Cyber Masters

Cyber Masters
Chapter 26



Hayato, Akane, Kazuya dan Harumi meletakkan Renai yang tidur di kursi dan tabung berisi kepala Ichiro di meja, mereka mulai membongkar ruangan untuk mencari informasi petunjuk yang di berikan oleh kaisar matahari, yaitu benua es. Harumi membuka sebuah peta besar yang dia temukan di lantai, ke empatnya mulai mengitari peta dan melihat nya bersama sama.


“Benua es ya....tidak ada benua seperti itu, semua pasir.....” Ujar Harumi sambil melihat petanya.


“Kalau di lihat di peta dunia ini, hanya ada 3 benua kan.....salah satunya tempat kita sekarang ini....” Ujar Hayato.


“Semua yang kita tanya bilang nya di benua sebrang kita kan....dan benua sebrang kita, disini....” Ujar Kazuya sambil menunjuk benua di utara benua mereka.


“Tapi yakin nih kita mau pergi ? bukankah Rena chan sudah aman ?” Tanya Akane.


“Aku pergi....aku masih punya urusan dengan orang itu.” Jawab Hayato.


“Sama, aku juga pergi....aku harus menyelesaikan pertarungan 3 tahun lalu.” Tambah Harumi.


“Benar, aku juga harus pergi menuntaskan semuanya...supaya kedepan nya tidak ada masalah lagi.” Tambah Kazuya.


“Kamu di sini saja bersama Ren chan...lebih aman.” Ujar Hayato kepada Akane.


“Hah...mana bisa begitu....aku juga pergi. Rena chan juga.....” Balas Akane.


“Ya sudah kalau begitu, satu satunya tempat tujuan berikutnya hanya benua di utara ini. Ayo ke pelabuhan dan mencari cara menyebrang ke sana...” Ajak Hayato.


Hayato menggendong Renai yang tertidur dan bersama yang lain, menuju ke pelabuhan. Mereka naik mobil melayang yang ada di bawah dan menuju ke utara kota untuk keluar ke pelabuhan. Mobil melewati sebuah jalan menanjak yang cukup panjang untuk ke permukaan, kemudian mereka melihat cahaya dan sebuah gerbang besar seperti gerbang hangar pesawat terbang dan keluar kembali ke permukaan. Ke empatnya turun dari mobil dan membawa Renai. Mereka melihat banyak sekali kapal pasir dari segala ukuran yang sedang tertambat di pelabuhan, di depan mereka melihat hamparan pasir yang luas dan berombak seperti lautan. Beberapa kapal berjalan dan melayang di atas pasir menuju ke tengah. Sepertinya banyak kapal pasir berpenumpang yang mengangkut orang orang dan robot dari benua di utara datang dan sebalik nya,


“Hmm...harus beli tiket dulu ya kalau mau naik itu ?” Tanya Kazuya sambil menunjuk sebuah kapal pasir penumpang.


“Banyak juga ya penumpang nya....” Tambah Harumi.


“Iya...kurang nyaman jadinya....” Tambah Akane.


“Hei, kita kan bukan mau tamasya...dimana beli tiket nya.” Ujar Hayato.


“Anoo.....” Seseorang menegur mereka.


Ke empat nya menoleh dan melihat seorang pria paruh baya berdiri di belakang mereka.


“Ossan siapa ?” Tanya Hayato.


“Ah...kamu Suzaku kan ?” Tanya pria itu pada Akane yang masih memakai topeng kucing nya.


“Iya benar, siapa ossan ?” Tanya Akane.


“Masa lupa ? aku teman ayah mu kan, waktu itu kita bertamasya ke pulau di dekat sini bersama Renai chan juga....” Ujar pria itu.


“Eh Lie ossan ?” Tanya Akane sambil membuka topeng nya.


“Akhirnya ingat hahaha...” Balas Lie.


“Dasar Merah....payah banget sih, sama kenalan saja lupa....” Gumam Harumi.


“Diam aneki....” Balas Akane.


“Kamu mau kemana ?” Tanya Lie.


“Kita mau menyebrang ke benua di utara....” Jawab Akane.


“Hmmm apa ada keperluan ke sana ?” Tanya Lie.


“Mau menghajar kaisar....” Jawab Akane polos.


“Oi oi Akane....” Tegur Hayato.


“Aaaah Merah bego...” Tambah Harumi.


“Yare yare....” Tambah Kazuya.


“Baiklah, aku mengerti, ayo ikut aku, aku pinjamkan kalian kapal ku....gara gara pasukan mereka bisnis ku juga jadi masalah. Tolong hancurkan mereka ya.” Ujar Lie kemudian dia berbalik dan berjalan mengajak semuanya.


“Kan, tidak masalah kan ? Lie ossan adalah pengusaha kapal di pelabuhan dan teman ayah angkat ku dan Rena chan. Orang nya baik dan bisa di percaya...masalah kapal sudah terselesaikan hehe.” Ujar Akane.


“Padahal barusan kamu tidak kenal dia.....” Balas Hayato, Kazuya dan Harumi bersamaan.


Lie membawa mereka ke sebuah kapal berbentuk yacht kecil dan memberikan kuncinya pada Hayato. Ke empatnya menunduk di hadapan Lie yang tersenyum mengucapkan terima kasih. Kemudian, mereka masuk ke dalam kapal dan menidurkan Renai di dalam kabin. Lie memberitahu mereka kalau perjalanan ke benua itu memakan waktu dua sampai tiga hari dan berhati hatilah pada sandworm, binatang besar sejenis cacing yang hidup di pasir dan rasanya lezat. Mereka pun berangkat mengarungi lautan pasir sambil melambaikan tangan kepada Lie yang juga melambaikan tangan nya dan tersenyum. Ketika mereka sudah sampai agak ke tengah, Hayato melompat dan meninju pasir yang bergelombang di bawah, ketika pasir berlubang, Kazuya langsung melemparkan tabung berisi kepala Ichiro kedalam nya, pasir menutup kembali dan menelan tabung berisi kepala Ichiro.


“Beres....” Ujar Hayato yang baru mendarat.


“Ya, tidak mungkin ada yang bisa menemukan kepala itu, biar saja dia tidur selamanya.” Tambah Kazuya.


Kapal terus berjalan menuju benua di utara, karena memakai auto pilot yang otomatis mengarah ke pelabuhan di kota pelabuhan benua utara, mereka duduk di dalam kabin menemani Renai dan membuka kembali peta yang mereka bawa dari kantor Ichiro.


“Kita sampai di kota pelabuhan, lalu kita mencari tahu dimana benua es itu...” Ujar Kazuya sambil menunjuk petanya.


“Aku jadi ingin tahu ada apa saja di benua utara itu....” Balas Hayato.


“Tujuan nya apa ingin tahu ? mulung ?” Tanya Akane.


“Tepat...kayak tidak tahu saja....kalau pulang bisa bawa barang export lumayan duit nya.” Jawab Hayato.


“Aku heran, kenapa isi otak mu hanya mulung....” Balas Harumi.


“Hehe hobi aneki....” Jawab Hayato.


“Tolong serius sedikit, perjalanan kita ini bukan buat main main....” Balas Kazuya.


“Iya iya.....” Balas Hayato.


***


Keesokan hari nya, kapal sudah berada di tengah tengah, seakan akan mereka hanya sendirian di padang pasir yang sangat luas itu. Di atas kapal, Hayato, Akane berdiri di dek, sementara Kazuya sedang mengelus ngelus punggung Harumi yang mabuk laut dan Renai membawakan ember di sebelah nya.


“Oeeeek.....” Harumi muntah di dalam ember yang di bawa Renai.


“Makanya ku bilang juga apa, dari tadi di suruh duduk malah jalan jalan, begini kan jadinya.” Ujar Kazuya sambil menekan nekan leher Harumi dari belakang.


“Aku benci lautan pasir.......” Ujar Harumi sambil menaruh kepala nya di atas ember dan wajah nya tampak sangat pucat.


“Aneki payah....” Ujar Akane meledek sambil menoleh ke belakang.


“Kamu bilang apa.......oeeeek.” Balas Harumi langsung memasukkan kepala nya lagi ke ember.


“Hehehe Harumi onee chan lucu....” Ledek Renai.


“Stop...jangan goda aku....aku berusaha menahan nya.” Ujar Hayato.


Akane melihat wajah Hayato, ternyata wajah Hayato sudah pucat dan menghijau sedikit, Hayato terlihat berkonsentrasi melihat ke depan tanpa bergerak.


“Mabok ya.....” Ledek Akane dengan senyum yang lebar sambil terus menekan pipi Hayato.


Hayato tidak menjawab, tapi dia mengangguk, kemudian dia langsung berbalik memegang kedua pundak Akane yang langsung melepaskan Renai karena reflek.


“Maaf...aku tidak tahan...oeeeeeek....” Hayato mengeluarkan semuanya di pakaian Akane.


“Waaaaaaaa pemulung begoooo......Rena chan...ember...ember...Aaaah kotor semua.” Teriak Akane panik.


“Maaf....oeeeeeek....” Hayato menambahnya dan semakin erat memegang pundak Akane.


“Waaaaaaa.....Rena chan...cepaaaaat....” Teriak Akane sambil memegangi Hayato.


“Iyaaaaa....sabar onee chan.....” Teriak Renai yang membawakan ember.


“Dasar....pasangan bego....oeeeek.....” Harumi muntah lagi di depan embernya.


“Yare yare...kamu juga bego cebol....mana ada kura kura mabok laut.” Tambah Kazuya.


Tiba tiba, pasir di samping mereka berhamburan, seekor cacing besar keluar dari dalam pasir menghadap ke kapal mereka.


“Skriiiek.....”


Cacing besar itu menyerang kapal dengan mulutnya yang penuh dengan gigi memutari mulutnya yang bulat. Ketika cacing itu mendekat, Akane membaringkan Hayato, kemudian melompat dan menendang ke atas, kepala cacing itu naik kembali ke atas dan Kazuya sudah di atas memukulkan tapak nya untuk menyambutnya. Cacing itu jatuh kembali ke dek bersama Kazuya dan Akane menambah dengan menjatuhkan tumit nya ke kepala cacing besar itu. Cacing itu langsung mati seketika, Akane menarik cacing itu ke tengah dek,


“Asiiiik....makan enak.....” Ujar Akane.


Dia mengambil pisau di jaket Hayato yang berbaring di dek dalam keadaan lemas karena mabuk. Dia langsung membuka perut cacing itu dan mengambili daging nya.


“Ah aku tahu, memang makanan khas daerah selatan kan.....” Kazuya jongkok membantu Akane mengeluarkan daging nya.


“Benar sekali, di panggang enak....nanti kita bikin habis ini.” Balas Akane.


“Tolong jangan buat aku tambah mual....” Ujar Hayato yang sudah bersender di dinding dekat kabin.


“Benar....urrp....” Tambah Harumi yang juga bersender di tempat yang sama dan menempel pada Hayato sambil menutup mulut nya.


Renai mengipasi keduanya dengan kain di depan mereka, tapi mulutnya sudah mulai berliur karena melirik daging yang di ambil Akane.


“Haya onii chan...Haru onee chan...daging itu enak tau...” Ujar Renai sambil mengipasi keduanya.


Setelah Akane dan Kazuya selesai mengambili daging cacing itu, mereka membuang sisanya kembali ke lautan pasir. Ketika Akane bersiap dan membuka tas punggung Hayato untuk mengambil kompor,


“Akane, kamu tidak mau mandi dulu...aroma mu lumayan menyengat.” Tegur Kazuya sambil menutup hidung nya.


“Ah....grrr gara gara si pemulung itu....ya sudah aku mandi dan cuci pakaian....tolong masak aniki...panggang saja.” Balas Akane sambil berdiri.


“Baik, aku akan membumbui nya dengan bumbu khas barat menggunakan daging khas selatan.” Ujar Kazuya yang mulai mengeluarkan kompor portabel dan penggorengan dari tas punggung Hayato.


“Rena bantu Kazu onii chan....” Ujar Renai sambil menghampiri dengan mata berbinar dan mulut berliur.


“Hahaha baiklah....” Balas Kazuya.


Sementara itu, kedua orang yang sedang mabuk dan bersender satu sama lain di dinding kabin.


“Uuuuh.....” Keluh Hayato dan Harumi sambil memegang ember masing masing.


“Masih lama tidak sih perjalanan ini....urp.” Ujar Hayato sambil menutup mulut nya dengan tangan.


“Tidak tahu....aku sudah muak dengan lautan pasir ini....urp.” Balas Harumi yang juga menutup mulut nya dengan tangan.


Akhirnya malam itu, mereka berpesta dengan makan malam yang nikmat dan banyak sampai berlebih. Renai membawakan dua piring berisi potongan daging yang lumayan besar kepada Hayato dan Harumi, dia meletakkan piring nya di depan keduanya. Wangi daging panggang itu menggugah selera, akhirnya keduanya mengambil nya dan makan. Renai tersenyum ketika melihat keduanya mulai makan,


“Enak kan....” Ujar nya.


“Iya...enak....” Balas Hayato dan Harumi.


“Nih tambah...aniki masih memanggang banyak.” Akane datang membawa sepiring penuh daging panggang dan menaruhnya di depan Hayato dan Harumi.


“Urk......oeeeek.” Keduanya langsung muntah kembali di ember masing masing karena melihat tumpukan daging di depan nya.


“Onee chan......” Ujar Renai cemberut sambil menoleh melihat Akane.


“Uuuuh...semua yang masuk keluar lagi...” Keluh Hayato dan Harumi.


“Yare yare.....” Gumam Kazuya sambil menggelengkan kepalanya sambil memasak.


Setelah selesai makan dan kenyang, mereka tertidur di atas dek. Kazuya tidur menempel di sebelah Harumi yang menempel di dinding dan di sebelah Hayato, sementara Akane tidur menempel kepada Hayato dan Renai berbaring di pangkuan ke empatnya.


***


Keesokan harinya, mulai terlihat banyak kapal berkeliaran di lautan pasir, sepertinya mereka sudah dekat dengan kota pelabuhan. Kazuya berada di ruang nahkoda dengan Renai yang duduk di pangkuan nya. Akane berada di dek sambil melihat lautan pasir, sementara Hayato dan Harumi masih bersender lemas di dinding kabin dan memegang ember masing masing. Tiba tiba Kazuya melihat lurus ke depan,


“Kita kedatangan tamu...Renai chan tolong beritahu yang lain.” Ujar Kazuya.


“Ok Kazu onii chan...” Renai melompat turun dari pangkuan Kazuya dan turun ke bawah untuk memberitahu yang lain.


Di depan mereka ada dua buah kapal seperti boat yang tertutup seluruh nya dengan besi bercorak loreng merah, sedang mendekati kapal mereka. Kazuya berdiri dan bersiap turun, tapi seekor naga besar bersinar biru dan sebuah tornado besar melesat dari kapal menuju kedua kapal boat besi itu dan menenggelamkan nya. Kazuya keluar dari ruang nahkoda dan turun ke bawah, dia melihat Hayato dan Harumi masih memasang kuda kuda mereka, sepertinya mereka baru saja mengeluarkan jurus mereka, tapi kemudian keduanya kembali berlari menuju ember mereka masing masing dan terduduk bersandar lemas lagi.


“Hmmm mereka....” Ujar Kazuya.


“Ya...katanya biar cepat sampai.....mereka udah ga tahan hehehe.” Balas Akane.


“Yare yare.....benar benar deh.” Gumam Kazuya sambil menggelengkan kepala.


Kapal terus melaju dan akhirnya mereka melihat kota pelabuhan yang berada di permukaan dan tidak berada di dalam tanah. Hayato yang di papah Akane dan Harumi yang di gendong Kazuya di punggung nya melihat kota dari kejauhan dan tersenyum lebar sampai menangis.


“Akhirnya sampai...yey sampai......urp.” Teriak keduanya yang kemudian langsung menutup mulut mereka dengan tangan.


“Jangan muntah di baju ku.” Teriak Akane dan Kazuya bersamaan.


“Hahaha sepertinya petualangan kita akan seru nih, benar tidak Ayin...” Ujar Renai di kepalanya.


“Hehehe benar Ren Ai....” Ayin menjawab nya di kepala Renai.


Kapal terus melaju menuju kota pelabuhan yang dari kejauhan sudah terlihat dan juga terlihat sangat ramai. Ke lima nya melihat kota dengan rasa penasaran, apa yang akan menunggu mereka di sana.