
Tik.. Tok..
Tik.. Tok..
Tik.. Tok..
Aku membuka mataku perlahan. Suara jam yang berisik itu sukses membangunkanku. Ah, sial. Padahal, aku baru saja bisa tidur dengan nyenyak. Tak biasanya aku bangun hanya karna mendengar suara denting jam di tengah rumah.
Karna tak bisa tidur lagi, aku pun bangkit dari kasur dan berjalan keluar kamar. Menuruni anak tangga seraya memperhatikan sekelilingku. Gelap, lampu di seluruh ruangan gelap. Padahal, seingatku aku tak mematikan lampu sama sekali. Apa adikku yang mematikan lampu, ya? Tidak, tidak. Dia kan masih berumur 8 tahun, tingginya itu tak akan bisa menjangkau saklar lampu. Lagipula, adikku sekarang sedang tidur di kasurnya yang ada di sebelah kasurku.
Lalu, siapa yang mematikan lampu di seluruh ruangan? Kami 'kan, hanya tinggal berdua. Orangtua kami sudah meninggal 1 bulan yang lalu. Tunggu. Apa Bibi Jasmine datang lagi malam ini? Baru saja ia pulang kemarin. Tapi kenapa ia kembali lagi ke rumahku?
"Bibi Jasmine?" Tanyaku mengencangkan suaraku.
Hening. Tak ada jawaban. Hanya suara angin malam yang menusuk hingga ke tulangku.
Aku pun menyalakan lampu ruang tamu. Ku lihat, jam menunjukkan angka 1 malam. Ah, ini waktu dimana jiwa manusia berada di alam mimpi. Dan jika bukan karna suara denting jam tadi, mungkin aku juga sedang berada di alam mimpi sekarang.
Aku berjalan ke arah dapur, berniat untuk menyalakan lampu dapur juga. Sebenarnya, aku ini memang punya phobia terhadap gelap. Nyctophobia, namanya. Beda dengan adik dan orangtuaku yang malah menyukai gelap ketimbang terang.
1 langkah lagi menuju dapur, tiba-tiba saja bulu kudukku merinding. Begitu merinding hingga aku tak sanggup berjalan lagi. Ada apa ini? Kenapa aku merinding seperti ini? Ya, aku tahu sih dari orangtuaku. Bahwa, tubuh manusia memang lebih jujur ketimbang pikirannya sendiri. Jika ada makhlus halus di sekitar kita, tubuh kita akan merespon duluan hal tersebut walaupun kita tidak melihat hantu itu.
Berarti sekarang..
Ada hantu di sekitarku?
Pandanganku pun menyapu ke seluruh ruangan. Dari tangga, ruang tamu, hingga dapur yang ada di hadapanku. Aneh, tidak ada apa-apa. Lagipula, cahaya lampu ruang tamu sudah terang menyorot ke tangga. Mana mungkin ada hantu di tempat terang?
DEG!!!
Aku menyadari bahwa satu-satunya tempat yang gelap adalah dapur. Dapur yang ada dihadapanku sekarang. Aku berusaha untuk melangkahkan kaki menuju saklar lampu dapur. Namun, kakiku terasa mati rasa. Oh tidak, ada apa denganku? Tubuhku seakan terkunci tak bisa bergerak.
Angin sepoi malam menyapaku kembali. Membuat bulu kudukku tak berhenti merinding. Sial! Andai aku bukan phobia gelap, pasti kini aku tak akan terganggu melihat gelapnya dapur yang ada didepanku. Aku harus bagaimana sekarang? Aku terlalu takut walau sekedar untuk melangkah.
"Aku suka orang-orang yang takut gelap sepertimu."
Eh? Suara siapa itu? Terdengar jauh sekali di telingaku.
"Si-siapa kau?" Tanyaku sambil memperhatikan sekelilingku. Tak ada siapapun kecuali aku disini.
"Kau penasaran denganku? Kau ingin tahu siapa aku? Hahaha.."
Aku bergidik ngeri mendengar suara tawa makhluk tersebut. Suaranya memang terdengar jauh, tapi aku merasa dia berada didekatku. Ah, benar. Aku baru ingat ucapan kedua orangtuaku.
Hantu itu bisa dirasakan. Dan kau bisa mengetahui jarak antara kau dengan hantu lewat suaranya. Jika suara hantu itu dekat, berarti ia jauh darimu. Namun jika suara hantu itu jauh, berarti ia berada didekatmu.
DEG!!!
Kini aku menelan ludahku kasar. Duh, disaat-saat seperti ini aku malah mengingat ucapan orangtuaku itu! Aku 'kan, malah jadi semakin takut.
Tu-tunggu..
Itu artinya..
Ada hantu yang berada didekatku sekarang? Oh tidak! Tidak! Seumur hidup aku tak pernah melihat hantu di dunia nyata. Aku hanya melihatnya di film saja. Jadi ini rasa ketakutan yang ada di film-film itu? Jika aku tahu rasanya seperti ini, mungkin aku tak akan pernah mau menonton film horor lagi.
Keringat dingin bercucuran begitu saja dari tubuhku. Rasa takutku semakin menjadi-jadi saat suara hantu itu semakin jauh dari telingaku. Ia.. begitu dekat denganku sekarang. Tapi, dimana? Dimana dia? Mengapa aku tak bisa melihatnya?
"Aku disini, hihi."
Makhluk itu berada di hadapanku sambil menyeringai. Rambutnya panjang, kulitnya pucat, dan mulutnya yang mengeluarkan banyak darah. Sial! Saking takutnya, aku malah tak bisa berlari sekarang.
BRUKKK!!
Tubuhku ambruk seketika. Pandanganku pun memburam. Lalu, semuanya terlihat gelap.
***
Tik.. Tok..
Tik.. Tok..
Tik.. Tok..
Aku membuka mataku perlahan. Dengan pelan, aku mencoba untuk mengubah posisiku menjadi duduk. Sambil memegangi kepalaku yang lumayan pusing, aku memperhatikan sekelilingku.
Ah, aku berada di kamarku sekarang. Syukurlah, ternyata tadi itu hanya mimpi.
"Kak? Kakak kenapa bangun?" Tanya adikku yang berada di sampingku entah sejak kapan. Tentu saja itu mengagetkanku.
"Ka-kau juga, kenapa bangun, Lion?" Aku balik bertanya. Namun, adikku malah diam tak menjawab pertanyaanku. Ia hanya duduk disampingku sambil menatap lurus ke arah depan.
"Tumben sekali Kak, lampu kamar kita dimatikan seperti ini." Ujarnya pelan hampir berbisik.
DEG !!!
Aku membelalakan mataku kaget saat menyadari hal tersebut. Ternyata, sedari tadi gelap menyelimuti kamar kami. Yaampun, kenapa aku baru sadar? Tapi untungnya, aku masih bisa melihat wajah Lion, adikku, karna ada cahaya pantulan dari luar jendela kamar.
Akhirnya, aku pun mencoba beranjak dari kasurku untuk menyalakan lampu. Tapi, tanganku dengan cepat ditahan oleh Lion.
"Jangan kemana-mana, Kak." Lirihnya.
"Tenang saja, Kakak 'kan cuma akan menyalakan lam-"
"Kak, itu siapa?" Tanya adikku dengan cepat memotong ucapanku. Ku lihat, tatapan adikku begitu terkejut sekaligus ketakutan.
Melihatnya seperti itu, refleks aku menoleh ke arah yang dipandang oleh Lion. Sudut kamar. Ya, ada sesuatu yang berdiri di sudut kamar kami. Betapa terkejutnya aku saat menyadari itu adalah hantu yang sama dalam mimpiku tadi.
Dia menyeringai sambil memperlihatkan wajahnya yang menakutkan dan sorot matanya yang bersinar.
"Aku bersembunyi di dalam kegelapan. Hihi."
***
~THE END~