Creepy Horror

Creepy Horror
Love Chat (Part 3/End)



Aku membuka mataku perlahan seraya mengerang kesakitan. Ku lihat sekelilingku, syukurlah aku masih berada di kamar apartemenku. Ah, rasanya kepalaku begitu sakit. Seperti ada suatu benda yang menimpa kepalaku sebelumnya. Aneh sekali.


Detik selanjutnya, hidungku mencium bau yang sangat menyengat. Huek! Bau apa ini? Baunya seperti darah. Ya, darah! Saking menyengatnya bau darah tersebut, sampai-sampai membuatku mual dan muntah disaat itu juga.


"Sudah bangun, panda?"


DEG!!!


Aku menengok ke arah samping kananku. Betapa terkejutnya aku saat melihat seorang laki-laki dan 3 wanita sedang duduk di kasurku. Si-siapa mereka? Apa mereka pembunuh Red? Tunggu dulu. Aku baru sadar mayat Red tidak ada di kasurku! Kemana Red? Mataku menatap segala penjuru ruangan. Rupanya, Red digeletakkan di depan pintu kamar mandi.



"Ingat dengan kita, panda?" tanya salah satu perempuan diantara mereka.


Aku menggeleng lemas. Sadar bahwa mungkin ajalku sebentar lagi. Menyadari ketakutanku, para pembunuh itu pun tertawa terbahak-bahak.


"Lihatlah kita bertiga. Masa sih kau lupa?"


Aku mengernyitkan dahiku bingung seraya memperhatikan 3 wanita itu. Siapa mereka? Aku benar-benar tak mengenal mereka sama sekali.


"Ingat dengan wanita-wanita yang asyik bergosip di Cafe dua hari yang lalu?"


Aku membelalakkan mataku kaget. Ya tuhan, aku ingat mereka! Benar, mereka adalah 3 wanita di Cafe yang waktu itu membicarakan aplikasi Love Chat di sebrang tempat dudukku. Pantas saja wajah mereka tak asing di mataku.


"Padahal, kita sudah memperingatkanmu secara halus bahwa di aplikasi Love Chat itu terdapat banyaaakkk sekali psikopat dan hacker. Tapi, kau tetap saja menggunakan aplikasi tersebut untuk menggoda perempuan. Hahaha, menjijikkan."


Tak lama kemudian, mereka berempat menghampiriku lalu duduk di hadapanku. Sambil tertawa terbahak-bahak, salah seorang diantara mereka mengambil pisau berukuran cukup besar di tas hitam yang mereka bawa. Keringat dingin pun mengucur deras dari pelipisku. Ya tuhan, melihat pisau saja sudah membuatku ingin berteriak sekeras-kerasnya. Tidak! Aku tidak ingin mati sekarang!


"Boleh aku bertanya sesuatu padamu?" tanyaku pada si laki-laki, aku mencoba mengulur waktu.


"Apa?" tanya laki-laki asing itu. Oh, ku pikir dia bisu karna sedari tadi hanya diam saja. Ternyata dia bisa bicara.


"Apa yang kalian bunuh itu adalah Red?"


"Bukan aku yang membunuhnya. Tapi mereka bertiga. Aku hanya bertugas meng-hack akun si Red saja. Oh iya, sebenarnya nama si Red adalah Claudia," jawabnya lalu diikuti canda tawa oleh 3 wanita psikopat tersebut.


"Jadi selama ini aku berkomunikasi bukan dengan Red? Tapi denganmu?"


Laki-laki itu mengangguk seraya menyeringai, "Asal kau tahu saja, Claudia ini adalah penipu. Dia sering menguras dan memeras uang para lelaki yang ada di aplikasi Love Chat. Ya, termasuk uangku juga."


"Eh? Maksudmu?" tanyaku tak mengerti.


Salah satu perempuan yang ada dihadapanku ini tertawa, "Dia ditipu oleh Claudia hingga 100 juta. Dan parahnya, Claudia tak mau mengembalikan uang milik dia sepeser pun. Dari situlah takdir mempertemukan kita."


"Roger meminta bantuan kita untuk membunuh Claudia. Kita tahu, lambat-laun kematian Claudia pasti terungkap. Maka dari itu, Roger meng-hack akun Love Chat Claudia dan mencari laki-laki mana yang akan kita jadikan 'pelaku pembunuhan Claudia', hehehe," jelas salah satu wanita yang lain. Oh, ternyata nama laki-laki tersebut adalah Roger. Baguslah aku tahu namanya. Jika aku selamat hari ini, aku akan melaporkan si Roger pada polisi.


"Yah, kau akan kami jadikan pelaku. Maka dari itu, tenanglah. Jangan khawatir. Kau tak akan kami bunuh," kata wanita yang satunya lagi.


Aku baru menyadari maksud dari ucapan mereka sebelum akhirnya sebuah jarum suntik menancap di lengan kiriku. Oh tidak, cairan apa yang masuk dalam tubuhku? Kenapa rasanya tubuhku lemas sekali?


"Bersabarlah, panda. Efek bius ini hanya 1 jam saja kok. Kami akan memanggil polisi di perjalanan pulang kami nanti. Jadi, tunggu polisi datang ya!" kata Roger seraya menempelkan pisau pada telapak tanganku. Sial! Caranya licik sekali! Roger menggunakan sapu tangan saat memegang pisau tersebut! Kini, pasti pisau itu sudah ada sidik jariku. Rupanya dia dan 3 wanita gila itu ingin memanipulasi kematian Red, maksudku, Claudiaㄧdengan cara menjadikanku 'pelaku' dari pembunuhan keji mereka.


"Kalian tidak akan bisa lolos dari polisi! Apartemen ini memiliki CCTV dimana-mana!" seruku mengancam.


"Hahaha, tentu saja kami bisa. Kau lupa CCTV apartemen ini rusak? Itu ulahku yang meng-hack semua CCTV di apartemen ini!"


Aku tersentak kaget, tersadar bahwa ucapan Roger memang benar. Oh, jadi ini adalah ulahnya. Benar-benar biadab dan keji sekali!


"Kalaupun kau kabur, di tubuh Claudia sudah banyak sidik jarimu, lho. Tadi saat kau pingsan, kami sengaja menempelkan dua tanganmu itu di tubuh Claudia, hehehe."


"Sudah ya, kami pergi dulu. Dah, panda! Selamat menjalani kehidupanmu di sel penjara nanti!"


Mereka berempat pun pergi keluar dari kamar apartemenku. Menyisakan aku yang terduduk lemas tak bisa bergerak. Sial, efek obat bius ini sangat membuatku lemas dan mengantuk. Aku tak bisa berbicara atau sekedar meminta tolong.


Mataku lalu menatap Claudia yang tergeletak di depan pintu kamar mandiku. Gadis keparat! Mungkin jika bukan karna dirimu, aku tak akan berada di posisi seperti ini. Tidak. Lebih tepatnya, mungkin jika aku tidak memainkan aplikasi Love Chat, aku tak akan pernah seperti ini! Ya, pasti kehidupanku yang sibuk dengan pekerjaanku tak akan ternodai oleh aplikasi sialan itu!


Kini, aku tak kuasa menahan kantukku. Aku pun berusaha untuk membuka mata, mencoba untuk tak tertidur. Tapi, nihil. Karna pada akhirnya, yang ku lihat dan kuingat terakhir kali hanyalah...


Gelap.


***


❤red_blood post a new picture



Aku kesepian! Adakah yang mau menemaniku mengobrol?


KLIK!


TEP! TEP!TEP!


SEND


handsome.ninja16 : Hai cantik, salam kenal.


red_blood : Salam kenal juga❤


handsome.ninja16 : Kau sangat cantik sekali! Aku jadi ingin bertemu denganmu. Bolehkah?


red_blood : Boleh, sangat boleh :)


red_blood : Tapi, saat ini aku sedang berada di rumah nenekku. Aku tak punya uang untuk pulang ke rumahku.


handsome.ninja16 : Aku akan mengirim uang untukmu, asalkan nanti aku bisa bertemu denganmu, cantik❤


red_blood : Terimakasih, nanti akan ku kirimkan nomor rekeningku padamu.


handsome.ninja16 : Baiklah, aku akan kirim uang padamu siang nanti ya. Ngomong-ngomong, namamu siapa?


red_blood : Red, orang-orang memanggilku begitu :)


handsome.ninja16 : Red, bisakah kita bertemu besok?


red_blood : Setelah uangmu terkirim di rekeningku, aku akan segera pulang ke rumahku. Jadi, besok kita bisa bertemu.


handsome.ninja16 : Oke baiklah, cantik. Aku jadi tidak sabar, hehe.


red_blood : Aku juga :)


.


.


.


.


.


THE END