Copdar

Copdar
Mencoba untuk menerima



Mela memandangi lautan luas tak jauh dari jendela kamarnya. Ia tak tahu dimana kini ia berada. Entah itu Ancol, merak atau daerah pesisir yang tak ia ketahui. Tapi yang pasti, Leon sudah membawanya jauh dari rumah dan tentu saja bukan ke Bogor atau Sukabumi.


Pikiran Mela menjadi buntu, tak ada lagi hasrat untuk melarikan diri jika ujung-ujungnya Leon akan menemukannya lagi. Ia pun berfikir walaupun Leon bengis dan psyco, bagaimanapun juga adalah ayah dari bayi yang ia kandung. Dan menjalin hubungan bersama Deny terpaksa ia akhiri untuk kedua kalinya karena demi kebaikan dan keselamatan orang yang ia cintai dari kebengisan Leon. Karena suaminya bukanlah orang yang mempunyai rasa iba kecuali pada dirinya, mungkin karena cinta sudah tumbuh dihati Leon. Setidaknya Mela memastikan dirinya aman dan bisa melahirkan anaknya beberapa bulan lagi.


"Sampai kapan kau membuka jendela itu, Mel? Hari sudah malam dan angin semakin dingin." Ujar Leon masuk kedalam kamar mengejutkan Mela yang terdiam di belakang jendela, lalu berjalan mendekatinya.


Mela tersenyum tipis mencoba untuk ramah. "Aku sedang memandangi bulan itu. Bukankah dia indah?" Ia menunjuk bulan bersinar penuh dan berwarna kuning kemerah-merahan.


"Kau menyukainya?" Tanya Leon, memeluk Mela dari belakang sementara bibirnya sudah menyusuri leher dan membuat Mela mendongak menikmati jejak-jejak kecil itu.


"Ya. Aku menyukainya," Mela membalas dan nafasnya berubah menjadi cepat.


Leon memutar tubuh Mela lalu mengulum bibirnya lembut. Hatinya bahagia, Mela sudah membuka dan membalas cintanya. Bahkan semua ciuman dan sentuhan yang ia lakukan, wanita itu membalasnya lembut dan antusias.


Bulan semakin beranjak tinggi diatas langit kelam, sama halnya dengan Leon dan Mela memadu kasih yang disaksikan lautan dan debur ombak yang memecahkan keheningan malam. Suara erangan Mela memenuhi ruangan kamar karena kini menikmati semua sentuhan Leon, suami yang akan ia cintai. Dan malam itu menjadi malam yang terindah untuk mereka berdua tentu saja sebagai suami istri.


❤❤❤


Tepat jam tujuh pagi, Deny disibukkan melihat rekaman yang didapatkan dari Dewo. Mengamati rekaman sejak dari rumah dan jejak pada tiap lokasi di jalan besar yang ada cctv nya membuat Deny mulai menyerah. 


Leon menghilangkan jejaknya secara sempurna. Dan kini Deny hanya berharap mendapatkan sedikit sebuah petunjuk, tapi sayangnya hanya kebuntuan yang ia dapat.


Yang hanya bisa Deny perbuat adalah menyandarkan punggung di sofa untuk merilekskan diri dari kasus yang sudah menguras pikiran dan emosinya selama dua bulan ini. Ia berharap Mela dalam keadaan baik, begitu juga dengan janin yang ia kandung. Anak Leon.


"Den, gue dapat kabar baik!" Rey datang dan mengejutkan Deny yang spontan melirik ke arah pintu.


"Lu kalau datang kayak tuyul aja, Rey. Gak pake sapa, langsung bikin gue kaget," protes Deny melihat Rey yang terkekeh dan berjalan ke sofa. "Kabar baik apa yang bisa Lu kasih ke Gue?" tanyanya kemudian.


Rey mengambil handphone lalu menunjukkan sebuah portal berita online. "Ini, Lu baca sebentar." Pinta Rey.


"Warga mencurigai sebuah mobil MPV yang berada di parkiran pelabuhan Muara Angke sejak kemarin siang. Warga sekitar menduga sang sopir tewas didalam, setelah dibongkar paksa tidak ditemukan seorang pun di dalam mobil." Deny menatap tajam Rey lalu spontan bicara serentak.


"Muara Angke!"


❤❤❤


Muara Angke, Jakarta Utara



"Kira-kira kemana Leon bawa si Mela?" Tanya Rey, setelah melihat seksama mobil MPV yang diduga mobil yang sama Leon membawa Mela kemarin siang.


Tangan Deny mengusap pelan dagu sambil berpikir lalu menjawab pertanyaan Rey. "Yang pasti mereka ke kepulauan seribu, Rey. Tapi ada hal yang harus kita selidiki, dan sebaiknya kita tanya ke nelayan." ucapnya lalu pergi mendekati kapal nelayan dan bertanya pada mereka.


Rey dan Deny berpencar dan mencari informasi pada nelayan. Setelah hampir tiap nelayan mereka tanyai akhirnya memberinya sebuah informasi.


"Kemaren ada shuttle boat yang bawa sepasang suami istri. Dan menurut saya shuttle boat itu gak pernah mangkal di sini, Pak. Biasanya kalaupun ada itu bawa turis ke pulau Tidung kalau gak ke pulau bidadari." Ujar salah satu nelayan pria paruh baya.


"Pulau Tidung? Hmm...bisa jadi Leon membawanya kesana," gumam Deny. "Oke, Terima kasih, Pak." Ucapnya lagi lalu berlari ke arah Rey yang sedang bicara dengan nelayan lainnya.


Rey tercengang dan merasa mendapat kabar baik. "Kemana?"


"Pulau Tidung."



❤❤❤


Leon menyuguhkan beberapa menu makanan atas meja makan. Banyak ragam makanan laut kesukaan Mela disana, seperti cumi goreng, ikan bakar, udang sambalado dan rajungan. Tapi sayangnya Mela tak berselera untuk menyantap semua menu di meja itu. Saat ini hanya ingin makan sayur sop ayam dan puding coklat sebagai desert. 



Sebagai calon ayah, Leon memaklumi Mela yang sedang mengandung terutama pada awal kehamilan. Tak jarang ia melihat Mela yang bergegas menuju closet untuk memuntahkan semua isi perutnya sejak tadi pagi. Wajahnya menjadi pucat dan matanya menjadi cekung.


"Kau benar-benar tak ingin makan ini?" Tanya Leon.


Mela menggeleng tak bersemangat melihat makanan-makanan tersebut. Ia sudah mengatakan keinginannya tapi pesuruh Leon tidak mendapatkan apa yang Mela inginkan.


"Maaf, Pak Leon. Ini bahan-bahannya," ujar salah satu pesuruh Leon membawa sekantong plastik yang berisi ayam dan sayuran.


Leon mendekati pria muda tersebut lalu menerima.


"Kau akan memasaknya?" Tanya Mela pada Leon yang berjalan menuju pantry.


Leon mengangguk dan membuka bungkusan. "Walaupun aku kejam tapi aku tak bodoh, Mel. Mbok Ijah banyak mengajariku masak terutama sayur yang sedang kau idam sekarang." Ia menjawab sambil mengeluarkan sayuran dan menaruhnya di wadah lalu mencucinya hingga bersih.


"Mau ku bantu?" Mela menawarkan diri, tapi melihat Leon yang sigap ia menjadi malu sendiri. Mengingat ibunya selalu memarahi karena lelet dalam memasak.


Leon menggeleng dan memandang Mela. "Tidak perlu, sebaiknya kau duduk saja, Mel. Aku lebih menyukai masak sendiri karena lebih fokus daripada ditemani." Ia menjawab dan di balas helaan nafas Mela.


"Baiklah. Aku akan menunggumu selesai, Mister," sahut Mela lalu beranjak menuju kamar.


Tak ada satu jam Mela menanti, Leon memanggilnya setengah berteriak. Ia bangkit dari ranjang dan terkejut melihat sayur sop terhidang di atas meja dan menebarkan aroma lezat di seluruh ruangan. "Hmm..kali ini aku gak bisa menahan lapar. Bisa aku memakannya sekarang," tanyanya melirik Leon membuka apron dan menaruh di pantry.


"Makanlah yang banyak. Aku tak mau anakku kelaparan di dalam sana," titah Leon sambil menunjuk perut Mela.


"Dari aromanya aku bisa menebak pasti enak rasanya," tebak Mela yang bergegas mengambil nasi dan menuangnya di atas piring.


'Tok tok tok tok'


Mela dan Leon tertegun mendengar ketukan di pintu.


"Siapa?" Leon bertanya dengan setengah berteriak. 


Hening. Tak ada sahutan dari orang yang mengetuk pintu.


Leon berjalan menuju pintu lalu membukanya pelan. Setelah membukanya ia terkejut begitu juga dengan Mela yang melihat seseorang yang tak asing lagi.