Creepy Horror

Creepy Horror
Tersesat



..."Katanya, jika kau tersesat di sebuah tempat yang asing, kau tidak boleh bertanya pada siapapun perihal arah tujuanmu. Dan tentunya, kau juga tidak bisa mempercayai ucapan siapapun yang menunjukan arah padamu."...


..."Karna.....


...'Dia' yang menunjukan arah padamu, belum tentu mengatakan hal yang sebenarnya. Atau mungkin.."...


..."Belum tentu 'dia' dari dunia yang sama denganmu, kan?"...


..."Dan juga, 'dia' yang menunjukkan arah padamu itu biasanya..."...


***


"Hei, hentikan! Kau mengucapkan itu berkali-kali, Diva!" keluh Mozza sambil menatap Diva kesal.


"Ya, benar. Dia sungguh menyebalkan," tambah Anni yang persis berada disamping Diva.


Diva hanya tertawa sambil menatap Juli dan Riny yang sepertinya tak ikut kesal seperti Mozza dan Anni. Menyenangkan menurutnya jika membuat orang takut. Apalagi di sore menjelang malam hari seperti ini.


"Ini semua karna Riny! Kenapa sih regu camping kita harus tersesat seperti ini?!" Lagi-lagi Mozza mengeluh.


Anni pun langsung menatap sinis Riny, "Iya! Gara-gara dia kita salah jalan saat mencari kayu bakar! Bagaimana sih, ketua kok seperti itu!"


"B-bukan begitu, aku h-hanya.." Riny mencoba membela diri, namun Juli yang ada disebelahnya langsung memberikan kode agar Riny tetap diam lewat gerak bibirnya. Bukan saat yang tepat untuk mengakui sesuatu sekarang, menurut Juli.


"APA? KAU MAU BILANG APA, HAH?! JANGAN SETENGAH-SETENGAH SEPERTI ITU!" Bentak Mozza seraya berdiri menantang Riny. Melihat itu, Diva pun langsung menarik tangan Mozza agar duduk kembali.


"Tenanglah. Jangan pakai emosi, Mozza." ujar Diva sambil mengusap-usap pundak gadis itu. Mozza pun akhirnya diam, namun gejolak amarah masih ada di hatinya.


"Pinjam ponsel kalian sebentar! Kita harus menelfon pembina camping kita atau polisi! Kita harus segera pergi dari sini!" seru Mozza masih dengan emosinya.


"Percuma saja, tak ada sinyal. Ponsel kita hanya berguna untuk senter saja saat malam tiba." ujar Riny lirih hampir setengah berbisik.


"Lalu, sekarang kita bagaimana, Riny? Sudah hampir seharian kita tersesat di hutan ini karenamu! Kenapa kita tak menemukan lokasi rombongan camping sekolah kita? Apa kalian tak merasa takut?" tanya Anni sambil terisak. Ia tak kuasa menahan tangis ketakutannya itu.


"Kita pasti akan menemukan jalan keluarnya, Anni." jawab Juli sekenanya.


"Hei, BAGAIMANA BISA KAU SETENANG ITU DISAAT SITUASI GENTING BEGINI, JULI!" Teriak Mozza dengan penuh amarah. Saat Mozza akan berteriak lagi pada Juli, tiba-tiba tangan Diva menutup mulut temannya itu.


"Ssstt.. sepertinya ada yang datang. Aku mendengar sesuatu di semak-semak." bisik Diva seraya menatap semuanya. Tatapannya itu benar-benar serius yang membuat situasi semakin mencekam.


"Aku tidak tahu. Kedengarannya langkah kaki manusia. Kita harus segera pergi dari sini. Aku takut dia orang jahat." bisik Diva seraya berdiri lalu di ikuti oleh teman-temannya.


Mereka semua pun akhirnya bergegas dari situ. Menjauh. Menelusuri jalan licin dan dingin di hutan itu. Tanpa persiapan, tanpa rencana.


Dibelakang, Riny dan Juli menatap Mozza dan Anni yang jauh didepannya. Terdengar suara Mozza yang mengeluh dan suara Anni yang selalu mendukung perkataan Mozza. Juli pun menatap Riny, ia tahu Riny sangat ketakutan. Sama sepertinya sekarang.


Detik selanjutnya, Riny menelan ludahnya kasar sambil membuka ponselnya perlahan lalu menatap wallpaper regu camping yang beranggotakan dia, Juli, Mozza, dan Anni. Ya, tanpa adanya Diva di wallpaper itu.


Lagipula, Diva itu siapa? Riny dan Juli tak pernah mengenalnya, apalagi melihatnya. Hanya Mozza dan Anni yang sudah bertingkah aneh saat mereka tersesat semenjak pagi tadi.


"Kita harus memberi tahu Mozza dan Anni secepat mungkin, Juli." bisik Riny gemetar, ia sungguh ketakutan dan sedih disaat yang bersamaan.


Juli mengangguk, "Ya, tapi bagaimana caranya?"


Riny menunduk. Ia sungguh tak tahu harus bagaimana. Ucapannya itu pasti tak akan dipercayai oleh Mozza dan Anni, kan? Sambil terus berjalan, Riny menatap Mozza dan Anni yang terus berbincang dengan 'Diva' yang entah siapa itu.



Sudah tak ada jalan keluar. Mereka terperangkap disini. Tanpa ada orang yang mencarinya. Entah sampai kapan mereka harus mengikuti 'Diva' yang entah akan membawa mereka kemana. Di hutan dingin nan menakutkan itu, mereka berempat layaknya kucing yang mengikuti ikan yang dibawa majikannya.


***


...Katanya, jika kau tersesat di sebuah tempat yang asing, kau tidak boleh bertanya pada siapapun perihal arah tujuanmu. Dan tentunya, kau juga tidak bisa mempercayai ucapan siapapun yang menunjukan arah padamu....


...Karna.....


...'Dia' yang menunjukan arah padamu, belum tentu mengatakan hal yang sebenarnya. Atau mungkin.....


Belum tentu 'dia' dari dunia yang sama denganmu, kan?


...Dan juga, 'dia' yang menunjukkan arah padamu itu biasanya MENYAMAR DAN MEMANIPULASI PIKIRANMU SEAKAN-AKAN 'DIA' DIKENALI OLEHMU....


***


~THE END~