
Esoknya...
"Victoria, bangun nak. Ayo kita jogging bersama!"
Aku membuka mataku perlahan. Betapa kagetnya aku saat melihat ibuku yang sedang tersenyum manis padaku. Apa-apaan ini? Ibu membangunkanku? Ya tuhan..aku benar-benar terkejut sekaligus bahagia. Kalau Ibu mau membangunkanku, itu berarti Ibu kembali peduli padaku, kan?
"Ayo nak, bangun. Kau bilang mau jogging kan hari ini? Ibu juga mau..."
Aku memeluk Ibu sambil menangis. Yang malah membuat ia tersentak dan menghentikan ucapannya. Ibu, demi apapun, aku bahagia. Walau hanya begini, aku sangat sangat bahagia.
"Ayo kita jogging bersama." ucap Ibu tersenyum sambil mengusap air mataku. Ku rasa, Ibu mengerti arti dari tangisanku ini.
Aku pun membalas senyumannya sambil mengangguk. Tapi, ngomong-ngomong, Celine kemana?
***
Sudah hampir seminggu ini Celine tidak ada di rumahku. Bisa dibilang, ia kabur dari rumah. Namun, yang membuat aneh adalah, Celine masih sekolah seperti biasanya. Bahkan, dia tetap menyapaku dikelas dengan wajah tanpa dosanya itu.
Ibuku awalnya memang khawatir dengan Celine. Namun, setelah kujelaskan bahwa dia baik-baik saja dan masih bersekolah seperti biasanya, Ibu jadi tidak menanyakan apa-apa lagi tentang Celine. Ibu bilang, mungkin Celine ingin menyendiri dan sedang tak ingin diganggu. Yah, itu menurut ibu sih.
Kalau menurutku..
Celine si gadis sempurna itu tetaplah makhluk aneh yang dibungkus wujud manusia. Segala kesempurnaan dalam dirinya adalah falseness atau kepalsuan.
Dan ucapannya tentang organisasi aneh itu..
Jujur saja, aku tak percaya sama sekali.
***
(Istirahat sekolah, pukul 10:00)
"Victoria!"
Aku menghentikan langkahku yang hendak menuju kantin sekolah sendirian. Dengan cepat, aku pun menoleh ke belakang. Oh, sudah kuduga. Siapa lagi kalau bukan Nicho?
"Kau ini bagaimana sih, katanya mau secepatnya membunuh Celine. Tapi, kau bilang, Celine tidak ada di rumahmu terus."
"Ya, memang itu benar. Celine sudah tak pulang ke rumahku lagi hampir seminggu ini. Aku tidak berbohong sama sekali padamu."
"Lalu, Celine pulang kemana jika tidak ke rumahmu?"
DEG!
Aku seketika diam. Jika dipikir-pikir, benar juga pertanyaan Nicho. Selama ini Celine tinggal dimana kalau bukan di rumahku? Kenapa aku baru sadar sekarang?
"Ya sudah, kalau kau masih mau dibantu olehku, besok usahakan pertemukan aku dengan Celine. Aku akan segera menghilangkan dia dari dunia ini. Bukankah itu maumu?" tanya Nicho dengan nada ketus, lalu detik selanjutnya ia pun pergi meninggalkanku.
Lagi-lagi aku terdiam. Lebih tepatnya, aku diam terpaku oleh pertanyaan Nicho. Dalam hati aku bertanya-tanya, mengapa Nicho sangat berambisi untuk membunuh Celine? Jelas-jelas aku yang punya dendam pada gadis itu, tapi mengapa sepertinya Nicho yang terlalu berlebihan?
Karna terlalu bingung, aku memutuskan enggan pergi ke kantin. Dengan cepat, aku pun berlari ke taman belakang sekolah untuk me-refresh otakku ini. Ah, ini benar-benar membuatku pusing! Awalnya cuma Celine, kenapa sekarang Nicho ikut membingungkan?
"Hai, Victoria."
DEG!
Aku terlonjak kaget saat melihat Celine berada di taman sekolah juga. Jadi, dari tadi aku tidak sendiri? Sejak kapan Celine berdiri dihadapanku? Dan kenapa.. dia tersenyum mengerikan seperti itu padaku?
"Celine, selama seminggu ini.. kau tinggal dimana?" tanyaku memulai pembicaraan dengan canggung.
"Eh? Kenapa? Hahaha, kau mengkhawatirkanku? Apa Ibumu juga mengkhawatirkanku?" Celine menanggapi pertanyaanku dengan candaan menyebalkannya itu. Yang malah membuatku ingin mencekiknya disaat itu juga.
"Aku serius, Celine." ujarku ketus sambil menatapnya tajam.
Celine menghentikan tawanya, "Tidak penting kau tahu aku tinggal dimana selama ini. Yang jelas, itu bukan urusanmu."
GLEK!
Tidak kusangka, ucapan Celine lebih ketus dari pada ucapanku. Sial! Dia membuat aku tak bisa berkata apa-apa lagi.
"Masih iri padaku?" tanya Celine setelah sekian lama ia diam. Senyuman mengerikannya itu kembali menghiasi wajahnya. Membuat nyaliku ciut sekaligus takut dalam waktu bersamaan.
Celine Angelia..
Sebenarnya apa yang kau mau dariku? Menjadi pengikut organisasi gila-mu itu? TIDAK! Jangan harap! Sampai kapan pun aku tidak akan pernah percaya pada kata-katamu itu!
Celine tertawa kecil melihat ekspresiku sekarang ini. Ya, aku tahu Celine pasti bisa membaca pikiranku. Hatiku sendiri yang berkata begitu.
Tiba-tiba, aku teringat dengan ucapan Nicho. Rencana membunuh Celine... bukankah besok? Kalau besok rencana Nicho gagal, mungkin ia akan marah padaku, kan? T-tapi, bagaimana cara membujuk Celine agar mau bertemu dengan Nicho?
"Ehm, jadi... begini, Celine. Besok ada laki-laki yang ingin menemuimu, namanya Nicho. Apa kau ada waktu?"
***
(ESOKNYA, jam 09:30 RENCANA MEMBUNUH CELINE)
Victoria16 : Nicho?
Victoria16 : Bagaimana? Kau jadi kan membunuh Celine? Ini kesempatanku dan kesempatanmu juga, Nic!
Lama sekali aku menunggu balasan dari Nicho. Ya ampun, kemana dia sebenarnya? Kenapa tidak membaca pesanku? Bagaimana jika Celine kesal menunggu dan akhirnya pergi dari rumahku? Argh! Pasti hancur nanti rencana kami berdua.
Lalu, tiba-tiba..
LINE!
**Nicholas_Ezz : Maaf, aku sedang diperjalanan sekarang.
Nicholas_Ezz : Apa Celine masih ada bersamamu?
Victoria16 : Iya, Celine masih ada dirumahku. Cepatlah datang, Nic! Sebelum ia pulang karna kesal menunggumu.
Nicholas : Oh, oke. Aku akan segera datang**.
***
"Celine, perkenalkan, nama dia Nicholas. Orang yang mau bertemu denganmu."
Mendengar ucapanku, Celine tersenyum manis sambil melirik Nicho sekilas. Haha, aku yakin Celine sedang percaya diri sekarang. Orang tampan seperti Nicho mana mungkin mau menemui iblis sepertimu? Jangan mimpi, Celine Angelia!
"Kalian berdua.. silahkan duduk, aku akan menyiapkan jamuannya dulu." Ujarku seraya pergi meninggalkan mereka berdua di ruang tamu.
***
@AUTHOR POV
"S-sebenarnya.. a-aku ingin menemuimu karna ada yang harus ku utarakan." kata Nicho memulai pembicaraan. Ia sengaja membuat nada suaranya seperti orang gugup.
Celine tersenyum manis, "Apa? Katakan saja?"
"A-aku tertarik padamu. Sejak k-kita pertama kali masuk SMA."
Celine terlihat kaget. Hening. Tak ada satu pun diantara mereka yang bicara lagi.
"Ini. T-terimalah." Lagi-lagi Nicho yang memulai pembicaraan. Kali ini, Nicho menyodorkan sesuatu pada Celine. Sebuah kotak kecil berwarna pink yang sangat cantik.
Karna terlalu sumringah, Celine buru-buru mengambil dan membuka kotak pink itu. Gadis itu terlonjak kaget saat melihat isi di dalam kotak itu.
"Cincin? Ah, terimakasih! Ini sangat indah." ucap Celine tersenyum senang sambil terus memperhatikan cincin pemberian Nicho. Nicho pun ikut tersenyum. Namun tentu saja senyuman Nicho punya arti berbeda.
Disaat Celine sedang lengah karna terlalu senang, Nicho mencoba mengeluarkan sesuatu dari saku celananya. Sebuah pisau lipat kecil. Walau kecil, tetap saja bisa melukai manusia, kan?
"MATILAH KAU, CELINE!!!!"
JLEB!
Darah segar mengalir dengan deras ke lantai rumah Victoria. Bau khas darah pun tercium ke segala penjuru ruangan. Membuat siapapun yang menciumnya pasti muntah disaat itu juga.
"Lihat? Siapa yang menang sekarang? Pada akhirnya manusia lemah sepertimu tak akan bisa mengalahkan manusia sempurna sepertiku." ucap Celine sambil tertawa kecil karna melihat Nicho yang kini tengah sekarat.
Tadi, saat Nicho sudah berancang-ancang untuk menusuk Celine dengan pisau lipatnya, Celine segera menghindar. Dia melompat ke punggung Nicho, menancapkan pisau yang lebih besar tepat di belakang leher laki-laki itu. Ternyata, sedari tadi Celine menyembunyikan pisaunya di saku roknya.
"K-kau.. k-kenapa kau bisa tahu?" tanya Nicho yang masih sekarat. Ia berusaha bangkit karna tadi sempat ambruk oleh Celine.
Celine tertawa sambil memutar-mutar pisaunya yang tajam itu. Dia memilih diam sambil menatap setiap inci tubuh Nicho, seperti menargetkan sesuatu.
Dan..
JLEB!
"AKHHHH!"
Benar saja, Celine menusuk pundak kiri Nicho kali ini. Belum puas, gadis itu pun menancapkan pisaunya berkali-kali tepat di tangan Nicho hingga putus jari-jarinya.
"AKKHH!!"
"BRENGS*K!! HENTIKAAAAAAN!! SAKIT BODOHHHH!!"
Nicho akhirnya lari dengan tergesa-gesa sambil berteriak kesakitan. Dia mencoba mencari keberadaan Victoria yang ada di dapur. Namun, belum sampai ke dapur, Celine yang ada dibelakang segera menjambak rambut Nicho hingga laki-laki itu terpental kebelakang.
Dan disaat itu juga, Nicho menyadari sesuatu bahwa...
Tenaga Celine memang bukanlah tenaga manusia biasa.
Karna mendengar suara gaduh, Victoria segera keluar dari dapur. Ia sangat terkejut melihat Nicho yang berdarah-darah. Ditambah lagi, tatapan Celine begitu menyeramkan sekarang. Sambil tertawa kecil, Celine menatap Victoria dengan penuh kemenangan.
"Kita.....menang." Ujar Celine sambil tersenyum lebar pada Victoria.
***