
Kamu terlihat tak peduli saat aku duduk di sampingmu. Kamu hanya melirikku sekilas. Lalu, kembali fokus dengan buku pelajaran di hadapanmu.
Aku mencoba mencari perhatianmu dengan berkata, "Boleh gak aku duduk di sini?"
Ingat gak kamu waktu itu bilang apa?
"Emang kalau aku gak ngijinin kamu duduk di situ, kamu mau duduk di lantai?"
Sumpah. Kamu itu, ya. Paling bisa ngebuat aku kehilangan kata-kata.
...📑📑📑...
Jihan nyaris saja terlambat masuk di jam pertama. Karena keasikan ngobrol dengan Pak Yanto saat mengambil tas tadi.
Ketika memasuki kelas barunya, kelas 11 IPA 2.1, seluruh kursi sudah terisi penuh kecuali kursi di samping Yudha. Jihan mengedarkan pandangannya berharap menemukan kursi kosong selain di sebelah Yudha.
Namun, nihil. Tidak ada kursi kosong selain di sana. Jihan masih berusaha bersikap positif. Senyum lebar di wajahnya tidak pernah menghilang saat memasuki kelas.
"Jihan. Jihan. Kapan sih kamu gak datang terlambat?" tegur Lintang saat Jihan berjalan menghampiri kursi yang akan menjadi miliknya.
"Iya, nah. Kamu sih gak ngejemput aku," balas Jihan sambil berdiri di depan meja Lintang. Tatapannya lalu berpindah dari Lintang ke Risa. "Ris, penghianat banget sih kamu. Kemarin padahal udah janji mau duduk sebangku kalau sekelas. Eh, sekarang malah duduk sama Lintang."
Seseorang menyodok punggung Jihan dengan bolpoin.
"Aww...." Jihan meringis dan menoleh. Didapatinya Nisa yang sudah berdiri di belakang Jihan.
"Yang peka dong, Ji. Mereka berdua itu udah pacaran," kata Nisa sambil menunjuk Lintang dan Risa dengan bopoinnya secara bergantian.
"Ember banget sih, Nis," protes Risa.
"Yaelah, satu kelas juga sudah tau kali," sahut Nisa yang tak mau kalah.
Tak ingin terlibat dengan pertengkaran Risa dan Nisa, Jihan memilih untuk pergi menghindar. Ia berjalan menuju kursi di samping Yudha.
"Yeeaay, kita sekelas," ucap Novita senang saat Jihan sampai di kursi yang satu-satunya kosong. "Sini... sini. Duduk di sini, kosong." Novita mempersilahkan Jihan duduk di depannya, yang tak lain tak bukan tepat di samping Yudha.
Yudha hanya meliriknya sekilas untuk kemudian kembali fokus pada bukunya.
Jihan merasa harus mencairkan suasana. Jadi, dengan senyum andalannya untuk sekedar basa-basi, Jihan bertanya kepada Yudha, "Boleh gak aku duduk di sini?"
Tanpa memalingkan wajah dari bukunya Yudha berkata, "Emang kalau aku gak ngijinin kamu duduk di situ, kamu mau duduk di lantai?"
Gerakan tubuh Jihan yang baru saja menggantung tasnya di samping meja, terhenti sesaat. Ia tidak menduga basa-basinya akan ditanggapi dengan serius.
Berusaha mengendalikan keadaan, Jihan yang mulanya diam lalu membalas, "Enggak, sih. Kalau kamu gak ngijinin aku duduk di sini, aku tetap bakal duduk di sini."
"Aku cuma basa-basi. Serius amat jadi orang," imbuh Jihan sambil menarik kursinya hingga berdecit di lantai, dan duduk di atasnya dengan dramatis.
"Yaudah. Kalau mau duduk tinggal duduk. Emangnya aku yang punya bangku?"
"Jelas bukan, dong. Ini kan bangku punya sekolah."
"Nah, itu tau."
Jihan baru saja hendak membalas lagi perkataan Yudha saat Novita menendang kursi Jihan dari belakang. "Ji, Bu Sulis datang tuh."
Jihan memalingkan wajah ke depan. Benar kata Novita, guru biologi mereka sudah datang memasuki kelas.
...📑📑📑...
Yud, kamu tau gak, sih? Waktu hari itu aku bilang kamu ganteng, itu beneran tau. Kamu beneran ganteng banget aku lihatnya saat itu. Bukan berarti hari yang lain kamu gak ganteng, yaa.
Gimana ya, ngejelasinnya. Kamu itu, memang ganteng dari dulu. Makanya banyak cewek-cewek yang naksir kamu. Tapi, kamunya aja yang gak peka.
Pokoknya, waktu itu tuh kamu kelihatan ganteng buat aku, padahal sebelumnya kamu emang ganteng tapi ganteng yang kelihatan biasa aja. Gimana sih, kamu ngerti gak maksudku?
Apa karena potongan rambutmu yang berbeda dari kelas sepuluh? Atau karena garis wajahmu yang mulai semakin dewasa?
Ah, pokoknya begitu, deh.
Tapi, biarpun ganteng, waktu itu aku tetap nganggep kamu orang yang nyebelin.
...📑📑📑...
Membaca kalimat itu membuat Yudha tersenyum simpul. Ia menjadi sangat yakin bahwa buku ini benar-benar ditulis sendiri oleh Jihan. Jihan yang Yudha ingat memang gadis yang sangat spontan dan blak-blakan.
Hal yang membuat Yudha terkadang kewalahan untuk menanggapi.
...📑📑📑...
[2015]
Jihan bosan. Dia tidak menyukai pelajaran biologi. Otaknya dan biologi seperti minyak dan air. Tidak bisa menyatu.
Mengapa juga harus pelajaran biologi pada jam pertama di hari pertama sekolah? Jihan beberapa kali menguap.
Sementara itu, Yudha teman sebangku barunya sedang sibuk mencatat dengan serius.
Tahun lalu, Jihan duduk dengan Tyas. Karena Tyas berbeda jurusan, jadi harapan untuk sebangku lagi adalah kemustahilan. Dulu, jika pelajaran biologi, ia dan Tyas akan bermain SOS, untuk menghalau rasa kantuk dan bosan.
Apa Jihan ajak Yudha aja, ya? Buat main SOS. Siapa tahu Yudha ternyata tidak sekaku yang Jihan kira. Lagian siapa, sih, murid yang tidak pernah bermain SOS di jam pelajaran?
Dengan semangat Jihan segera merogoh tasnya dan mencari penggaris. Kemudian ia segera membuat pola kotak-kotak di belakang buku catatannya.
"Yud!"
"Apa?"
Jihan meletakkan buku catatannya di atas buku catatan Yudha. "Ayo, main SOS."
Yudha menatap kesal ke arah Jihan, sambil mengembalikan buku Jihan dengan kasar. "Kamu gak lihat Bu Sulis lagi ngajar?"
"Lihat. Makanya aku ngajak kamu main SOS. Bosan banget soalnya," sahut Jihan dengan raut muka tak berdosa.
"Kan, bisa main SOS sambil dengarin Bu Sulis. Nambah-nambah huruf, doang." Jihan kembali menggeser bukunya ke hadapan Yudha.
Yudha menutup buku Jihan dan mengembalikannya lagi. "Kamu niat sekolah gak sih sebenernya?"
Jihan mengangkat kedua bahunya acuh. "Niat. Kalau gak niat, aku gak masuk hari ini."
"Ya udah, deh. Kalau emang gak mau main. Gak usah melotot juga kali," imbuh Jihan sambil menggembungkan pipinya kesal.
Yudha hanya mendengus dan kembali memperhatikan gurunya. Jika, ia menanggapi Jihan, bisa-bisa sampai Bu Sulis selesai mengajar pun mereka tidak akan berhenti berdebat.
Jihan bosan. Ia mulai menguap. Dia menoleh menatap Yudha yang sedang serius menyimak apa yang Bu Sulis jelaskan.
Tatapan mata Yudha lurus dan fokus. Rambutnya yang berwarna hitam jatuh menutupi dahi sebagian. Alisnya yang tebal dan sudut matanya yang agak naik membuat semakin membuat kesan tajam pada tatapan matanya.
Yudha memiliki proporsi hidung yang sempurna. Mancung tetapi tidak terlalu mancung secara berlebih. Kulitnya tidak pucat, mungkin seperti orang indonesia kebanyakan, kulitnya agak kekuningan.
Jihan memangku wajahnya dengan satu telapak tangannya, sembari serius mengamati Yudha.
"Yudha. Kalau dilihat-lihat kamu tuh cakep tau. Bukan, tipikal ganteng yang ngebosanin. Tapi, ganteng-ganteng yang enak aja gitu dipandang gak bikin bosan," ucap Jihan terus terang dengan raut wajah menilai serius.
Yudha terkejut mendengar pujian yang tiba-tiba dilontarkan Jihan. Namun, ia masih berusaha terlihat acuh. Untuk menyembunyikan salah tingkahnya, Yudha berdeham. "Bisa gak sih diam? Kamu itu gak hanya ngeganggu aku. Tapi, anak-anak yang lain juga keganggu."
Jihan menolehkan kepalanya ke belakang, "Nov, kamu keganggu, kah?"
Novita menggelengkan kepalanya polos, "Enggak."
"Kalau kamu, Nia?" Jihan memalingkan pandangannya ke arah gadis yang duduk di sebelah Novita.
"Keganggu apaan?" Nia balik bertanya.
Jihan kembali menujukan pandangannya ke arah Yudha. "Tuh. Mereka gak keganggu, kok."
"Kamu tuh, ya—"
"Jihan. Yudha. Kalian kalau masih mau ngobrol, di luar aja," tegur Bu Sulis galak.
Seketika semua pandangan tertuju ke arah Jihan dan Yudha. Seketika keduanya berheti berdebat.
...📑📑📑...
Sumpah ya, Yud. Dulu kupikir kamu tuh teman sebangku paling gak asik yang pernah kudapetin.