Dear, Yudha

Dear, Yudha
Chapter 1-Awal Mula Kita Saling Terlibat



29 Oktober 2015


Dear Yudha,


Aku bingung nih harus mulai dari mana. Saking banyaknya hal yang pengen aku ceritaiin ke kamu. Kita mulai dari beberapa bulan lalu deh. Awal kita mulai saling terlibat. Kamu ingat gak tepatnya kapan?


Pasti kamu gak ingat. Yaudah, deh. Biar aku ingatin.


Waktu itu, di tahun ajaran baru di bulan Juli. Yah, seperti hari-hari biasa, aku datang terlambat. Gara-gara marathon nonton seluruh episode It's Okay That's Love, aku jadi tidur terlalu malam dan bangun terlalu siang.


Di tahun ajaran baru, pertama kali juga kita masuk di kelas penjurusan. Karena hokiku yang baik, aku masuk di kelas IPA.


Kamu tahu, kan? Aku akrab banget sama Pak Yantoβ€”satpam sekolah kita. Jadi, waktu semua orang berkumpul untuk upacara, aku masuk gerbang sekolah dengan diam-diam dibantu oleh Pak Anto. Dan tentu aja Pak Anto juga ngebantu nyimpanin tas aku di pos satpam.


Setelah menitipkan tasku, aku segera berbaur ke barisan paling belakang para murid.


Aku ingat kau berdiri paling depan. Padahal topi menutupi sebagian wajahmu. Namun, aku masih bisa melihat tatapan sinismu padaku. Untung saja kau tak melaporkanku pada guru.


...πŸ“‘πŸ“‘πŸ“‘...


Siapa bilang Yudha tidak ingat? Yudha ingat tentang kejadian itu. Sebenarnya ia sudah mengetahui Jihan bahkan sejak kelas sepuluh. Sejak MOSΒΉ, bahkan.


Jihan anak populer di sekolah. Semua orang mengenalnya. Mulai dari para murid, guru hingga tukang bersih-bersih sekolah pun tahu siapa itu Jihan. Anaknya supel, narsis dan kritis.


Yudha menganggapnya anak yang berisik, banyak tanya, dan penganggu.


Seperti yang diceritakan Jihan dalam buku diary-nya. Yudha pada hari itu memang berdiri di barisan depan saat upacara bendera.


...πŸ“‘πŸ“‘πŸ“‘...


Berbeda dengan Jihan, Yudha sangat disiplin. Ia tidak pernah sekalipun terlambat.


Di tengah terik matahari. Ketika tim paskibraka sibuk mengibarkan bendera. Yudha yang sedang khidmat menyimak upacara bendera berlangsung, mendengar keributan dari barisan belakang.


"Jihan. Sini, pindah ke depan. Nanti, kamu ketahuan kalau telambat," terdengar suara bisikan seorang gadis di barisan belakang.


"Makasih, Num."


"Kamu kenapa sih terlambat lagi. Sudah tahu upacara."


"Gara-gara kamu, Hanum. Gara-gara drakor yang kamu rekomendasiin ke aku, aku jadi marathon episode semalam."


Yudha menolehkan kepalanya ke belakang. Dan benar saja yang ia duga. Keributan bersumber dari Jihan.


Dilihat dari gelagatnya saja, Yudha tahu bahwasannya gadis itu datang terlambat. Dari yang Yudha perhatikan, dari empat kali upacara bendera di hari senin, Jihan akan datang terlambat dua kali. Jadi, persentase Jihan datang terlambat saat upacara dan tidak terlambat adalah 50% banding 50%.


Yudha menatap lurus ke arah Jihan. Memperhatikan gadis itu. Menatapnya lekat, dan berpikir bagaimana bisa ada orang yang sangat meremehkan waktu seperti Jihan.


Jihan yang sadar sedang ditatap. Tiba-tiba menyikut Hanum dan mereka berhenti mengobrol. Kemudian, Jihan mengusap tengkuknya dan tersenyum canggung ke arah Yudha.


Yudha menaikkan satu alisnya. "Dasar gila!" batin Yudha sebelum memalingkan wajahnya kembali ke depan.


...πŸ“‘πŸ“‘πŸ“‘...


Yudha tersenyum kecil. Pantas saja Jihan langsung diam saat ia menatapnya saat itu. Ternyata gadis itu menganggap Yudha menatap dia sinis. Padahal Yudha tidak sama sekali bermaksud menatap sinis Jihan. Dia hanya memperhatikan Jihan dan menurutnya tatapannya biasa saja.


Yudha kembali melanjutkan membaca buku dipangkuannya.


...πŸ“‘πŸ“‘πŸ“‘...


Selesai upacara aku memperhatikanmu menjauh. Alih-alih berkumpul dengan murid lain untuk bercerita tentang liburan semestermu, kau lebih memilih menjauh dari kerumunan.


Aku ingat, tahun lalu kau mendapatkan juara 3 olimpiade matematika pada olimpiade sains nasional tingkat kota. Padahal saat itu kau masih siswa baru.


Kalau kupikir-pikir lagi, kayaknya bukan hari upacara itu awal-mula kita terlibat. Mungkin saat olimpiade matematika?


...πŸ“‘πŸ“‘πŸ“‘...


Ah, olimpiade matematika. Benar juga.


Di bulan November 2014, Shinta yang harusnya berangkat mengikuti olimpiade matematika mewakili kelas sepuluh bersama Yudha, tiba-tiba mengundurkan diri satu bulan sebelumnya. Jadi, Jihan menggantikan Shinta.


Namun, yang membuat Yudha kesal adalah, gadis itu sangat jarang menghadiri bimbelΒ² khusus yang diselenggarakan sekolah untuk tim yang akan mengikuti olimpiade. Jihan terkesan meremehkan. Ia tampak acuh dan santai. Berbeda dengan peserta lainnya.


Lagi-lagi di hari H pelaksanaan olimpiade, Jihan datang terlambat. Tas ranselnya hanya satu tali yang tergantung di bahu. Sementara talinya yang lain dibiarkan bergelantungan.


Rambut panjang Jihan yang tidak diikat tampak mencuat ke mana-mana. Ia segera memasuki ruang ujiannya, sambil mengikat rambutnya asal.


"Maaf, Pak. Terlambat," ucap Jihan sambil tersenyum cengengesan.


Bapak Pengawas memperhatikan jihan dari balik kacamata yang melorot hingga ujung hidungnya. "Silahkan duduk di tempat duduk yang sudah disediakan," jawabnya acuh sambil kembali menunduk memperhatikan ponselnya.


Yudha menggelengkan kepalanya saat Jihan melewatinya dan berjalan menuju tempat duduknya sendiri. Untung saja pengawas belum membagikan soal.


Satu bulan kemudian, di hari pengumuman, Yudha mendapatkan peringkat ke tiga.


Yudha berdiri di depan madingΒ³, memperhatikan daftar pemenang olimpiade tahun ini. Di daftar bidang matematika, satu nama membuatnya terpaku.


Jihan. Jihan yang tak pernah serius tersebut menduduki peringkat ke 10. Padahal Yudha tidak melihat sedikitpun keseriusan dari Jihan.


Plak!


Seseorang memukul bahu Yudha. Yudha menolehkan kepala dan sudah mendapati Jihan berdiri di sampingnya. Ikut mengamati mading.


"Wah, hebat banget kamu bisa juara tiga. Gak mau traktiran?" ujar Jihan sambil menyikut lengan Yudha.


"Buat apa? Lagian aku gak menang."


"Ini apa?" tanya Jihan sambil menunjuk nama Yudha dari balik kaca mading.


Yudha mengangkat kedua bahunya acuh. "Kalau bukan juara satu, artinya belum menang."


"Juara tiga itu jugaβ€”"


"Pertama. Kita gak saling kenal. Kedua jangan suka mukul orang sembarangan. Kamu sadar gak sih pukulanmu itu sakit?"


"Ya, maaf. Cuma bercanda. Gitu doang marah," balas Jihan cengengesan. "Maaf, deh kalau gitu."


Yudha hendak membalas lagi perkataan Jihan. Namun, ia memilih bungkam, dan melengos pergi meninggalkan Jihan begitu saja.


"Sensitif amat, 'sih. Jadi orang." Yudha masih dapat mendengar gumaman kesal Jihan.


...πŸ“‘πŸ“‘πŸ“‘...


Duh, aku bingung kapan tepatnya kita mulai benar-benar terlibat. Tapi, kurasa semuanya bermula saat kita duduk sebangku di awal tahun ajaran baru.


Setelah kejadian upacara saat kau memelototiku karena datang terlambat, aku terkejut karena sekelas denganmu di kelas 11 IPA 2.1


Aku mengedarkan pandangan ke seluruh penjuru kelas, namun tidak ada satu pun kursi kosong selain di sebelahmu.


Kurasa saat itulah awal cerita kita benar-benar dimulai.