Dear, Yudha

Dear, Yudha
Chapter 7- Ketua Kelas



31 Oktober 2015


Dear Yudha,


Yudha kamu ingat gak, sih! Kamu itu satu-satunya teman sebangku yang gak dukung teman sebangkunya sendiri!


Waktu itu kamu baru kembali dari toilet. Jadi, suaramu adalah suara paling akhir yang masuk dalam pemilihan. Walaupun kita semua sudah tahu kalau tanpa suara darimu, tetap aku yang terpilih jadi ketua kelas karena aku sudah mendapatkan suara mayoritas.


Kamu bilang, kalau aku jadi ketua kelas, kelas kita bakal jadi kelas penuh bencana. Waktu itu calonnya aku, Bima sama Adis. Dan kamu pilih Bima. Padahal Bima lebih biang kerok di kelas dari pada aku.


***


Pintu ruangan Yudha diketuk lalu terbuka. Menampakkan sosok Bima teman satu sekolah Yudha dulu saat SMA. Bima bekerja di tempat yang sama dengan Yudha namun berbeda Instalasi. Bima bekerja di Instalasi rekam medis sebagai perekam medis. Instalasi yang mengelola data rekam medis pasien yang berobat ke rumah sakit.


"Yud, gak istirahat? Gak ambil makan?" tanya Bima.


Yudha melihat jam di layar ponselnya. Ia sudah menghabiskan waktu 15 menit jam istirahatnya untuk membaca buku harian Jihan.


"Makan apa hari ini?" tanya Yudha sambil menutup buku harian Jihan.


"Telur sama sayur santan."


Bima berjalan ke arah pojok ruangan, dan berbaring dengan santai di atas kasur yang terletak di sana. Ruangan teknik digabung dengan workshop serta gudang alat rusak. Ruangan yang lebih pantas disebut gudang daripada kantor.


"Gak, deh," ucap Yudha sambil kembali membuka buku harian Jihan.


Yudha kembali menutup buku harian Jihan. "Bim, ingat Jihan?"


"Jihan?" Bima mengangkat kepalanya sedikit dari atas kasur. "Jihan Agriva? Jihan mantan ketua kelas waktu kelas 11?"


Yudha menganggukkan kepala sebagai jawaban.


"Jelas ingatlah. Aku tuh dulu sering dapat contekkan matematika dari dia. Hahaha. Tapi, kasihan sih dia. Coba gak kena penyakit jantung dari kecil, pasti masih hidup dia sampai sekarang."


Raut wajah Yudha seketika menjadi muram. "Gak ada yang tau umur, Bim."


"Ngomong-ngomong kalian dulu saingan kan jadi ketua kelas pas kelas sebelas?" tanya Yudha untuk mengalihkan pembicaraan.


"Haha. Iya. Kok bisa sih kamu dulu milih aku? Padahal kamu kemana-mana selalu sama Jihan. Duduk sebangku pula."


"Gak tau, ya. Aku iseng aja milih kamu."


***


[2015]


"Yudha! Pilih aku nanti jadi ketua kelas!" seru Jihan saat Yudha baru memasuki kelas setelah jam istirahat.


Hari ini Yudha sudah tiga kali bolak-balik ke toilet karena sakit perut. Sepertinya karena ia menumpahkan sambal terlalu banyak di mangkuk baksonya semalam.


"Enggak," sahut Yudha pendek sembari meletakkan kepalanya di atas meja.


"Pokoknya kamu harus pilih aku, Yudha," paksa Jihan. "Kalau kamu pilih aku jadi ketua kelas, aku bakal membuat perubahan yang lebih baik untuk kelas kita. Kelas kita akan menjadi kelas unggulan dengan—"


Yudha mengangkat kepalanya dari atas meja. Ocehan Jihan membuatnya ingin mendebat gadis itu. "Kamu pikir kamu lagi nyalonkan diri jadi kepala sekolah? Ketua kelas tuh gak lebih dari pembantu di kelas tau gak?"


"Gak papa deh jadi pembantu di kelas." Jihan mengepalkan tangannya ke atas dan mendongakkan kepalanya sedikit. "Soalnya panggilan hatiku adalah membantu sesama manusia," imbuhnya dengan gaya sok patriotisme.


"Yud! Pilih aku, ya?!" Jihan menusuk-nusuk bahu Yudha.


"Hmm."


"Yud?"


"Iya kalau ingat," ucap Yudha asal. Agar Jihan berhenti mengusiknya yang sedang sakit perut.


***


Yudha baru saja kembali dari toilet saat pemilihan ketua kelas hendak berakhir. Di papan tulis terdapat coretan-coretan perhitungan suara. Suara tertinggi dipegang Jihan. Kemudian Bima. Lalu Adis yang memiliki suara terendah. Suara Jihan dengan Bima hanya selisih dua suara.


Saat melihat Yudha memasuki kelas, Jihan dengan cekatan mengangkat tangannya. "Bu, Yudha belum milih."


"Oh iya, benar. Yudha, kamu langsung aja. Pilih siapa?" tanya Bu Sulis sebagai wali kelas mereka.


Bu Sulis menunggu jawaban Yudha di depan papan tulis sambil memegang spidol berwarna hitam. Yudha terdiam sejenak. Pilihannya adalah Jihan atau Bima.


Yudha tidak mau memilih Adis karena mereka pernah digosipkan berpacaran saat kelas 10. Hanya karena Adis menyukai Yudha, dan Yudha sempat membantu Adis yang terjatuh dari tangga. Yudha benci terlibat gosip.


"Yudha tadi katanya mau pilih saya, Bu!" ucap Jihan asal.


Sengaja ingin membuat Jihan kesal Yudha pun berkata, "Saya pilih Bima, Bu."


Wajah Jihan sketika tertekuk. Bibirnya manyun karena kesal. Meski ia tetap menang dalam pemilihan, tapi, ia merasa tidak mendapat dukungan dari Yudha.


Yudha yang ditatap kesal oleh Jihan, berjalan santai ke arah kursinya.


"Penghianat," gerutu Jihan sambil melirik sinis ke arah Yudha.


Yudha tidak menanggapi Jihan. Jadi Jihan mulai mengeluarkan omelan panjang lebarnya yang menurut Yudha sangat tidak penting.


"Yud! Tadi katanya mau milih aku! Kok malah milih Bima, sih? Kamu tau gak, kalau sesama teman sebangku itu harus saling dukung. Supaya tidak terjadinya perpecahan antar teman sebangku yang akan mengakibatkan—"


"Bencana tau gak, sih. Kalau kamu jadi ketua kelas."


"Gimana kamu tau aku bisa bawa bencana klau kamu sendiri aja belum pernah merasakan kepemimpinanku. Aku tuh bisa menjadi pemimpin paling bijak yang mengutamakan kesejahteraan—"


"Iya Jihan. Karena kamu akan menjadi pemimpin paling bijak, bukannya seharusnya kamu dengarin Ibu, ya? Bukan malah bicara nyaring sendiri di kelas." Perkataan Bu Sulis membuat Jihan menutup mulutnya seketika.


Kemudian ia meringis karena ternyata seisi kelas sudah memperhatikannya. "Maaf, Bu. Habis Yudha gak mau pilih saya, Bu. Padahal dia tadi sudah janji mau pilih saya," adu Jihan kepada wali kelasnya.


"Yaelah, Ji. Gak penting kali suara, Yudha. Sudah menang juga kamu," sahut Novita dari belakang Jihan.


Jihan menoleh ke arah Novita. "Tapi, Nov, kita sebagai teman sebangku, bukankah sudah sepantasnya untuk saling mendukung satu sama lain?"


"Sebagai ketua kelas yang bijak harusnya bisa menerima keputusan personal anggotanya dong," sahut Yudha tanpa menoleh ke arah Jihan.


Jihan melirik tajam ke arah Yudha. Ia hendak membalas perkataan Yudha. Namun urung saat mendengar suara Bu Sulis.


"Sudah-sudah. Kalian ini. Malah ribut sendiri," tegur Bu Sulis untuk kedua kalinya.


"Jadi, kita sudah dapat ketua kelas, ya. Jihan, selamat kamu jadi ketua kelas. Sebagai ketua kelas kamu harus jadi contoh yang baik buat teman-temanmu. Begitu juga Bima sebagai wakil dan Adis sebagai sekertaris."


"Siap, Bu." Jihan memberi hormat kepada Bu Sulis. Membuat wali kelasnya tersebut tersenyum sebelum akhirnya menutup kelas karena sudah bel pulang sekolah sudah berbunyi.