Dear, Yudha

Dear, Yudha
Prolog-Buku Harian Jihan



"Mas Yudha. Ada tamu mau ketemu Mas. Tapi, belum bikin janji katanya. Gimana Mas? Saya suruh ke ruangan Mas langsung aja, atau gimana?" tanya seorang satpam dari balik telepon.


Yudha mengerutkan dahi. "Siapa, Pak?"


"Bella Adista, Mas."


Yudha terdiam sejenak. Bella Adista bukannya adik perempuan Jihan? Untuk apa Bella mencari Yudha?


"Mas?"


Yudha tersadar dari lamunannya. "Oh. Iya, Pak. Suruh ke kantin rumah sakit aja, Pak. Nanti saya temui dia di sana."


...📑📑📑...


Yudha mengedarkan pandangan ke seluruh penjuru kantin rumah sakit yang dipenuhi oleh keluarga penunggu pasien, dan karyawan rumah sakit yang beristirahat.


Matanya menangkap seorang gadis bermata bulat dengan rambut sebahu. Wajahnya tak asing. Sehingga Yudha dengan mudah dapat langsung mengenali gadis itu sebagai Bella.


Bella tersenyum canggung kepada Yudha. Berbeda dengan Jihan, Bella merupakan gadis yang sangat tertutup dan tidak banyak bicara.


Yudha membalas senyum Bella.


"Bella, bukan?" tanyanya memastikan sebelum duduk tepat di hadapan Bella.


"Iya, Kak."


"Tumben. Ada apa nyari aku?" tanya Yudha langsung.


Bella merogoh tote bagnya. Dan mengeluarkan buku bersampul kuning cerah. Ia meletakkan buku tersebut di atas meja dan mendorongnya ke arah Yudha.


Yudha menatap bingung ke arah buku berwarna kuning itu. Sebelum ia sempat bertanya, Bella berkata lebih dahulu, "Ini buku harian Kak Jihan. Kak Jihan minta aku buat kasih ke Kakak. Kak Jihan minta aku buat kasih ke Kakak paling cepat 10 tahun setelah kepergiannya. Tapi, aku gak bisa , Kak. Besok aku harus pindah ke Jepang sama Ayah sama Bunda, dan gak tau kapan bisa balik ke sini. Jadi, bukunya aku kasihkan sekarang."


Yudha menegak ludahnya. "Buku harian Jihan?" tanyanya pelan.


Bella mengagguk dan menambahkan, "Iya kak. Tapi, buku harian ini khusus tentang Kakak."


"Tentang aku?" Yudha menunjuk dirinya sendiri.


Bella kembali mengangguk. Raut wajahnya terlihat bersalah. "Maaf, Kak. Aku sempat baca sebagian isinya karena kangen Kak Jihan."


"Kakak itu orang spesial buat Kak Jihan."


Yudha tertawa canggung. "Gak juga, ah. Jihan kan dulu dekat sama semua orang."


"Iya. Tapi, cuma Kakak cinta pertama Kak Jihan."


Yudha terpaku sesaat. Apa yang pernah dilontarkan Jihan dahulu. Yang saat itu dia bilang bercanda. Ternyata merupakan hal serius.


Masalahnya, bahkan setelah kepergian Jihan pun , ia masih menganggap bahwa pernyataan cinta Jihan dahulu hanyalah sebuah lelucon.


Dering ponsel menyadarkan Yudha dari lamunan. Bella segera mengangkat panggilan telepon di ponselnya.


"Iya, Bun. Bella bentar lagi pulang kok—"


Sementara Bella sibuk berbicara lewat telepon, Yudha sibuk dengan pikirannya. Memori lama tentang Jihan kembali menyeruak diingatannya. Gadis yang berusaha ia lupakan.


"Kak Yudha. Bella pulang dulu ya. Maaf sudah ganggu."


"Enggak kok, Bel. Aku yang justru terima kasih sama kamu karena udah mau repot-repot nyari aku buat ngasih ini." Yudha mengangkat buku harian Jihan.


"Udah kewajibanku, Kak. Buat nyampaikan permintaan terakhir Kak Jihan," ucap Bella sambil tersenyum simpul.


Benar kata orang. Tidak ada yang bisa membohongi mata yang berbicara. Dan Yudha bisa melihat kesedihan dari tatapan Bella padanya.


...📑📑📑...


Yudha sudah berada di dalam mobilnya. Namun, ia belum juga beranjak dari parkiran. Dan bukannya menyalakan mobilnya, Yudha malah merogoh tas dan mengambil buku harian Jihan. Kemudian mulai membaca lembar pertamanya.


Dear Yudha,


Biar kutebak, pasti sudah 5 tahun lebih kau baru menemukan buku harian ini. Jangan menyalahkanku. Aku sengaja meminta Bella memberikannya padamu setelah dia yakin kau sudah lagi tidak mengingat kepergianku.


Aku terlalu percaya diri ya? Haha.


Pokoknya aku cuma mau berbagi cerita denganmu tentang kita. Yang, yah... mungkin saja kau, dan mereka tidak tahu.