
"Aku ngga punya...."Baru kusadari aku tidak mendetahui apapun tentang Amelia .Aku tak tau dimana alamat rumahnya dan aku tidak kenal orangtuanya, padahal Amelia selalu cerita padaku.Kenapa aku bisa mengatakan dia adalah temanku sedangkan atau tidak tau apa apa soal dia?!
"Ngga apa apa.Pasti nomornya ada di ponselnya.Aku tanya ke satpamnya dulu ya"kata Deren kepadaku
"Kamu gapapa aku tinggal bentar?"sambungnya lagi.
"Aku gapapa"
Deren tersenyum "aku ngga bakal lama kok"
Aku menatap kepergian Deren.Ini adalah hari yang ku tunggu tunggu, hari Deren menyapaku dan menajakku mengobrol.Malah tadi dia sempat mengandengku meski hanya sebentar.
"Sherly......."
Aku menoleh, terlihat Kirana tengah berjalan bersama Amy. Amy adalah teman sekelas kami namun aku tak begitu dekat dengannya,tapi dia begitu dekat dengan Kirana.
"Sherly tadi itu beneran Amelia??"tanya amy menahan rasa sedihnya karna dia lumayan dekat dengannya jika di kelas apa lagi mereka satu bangku yang membuatnya menjadi akrab.
"Iya...."jawabku lirih.Kami bertiga berpelukan.
"Kayaknya kemaren dia baik baik aja deh"
"Dia belakangan ini agak sterss"kata Kirana, karna Kirana adalah pendengar yang baik. Jadi tidak heran banyak sekali teman -teman yang curhat padanya termasuk Amelia yang tidak punya banyak teman.
"Kenapa bisa sterss"
Aku menatap Kirana lalu melirik Amy, dan Kirana langsung mengerti. Amy juga termasuk salah satu yang biasa ngumpul bareng Raisa dan teman temannya. Amy mendadak melepas pelukan, menandakan dia juga kaget mendengar nama Raisa disebut- sebut.
Menyadari kesalahannya, Kirana langsung menutup mulut. Kami berdua hanya bisa terdiam memutar otak dan mencari cara untuk mengubah topik.
" Memangnya dia dekat dengan Raisa dan yang lain" tanya amy memecahkan keheningan diantara kami.
" menurut lo sendiri gimana? " aku berbalik bertanya. "Bukannya lo temen deket Raisa sama gengnya."
"Gue dah lama ngga ngumpul bareng mereka" jawab Amy jujur. " Tapi setau gue,mereka paling sebatas kenal aja. Raisa sama gengnya kan memang populer di sekolah ini. Dan gue yakin kalian juga tau Aminin selalu ngelompok ke sana kemari lantaran nggak punya banyak temen. Salah satunya ngelompok di gengnya Raisa. Mungkin mereka nggak terlalu suka, akhirnya memilih untuk mengucilkan Amelia" jelas Amy panjang lebar yang memang mengetahui sifat Amelia.
" Masa sih gitu aja dikucilin? " tanyaku kaget, karna memang aku hanya sebatas mengetahui dan tidak pernah bersama gengnya Raisa.
" Iya, mereka memang suka begitu" sahut Amy yang mengetahui sifat Raisa dan gengnya.
" Tapi masa karna dikucilin sama mereka Amelia bunuh diri.... "tanyaku. Kusadari Amelia tidak pernah mencari masalah yang dia alami. Semua yang diceritakan kepadaku hanya tentang bagian kehidupannya yang menyenangkan. Membuatku teringat dengan penampilan Amelia. Dia memiliki rambut sebahu, tubuh yang idieal dengan kulit putihnya,dan wajahnya yang terbilang lumayan tanpa make up. Orang yang kehidupannya bahagia tidak mungkin tampak semuram itu.
"Apakah mungkin jika dia didorong?" tanya Amy ragu ragu.
Ucapannya membuat kami bertiga saling berpandangan dengan wajah ngeri.
"Bukan!!" Tiba tiba Deren muncul lagi membuatku terkejut. Cowok itu langsung duduk di sampingku, seolah kami sudah berteman akrab.
" Tadi temenku, Yoga, nggak sengaja melihat ke atas saat.... emm....Amelia berdiri di atas gedung. Kelihatannya dia cuma sendirian. "ugkap Deren muram.