
**Nicholas_Ezz : P
Nicholas_Ezz : Vic? Victoria?
Nicholas_Ezz : Apa kau sudah tidur**?
Aku terkejut saat melihat pesan Line dari Nicholas yang tiba-tiba. Tumben, dia mengirimku pesan selarut ini. Ini kan sudah jam 12 malam. Memangnya mau apa dia? Walau besok hari minggu, tapi kan tidak harus bergadang juga, bukan?
Victoria16 : Ada apa, Nicho? Tumben malam-malam begini kau mengirimku pesan.
Nicholas_Ezz : Hei, kau sudah lupa? Aku kan sudah bilang tadi sore saat pulang sekolah. Aku akan menghubungimu malam ini.
Victoria16 : Oh iya, aku lupa. Maaf, hehe.
Victoria16 : Jadi, kau akan membahas apa?
Nicholas_Ezz : Aku akan membahas rencana membunuh Celine.
Victoria16 : Hahaha, sudah kuduga kau ada dipihakku! Aku sangat senang, Nicho :) Ternyata kau dapat diandalkan!
Nicholas_Ezz : Rencana ini sangat bagus. Kuharap, kau dapat mengikuti alur cerita yang sudah aku buat agar Celine segera mati. Bukankah itu mau-mu?
Victoria16 : Hahaha, ya. Aku sangat ingin Celine mati! Sangat-sangat ingin :)
Nicholas_Ezz : Baiklah. Jadi, kau ingin kapan Celine mati?
Victoria16 : Secepatnya :)
Nicholas_Ezz : Secepatnya? Hmm bagaimana jika lusa?
Victoria16 : Eh? Secepat itu? Hahaha, ya. Tak masalah. Aku sangat menantikan itu. Terimakasih ya, Nicho. Kau memang teman terbaikku.
Nicholas_Ezz : Sama-sama, Victoria :
***
Aku membuka mataku dengan perlahan. Ah, sedang nyenyak seperti ini kenapa aku harus bangun? Sial! Aku kan jadi tidak bisa tidur lagi!
Karna terlalu kesal, aku pun beranjak dari kasur dan segera keluar dari kamar. Ku lihat lampu ruang tamu sudah mati yang menandakan Ibu sudah tidur. Disamping ruang tamu, kamar Celine tertutup dengan rapat. Ah, mungkin si gadis sialan itu sudah tidur nyenyak.
Perutku berbunyi tiba-tiba. Yang malah membuatku ingin tertawa seketika. Oh, jadi ini alasan mengapa aku terbangun? Hahaha, ternyata perutku lebih jujur daripada diriku sendiri.
Aku pun segera berjalan menuju dapur. Ya, mungkin saja disana ada sisa nasi tadi siang, kan? Setidaknya untuk mengganjal perutku agar tidak bersuara lagi. Ku harap, ada makanan lain selain nasi di dapur.
Dua langkah lagi menuju dapur, tiba-tiba aku dikejutkan oleh sesuatu. Di dapur... tepat diatas meja makan..
Celine berlumuran darah!
T-tidak, dia terlihat sedang makan sambil duduk diatas meja makan. Tapi, apa yang dimakannya? Kenapa mulutnya berlumuran darah seperti itu? A-apa jangan-jangan..
GLEK!
Aku menelan ludahku kasar sambil berjalan mundur, menjauhi Celine yang kini mencurigakan. Bukan, bukan mencurigakan. Lebih tepatnya, dia terlihat sangat menyeramkan.
"Victoria? Apa itu kau?"
DEG!
Kakiku rasanya mati rasa seketika saat mendengar suara Celine yang menyadari keberadaanku. B-bagaimana ini?! Aku harus bagaimana sekarang? Sialan! Keringat dingin langsung mengucur deras ditubuhku tatkala melihat Celine mendekatiku dengan senyuman mengerikannya.
Masih dengan senyumannya itu, Celine menyodorkan daging berlumuran darah itu padaku.
A-apa maksud dia memberiku daging tersebut?
***
Aku termenung di kantin sendirian. Pikiranku melayang ke kejadian tadi malam. Ya, saat aku memergoki Celine yang sedang makan sesuatu. Entahlah, pikiranku berkata, bahwa daging yang dimakan Celine itu adalah daging manusia.
Celine.. si gadis sempurna itu..
Adalah Gadis kanibal?
Ya, terlebih lagi, sebenarnya dia mengatakan sesuatu tadi malam padaku. Agak tidak masuk akal, namun cukup membuatku berfikir berkali-kali.
(Flashback, 02:15 dini hari)
"*Apa kau...mau seperti diriku?" tanya Celine sambil tertawa kecil.
"Kau..siapa? Kau bukan Celine, kan?" ujarku balik bertanya.
"Apa maksudmu? Aku ini Celine Angelia! Saudara perempuanmu. Apa aku terlihat bukan Celine yang seperti biasanya?"
Celine pun turun dari atas meja dan berjalan menghampiriku. Ya tuhan, aku takut sekali! Aku tau dia memang Celine. Bahkan cara bicara dan berjalannya sangatlah mirip dengan Celine yang kukenal. Tapi, ada apa ini? Kenapa sekarang Celine yang biasanya menyebalkan malah begitu menyeramkan dimataku?
"Victoria, dengarlah. Tidak ada manusia yang sempurna di dunia ini, kan? Tapi, apakah kau tidak pernah curiga padaku? Mengapa aku begitu sempurna di dunia ini?"
Aku mengerinyitkan keningku. Tak tahu apa maksud dari perkataannya.
"Kau belum menjawab pertanyaanku tadi."
"A-apa?"
Celine tersenyun miring, "Apa kau mau seperti diriku?"
"Apa maksudmu, Celine?"
"Kau iri kan melihatku sempurna seperti ini? Aku tahu segalanya yang ada dipikiranmu." Jawab Celine sambil memegang kedua pundakku. Sialan! Tubuhku seketika merinding.
"Jika kau ingin sempurna seperti diriku, caranya sangatlah mudah."
Kali ini aku diam. Entah mau bertanya apa lagi karna ucapannya begitu membingungkan.
"Yah, sebenarnya aku ini pengikut organisasi yang ada di kota XX. Organisasi itu berisi orang-orang yang ingin mencapai kesempurnaan dalam hidup. Jika kau mau menjadi pengikut organisasi itu dan melaksanakan syarat utama, kau akan sempurna seperti aku."
"Syarat utama? Syarat utama apa? Mengapa ucapanmu sangat membingungkan?"
"Syarat utama dari Organisasi itu adalah...kau harus mengorbankan 2 orang yang SANGAT mencintaimu setiap tahunnya. Hanya 2 orang tiap tahun kok. Dan kau, akan sempurna selamanya.." Ujar Celine yang kini memberanikan diri tertawa lantang. Dari cara tertawanya, dia seperti menertawakan aku yang ketakutan.
Lalu.. setelah itu*...
"VICTORIA!" panggil seseorang yang seketika membuyarkan kejadian tadi malam di pikiranku. Saat ku lihat, ternyata Nicho yang berdiri tepat dibelakangku sambil tersenyum.
"Bagaimana? Lusa bisa kan?"
"Eh? Maksudmu?"
Nicho tersenyum miring, "Kau tidak keberatan kan kalau Celine lusa sudah tak ada?"
Aku terdiam mendengar ucapannya. Memandangnya lama, lalu tersenyum sama sepertinya.
Ya! Entah Celine itu makhluk apa..
Yang penting, aku dan Nicho harus membunuhnya! Secepat mungkin!
***