Creepy Horror

Creepy Horror
Falseness (Part.4 / End)



"Kita.. menang."


Aku terdiam mendengar ucapan Celine. Jujur saja, ada rasa bersalah sekaligus bahagia dalam hatiku sekarang. Aku merasa bersalah karna mau mengorbankan 2 orang yang mencintaiku. Dan aku merasa bahagia karna akhirnya impian 'Sempurna'-ku akan terwujud.


"Cepat, kita akan bawa Nicho dan ibumu sekarang! Organisasiku akan melakukan ritual di kota XX malam ini agar kau bisa sempurna." ucap Celine sambil tersenyum.


Aku mengangguk. Dengan cepat, aku pun membawa jasad Ibu yang tadi pagi baru saja aku bunuh ke hadapan Celine. Lalu tak lama kemudian, Celine menyerahkan pisau yang dipegangnya padaku.


"Buatlah tanda bintang ditelapak tangan mereka berdua. Itu adalah tanda bahwa kau mengorbankan mereka pada Organisasi-ku."



Aku menuruti ucapannya. Dengan segera aku membuat tanda bintang di telapak tangan mereka menggunakan pisau dari Celine tadi. Agak ngeri, karna aku tidak biasa menyakiti orang seperti ini. Yah, mungkin untuk sementara waktu aku belum terbiasa dengan ini semua. Aku yakin, tahun depan, saat aku harus mengorbankan 2 orang lagi, aku pasti akan terbiasa melakukan ini.


Dan..


Ibu, aku tau ini salah. Maafkan aku sebesar-besarnya. Dan Nicho, maaf aku sudah curiga kepadamu mengapa kau begitu berambisi membunuh Celine. Ternyata, itu semua karna kau sangat mencintaiku kan? Maaf, ini semua kulakukan karna...


Aku ingin kesempurnaan dalam hidup.


***


(DIBALIK CERITA)


(Flashback, Taman belakang sekolah pukul 10:15)


Tiba-tiba, aku teringat dengan ucapan Nicho. Rencana membunuh Celine... bukankah besok? Kalau besok rencana Nicho gagal, mungkin ia akan marah padaku, kan? T-tapi, bagaimana cara membujuk Celine agar mau bertemu dengan Nicho?


"Ehm, jadi... begini, Celine. Besok ada laki-laki yang ingin menemuimu, namanya Nicholas. Apa kau ada waktu?"


Celine hanya tertawa mendengar permintaanku, "Ada yang kau rencanakan dengan Nicholas, kan?"


DEG!


Aku terbelalak kaget mendengar ucapannya. T-tidak mungkin! Dia benar-benar bisa membaca pikiranku! B-bagaimana bisa? Apa karna dia sempurna...dia jadi bisa segalanya? Termasuk membaca pikiran?


"H-hebat.." ucapku lirih.


"Apa?"


"Kau sungguh hebat." ucapku sekali lagi dengan suara agak keras. Celine pun tersenyum mendengar ucapanku.


"Baru pertama kalinya kau memujiku, Victoria." ujar Celine yang masih mempertahankan senyumannya.


"Sungguh, aku bersungguh-sungguh mengatakan itu tadi!" Seruku tegas.


"Ya, aku tau. Maka dari itu, ini terakhir kalinya aku menawarkanmu untuk gabung dengan Organisasi-ku. Apa kau mau? Kau akan sempurna sepertiku tanpa adanya sedikitpun halangan dan rintangan. Dan yang terpenting, kau akan dianggap hebat oleh semua orang."


Seakan terhipnotis, aku mengangguk. Mengiyakan ajakan Celine untuk bergabung dengan Organisasinya. Entah kenapa, kali ini aku benar-benar tertarik dengan yang namanya 'Kesempurnaan hidup'.


Tapi, masalahnya..


Siapa yang akan ku korbankan?


"T-tapi, Ibuku kan.."


"Sebenarnya aku sengaja kabur dari rumahmu. Agar Ibumu bisa mencintai dan menyayangimu lagi seperti dulu. Bagaimana? Masih ragu untuk ikut organisasiku?"


Hening. Aku masih agak ragu sebenarnya. Lalu..


"Y-ya sudah kalau begitu. Aku terima tawaranmu." jawabku pada akhirnya.


"Tapi, ngomong-ngomong. Aku ingin bertanya satu hal." sambungku di detik selanjutnya.


"Apa?"


"Saat malam hari... waktu aku memergoki kau sedang makan sesuatu, apakah itu daging manusia? Dan apakah itu termasuk peraturan organisasimu itu?"


Celine tertawa, "Bukan, itu bukan peraturan dari organisasiku. Aku memang hobi makan daging manusia."


GLEK!


Seketika aku merinding mendengar ucapannya.


"Ya sudah, kalau begitu, besok persiapkan dirimu untuk mengorbankan Nicholas dan Ibumu sendiri. Dan jika kau mengizinkan, aku akan sedikit mencicipi daging mereka." ujar Celine sambil menampilkan senyuman mengerikannya untuk ke sekian kalinya.


(Flashback Off)


***


SATU TAHUN KEMUDIAN...


"Victoria Smith! Kau memenangkan Olimipiade Matematika tingkat Nasional yang diadakan minggu lalu, ya? Waaaah hebat! Kau sungguh hebat!"


"Tidak, menurutku kau bukan sekedar hebat, tapi kau sangat sangat luar biasa! Kau bisa mengalahkan ratusan siswa dari berbagai sekolah elite, padahal kan sebenarnya sekolah kita biasa-biasa saja!"


"Kau memang benar-benar sempurna. Ah, sayang sekali Celine pindah sekolah ya. Tapi tak apa, sekarang ada penggantinya yaitu kau, kebanggaan sekolah dan kebanggaan kita semua."


Aku hanya tersenyum manis mendengar semua ucapan teman-temanku itu. Akhirnya... impianku terwujud. Aku mendapatkan kesempurnaan di hidup ini. Yah, walau 'kesempurnaan' ini palsu dan bukan hasil jerih payah sendiri, aku tetap bahagia. Bagaimanapun dan sampai kapanpun, aku akan sempurna selamanya..


"Tapi, ngomong-ngomong, bagaimana caranya ya bisa sempurna sepertimu? Kau pasti belajar dengan rajin, ya? Atau ada trik nya agar menjadi sempurna? Hahaha."


Seketika, aku menatap salah satu temanku yang tiba-tiba bicara seperti itu. Aku tau itu hanya lelucon. Tapi, tidak ada salahnya kan mencari pengikut organisasi lagi? Lebih banyak pengikut, lebih bagus, bukan?


Hening. Tak ada satupun yang berbicara apa-apa lagi. Entahlah, mungkin mereka diam karna aku juga diam. Tapi di detik selanjutnya, aku membuka mulutku perlahan, mencoba untuk mengatakan sesuatu.


"Apa kalian.. mau seperti diriku?" tanyaku sambil menampilkan senyuman terbaikku pada teman-temanku itu.


***


Potret Organisasi XX



~THE END~