
"Apakah mungkin jika dia didorong?" tanya Amy ragu ragu.
Ucapannya membuat kami bertiga saling berpandangan dengan wajah ngeri.
"Bukan!!" Tiba tiba Deren muncul lagi membuatku terkejut. Cowok itu langsung duduk di sampingku, seolah kami sudah berteman akrab.
" Tadi temenku, Yoga, nggak sengaja melihat ke atas saat.... emm....Amelia berdiri di atas gedung. Kelihatannya dia cuma sendirian. "ugkap Deren muram.
#Sebelumnya
Deren dan teman-temannya masih di lapangan,mereka yang sudah menyelesaikan bermain bola basketnya dan akan memutuskan untuk pulang.
"Yok pulang capek gue" ucap Edwin yang terlihat kelelahan setelah bermain basket.
"Yudah yok tapi jangan lupa nanti malem ke cafe kaya biasanya" tungkas Lucky dan hanya di balas anggukkan dengan mereka yang menandakan mereka mengiyakan kata kata Lucky.
Saat Deren dan teman-temannya melagkahkan kaki yang akan meninggalkan lapangan basket itu.
"Tunggu dulu," kata Yoga,membuat yang lainnya meghentikan lagkah kaki yang akan meninggalkan lapangan tersebut dan menoleh pada Yoga yang sedang memandang kearah langit."Itu di atas gedung..... ada yang berdiri di sana." tunjuk Yoga
Deren dan yang lain melihat arah yang di tunjuk Yoga. Tampak seseorang berdiri di atas gedung sekolah. Meski tidak bisa melihat dengan jelas, tapi itu adalah seorang cewek.
"Mau ngapain coba?" tanya Lucky ngeri melihat sosok cewek yang berada di atas atap itu ."Dia berdiri di pinggir atap kan? apa ngga bahaya?"
"Heeeei........!"teriak Davin melihat gerak gerik cewek yang akan loncat dari atas atap gedung sekolah " Kayaknya dia mau loncat tuh"
Deren yang mendengar itu otomatis langsung berlari kearah gedung itu. Meski dia tidak akan bisa tiba di atas atap gedung dengan tepat waktu,...
"Deren!" Yoga menarik kuat kuat tubuh Deren dibantu Edwin.
tiba tiba sebuah tubuh terjatuh dari atas tepat di depan mereka. Ya itu adalah tubuh wanita yang tadi di atas atap gedung.
Deren menoleh kearahku " Ngomong omong, ngga ada handphone nya di saku bajunya ataupun di tasnya. Mugkin terlempar waktu meloncat"
"Iya kemungkinan besar kayak gitu" Aku berpaling pada Kirana "Kirana lo punya nomor keluarganya Amelia?"
"Ngga ada, Sherly" ucap Kirana yang memang tidak memiliki nomornya salah satu keluarga Amelia.
"Gue ada no WhatsApp mamanya Amelia " ucap Amy tiba tiba.
"Yudah gue yang telfonin klo lewat chat ngga enak"ucap Deren meminta nomor telefon Mamanya Amelia pada Amy.
Setelah itu Deren menelefon mamanya Amelia." Maaf mengganggu tante , Saya Deren, temennya Amelia. Amelia terkena kecelakaan. Tante bisa datang ke sekolah sekarang?"....."Terima kasih banyak tante" menutup panggilan.
"Deren keren ya Sherly"bisik Kirana padaku tanpa terlihat dan terdengar oleh Amy ataupun Deren yang berada tak begitu jauh. Aku setuju dengan pendapat Kirana. Cara Deren bicara dengan mamanya Amelia sangat tenang dan dewasa.
"beres"ucap Deren yang telah menyelesaikan panggilan." Nanti biar aku aja yang nungguin nyokapnya Amelia. Kalian pulang aja"
Aku menggeleng "Aku ikut nunggu aja"
"kalo gitu gue pulang dulu ya Sherly" ucap Kirana yang memegang pundakku,ia tau bawah ini adalah kesempatan agar bisa dekat dengan Deren. "Gue nitip Sherly ya, bilangin turut berduka buat nyokapnya Amelia. Yok Am..., temenin gue pulang!" diam diam mengedipkan matanya padaku.
"Eh.....,Kirana..!"
"Byee,Sherly"
Kirana dengan cepat menarik tangan Amy yang tampak kebingunan, ia mau tidak mau ikut mengucapka selamat tinggi juga padaku.
Suasana menjadi cangguh aku yang bingung hanya diam saja.
Tiba tiba......