Creepy Horror

Creepy Horror
Falseness (Part 1)



Aku menatap saudara perempuanku yang kini duduk disamping Ibuku. Pagi ini, seperti biasa kami sarapan bersama sebelum berangkat sekolah. Celine, itu nama saudara perempuanku. Dia anak yang ceria, jenius, dan sangat cantik. Di sekolah pun dia selalu mendapat juara umum. Yah, wajar saja dia di idolakan banyak orang. Termasuk Ibuku sendiri.


"Victoria! Sudah Ibu katakan berkali-kali, jangan suka mengambil jatah sarapan Celine!" teriak Ibu yang seketika mengagetkanku.


"Aku tak mengambil jatah sarapan Celine, Bu! Dia sendiri yang memberiku roti selai ini tadi saat Ibu ada di Dapur. Bukankah begitu, Celine?" tanyaku pada Celine yang ada disamping Ibu.


"Aku tak memberi roti selaiku padamu, aku hanya menitipkannya sebentar saja padamu karna tadi aku sedang buru-buru ke Toilet." jawab Celine dengan wajah tanpa dosa.


Mendengar ucapan Celine, Ibu dengan cepat langsung menampar wajahku. Membuatku terkejut sekaligus sakit hati di waktu bersamaan.


"Lagi-lagi kau berbohong, Victoria! Sudah berapa kali ibu katakan, bahwa Celine itu anak yatim piatu! Jadi kau harus memperlakukannya dengan baik! Mulai sekarang, jika kau memperlakukan Celine seperti itu lagi, Ibu akan mengurungmu di gudang bawah tanah!" seru Ibu yang masih membentakku. Aku pun hanya mengangguk mengiyakan ucapan Ibu.


Ya, aku tau bahwa Celine adalah yatim piatu. Tak usah dikatakan berkali-kali pun, aku sudah tau segalanya tentang saudaraku itu. Orangtua Celine, yaitu Ayahnya, adalah kakak dari Ibuku. Maka dari itu, saat Orangtua Celine meninggal dunia akibat kecelakaan, Ibu langsung memutuskan untuk merawat Celine. Awalnya aku tak keberatan Celine tinggal bersama kami. Namun, lama-kelamaan suasana rumah berubah. Setiap hari ada saja hal yang membuat Ibu marah padaku. Ya, sejak kedatangan Celine, Ibu jadi arogan dan ringan tangan. Ibu bukanlah Ibuku yang dulu. Sifat kasih sayang dan sabarnya itu seakan hilang dengan datangnya Celine ke rumah kami.



Celine, apa yang kau perbuat pada Ibuku? Mengapa sekarang Ibu lebih menyayangimu ketimbang aku, anaknya sendiri? Ya, aku iri padamu! Aku benar-benar iri. Ku harap, kau segera pergi dari rumah kami. Ku harap kau hilang ataupun diculik seseorang. Atau bahkan..


Ku harap, kau segera mati secepatnya.


***


"Wah, Celine! Nilai ujianmu semester kemarin dapat A semua? Hebat! Kau memang sangat jenius!"


"Ku dengar bulan depan kau akan ikut olimpiade Matematika dan Fisika. Aku yakin kau pasti menang seperti tahun lalu!"


"Kau memang kebanggaan kelas kami. Bukan hanya kelas saja, tapi kau juga kebanggaan sekolah dan kebanggaan semua orang!"


Aku menutup telingaku rapat-rapat. Berusaha untuk tidak mendengarkan pujian-pujian untuk Celine yang menyebalkan itu. Aneh, rasa iri ini makin menjadi-jadi. Aku juga ingin populer seperti dia! Aku juga ingin punya teman sebanyak dia! Kenapa hanya Celine yang sempurna? Kenapa dia ditakdirkan sempurna, Ya tuhan?!


Aku sudah tak tahan lagi. Aku muak dengan semua ini. Orang-orang bodoh itu tak tau bahwa Celine adalah penghancur keharmonisan di rumahku! Dia merebut segalanya dariku! Andai kalian yang menjadi diriku, apakah kalian masih akan memuja dan memuji Celine seperti itu?!


"Victoria? Kau kenapa bengong saja?" tanya seseorang yang seketika membuyarkan lamunanku.


"Eh? Nicho? Sejak kapan kau ada dikelasku?"


Nicholas atau yang sering kupanggil Nicho itu segera duduk di sampingku. Ya ampun, aku kaget sekali. Orang yang aku sukai duduk disampingku sekarang! Walau berbeda kelas, aku bersyukur dia sering menemuiku setiap hari.


"Kulihat, kau memperhatikan Celine sedari tadi. Ada masalah?" tanya Nicho dengan wajah khawatir sambil ikut menatap Celine yang berdiri di dekat pintu kelas. Dia masih dikerumuni teman-teman yang memuji-mujinya itu.


"Oh, begitu. Ku kira kau sedang ada masalah dengan dia. Jika ada, ceritakan saja. Aku akan mendengarkanmu." ujar Nicho sambil tersenyum penuh arti.


Aku memandanginya lama, berfikir apakah Nicho dapat mempercayai perkataanku? Ku harap, dia percaya dan mau membantu masalahku ini.


"Ja-jadi begini...."


***


"Victoria! Tunggu aku!"


Aku memutar bola mata sambil mendengus kesal. Sialan, kenapa disaat seperti ini Celine mau pulang bersamaku?! Padahal kan aku ingin pulang berduaan bersama Nicho saja! Dasar pengganggu! Ku harap kau segera mati!


"Hai, Nicholas." sapa Celine yang mencari perhatian pada Nicho. Cih, si brengsek ini menyebalkan sekali! Setelah kasih sayang ibuku, teman-temanku, dan posisi prestasiku dia rebut, sekarang dia mau merebut Nicho-ku juga?!


Tiba-tiba aku menyadari tatapan Nicho padaku. Ah, iya juga. Aku kan sudah cerita tentang Celine padanya. Pasti dia merasa tak enak padaku jika saja dia balik menyapa Celine dihadapanku. Nicho, kuharap kau tidak tergoda pada gadis sialan ini.


Sepanjang jalan, aku dan Nicho tak bicara sepatah katapun. Kami membiarkan Celine bicara mengenai dirinya sendiri. Ya, tentu saja aku tau dia berniat sombong dan mencari perhatian dihadapan Nicho. Tapi aku tau, Nicho, pasti tak akan tertarik pada Celine karna aku sudah menceritakan padanya berbagai kelakuan buruk Celine di rumah.


"Vic, nanti malam aku akan menghubungimu." bisik Nicho tepat di telinga kananku.


"Eh? Maksudmu?" tanyaku ikut berbisik.


Nicho tak menjawab, dia segera menjauhkan wajahnya dari samping wajahku. Saat aku bertanya-tanya dalam hati, tiba-tiba saja aku menyadari mengapa Nicho tak menjawab pertanyaanku tadi. Ternyata, Celine memperhatikan kami.


T-tunggu dulu..


Apa jangan-jangan..


Nicho punya rencana bagus untuk membuat Celine pergi dari rumahku? Tidak, sepertinya..


Nicho punya rencana bagus untuk membuat Celine pergi selamanya...


***


TO BE CONTINUED~