Cyber Masters

Cyber Masters
Chapter 28



Tak lama kemudian, datang beberapa pengendara motor dari berbagai arah dan di ikuti oleh pasukan orang orang berkemeja, gangster dan tentara loreng merah. Drone berterbangan dengan senapan sudah keluar siap menembak. Para pengendara motor itu berjalan ke belakang ke lima nya dan memutar balik, kemudian dari belakang ke limanya keluar pasukan pemberontak yang sudah siap bertempur. Pasukan di depan menghujani mereka dengan tembakan. Renai mengangkat tangan nya dan mulutnya berkomat kamit seperti membaca mantra, sebuah pelindung sinar setengah lingkaran menutupi semuanya dan menahan semua peluru, laser dan tembakan lain nya yang datang. Dua buah tembakan bazoka datang menuju pelindung, Hayato dan Kazuya langsung keluar pelindung, Hayato meninju peluru itu ke atas dan dia melopat menendang pelurunya yang melesat kembali ke pasukan musuh, sementara Kazuya menangkap peluru dengan tapak dan memutar kedua tapak nya kemudian melontarkan lagi peluru itu kembali ke pasukan musuh. Dua peluru bazooka yang kembali langsung meledakkan sebagian pasukan di depan, beberapa di antaranya berusaha melarikan diri tapi Harumi dan Akane sudah menghadang mereka dan langsung menghajar mereka dengan tendangan juga sabetan pedang.


Melihat cara empat orang itu bertarung, pasukan yang berada di belakang nya menjadi tertegun dan menurunkan senjata mereka.


“Um...mereka manusia bukan ya ?” Tanya seorang pemberontak.


“Entah....tapi mereka kuat sekali....” Tambah orang di sebelah nya.


“Hehehe mereka memang kuat, melebihi manusia...” Celetuk Renai.


“Oh begitu....” Jawab kedua orang yang bergumam barusan.


Akhirnya seluruh pasukan habis oleh ke empatnya yang berjalan santai kembali menuju kubah pelindung.


“Haaah...semua hancur lagi, kan sudah ku bilang tahan diri....” Ujar Hayato lemas.


“Hehe rasain....” Balas Akane.


“Nih...kebetulan nyangkut di pedang ku....” Harumi melemparkan sebuah mata bionik kepada Hayato.


“Ah...sudah rusak ini mah ga bisa di pakai....” Ujar Hayato setelah melihat mata itu dan melemparkan nya lagi ke belakang.


“Yare yare.....untuk yang berikutnya di ingat.....” Balas Kazuya.


“Huh susah aniki....lagian sudah sih, mulung mulu.” Balas Akane.


“Makanya coba besar di timur.....” Balas Hayato.


“Cup...cup...jangan nangis ya....” Ledek Harumi.


“Hoi lihat, semua pada bengong.....” Tunjuk Kazuya ke depan.


Semua pasukan yang melihat ke empatnya berjalan santai sambil bercanda seakan akan tidak ada apa apa di belakang mereka menjadi tertegun dengan mulut menganga.


“Kita tidak boleh menjadikan mereka musuh....” Hampir semuanya berpikir demikian.


Ching ching langsung lari ke depan bersama Renai menyambut ke empatnya, kemudian mereka kembali masuk ke dalam selokan untuk merencanakan tahap selanjutnya. Setelah itu, mereka berjalan jalan di kota dengan memakai penyamaran mereka dan melihat lihat kota.


****


Sementara itu, di sebuah gedung tertinggi di kota, seorang pria sedang memukul meja nya setelah melihat pasukan nya di kalahkan, seorang perwira tinggi tentara dengan banyak mendali di seragam nya masuk ke dalam dan langsung duduk di depan pria itu, pria yang memukul meja langsung melihat nya,


“Siapa mereka ?” Tanya perwira itu.


“Tidak tahu, aku sendiri baru melihat mereka, tapi mereka ber empat dan seorang anak kecil, persis seperti buronan kita.” Balas pria itu.


“Hmmm mereka sudah datang....aku akan laporkan hal ini pada kaisar, tangkap mereka, hidup atau mati.” Ujar perwira itu.


“Ya, sudah saatnya ku keluarkan senjata pamungkas ku....” Ujar pria itu.


Kemudian pria itu menekan intercom di mejanya dan dia berbicara dengan sekertarisnya, tiba tiba seorang pria berlengan bionik dan tangan nya seperti cakar dengan masker menutupi wajah nya masuk ke dalam.


“Ini target kita...buru mereka.....” Teriak pria itu.


“Baik bos....sy berangkat.”


Pria itu langsung menghilang. Perwira itu langsung menggelengkan kepala dan tersenyum mengejek.


“Kamu terlalu meremehkan mereka, jangan hanya kirim satu orang...” Ujar perwira itu.


“Dia pemimpin dari empat pendekar binaan ku. Mereka pasti berhasil.” Ujar pria itu.


“Hah....kita lihat saja nanti, asal kamu tahu saja, di benua sebrang mereka tak terkalahkan.” Balas perwira itu.


****


Sementara itu di kota, Hayato, Akane, Kazuya, Harumi dan Renai sedang makan di sebuah restoran keluarga. Mereka mengamati sekitar nya, suasana di dalam restoran benar benar sangat berbeda dengan empat kota yang mereka tahu.


“Pakaian mereka benar benar berani dan minim ya....” Ujar Akane.


“Kamu berani merah pakai pakaian seperti itu ?” Tanya Harumi.


“Ogah, aneki berani ga ?” Tanya Akane.


“Huh aku berani tapi aku malas....” Balas Harumi.


“Oh iya juga ya, rata sih.....” Ledek Akane.


“Kamu cari mati ya merah....” Balas Harumi.


“Nah kan, ujung ujung nya ribut....” Celetuk Kazuya.


Harumi dan Akane langsung menutup kepala nya takut kena getok. Hayato dan Renai langsung tertawa kencang.


“Maaf menunggu....”


Pelayan datang membawakan mereka makanan, ke empat nya melihat makanan yang di hidangkan dan sedikit heran,


“Um ini daging apa ya ?” Tanya Hayato.


“Oh itu daging sapi tuan.....” Jawab pelayan.


“Heee di sini ada sapi ya.....” Balas Kazuya.


“Iya tuan, di sini ada peternakan sapi di desa dekat dengan kota.” Jawab pelayan.


“Wah kalau saja di tempat kita ada sapi ya...” Balas Akane.


“Memang datang dari mana nyonya ?” Tanya pelayan.


“Dari benua sebrang....” Jawab Harumi.


“Oh tanah suci ya...baiklah selamat menikmati.” Pelayan langsung berpaling pergi.


“Tanah suci ?” Tanya ke empatnya.


Mendengar tempat mereka di sebut tanah suci, pikiran ke empatnya langsung memikirkan hal yang sama dan mereka ingat dengan apa yang mereka lihat di kedai remang remang kota utara.


“Masa sih tanah suci ? kenapa yang terlintas di benak ku Kurumi nee san ya....” Ujar Hayato.


“Loh kok sama.....aku juga mikir Kurumi nee san.”  Tambah Akane.


“Arrrgh....kenapa pikiran ku juga sama dengan kalian....” Tambah Harumi sambil memegang kepala dengan kedua tangan nya.


“Enak......” Ujar Renai yang sedang menikmati makanan nya.


Ketika mereka mau mulai makan, tiba tiba, sebuah mobil melayang dari luar menuju kaca jendela tempat mereka duduk. Hayato yang duduk dekat jendela langsung meninju mobil itu,  ke empatnya langsung menutupi Renai supaya tidak terkena pecahan kaca, mereka melihat keluar dan melihat empat orang di depan sedang tertawa mengejek mereka.


“Haaah ada ada saja.....bantai ?” Tanya Hayato.


“Bantai....” Jawab Akane, Kazuya dan Harumi.


“Rena tunggu sini ya.....aaaam....” Ujar Renai sambil makan.


“Sebentar ya....” Ujar ke empatnya.


Mereka langsung melompat keluar dari jendela dan berjalan menuju penyerang nya. Ke empat penyerang nya, seorang pria berbadan besar dengan tubuh bagian bawah nya bionik, seorang pria kurus yang tangan bioniknya seperti cakar, seorang pria yang menggunakan dua bilah golok dan seorang wanita kekar yang membawa dua buah tonfa.


“Serang mereka....” Ujar pria yang bertangan cakar.


Tiba tiba pria bertangan cakar itu langsung berada di depan Hayato dan menusukkan cakarnya ke wajah Hayato. Tapi karena reflek, Hayato menjatuhkan tubuhnya ke belakang dan tusukan cakar itu lewat persis di depan wajah nya, dia langsung menangkap lengan bionik nya dan mematahkan nya dengan tebasan tangan nya.


“Nah barang bagus hehehe.”


Dia langsung menendang perut pria itu dan pria itu terpental ke belakang. Melihat pria itu melayang terbang dengan kondisi pingsan dan tangan terputus satu, ketiga teman nya menjadi ragu untuk maju.


“Loh kok mundur.....” Ujar Harumi.


Harumi langsung berada di depan pria yang membawa dua golok dan dengan pedang nya dia menusuk kaki bionik nya, pria itu langsung jatuh. Ketika pria itu berlutut di depan nya, Harumi langsung menendang kepalanya sampai terpental dan pingsan. Karena sudah tidak ada pilihan lain, wanita yang memakai tonfa itu langsung maju menyerang Akane dan mengayunkan tonfanya. Akane menangkis santai dengan tangan nya dan kaki nya langsung menendang ke atas mengenai dagu wanita itu yang langsung terpental salto ke belakang. Pria besar yang sepertinya melemparkan mobil langsung berbalik dan lari, tapi tiba tiba dia terpental dan mengarah ke Kazuya, tentu saja Kazuya langsung menyambutnya dengan tapak dan mementalkan lagi ke arah datang nya pria besar itu. Muncul sebuah robot besar yang membawa pedang samurai langsung membelah dua tubuh pria besar yang mengarah padanya.


“Kurang ajar.....lawan aku...” Teriak seorang pria di dalam robot.


Robot besar itu langsung berlari menuju ke empatnya sambil mengangkat pedang samurai nya. Ke empatnya menghindar dan pedang samurai besar itu menghantam tanah. Hayato dan Akane langsung berlari meniti pedang dan melompat ke pundak kanan dan kiri robot itu. Hayato langsung meninju kepala robot itu dan Akane juga langsung menendang nya.


“Arrrgh.....”


Tubuh robot itu terhuyung huyung dan jatuh ke depan, tapi Kazuya menyambut dengan tapak nya dan membuat robot itu terjengkang ke belakang. “Sriiing...” Harumi langsung membelah kepala robot itu sampai terbelah dua secara rapi. Ternyata di dalam kepala nya ada seorang pria yang terlihat perlente sedang kesakitan karena terjepit di dalam.


“Wah sepertinya dia bos nya nih....” Ujar Hayato sambil memfoto wajah pria itu.


“Bos mafia ya....hoi...” Akane jongkok dan bertanya kepada pria yang masih mengerang di dalam kepala robot.


Belum sempat pria itu menjawab, Hayato, Akane, Kazuya dan Harumi di hujani peluru, ternyata di belakang robot itu ada pasukan tentara seragam loreng merah sedang mendekat sambil menembaki mereka, sebuah tank berjalan di belakang pasukan pejalan kaki. Karena musuh terlalu banyak, ke empatnya langsung mundur untuk melarikan diri ke dalam restoran, kemudian menjemput Renai dan membawanya pergi masuk ke gang sebelah restoran. Ke limanya langsung masuk ke dalam selokan yang ada pintunya di gang itu. Di dalam selokan,


“Ah kita belum sempat menghabisi bos nya...” Ujar Harumi.


“Tenang aneki.....” Hayato menekan tombol di sebuah remote yang di pegang nya.


“Booom..” Terdengar bunyi ledakan keras yang guncangan nya sampai mengguncang selokan tempat mereka berada.


“Kamu berbuat apa pemulung ?” Tanya Akane.


“Oh, tangan yang ku putuskan tadi ada sistem peledak nya dan kebetulan remotenya di tangan itu juga hehehe.”  Jawab Hayato.


“Hahaha kadang jiwa pemulung mu berguna juga ya.” Ujar Kazuya.


“Kita pastikan lagi ke atas....” Ujar Harumi sambil memanjat tangganya.


Harumi mengintip dari celah penutup selokan dan melihat robot itu sudah hancur, sedangkan pasukan itu mundur menjauh,


“Dah beres....hancur semua, tapi kamu menghancurkan gedung di sebelahnya juga.” Ujar Harumi.


“Ah masa bodoh lah....siapa suruh gedung itu ada di situ...” Ujar Hayato.


“Hehehe dasar pemulung....” Balas Akane.


“Yare yare......ayo jalan.” Ujar Kazuya yang menggendong Renai di pundak nya.


“Yuk pulang, udah kenyang Rena malah jadi ngantuk.”


Akhirnya ke limanya berjalan menelusuri selokan untuk kembali ke markas Ching ching dan mengkonfirmasi bos itu bukan yang di cari oleh Ching ching. Begitu mereka sampai di markas, ternyata markas sudah porak poranda dan Ching ching tidak di temukan, mereka mulai menyelidiki markas yang sudah hancur, akhirnya mereka menemukan sebuah surat yang mengatakan Ching ching pergi ke kota religi untuk pulang ke rumah karena urusannya di kota pelabuhan sudah selesai.


“Loh begitu rupanya, dia menghancurkan markas nya sendiri....” Ujar Hayato.


“Sepertinya begitu, kita juga harus pergi ke kota berikutnya....” Balas Kazuya.


“Yuk lah, Rena ngantuk.....” Balas Renai sambil mengucek matanya.


“Sini, tidur......” Harumi langsung menggendong Renai.


“Tapi perginya naik apa ya ?” Tanya Akane.


“Cari mobil aja yu....” Jawab Hayato.


Akhirnya mereka naik lagi ke permukaan dan mulai mencari cara untuk pergi ke kota pertambangan. Setelah berjalan beberapa blok, mereka menemukan sebuah mobil melayang yang pemilik nya sedang menggoda wanita di pinggir jalan. Akane dan Harumi maju menggeser wanita yang sedang di goda.


“Halo cowok ganteng....” Ujar Akane.


“Wah haloo...kamu juga cantik...mau temani aku bermain main ?” Tanya pria di mobil itu.


“Wah mau, tapi kita harus berdua ya.....” Jawab Akane sambil merangkul Harumi yang kaku.


“I..iya berdua.....” Tambah Harumi malu malu.


“Wah kamu lucu......aku senang yang seperti kamu, pendek dan imut....” Ujar pria itu.


“Krek.” Terdengar seperti sesuatu yang putus di kepala Harumi, Akane menggelengkan kepalanya dan melihat pria itu dengan rasa iba, dia mengatupkan tangan mengucapkan duka yang mendalam kepada pria itu.


“Bilang apa barusan hah ? pendek ?” Tanya Harumi dengan tangan sudah berubah menjadi pedang dan di tempelkan di pipi pria itu, sedangkan tangan satunya menggebrak pintu mobil.


“Hiii ampun....tapi...aku suka kok yang kecil kecil....” Ujar pria itu sambil mencoba mencari selamat.


“Haaah....coba di ulang ? kecil ? rata ? Haaah.” Teriak Harumi semakin marah.


“Oi aneki, dia bilang kecil bukan rata.....” Bisik Akane sedikit kencang supaya pria itu mendengar.


“Keluaaaar.....” Teriak Harumi dengan sekuat tenaga.


“Hiii....ampun......” Pria itu keluar dari mobil dan lari tunggang langgang meninggalkan mobil nya.


Akane yang berdiri di sebelah Harumi yang sedang ngos ngosan dengan wajah merah, menahan tawanya sambil memegang perut dan mulut nya, dia menoleh ke arah lain agar tidak terlihat Harumi. Hayato, Kazuya dan Renai yang melihat nya, menggelengkan kepalanya.


“Yare yare....” Ujar ketiganya bersamaan.


Ke limanya langsung naik mobil yang sudah kosong itu. Kazuya mengemudikan nya karena dia lebih mengerti cara mengemudikan mobil melayang yang tidak seperti mobil biasanya. Mereka langsung menuju keluar kota, kondisi di dalam kota masih sepi karena kerusuhan yang barusan dan para petugas sedang menangani gedung gedung yang hacur akibat ledakan untuk menyelamatkan korban di dalam. Jalan menjadi sepi dan tidak ada yang menjaga pintu keluar kota, mereka langsung berjalan mengikuti jalan raya yang sudah di buat untuk menuju kota pertambangan yang merupakan kota berikut nya dan terletak di daerah pegunungan.