Dear, Yudha

Dear, Yudha
Chapter 3-Rasa Bersalah



Eh, Yud. Aku tuh penasaran tau. Pas waktu aku ngomongin kamu dari belakang ke Tyas, kamu itu marah gak sih sama aku?


Serius, deh. Waktu itu aku ngerasa bersalah dan gak enak banget sama kamu. Soalnya kamu diam-diam aja, jadi aku gak bisa tau kamu lagi, marah, kecewa atau biasa aja.


...📑📑📑...


[2022]


Yudha berpikir sejenak. Ia lupa bagian ini. Sudah 7 tahun berlalu. Kalau Yudha bisa kembali ke masa lalu, Yudha pikir ia tidak akan marah.


Karena sejujurnya, Yudha bukan tipikal orang yang peduli tentang pendapat orang lain padanya.


...📑📑📑...


[2015]


"Jihan!" panggil seorang cewek berambut sebahu sambil melambaikan tangan di arah pintu masuk kelas Jihan saat jam istirahat.


"Tyas! Kamu kenapa masuk kelas IPS? Ke IPA aja, kenapa, sih?" ujar Jihan saat Tyas sudah duduk di kursi milik Yudha.


Jihan tidak tahu kemana perginya Yudha. Ia sibuk mengeluh kepada teman-temannya.


"Kenapa? Anak kelas ini gak asik ya?" bisik Tyas di telinga Jihan.


Jihan menggelengkan kepala lesu. "Bukan anak kelasnya yang gak asik. Tapi, teman sebangkuku yang gak asik."


"Kamu duduk sama siapa?" tanya Tyas.


"Sama Yudha, Yas."


"Yudha. Yudha Yudistira?"


"Kenapa emangnya dia?"


"Dia tuh, kaku banget kayak triplek. Yaampun, Yas , pokoknya gak banget. Udah gitu gak asik. Gak bisa diajak becanda. Gak bisa diajak main." Jihan mencondongkan tubuh ke arah Tyas. "Pantesan gak punya teman."


"Kalau gak suka, pindah tempat duduk sana. Atau pindah kelas sekalian juga gak papa," terdengar suara Yudha dari belakang Jihan.


Deg! Jihan tidak menyangka akan tertangkap basah sedang membicarakan Yudha. Ia membeku seketika. Lalu, menolehkan kepalanya lamat-lamat.


Wajah Yudha nyaris tak berekspresi. Membuat Jihan bertanya-tanya apa yang ada dipikiran cowok itu.


Yudha lantas berjalan melewati Jihan dan meletakkan novel yang dibawanya di atas meja. Hal tersebut membuat Tyas beranjak dari kursi Yudha tanpa Yudha pinta.


Jihan melihat sekilas judul novel Yudha, Angels and Demons karya Dan Brown. Tapi, ini bukan saatnya penasaran dengan novel yang dibaca Yudha. Karena Jihan sekarang sedang merasa benar-benar bersalah.


"Ji, ke kantin, yuk," ajak Tyas yang juga merasakan euphoria tidak nyaman di antara Yudha dan Jihan.


Jihan mengangguk dan mengekori Tyas keluar kelas.


...📑📑📑...


Setelah kejadian itu, kamu sama sekali gak bicara atau sekedar negur aku. Sampai esoknya pun kau masih diam. Bikin aku semakin merasa bersalah.


Tapi, yang paling ngebuat aku merasa bersalah bukan karena kamu nangkap basah aku lagi ngomongin kamu. Namun, gara-gara aku, kamu jadi masuk UKS akibat muntah-muntah.


Kamu kenapa, sih gak bilang ke aku kalau kamu alergi coklat? Jadi kan aku gak akan maksa kamu buat makan itu coklat.


...📑📑📑...


[2022]


Oh, Yudha ingat kejadian itu! Dia makan coklat pemberian Jihan walaupun tahu dirinya alergi bukan karena paksaan Jihan. Tapi, karena Jihan terlihat seperti ingin menangis dan nampak merasa sangat bersalah.


Kejadian itu terjadi sehari setelah Yudha menangkap basah Jihan yang membicarakannya dari belakang. Yudha tidak berbicara bukan karena ia membenci Jihan ataupun marah kepada gadis itu.


Namun, karena ia pikir Jihan membencinya. Jadi, Yudha pikir buat apa berusaha ramah dengan orang yang tidak menyukainya. Lebih baik menjaga jarak, bukan?


Melihat Jihan meminta maaf padanya hingga nyaris menangis, membuat Yudha juga merasa bersalah pada saat itu. Alhasil, ia akhirnya memakan coklat pemberian Jihan walau dia sendiri tahu bahwa dirinya mempunyai alergi terhadap coklat.


...📑📑📑...


[2015]


Jihan kembali ke kelas setelah jam istirahat. Yudha baru saja menutup novelnya.


Yudha hanya menganggukkan kepalanya sambil menyiapkan buku catatan untuk pelajaran fisika.


Jihan semakin diliputi rasa bersalah kala Yudha yang nampak menjaga jarak dengannya. Bahkan Yudha secara terang-terangan menghindari kontak mata dengannya.


Sepanjang pelajaran pun, Yudha hanya sibuk mendengarkan guru mengajar, tanpa sekali pun berbicara dengan Jihan. Jika Jihan bertanya, Yudha akan menjawabnya dengan seadanya.


Hal ini terjadi hingga bel pulang sekolah berbunyi. Jihan hendak mengajak Yudha berbicara sepulang sekolah. Namun, ia harus pulang lebih awal hari ini.


Keesokan harinya, Yudha masih menjaga jarak dengan Jihan. Hingga jam istirahat Jihan sudah tak tahan lagi.


Jihan kembali ke kelas sebelum jam istirahat habis sambil membawa sebatang coklat dan menyodorkannya kepada Yudha.


"Yudha maafin aku," ucap Jihan memohon. Tangannya yang memegang coklat masih terulur ke depan.


"Soal? Kayaknya gak ada perlu kumaafin, deh."


"Soal kemarin. Kamu memang ngeselin. Tapi, gak seharusnya aku ngomongin kamu dari belakang," jelas Jihan. Ia benar-benar merasa bersalah dan butuh pengampunan.


Masih jam istirahat, jadi kelas masih kosong. Karena mayoritas siswa pergi keluar kelas saat jam istirahat.


"Oh.... Aku gak marah kok."


"Tapi, kok kamu jadi pendiam."


"Emang sebelumnya aku banyak bicara?"


Jihan berpikir sejenak. Benar juga kata Yudha. Kalau dipikir-pikir Yudha memang bukan anak yang banyak bicara, dan seharusnya Jihan sadar akan itu. "Enggak, sih," cicit Jihan.


Akan tetapi, entah mengapa firasat Jihan mengatakan bahwa Yudha marah padanya. Terkadang, orang bisa merasakan jika orang tidak menyukainya, bukan?


"Kalau kamu gak marah, kenapa kamu gak ambil coklat ini?" tanya Jihan yang kekeh dengan firasatnya.


"Aku gak makan coklat," tolak Yudha sambil kembali menunduk untuk melanjutkan kegiatan membaca novelnya.


"Tuh, kan.... Kamu beneran marah." Jihan menurunkan coklat dari tangannya dengan lesu. Ia menganggap Yudha sangat membencinya.


Jihan takut dibenci oleh siapapun. "Sekali lagi maaf ya," imbuh Jihan dengan bibir bergetar.


Yudha menoleh ke arah Jihan. Menarik pergelangan tangan Jihan sebelum Jihan melangkah pergi. Kemudian ia mengambil coklat di tangan Jihan.


"Sudah, ini kuambil. Aku beneran gak marah. Jadi, santai aja." Yudha meletakkan coklat pemberian Jihan di atas meja tanpa berniat memakannya.


Jihan mengambil kembali coklat di atas meja Yudha. "Gak usah dipaksa, Yud. Kalau emang gak mau. Nanti yang ada coklat ini kamu buang lagi."


Yudha merebut kembali coklat di tangan Jihan. "Yaudah. Sini kumakan."


Yudha merobek bungkus coklat tersebut dan memasukkan sepotong besar ke mulutnya. "Nah, udah kumakan. Aku gak marah. Sama sekali gak marah. Sudah percaya sekarang?"


Seketika senyum mengembang di bibir Jihan. Ia menganggukkan kepala dengan semangat. "Berarti kamu sudah gak marah lagi kan, Yud?" kata Jihan dengan semangat berapi-api sambil mengoyang goyang tubuh Yudha dengan kedua tangannya yang mencengkram bahu Yudha.


"Aku memang gak pernah marah."


...📑📑📑...


Jam istirahat usai. Tadi, sebelum bel masuk kelas berbunyi, Yudha keluar kelas. Entah ke toilet atau ke kantin untuk membeli minum. Yang jelas hingga pelajaran matematika hampir usai, Yudha tidak juga kembali ke kelas.


Padahal, Yudha bukan tipikal siswa yang suka membolos. Apalagi sekarang pelajaran matematika. Pelajaran yang sejauh ini Jihan ketahui sebagai mata pelajaran paling Yudha kuasai.


Jihan menolehkan kepalanya dan bertanya kepada Novita, "Nov, kamu lihat Yudha kemana?"


"Kamu gak tau? Kata Adam, dia tadi muntah-muntah di toilet. Jadi, dibawa ke UKS."


"Gara-gara?"


"Adam dikasih tau sama Kak Neni, kalau Yudha punya alergi coklat. Tau dah kenapa anak itu malah makan coklat. Kambuh deh alerginya."


Jihan seketika memucat. Rasa bersalah seketika kembali menggerogotinya.


...📑📑📑...


Sumpah ya, Yud. Kamu itu paling bisa ngebuat aku merasa bersalah.