Copdar

Copdar
Terjebak



"Sial!" Umpat Mela melihat Leon menyeringai laksana pemburu yang berhasil menangkap mangsa. Ia tak ingin seperti rusa yang tersudut ketika seekor singa meneteskan air liur dan bersiap menerkam. Harus melarikan diri !


Mela memutar otak. Jika kembali ke belakang menemui Deny, itu bukan ide yang baik. Itu bisa menggagalkan semua rencana mereka, makanya harus ada salah satu dari mereka yang berhasil melarikan diri dari sana dan meminta pertolongan. Mengandalkan Jesyln ? juga tak ada gunanya. Saat ini hanya ia yang bisa melakukan itu semua walau tak tahu harus kemana melangkah.


'Tuk tuk tuk tuk'


Leon berjalan mendekati dengan tatapan kesal, bisa dipastikan jika kali ini tertangkap maka tamatlah riwayatnya seperti wanita yang bernama Dian.


Mela melangkah mundur dan menggeleng. "Biarkan aku pergi dari sini.." Ia memohon tapi sayangnya Leon menggeleng tak setuju.


"Aku gak akan beritahu siapapun tentang kejahatan yang kamu perbuat...aku janji!" Tambahnya lagi.


Leon menggeleng. "Tidak, Sayang." Tolaknya.


"Sampai kapanpun kau tidak aku lepaskan. Terutama--" Leon menunjuk kepalanya yang diperban.


"Kau sudah melukaiku dah aku minta pertanggung jawabanmu, Nona!" Ucap Leon lagi, kecewa.


Mela menggeleng. "Tidak! Aku hanya menagih janjimu yang akan mengantar aku pulang. Kau--"


"Itu Edo!" Potong Leon, tak terima. Wajahnya memerah kesal.


"Sudah aku katakan Edo takkan kembali lagi. Jangan kau berharap dia datang lalu membebaskanmu..karena itu tidak mungkin. Aku akan melenyapkan jiwa Edo dan akulah pemilik tubuh ini selamanya." Tambah Leon lagi.


"Edo pasti muncul karena aku mencintai dia bukan kau!" Potong Mela, tiba-tiba terbesit di otaknya untuk mengatakan itu.


"Kami saling mencintai. Dia pantas untuk aku cintai karena dia pria baik dan lembut. Edo tak pernah--"


"Hentikan!" Bentak Leon, memegang kepala dengan kedua tangannya. Ia merasa kesakitan hingga wajahnya kembali memerah. Tubuhnya jatuh berlutut dengan kepala tertunduk sambil menutupi kedua telinga.


"Hentikan.." Ucap Leon lagi dengan nada lemah.


"Kenapa dia? Apa dia--" Mela terdiam sebentar sambil berpikir.


Leon mengangkat wajahnya pelan begitu juga melepas kedua tangan dari telinga. Ia menatap Mela yang terheran lalu bangkit.


"Aww--" Ia meringis ketika menyentuh kepalanya, kembali menatap Mela yang mematung dan tak berhenti memperhatikan sejak dari tadi. Mencari jawaban dari raut wajahnya.


Ia bangkit dan berdiri. "Ada apa ini? Kenapa kepalaku sakit sekali?"


Senyum Mela mengembang. "Edo?!"


Ia menoleh begitu Mela memanggilnya. "Ya? Ada apa, Mel? Mengapa aku--" Berjalan mendekati Mela sambil memegang kepalanya yang terasa sakit.


"Akhirnya kamu kembali, Do." Seru Mela, bahagia Edo bisa menguasai tubuhnya lagi dan Leon terkurung di tempat semula. Setidaknya Edo bersikap lembut dan mungkin ia berhasil membujuknya.


Ia tersenyum lalu terheran. "Kenapa pakaianmu seperti itu, Mel? Aku gak suka--" Memandang dari ujung kepala sampai kakinya yang tanpa alas lalu mendekati lagi.


Mela tersenyum dan speechless.


"Aku merindukanmu, Sayang." Ia menarik pinggang Mela dan memeluknya erat. 


Ia menyeringai.


"Kau berharap Edo akan bilang seperti itu?"


Mata Mela terbelalak kaget. "Le- Leon?" Suaranya bergetar.


Leon menjambak rambutnya membuat dagu Mela terangkat. "Kau berharap aku Edo?!" Matanya melotot dengan wajah merah.


"Le--lepaskan…" Mela memohon. Kepalanya terasa sakit Leon menggenggam rambut dan menariknya kuat.


"Tolol! Kenapa gue bisa tertipu dia?! Bego! Gue bego!" Mela mengutuk dirinya berkali-kali karena Leon berhasil menipu dan kembali menangkapnya lagi.


Gagal. Usaha gagal untuk melarikan diri karena terlalu berharap Edo kembali lagi. Ternyata tidak. Leon terlalu licik untuk di kalahkan.


"Aku sudah bilang takkan melepaskanmu! Kau milikku! Hanya milikku!" Ucap Leon dengan nafas cepat, emosi.


"Kali ini aku takkan melepasmu! Dan jangan bermimpi kau bisa melarikan diri lagi karena kau takkan bisa pergi dari sini Melani Bastian!" Ancam Leon lagi, ia mengatupkan kedua rahang membuat Mela bisa mendengar geraham Leon beradu.


Mela meronta, memukul dada Leon yang bidang. "Lepaskan aku!" Wajahnya terangkat, melototi Leon yang menyeringai seakan memenangkan sebuah pertarungan.


Leon tak melepaskan, wajah cantik Mela membuatnya bergairah. Mata sayu, hidung mancung dan bibirnya yang ranum. Hatinya berdebar tiap kali berdekatan, tidak seperti dengan wanita lain.


Leon melepas cengkraman. Ia mengangkat tubuh Mela dan meletakkan di atas bahu.


"Hei kamu mau apa?! Turunin aku!" Mela terkejut. Perutnya terasa sakit beradu dengan bahu Leon yang kekar begitu juga kepalanya menghadap kebawah, menjadi pusing.


Ia meronta sambil memukul punggung Leon. "Turunin aku!" 


"Tidak! Kau harus kuhukum." Sahutnya sambil melangkah menuju tangga.


"Aku mohon lepasin aku kali ini, Mister.." Pinta Mela lagi, kali ini suaranya melemah Leon membawanya menaiki tangga dan berjalan melewati lorong dan beberapa kamar.


Langkah Leon terhenti tepat depan pintu kamar 'Copdar 5' lalu membukanya kencang.


'Braak'


Ia mendekati ranjang dan menjatuhkan tubuh Mela di sana.


Mela bangkit bermaksud beranjak tapi Leon mendorong membuat kembali terbaring. "Lepasin aku!" Untuk kesekian kalinya ia meronta.


Leon setengah berbaring diatas tubuh Mela lalu merengut kedua pipi Mela membuat bibirnya monyong kedepan. "Aku sudah bilang tidak! Sampai berapa kali aku harus bilang tidak!" Bentak Leon.


'Plak'


Leon melayangkan tamparan di pipi kiri Mela dan berhasil membuatnya terdiam.


Ia tersenyum lalu mengelus lembut bekas tapak tangannya. "Itu baru sebuah tamparan Mela, Sayang.. walaupun aku dan Edo menyukaimu, aku tak segan-segan menghukummu bahkan membunuhmu." Ancam Leon lagi. Ia mendekatkan mulut ke telinga Mela dan berbisik.


"Jika kau ingin hidupmu aman, turuti ucapanku dan jangan melawan. Jangan berharap dan mencoba kabur. Sampai ke ujung dunia pun aku akan mengejarmu!"


Mela tertawa kecil dan tak takut ancaman Leon. Selama Deny masih hidup ia mempunyai peluang untuk bisa melarikan diri, walau terkadang pria itu menjengkelkan seperti dulu.


"Sebaiknya kau cari wanita lain." Sahut Mela pelan.


Leon menyeringai. "Ya. Setelah membunuhmu!" 


⚫⚫⚫


'Hosh...hosh..hosh..' 


Nafas Deny terengah-engah begitu sampai di lantai satu. Berulangkali Rey meminta untuk diturunkan dari tubuhnya tapi Deny bersikeras menggendongnya sampai keluar dari rumah Edoardo.


Rey memang mengalami infeksi pada bekas jahitan dan tubuhnya babak belur tapi ia merasa kuat untuk berjalan walau tergopoh-gopoh. Tapi itu lah Deny, ia akan melakukan apapun untuk menyelamatkan kawan dan itu tidak hanya berlaku pada Rey saja.


Pandangan Deny jauh ke depan memastikan keadaan. 


Kosong dan sunyi. Itu yang ia lihat sepanjang lorong didepan matanya. Berharap tak ada satupun orang yang memergoki aksinya lagi.


"Turunin gue, Den. Gue sanggup jalan kok.." Pinta Rey lagi.


"Perut gue sakit kena punggung lu." Rey memegang perutnya yang basah. 


Deny membungkukkan tubuh menurunkan Rey. Pria yang tak lagi mengenakan kacamata itu langsung duduk meluruskan kaki di atas lantai. Ia menggigit bibir menahan sakit, wajahnya pucat.


Deny berkacak pinggang sambil berpikir mencari cara untuk bisa mengeluarkan Rey terlebih dahulu. Tiba-tiba terbesit dipikirannya tentang Mela dan Jeslyn. Entah bagaimana kabar dua wanita yang sedari tadi berjuang untuk keluar dari situ. Apakah berhasil atau kembali menjadi tawanan Edo ? Dan itu membuatnya penasaran sekaligus cemas.


Deny spontan membalikkan tubuh setelah mendengar suara tawa wanita keluar dari  kamar yang jaraknya sekitar 10 meter. Seorang wanita paruh baya yang ia kenal bersama seorang perawat. Untungnya kedua wanita itu tidak menoleh kebelakang dan tak melihat mereka berdua disana. Wanita paruh baya itu terus berjalan lalu menaiki tangga sedangkan si perawat masuk kembali kedalam ruangan.


Deny mengajak Rey lagi, kali ini ia tak menggendongnya hanya sekedar memapah. Mereka terus berjalan dan terhenti di ruangan dimana si perawat tadi berada.


Deny membuka ruangan dan si perawat terkejut. "Anda siapa?" Tanya si Perawat.


Si Perawat mengangguk setuju walau terpaksa. "Rey, masuklah." Panggil Deny dan tak lama Rey masuk sambil memegang perut.


Deny membuka bekapan lalu berlari ke pintu dan menguncinya.


Rey berbaring di ranjang dan si perawat itu mengobati pada lukanya lalu memberinya perban. Sementara pandangan Deny menyusuri seisi ruangan. Tak jauh dari sana terlihat beberapa ranjang yang hanya di sekat dengan tirai berwarna hijau.


Deny berjalan mendekati karena penasaran.


'Sreek' 


Ia membuka sekat pertama dan mendapati Jeslyn terbaring di ranjang tak sadarkan diri. Selang infus menempel di nadi tangan, wajahnya memerah pertanda membaik tak seperti tadi. Tapi sayangnya kedua kakinya terikat seperti buronan yang terluka.


"Jes! Kamu gak apa-apa?" Deny menepuk pelan pipi Jesyln, tapi wanita itu bergeming. Tertidur pulas.


"Kenapa kamu mengikatnya?" Tanya Deny mendekati perawat yang sedang mengobati luka wajah Rey yang mulai melebam dan bengkak.


Si Perawat melirik Deny. "Bu Sophia yang mengikatnya. Dia tawanan Pak Edo, saya hanya merawat dia yang sakit saja." Terangnya sambil mengoleskan alkohol di sudut bibir Rey.


"Aww--pelan-pelan, Sus." Pinta Rey, meringis kesakitan.


"Ah? Maaf, Pak." Sahut Si perawat.


Rey tersenyum tipis. "Panggil aja, Rey. Nama kamu siapa?"


Deny yang melihat mereka, tertawa. "Modus lu, Rey!" Ledeknya.


"Mira." Jawab si Perawat, wajahnya bersemu merah.


"Apa kamu punya kunci borgol itu, Mir?" Tanya Deny menunjuk ke arah Jeslyn.


Mira menggeleng. "Gak punya. Bu Sophia yang megang kuncinya. Setengah jam lagi dia pasti kesini."


Deny melihat arlojinya, sudah melewati jam makan siang. Perutnya terasa lapar.


'Kruuk' 


Perut Deny keroncongan. Rey dan Mira yang mendengarnya tertawa.


"Kalian belum makan?" Tanya Mira. Mereka menggeleng.


Ia melepaskan sarung tangan lateknya. "Kalau begitu kalian tunggu disini aja dulu. Saya mau ke pantry, siapa tau masih ada makanan lebih disana." Ujarnya, membuang sarung tangan itu ke tempat sampah.


Deny melirik Rey lalu mengangguk. 


"Itu ide yang bagus. Apalagi Rey harus cepat pulih biar bisa pergi dari sini." Sahut Deny.


Mira mengangguk. "Oke, kalau begitu saya tinggal dulu." Balas Mira lalu melangkah menuju pintu dan meninggalkan mereka.


⚫⚫⚫


"Pakailah ini!" Leon berjalan sambil melempar sebuah tas kertas begitu tiba di kamar. 


Mela menangkap. Ia membuka, mengambil dan mencermati isinya. Sebuah gaun putih. Kali ini Leon memberi sebuah gaun putih panjang dengan model mermaid, berbahan brokat dan tanpa lengan. Seperti gaun pengantin.


"Untuk apa aku pakai ini? Apa kamu buat acara dibawah?" Tanyanya, penasaran. Walau tahu Edo dan Leon yang sama-sama menyukai wanita memakai gaun berwarna putih. 


Mela berjalan menuju meja rias lalu bercermin, melekatkan gaun itu didepannya.


Leon menyeringai. "Acara pernikahan kita." 


"Apa?!" Ucap Mela, spontan menoleh kebelakang. 


"Ya, itu benar. Aku sudah mengundang pendeta untuk menikahkan kita hari ini. So, jangan kau berharap bisa melarikan diri ataupun berusaha membunuh calon suamimu. Karena aku akan berlaku kejam kali ini, Melani Bastian." Ancam Leon. Kali ini terdengar serius, bukan hanya akan menikahinya tapi membunuh jika Mela bertingkah licik seperti yang sudah ia lakukan, membuat luka robek pada kepalanya.


Mela bingung, satu sisi ia ingin pergi dari sana bersama Deny dan Jeslyn tapi di lain sisi ia tak mengetahui nasib dua rekannya. Terlebih lagi Deny yang berjuang menyelamatkan Rey. Jika Deny gagal bisa dipastikan nasibnya berakhir di tangan Leon. Menjadi istri atau tawanannya untuk orang asing.


"Apa kamu gak suka?!"


"Hah?!" Mela terkejut mendengar suara Leon tepat berada di belakang. Membuyarkan lamunannya.


"Hmm..aku--" Jantung Mela berdebar kencang, bukan karena takut tetapi Leon menggoda imannya.


"Segera kau pakai gaun itu sekarang juga! Atau perlu aku yang memakaikannya untukmu?" Tawar Leon, tersenyum bengis.


Mela menggeleng, wajahnya memerah mengingat ia dan Leon..tidak! Tapi dengan Edo hampir bercumbu di atas ranjang dan hampir topless. Kali ini ia takkan membiarkan Leon membuka bajunya walaupun sebagai calon suami.


"Tidak! Aku bisa memakainya." Tolak Mela.


Leon melihat arlojinya. "Aku tunggu setengah jam dari sekarang dan kamu harus turun dalam keadaan siap. Jika tidak--"


Mela membalikkan tubuh lagi, melihat Leon hanya dua jengkal darinya. "Apa?"


"Ini menjadi hari pemakamanmu!" Sahut Leon lalu beranjak meninggalkan Mela dari kamar itu.


'Braak' 


Mela mencibir melihat pintu tertutup kencang. "Coba aja! Deny pasti akan nolong gue kabur dari sini!" 


⚫⚫⚫


Beberapa derap langkah kaki memecah keheningan di sepanjang lorong lantai bawah. Dua wanita dan seorang pria bergegas berjalan menuju sebuah ruangan dan langkah mereka terhenti lalu membuka  pintu kencang.


'Braak' 


Mereka saling berpandangan melihat ruangan.


Kosong.


Salah satu dari mereka membuka tirai tiap sekat.


"Mana mereka? Katamu ada disini?" Tanya wanita separuh baya yang tidak lain adalah Sophia.


Wanita lawan bicaranya terlihat cemas dan pucat setelah menyingkap tirai ketiga juga kosong.


"Tadi mereka disini, Bu. Makanya saya berjanji mau kasih mereka makanan. Tapi mereka--"


"Kabur!" Potong Sophia pada Mira. Ia melangkah memeriksa kamar mandi dan nihil. Begitu juga dengan Jesyln yang berhasil dibawa kabur Deny dan Rey.


Sophia membalikkan tubuh memandang Priyo. Pria bertubuh kekar dengan wajah penuh luka lebam itu meringis kesakitan. "Kamu cari mereka sampai ketemu! Saya yakin mereka masih ada di sini. Di salah satu ruangan di rumah ini!" Perintahnya dan Priyo mengangguk setuju.


⚫⚫⚫


Deny melahap habis roti di tangan tak lama ia menyambungnya dengan sebuah apel. "Ini tempat terbaik untuk ngumpet." Ujarnya sambil mengunyah menatap Rey dan Jeslyn melakukan hal yang sama.


"Darimana lu punya pikiran kalau perawat itu bohongin dan menjebak kita?" Tanya Rey, ia tak dapat mengunyah cepat karena merasakan luka di bibirnya semakin sakit.


"Gampang. Gue sempet liat ID Card nya namanya bukan Mira tapi Novie dan.. dia sembuyiin anak kunci borgol itu di laci meja tapi ngakunya sama Mak lampir yang pegang." Terangnya menggeleng lalu bangkit menuju sebuah lemari kecil dan membukanya.


Mata Deny berbinar melihat puluhan botol berjejer rapi didalamnya. Ia mengambilnya sebotol dan memamerkan di depan mereka. "Sepertinya kita harus party sebelum menangkap Edoardo." Seru Deny dan disambut senyum lebar oleh Rey walau memegang pipinya yang lebam.


Jeslyn menggeleng tak percaya melihat kelakuan Deny dan Rey. Tak seperti apa yang dibayangkan selama ini. "Kenapa kalian bisa lolos di kepolisian? Apa kalian menyogok?" Tanya Jeslyn, polos. Seumur hidup baru menemukan polisi yang santai seperti mereka tidak seperti di kebanyakan film-film Hollywood.


Deny tertawa mendengar tuduhan Jesyln dan itu bukan pertama kalinya. "Tidak, itu tidak benar, Jes. Mereka menerima kami ketika sedang mabuk. Hahahaha." Ia kembali tertawa.


"Sstt--" Jesyln menaruh telunjuk di bibir, bola matanya melirik ke arah pintu ruang penyimpanan makanan, tempat mereka berada sekarang.


Deny dan Rey terdiam. Mereka mendengar bunyi derap langkah kaki yang semakin mendekat..mendekat dan…


'Braak'


⚫⚫⚫ Bersambung ⚫⚫⚫