Creepy Horror

Creepy Horror
Love Chat (Part 2)



panda.jantan : Selamat malam, Cantik❤


red_blood : Selamat malam juga.


panda.jantan : Cantik, apakah uang kiriman ku sudah sampai ke rekeningmu?


red_blood : Sudah, hehe. Terimakasih❤


panda.jantan : Sama-sama.


red_blood : Aku akan pulang malam ini ke apartemenku.


panda.jantan : Baguslah kalau begitu. Berarti besok kita bisa ketemuan, kan?


red_blood : Bisa, sangat bisa :)


panda.jantan : Ya sudah, ku tunggu besok di depan kamar apartemenmu ya.


red_blood : Iya. Sampai bertemu besok ya! Dah❤


panda.jantan : Aku sudah tak sabar! Dah juga❤


***


Aku menatap diriku di cermin. Setelah merias diri hampir 1 jam, aku tersenyum-senyum melihat pantulan diriku yang begitu tampan di cermin sekarang. Dalam hati, aku yakin si Red akan langsung jatuh cinta padaku karna parasku ini tak bisa dibilang biasa. Semoga, dialah perempuan yang selama ini ku cari untuk ku jadikan istri.


BRUKKK!!!


BRUAKK!!!


"AAAKHHH! TOLOOOONGGG!"


Aku terkejut setengah mati mendengar teriakan perempuan yang entah dimana. Tapi, jika di dengar lebih jelas, suara perempuan itu berada disamping kamarku. Tunggu. DI SAMPING KAMARKU? Jangan-jangan..


Itu suara Red?!


"Red! Red!" teriakku panik seraya keluar dari kamar apartemenku.


Aku pun menggedor-gedor pintu kamar Red sambil meneriaki namanya. Sial! Pintu kamarnya terkunci! Bagaimana aku bisa masuk ke dalam untuk melihat keadaannya?


"Hei, kau meneriaki siapa, hah?" tanya seorang laki-laki paruh baya yang entah sejak kapan ada disampingku. Dilihat dari pakaiannya, ia adalah pekerja disini.


"Tuan, sepertinya orang yang menghuni kamar ini butuh bantuan. Tadi aku mendengar suara yang berteriak—"


"Kau gila, apa? Kamar ini kan sudah tak ada yang menempati hampir sebulan yang lalu!"


DEG!!!


Aku menelan ludahku, "Tidak, tidak mungkin. Aku yakin mendengar suara seorang perempuan di kamar ini tadi! Dia berteriak seperti orang kesakitan!"


Laki-laki pekerja itu memutar bola matanya kesal, "Asal kau tahu saja, CCTV di apartemen ini rusak semua tanpa sebab. Jadi, aku harus segera membenarkannya sekarang. Ku mohon, jangan berteriak seperti tadi lagi! Kau itu mengganggu pekerjaanku!"


"Aku minta maaf jika aku mengganggu pekerjaanmu. Tapi, Tuan. Percayalah padaku, tadi aku benar-benar mendengar suara teriakan perempuan di kamar ini!"


"Ah, kau ini aneh-aneh saja! Sudahlah, aku mau melanjutkan pekerjaanku yang tertunda tadi. Eh, tapi ingat! Jangan teriak-teriak lagi. Yang tinggal disini bukan hanya kau saja, tahu!" seru laki-laki pekerja itu marah-marah seraya pergi meninggalkanku.


Aku diam mematung. Berdiri layaknya orang paling bodoh di dunia. Jika memang kamar disamping kamarku ini kosong sudah hampir sebulan, itu artinya si Red menipuku? Sialan! Berani-beraninya dia menipu dan memeras uangku kemarin! Ini tidak bisa dibiarkan! Aku harus bertemu dengan cewek penipu itu!


***


2 pesan belum terbaca


red_blood : Maaf, panda. Sepertinya kita tak bisa bertemu dulu hari ini. Nenekku tiba-tiba jatuh sakit. Dan tadi malam aku tak jadi pulang ke apartemenku.


Nafasku tak beraturan membaca pesan dari Red. Dengan amarah yang menggebu-gebu, aku mengetik balasan untuk si penipu itu. Bagaimanapun, aku sangat marah sekaligus kecewa padanya!


panda.jantan : Hei! Kembalikan uangku! Bisa-bisanya kau menipuku!


red_blood : Panda? Ada apa? Kenapa kau marah-marah padaku?


panda.jantan : Kau jangan pura-pura bodoh! Kau bilang, kau tinggal disamping apartemenku, tapi nyatanya kau tidak tinggal disini sama sekali, kan?!


red_blood : Aku tinggal di apartemen Blue Sky. Persis di samping kamarmu, panda. Percayalah padaku.


panda.jantan : Halah! Pembohong! Dasar j*lang!


red_blood : Aku tak menyangka kata-katamu kasar sekali pada perempuan :(


panda.jantan : Aku paling benci dengan penipu sepertimu. Intinya, kembalikan uangku hari ini!


red_blood : Baiklah, jika itu maumu. Aku akan ke apartemenmu hari ini juga.


panda.jantan : Ku tunggu kau hingga jam 9 malam. Jika kau belum datang juga, ku cari kau sampai dapat dan akan kumasukkan kau ke penjara!


***


Aku berjalan keluar dari supermarket. Tak seperti biasanya, cuaca begitu dingin hingga sampai ke tulang rusuk. Sial, tahu begini pasti aku akan pakai jaket sebelum ke supermarket tadi.


Sambil berjalan pulang, mataku menatap jam di tanganku. Pukul 20:05. Aku ragu si Red benar akan datang ke apartemenku atau tidak. Ku tebak, sepertinya dia tidak akan datang. Dia pasti takut padaku.


Ah, masa bodoh. Mau dia takut padaku atau tidak, yang penting aku harus dapatkan uangku kembali darinya. Dia pikir, dia bisa memeras orang jenius sepertiku, apa? Cih, jangan harap!


Tak lama kemudian, aku sampai di depan pintu kamar apartemenku. Dengan cepat aku merogoh saku celanaku untuk membuka kunci pintu kamar.


DEG!!!


Aku membelalakkan mataku kaget, "Eh? Kenapa pintu kamarku tidak terkunci? Apa tadi aku lupa menguncinya?"


Tak ingin terlalu ambil pusing, aku pun berjalan memasuki kamar apartemenku. Aneh, bau menyengat langsung menyapaku setibanya aku ada didalam. Cih, bau apa ini? Kenapa baunya sangat aneh?


Langkah kakiku terhenti saat melihat seorang perempuan yang berdarah-darah tergeletak di kasurku. Keringat dingin bercucuran, jantungku juga berdebar begitu kencang. Tidak, tidak mungkin! Perempuan dihadapanku ini tidak mungkin si Red!


"Red! Hei! Ada apa ini?! Kenapa kau berdarah-darah seperti ini?"


"Red! Bangunlah! Ya tuhan, kenapa bisa begini?!"



Percuma. Sepertinya Red sudah kehilangan nyawanya. Dilihat dari lukanya, sepertinya ini luka sayatan pisau. Sial! Siapa sih yang melakukan hal keji seperti ini? Lalu, kenapa mayat Red ada di dalam apartemenku? Tidak! Tidak! Tidak! Bukan aku pembunuh Red! Aku tak ada niatan sedikitpun untuk membunuhnya!


Lalu, kalau bukan aku, siapa yang mengenal Red hingga keji membunuhnya seperti ini?!


Aku menatap sekelilingku dengan nafas tak beraturan. Suasana begitu mencekam tanpa kusadari. Entah kenapa, aku merasa pembunuh Red ada didalam apartemenku sekarang. Tidak, tidak mungkin! Apa si pembunuh itu juga berniat membunuhku? Tidak! Memangnya aku melakukan kesalahan fatal hingga ada orang lain yang berniat membunuhku? Ya tuhan, tolonglah aku! Untuk berdiri saja rasanya aku tak sanggup. Tubuhku begitu lemas seketika. Mungkin, ini yang dinamakan sindrom panik. Ya, aku panik hingga rasanya aku tak bisa mengontrol tubuhku sendiri.


Lalu..


Kepalaku berputar, rasanya pusing tak beraturan. Seperti komedi putar yang tetap berputar meski rusak parah. Tidak, aku tidak boleh pingsan di saat seperti ini. Aku harus melawan sindrom panikku.


Tapi..


Aku tak kuasa..


BRUKK!!!


Semuanya gelap.