
Ngomong-ngomong soal rencana dalam hidup, tahu gak Yud kenapa aku hidup dengan cara yang terkesan sembarangan? Gak punya rencana. Pokoknya semua berjalan spontan aja tanpa visi misi.
Ya, karena semua rencana yang aku buat dalam hidup faktanya bakal hanya tinggal jadi sebuah rencana aja. Kemungkinan tercapainya itu hampir selalu mustahil.
Entah kenapa ya begitu? Atau karena aku kurang serius ngegapai rencana yang aku buat? Atau aku kurang berusaha? Atau karena rencanaku kurang matang? Atau karena visi misiku yang terlalu tinggi? Atau bahkan hanya karena memang sudah ditakdirkan bahwa setiap hasil dari rencana yang aku buat gak akan pernah sesuai dengan harapan?
Sumpah ya Yud. Cara kerja takdir itu misterius banget. Aku tuh selalu ngerasa kalau takdir manusia itu kayak nemu kotak misterius. Ketika dibuka apabila hasilnya hal-hal indah sesuai dengan harapan, maka kita akan tersenyum dan bersuka cita. Sedangkan jika dibuka hasilnya hal yang tidak kita harapkan, atau hal yang menyeramkan, menakutkan hingga berbahaya, maka kita akan bersedih, frustasi bahkan mati.
Tau kenapa aku hidup terkesan tanpa rencana? Karena ketika kita berencana dengan sedemikian rupa, maka akan tumbuh harapan. Ketika harapan membesar namun hasil tidak sesuai rencana maka akan muncul rasa kecewa.
Bukan berarti aku hidup benar-benar tanpa rencana ya. Dalam hidupku, aku hanya menggambar garis besar rencananya saja. Tanpa detail tertentu. Karena semakin besar harapan maka semakin besar rasa kecewa.
Terlalu berekspektasi sama hidup yang tidak pasti itu menyakitkan.
...πππ...
[2022]
Jihan adalah orang paling spontan yang pernah Yudha kenal. Bahkan Yudha menganggap Jihan sebagai orang yang sembrono.
Yudha jadi bertanya-tanya, jika Jihan berkuliah jurusan apa kiranya yang akan gadis itu ambil? Apa sesuai dengan cita-cita yang ia bicarakan waktu itu. Atau bahkan, dia akan mengambil jurusan yang tidak pernah ia bayangkan sebelumnya, sama seperti Yudha?
...πππ...
Tapi, Yud. Aku kadang iri sama kamu. Kamu tuh tertata banget orangnya. Pasti semua yang kamu inginkan bakal terwujud karena ketekunanmu.
Kamu punya pandangan dan visi misi jelas soal masa depan. Kamu juga pintar banget. Pasti kamu bisa jadi apapun yang kamu mau.
...πππ...
Tidak. Hidup Yudha tidak semudah seperti yang terlihat. Menginjak kelas dua belas, Yudha mulai merasa bahwa ia harus mencari tahu apa yang ia inginkan. Bukan yang orang tuanya inginkan.
Pikiran Yudha melayang pada kenangan saat awal mula dirinya mulai mempertanyakan pada dirinya sendiri tentang apa yang ingin ia lakukan.
...πππ...
[2016]
Yudha menoleh ke arah bangku kosong di sebelahnya. Sudah 3 bulan semenjak kepergian Jihan. Kelas terasa kosong dan sepi bagi Yudha.
Akan tetapi, melihat teman sekelasnya sudah mulai menjalani hari seperti biasa, seolah-olah tidak pernah ada yang terjadi. Atau seolah-olah Jihan memang tidak pernah ada sebelumnya.
Hal itu membuat Yudha akhirnya tersadar bahwa manusia yang pergi akan segera dilupakan. Waktu terus berjalan. Bumi terus berputar. Tak peduli kau masih terdiam di tempat.
"Yud, daftar SNMPTNΒΉ di mana?" tanya Farhan yang duduk di depan Yudha.
Yudha terdiam sejenak. Teringat kata-kata Jihan soal mimpinya. Bukan mimpi orang tuanya.
Yudha menggedikkan bahu. "Gak tau," ucapnya singkat.
"Yudha, daftar di mana aja pasti keterima. Gak perlu bingung dia," komentar Fajar yang memang suka sekali berbicara blak-blakkan.
Murid-murid lain yang menyimak mengganggukkan kepala setuju. Akan tetapi, mereka salah. Siapa bilang Yudha tidak bingung memilih jurusan. Ia bukan hanya bingung. Namun, sangat bingung!
Sebenarnya Yudha sudah lama memikirkan tentang mimpi dan cita-citanya di luar perintah orang tuanya. Namun, ia belum juga mendapatkan jawaban.
Karena terbiasa fokus untuk belajar sejak kecil, Yudha jadi tidak tahu apa hobinya dan apa minatnya. Ia sudah terbiasa diarahkan oleh orang tuanya.
****
"Yudha, Ibu dengar SNMPTN sudah dibuka. Kamu sudah daftar?" tanya ibu Yudha begitu Yudha masuk ke dalam rumah.
Yudha yang lelah sepulang sekolah yang harus dilanjutkan dengan bimbel ujian nasional, hanya menggelengkan kepala lesu.
"Nunggu apalagi?"
"Besok deh, Bu. Yudha capek."
"Sekarang aja. Gak usah nunda-nunda sesuatu."
Alhasil, Yudha pun mengisi pendaftaran SNMPTN di hari itu juga. Tentu saja di bawah pengawasan ibunya. Dengan jurusan yang ibunya inginkan dan kampus impian ibunya.
Sebelum tidur Yudha memainkan ponselnya. Membuka halaman apa saja secara acak. Hingga akhirnya ia menemukan halaman yang membicarakan tentang jurusan Teknik Elektromedik.
Jurusan kuliah yang menggabungkan rumpun ilmu teknik dan ilmu kesehatan. Lulusannya masih tergolong sedikit. Kebutuhan tenaga kerja yang tinggi dan langkanya institusi yang menyediakan jurusan tersebut.
Yudha mencari tahu lebih dalam tentang Teknik Elektromedik. Hingga ia menemukan artikel yang menulis rata-rata gaji Teknisi Elektromedik.
Yudha membulatkan matanya. Gaji sebagai Elektromedis bisa mencapai enam puluh juta rupiah! Lapangan kerjanya pun luas, dari mulai fasyankesΒ², badan kalibrasi, institusi pemerintahan, prusahaan alat kesehatan, hingga distributor alat kesehatan.
Yudha tertarik. Ia pun mulai mencari lebih dalam kampus-kampus yang menyediakan jurusan Teknik Elektromedik. Hingga ia menemukan kampus swasta yang cukup terkenal.
Esoknya, ia mendaftarkan diri diam-diam. Hingga hari pengumuman penerimaan SNMPTN datang, Yudha dinyatakan lulus jurusan kedokteran impian ibunya. Dan lebih memilih melepaskannya. Untuk kemudian berkuliah di kampus swasta dengan jurusan pilihannya sendiri.
Ibunya kecewa. Sejak saat itu hubungan Yudha dan ibunya menjadi mendingin.
****
[2022]
Yudha menutup buku harian Jihan dan berbaring di atas kasurnya. Menatap langit-langit kamar. Kira-kira apa yang terjadi di masa sekarang jika ia mengambil jurusan kuliah sesuai dengan kemauan ibunya?
Jurusan elektromedik tidak semudah yang Yudha kira. Gaji 60 juta? Yudha meringgis. Ia memang menerima gaji agak lebih tinggi untuk seorang fresh graduate. Tapi, tidak mencapai 2 digit. Yah, karena bekerja di rumah sakit berbeda dengan bekerja di prusahaan.
Yudha memilih tidak bekerja di prusahaan karena ia sadar bahwa gaji tinggi berimbang dengan tekanan kerja yang akan diterima.
Samar-samar Yudha dapat mendengar gerutuan ibunya kepada ayahnya dari balik pintu. Apa seharusnya Yudha menuruti ibunya saja lima tahun yang lalu? Setidaknya, ketika ia lelah pulang bekerja, lelahnya tidak akan bertambah karena gerutuan ibunya.
Yudha paham. Ibunya hanya khawatir dan menginginkan yang terbaik untuk dirinya. Namun, Yudha tidak pernah merasa nyaman dengan kekhawatiran berlebih orang tuanya.
Yudha memejamkan matanya. Menutup kepalanya dengan bantal. Hal terbaik yang harus ia lakukan sekarang adalah menutup telinga dan tidur. Masih banyak hal yang harus ia bereskan untuk hari esok.
.
.
.
.
Catatan: 1. SNMPTN: Seleksi Nasional Masuk Perguruan Tinggi Negeri.
Fasyankes: Fasilitas Pelayanan Kesehatan.