setelah merapikan diri, dia memandu jalanku menuju ruangan Ketua. Saat memandu jalan, aku bisa melihat wibawanya hanya dari punggung tegapnya. Wibawanya memang kuat, tapi tidak sekuat Laura karena dengan berada di sisi Laura saja sudah memberikan pressure bagiku.


Pintu ruangan terbuka. Ruangannya jauh lebih besar dari dugaanku. Kupikir ruangannya hanya sepetak ruangan dengan beberapa kursi dan meja kerja. Siapa sangka ternyata sebuah ruangan besar yang mirip seperti ruangan persidangan. Kursi-kursi utama belum terisi, baru ada beberapa orang yang sepertinya prajurit di tempat itu. Aku masuk ke dalam dan pintu besar itu ditutup. Di dalam ruangan besar itu aku menunggu di kursi yang mereka sediakan khusus untukku.


"Ketua dan Pasukan Elite memasuki ruangan!" sambut salah seorang prajurit saat pintu besar itu kembali dibuka. Orang-orang mulai berdiri dan aku pun bangkit dari duduk seperti yang mereka lakukan.


Suara hentakan kaki orang yang berjalan terdengar di telingaku. Seorang berpakaian layaknya komandan perang berjalan paling depan memasuki pintu besar. Aku yakin betul itu pasti sang Ketua. Di belakangnya ada tiga orang berpakaian jaket hitam dengan bet suatu organisasi. Mereka adalah Laura, laki-laki yang tidak kuketahui namanya, dan laki-laki yang baru pertama kali kulihat. Kurasa merekalah Pasukan Elite itu.


Ketua duduk di kursinya kemudian disusul tiga orang dari Pasukan Elite yang duduk di kursi di sebelah Ketua. Setelahnya barulah aku dan hadirin lainnya duduk. Suasananya benar-benar tegang seolah aku akan dieksekusi mati.


Tidak, mana mungkin kan aku akan dieksekusi mati.


"Pfft...."


Seluruh pandang mata saat ini pasti menatap ke arah Laura yang tengah mati-matian menahan tawa. Termasuk aku. Semua seperti bertanya-tanya mengapa dia seperti itu, tapi aku merasa dia mentertawaiku. Apa segitu jelas aku terlihat panik?!


Tidak butuh waktu lama bagi Laura kembali ke mode dinginnya. Sangat dingin dan tanpa ekspresi seolah tidak terjadi apa-apa barusan. Setelahnya pertemuan itu dimulai.


"Jadi, siapa namamu?" Ketua membuka pertemuan dengan menanyai namaku.


"Aku Naito, Ketua," jawabku sehati-hati mungkin.


"Apa kau benar-benar dari dunia lain? Bagaimana caramu sampai di dunia kami?"


"I-itu...," aku terdiam sejenak. Merangkai kata demi kata yang harus kuucapkan agar tidak terlihat seperti seorang penipu. "saya benar berasal dari dunia lain, tapi saya tidak tahu bagaimana saya sampai di sini. Yang saya ingat tiba-tiba saya sudah tiba di sini."


"Begitu ya. Selamat datang di dunia kami, wahai 'Yang Terpilih'. Kami benar-benar merasa beruntung akan kedatanganmu!" Auranya benar-benar berubah sekarang. Sama sekali tidak mengerikan. Atmosfer di sekitarku seakan berubah ceria, tapi justru memberi tekanan besar bagiku.


"Ti-tidak, Ketua. Saya yakin anda salah paham. Saya bukan 'Yang Terpilih' seperti yang anda semua pikirkan," sanggahku. Sekilas aku melirik Laura yang masih sama diamnya. Kupikir dia akan membantuku bicara pada Ketua.


"Mana mungkin. Sudah jelas-jelas kaulah 'Yang Terpilih'! Penyelamat yang dikirim dari dunia lain untuk mengakhiri perang di dunia kami!"


Uh, kenapa orang-orang di sini tidak suka mendengarkan ucapanku. Aku melihat senyum Ketua yang begitu lebar seolah mengabaikan sanggahanku. Sekarang bagaimana? Tentu saja aku harus meyakinkannya.


"Ketu—"


Brak!


Pintu besar itu dibuka oleh seseorang dengan keras. Seorang prajurit tiba-tiba datang dengan terengah-engah. Bisa kulihat peluhnya mengalir deras seperti habis berlari maraton.


"Ketua! Lapor, para monster mulai menyerang kembali! Kabarnya dua ekor monster setinggi tiga meter sudah masuk ke dermaga utama dan seekor monster setinggi lima meter menyerang pinggiran desa!"


Semua orang langsung berdiri dari kursi masing-masing. Ketua pun sama. Kehadiran seorang prajurit itu membuatku menghentikan kalimatku yang bahkan belum sempat kusampaikan satu kata pun.


"Segera kirimkan pasukan kelas A secepatnya ke dermaga utama dan pinggiran desa!"


"Baik!"


"Cegah situasi memburuk dan laporkan situasi secepat mungkin sebelum pasukan kelas S menyusul bersama 'Yang Terpilih'!"


"Baik!"


Aku menatap mereka yang begitu siap tanggap dengan tatapan kagum. Aku yakin hal seperti ini hal biasa terjadi di tempat ini.


Beberapa orang datang di belakangku membawa seperangkat zirah dan menyerahkannya padaku. Kehadiran mereka membuat kedua alisku bertaut bingung. Rasanya ada sesuatu yang kulewatkan dari kalimat Ketua. Ah...


Apa maksudnya 'pergi bersama 'Yang Terpilih''?!