
[2022]
Yudha baru sampai ke rumah dengan perasaan letih sepulang bekerja. Sebenarnya seharusnya ia pulang jam 3 hari ini, namun karena ada alat rusak yang perlu ia baiki segera, makanya ia terlambat pulang hingga jam 6 sore. Juga karena terlalu tenggelam membaca buku harian Jihan, ia jadi pulang saat hari sudah gelap.
Yudha memasukkan mobil ke garasi rumah. Terdapat dua mobil sudah terparkir di sana. Artinya, kedua orang tuanya sudah pulang.
"Yud, kok baru pulang? Kan hari ini masuk sift pagi. Harusnya pulang jam 3, kan?" tanya ibu Yudha begitu ia memasuki rumah.
Ayah dan ibunya sedang duduk di ruang tamu. Ibu Yudha menemani ayahnya yang bersantai dengan secangkir kopi hitam di hadapannya.
"Iya. Tadi, ada ventilator¹ lagi trouble jadi gak bisa ditinggal."
"Memangnya gak bisa apa dikerjakan besok?" ibu Yudha kembali bertanya dengan sewot.
"Gak bisa, Bu. Gak ada alat back up. Pasien lagi butuh banget di ICU². Kalau pasiennya meninggal gimana, gara-gara gak ada alat bantu napasnya? Kan kasihan, Bu," jelas Yudha panjang lebar.
"Emang gak ada tenaga lain yang bisa benerin?"
"Ibu kan tau, kalau tenaga elektromedisnya³ cuma ada 4 di rumah sakit Yudha. Mas Dewa pulang duluan karena anaknya sakit. Mbak Okta lagi ngawasin pengerjaan kalibrasi⁴. Mas Bowo, yang sift siang bareng Mbak Okta, kebetulan lagi ngerjaiin baby incubator⁵ yang lagi trouble karena ada bayi SC⁶."
"Dibayar gak lemburan kamu? Kalau gak dibayar lembur jangan mau lembur."
"Bukan gak dibayar lembur, Bu. Lagian aku sendiri yang sengaja gak bikin form lembur. Aku masih anak baru, Bu. Butuh banyak belajar."
Yudha frustasi. Ibunya selalu menekannya untuk pulang kerja tepat waktu. Padahal Yudha sendiri yang sengaja pulang terlambat. Hal itu semata-mata karena ini merupakan pekerjaan pertamanya dan ia masih harus banyak belajar.
Ketika masuk ke dunia kerja, Yudha sadar kalau banyak sekali hal yang tidak ia ketahui dan belum ia kuasai. Makanya, ia ingin menghabiskan banyak waktu untuk belajar. Karena ketidak berdayaannya ketika tidak mengetahui sesuatu atau belum menguasai sesuatu membuatnya jauh lebih frustasi.
Yudha mengerti ibunya hanya khawatir. Namun, Yudha memganggap ibunya terlalu over protektif sehingga terkadang membuatnya merasa tercekik. Padahal usianya sudah 24 tahun dan dia bukan lagi anak kecil.
"Iya tapikan—"
"Bu! Yudha itu baru pulang kerja. Biarkan dia istirahat," tegur Ayah.
Ibu Yudha hendak protes namun ayah Yudha memberi isyarat dengan tangan pada Yudha untuk segera masuk ke dalam.
Tanpa berbicara apapun, Yudha segera masuk ke kamar. Mulanya ia hendak mandi, namun ia urungkan dan malah duduk di atas kursi kamarnya sembari membuka lagi halaman di buku harian Jihan.
...📑📑📑...
30 Oktober 2015
Dear Yudha,
Yudha, terkadang hidup tidak sesuai rencana, bukan? Aku jadi penasaran, 10 tahun kedepan, seperti apa dirimu?
Apa kamu akan bekerja menjadi dokter seperti yang orang tuamu harapkan? Atau pekerjaan lain diluar keinginan orang tuamu?
Wahh.... Aku penasaran banget gimana penampakanmu di masa depan. Pengen banget ngelompati waktu buat ketemu kamu di masa depan.
Coba aja peralatan doraemon itu benar adanya. Aku pasti sudah menjelajah waktu, luar angkasa, dasar laut, dan hal-hal misterius lainnya yang sekarang belum bisa kulihat.
...📑📑📑...
[2015]
"Yudha! Apasih cita-citamu sampai kamu rajin belajar kayak gini?" tanya Jihan sambil berpangku tangan di atas meja sembari mengamati Yudha yang sibuk mengulang materi untuk persiapan ulangan harian fisika selepas jam istirahat.
"Apasih cita-citamu sampai kamu santai banget gak belajar padahal mau ulangan fisika?" balas Yudha sambil terus mencoret-coret bukunya.
"Yeee.... Aku sudah belajar ya semalam. Emang kamu gak belajar semalam makanya baru belajar sekarang?"
"Udah," jawab Yudha pendek.
"Terus, kenapa masih ngulang belajar lagi?"
"Supaya lebih matang."
"Yud! Kamu belum jawab pertanyaanku tadi! Kamu mau jadi apa? Kenapa sampai belajar sekeras ini?" tanya Jihan sambil menusuk-nusuk lengan Yudha dengan bolpoin.
Yudha yang merasa terganggu akhirnya menoleh dengan raut wajah kesal ke arah Jihan. Sementara yang dipelototi hanya nyengir kuda.
"Jangan melotot aja. Cepat jawab!"
Yudha membuang napas sambil kembali fokus ke bukunya. "Orang tua nyuruh aku jadi dokter."
"Bukan yang orang tua suruh. Tapi yang bener-bener pengen kamu lakuin."
Yudha menggedikkan bahu. "Gak tau. Lagian sekolah masih dibiyayain orang tua, ngapain mau macem-macem."
"Milih minat yang kita suka, itu bukan macem-macem kali. Lagian orang tua memang wajib biayayain kita sekolah, tapi kan bukan berarti orang tua harus ngatur kesukaan atau ketertarikan kita terhadap suatu bidang."
Yudha melirik ke arah Jihan. Mudah Jihan mengatakan hal demikian. Coba saja Jihan berada di posisi Yudha, pasti dia akan melakukan hal yang sama seperti Yudha.
Yudha adalah anak satu-satunya. Jelas saja, harapan orang tua Yudha jatuh kepada Yudha seorang.
Bahkan ibu Yudha sendiri yang melatih Yudha untuk setiap ajang olimpiade matematika sejak dulu. Walaupun Yudha sudah mendapatkan bimbel tambahan sepulang sekolah dari sekolah, ibunya tetap mengajarinya kembali di rumah.
"Emang, kamu mau ambil jurusan apa pas kuliah?" tanya Yudha yang tiba-tiba penasaran. Lagi pula ia selalu tidak suka dengan topik tentang orang tua.
"Aku?" Jihan menunjuk dirinya sendiri.
Yudha mengangguk. Kali ini ia mengabaikan bukunya dan memusatkan atensinya kepada Jihan.
Jihan nampak berpikir sejenak. "Apa, ya? Emm.... Cita-citaku berubah-ubah, sih. Dulu pas SD aku pengen jadi guru, terus dokter gigi. Lalu, pas SMP berubah lagi jadi pengen jadi astronot atau kriptolog⁷. Tapi, setelah sekarang dipikir-pikir kayaknya gak mungkin karena aku gak sepintar itu."
"Jadinya?"
"Emm.... Sekarang sih ya. Kalau dikasih kesempatan buat kuliah aku kayaknya bakal ambil teknik sipil. Soalnya aku pengen banget bisa bikin bangunan-bangunan besar."
Yudha mengerutkan dahi. "Kalau dikasih kesempatan? Emang orang tuamu gak bolehin kamu kuliah?"
Jihan melambaikan tangannya sekali. "Yaa enggak, sih. Cuma kan gak ada yang tau kedepannya gimana," jawabnya ambigu sambil tertawa hambar.
...📑📑📑...
Tapi, ngomong-ngomong, Yud. Apapun pilihanmu di masa depan, semoga kalau aku diizinkan berkuliah, aku berharap kita bisa sekampus. Hua.... Aku penasaran banget sama kehidupan perkuliahan.
...📑📑📑...
[2022]
Yudha tersenyum miris. Dulu ia bertanya-tanya mengapa setiap Jihan membicarakan soal rencana perkuliahan, gadis itu berbicara seolah-olah bisa berkuliah adalah sebuah harapan yang mustahil terwujud. Padahal gadis itu setahu Yudha berangkat dari keluarga berada.
Sekarang setelah waktu berlalu dan Jihan sudah pergi, ia menjadi tahu, mengapa Jihan begitu mendambakan kehidupan perkuliahan yang ia anggap mustahil.
.
.
.
.
.
Note:
Ventilator: Alat bantu napas untuk pasien yang mengalami gagal napas.
ICU: Intensive Care Unit, unit tempat para pasien yang perlu mendapatkan perawatan khusus di rumah sakit.
Elektromedis: Tenaga kesehatan khusus yang menangani instalasi, perawatan, dan perbaikan alat kesehatan. Guna memastikan keamanan alat kesehatan siap digunakan, dan tidak membahayakan pengguna, pasien serta lingkungan.
Kalibrasi: Kalibrasi, tindakan pencocokan nilai keluaran alat terhadap alat ukur guna menjamin kualitas alat apakah masih layak atau tidak.
SC: Seksio Caesarea, atau biasa disebut besah sesar. Tindakan bedah yang dilakukan dengan tujuan mengeluarkan bayi dari rahim ibunya.
Kriptolog: Ahli pemecah sandi rahasia.