Dear, Yudha

Dear, Yudha
Chapter 4-Terjebak Hujan



Sepulang sekolah, Jihan langsung menghambur ke UKS.


"Kak Neni, ada Yudha di dalam?" tanya Jihan kepada Kak Neni yang merupakan perawat sekolah.


"Ada tuh di dalam. Di bed paling ujung," jawab Kak Neni sambil menunjuk kasur paling ujung dekat jendela, yang tertutup gorden.


"Dia gak papa kan, Kak?" Wajah Jihan sudah pucat pasi karena cemas.


Kak Neni mengibaskan tangan di depan wajah. "Enggak. Gak ada apa-apa. Cuma reaksi alergi. Sudah aku kasih obat."


Kak Neni menahan tangan Jihan yang hendak melangkahkan kaki ke arah kasur tempat Yudha beristirahat. Lalu berkata dengan lantang, "Khawatir amat. Pacarmu ya, Ji?" tanyanya menggoda.


Ekspresi khawatir Jihan seketika berubah menjadi panik. "Enggak, Kak. Bukan. Teman sebangku doang." Jihan melambaikan kedua tangannya cepat.


"Hahaha... becanda doang. Kenapa jadi panik? Jangan-jangan memang lebih dari teman sebangku?"


Uhuk... Uhuk....


Terdengar suara batuk dari arah kasur Yudha.


"Udah, ah Kak." Jihan segera berlari meninggalkan Kak Neni dan menghampiri Yudha.


Dengan kasar Jihan membuka gorden yang menjadi pembatas ruang untuk kasur tempat Yudha beristirahat.


Jihan menatap galak ke arah Yudha. "Kenapa gak bilang kalau punya alergi coklat?!"


Yudha melirik sekilas ke arah Jihan sebelum berkata, "A-ir," ucapnya sambil memegang tenggorokkan.


"Oh, iya." Jihan segera menyodorkan sebotol air mineral yang ia ambil dari atas nakas di sebelah kasur Yudha.


Yudha segera menegak air tersebut hingga tandas. Sambil mengamati Jihan yang masih mengawasinya dari balik botol.


Setelah Yudha menyelesaikan minumnya Jihan kembali memberondong Yudha dengan pertanyaan, "Jadi, kenapa dimakan coklatnya?" katanya sambil berkacak pinggang.


"Kamu yang nyuruh."


"Kan bisa ditolak, Yudha," balas Jihan gemas.


"Udah."


"Kenapa gak bilang kalau alergi coklat? Kamu tuh, cari penyakit tau gak!"


"Kamu gak pulang? Ribut tau gak?"


Bukannya pulang, Jihan malah menarik kursi dan duduk di samping kasur Yudha. Ia menunduk sembari menatap kedua tangannya. "Maafin aku, Yud," ucapnya pelan nyaris tak terdengar.


Yudha memalingkan wajah menatap ke arah luar jendela. "Mendung banget. Kayaknya mau hujan."


Jihan mengangkat wajahnya tak percaya dengan apa yang baru saja Yudha katakan.


"Si-a-pa-yang-pe-du-li-ka-lau-mau-tu-run-hu-jan?" batin Jihan geram. Ia berusaha meminta maaf karena menyesal dan cowok di depannya ini malah membahas soal cuaca?


"Gak pulang? Mau hujan tuh," tutur Yudha kepada Jihan.


Jihan menggedikkan bahu acuh. "Bunda gak jadi ngejemput gara-gara kubilang bakal pulang bareng teman."


"Terus kamu pulang sama siapa?"


"Kamu. Kamu kan bawa motor ke sekolah."


"Aku gak bawa helm dua. Sana telepon lagi orang tuamu. Minta jemput."


Tak lama kemudian terdengar bunyi guntur dan hujan pun turun.


"Kalian gak pulang?" tanya Kak Neni yang tiba-tiba muncul.


"Hujan, Kak. Kakak bawa mobil?" tanya Yudha tiba-tiba


Kak Neni menganggukkan kepala. "Iya. Gimana? Kalian mau ikut?" tawarnya.


Yudha beranjak dari kasurnya. Begitu pula dengan Jihan yang refleks ikut bangkit.


"Ini, Kak. Bawa Jihan aja. Aku bawa motor kok," ucap Yudha.


Setelah perbincangan antara Yudha dan Kak Neni yang memastikan keadaan cowok itu, Kak Neni akhirnya pergi meninggalkan UKS bersama Jihan.


Sementara Yudha duduk di depan gedung sekolah, menunggu hujan reda. Angin kencang membuat Yudha sedikit mengigil. Air hujan ikut terbawa angin. Membuat seragam Yudha menjadi sedikit basah.


"Cari penyakit, ya? Kenapa sih gak nunggu di dalam aja?"


...📑📑📑...


Eh, kamunya yang di khawatirin malah seenaknya sama kesehatan diri sendiri.


...📑📑📑...


[2022]


Yudha terpaku pada kalimat:


Sehat itu mahal, Yud.


Karena Yudha tahu betul betapa berartinya kesehatan untuk Jihan pada saat itu. Tidak semua orang memiliki anugrah dan kesempatan untuk mendapatkan hidup sehat sejak lahir.


Jadi, menyia-nyiakan tubuh yang sehat sejak lahir, merupakan bentuk ketidak bersyukuran seseorang. Bagaimana tidak? Jika ada seseorang yang terlahir dengan penyakit bawaan tertentu dan mengharapkan kesehatan selamanya. Namun, yang terlahir sehat malah menyia-nyiakan kesehatannya.


Karena sakit bukan lagi hanya soal obat-obatan. Tapi, soal uang, dan waktu. Banyaknya uang untuk perawatan dan obat-obatan. Kemudian banyaknya waktu yang tersita untuk menjalani pengobatan. Bukan hanya waktu diri sendiri yang tersita, tapi begitu juga waktu orang lain. Waktu orang-orang yang mengantarkan berobat dan menjalani pemeriksaan rutin.


Itulah mengapa kesehatan bagi Yudha lebih berharga daripada apapun di bumi ini.


Pun jika seseorang sakit, maka harta dan waktu luangnya yang melimpah tidak ada artinya karena ia harus menjalani hari-harinya dengan rasa sakit.


Yudha kembali mengingat Jihan, dan menyesal tidak ada di sisi Jihan di saat-saat terburuknya. Hingga akhirnya Jihan pergi meninggalkannya.


...📑📑📑...


[2015]


"Belum pergi?" tanya Yudha cuek saat melihat Jihan yang muncul tiba-tiba dari dalam gedung sekolah.


Gadis itu tampak sangat kesal. Ia melemparkan tas Yudha kepada pemiliknya. "Kamu pulang gak bawa tas?"


Yudha yang belum siap menangkap lemparan Jihan membuat tas miliknya tersungkur di lantai. "Ikhlas gak sih ngasihnya?" gerutunya sambil memunguti buku di lantai yang berserakan.


Yudha memang belum berniat pulang. Makanya ia belum mengambil tasnya di kelas. Ia sengaja menunggu di luar untuk mengamati hujan.


Jihan ikut berjongkok dan membantu Yudha membereskan buku-bukunya. Wajah Jihan masih ditekuk. Namun, ia tetap membantu dalam diam. Pun demikian dengan Yudha yang memilih ikut bungkam.


Setelah selesai membereskan tasnya, Yudha segera menyampirkan tasnya di satu bahu. Ia lalu kembali mengamati jalanan yang dijatuhi tetesan air hujan yang turun dengan kecepatan luar biasa.


"Kamu gak jadi pulang?" Yudha melirik ke arah Jihan yang ikut berdiri di sampingnya.


Jihan menggelengkan kepala. "Enggak. Aku kan sudah bilang mau nunggu kamu."


"Aku cuma bawa satu helm."


"Iya. Tau. Nanti aku minta jemput Bunda kalau sudah reda."


Yudha hanya menganggukkan kepalanya. Kemudian ia kembali menatap hujan. Menghirup aroma rerumputan dan tanah yang menguap.


Yudha menoleh ke arah Jihan yang ternyata sekarang sudah melamun ikut mengamati hujan yang turun.


Saat hujan turun semakin deras, Yudha merasakam tarikan di lengannya. "Yudha, ayo masuk ke dalam."


Yudha terlalu malas berdebat. Energinya sudah habis seharian ini. Jadi, ia menuruti saja ajakan Jihan untuk memunggu di dalam. Lagi, pula msih banyak juga siswa yang masih terjebak di sekolah dan belum pulang.


...📑📑📑...


Wah... sekarang turun hujan!


Hujan malam hari kayak gini enaknya makan mie kuah dikasih potongan cabai dan telur rebus. Terus tidur nyenyak sampai pagi setelah perut terisi penuh.


Tapi Yud. Ngomong-ngomong soal hujan, kamu tau gak, kalau hujan itu bisa menghipnotis buat meresonansikan masa lalu. Jadi, kalau suatu saat kamu kangen aku, kamu bisa nunggu hujan turun buat ketemu aku. Kali aja aku termasuk ke dalam kenanganmu yang bisa muncul saat hujan turun.


Udah ah, Yud. Aku mau buat mie instan lalu tidur. Besok lagi ceritanya. Sampe ketemu besok, di halaman selanjutnya.


With Love,


Jihan


...📑📑📑...


[2022]


Yudha menutup buku harian Jihan. Saat ia baru saja keluar dari parkiran yang terletak di basemen rumah sakit, ia cukup terkejut karena ternyata langit sudah berubah menjadi gelap. Namun, tidak ada hujan hari ini.