
"Kenapa kita ditugasin di tengah hutan kayak gini sih? Kalau bayarannya gak dua kali lipat males gue ambil nih job." Ujar seorang pria muda begitu memasuki ruang penyimpanan makanan.
Pria bertubuh tambun yang menjadi lawan bicara menghela nafas panjang dan menggeleng. "Yah mau di apain lagi, Ko. Kita cuma waiters serabutan yang di pake cuma di acara tertentu aja, jadi dimanapun dikasih job kita gak boleh nolak." Sahutnya, mengambil beberapa piring ceper dan memasukkan pada sebuah lori.
"Acaranya terlalu mendadak, Bang. Baru gue nemuin acara pernikahan yang mendadak kayak gini." Sahut pria yang paling muda. Tangannya meraih beberapa dus berisi cheese cake yang sudah dipotong kecil-kecil dan membukanya.
"He eh. Penganten cowoknya yang punya rumah ini, Ri. Dia punya penginapan juga, pokoknya gak ada cewek yang mau nolak cowok tajir kayak dia. Apa lagi di luar sana tamunya rata-rata orang bule. Emang sih dia cuma undang 100 orang, tapi orang penting semua yang gue denger." Sahut pria yang dipanggil 'Ko' tadi.
"Gue keluar dulu, Ya?! Jangan lupa kue sama wine nya. Gue tunggu di sana." Tambahnya lagi, keluar dari ruangan membawa lori yang sudah terisi sebagian.
"Oke, Bang." Sahutnya mengambil lima botol wine dan memasukkannya.
Waiters itu terus berjalan menuju rak paling belakang. "Kue sama wine udah. Hmm..yang belum semangka sama melon." Gumamnya, menjelajah rak yang berisi buah-buahan.
"Jangan bergerak!" Deny membekap mulut waiters dari belakang.
"Saya gak menyakiti kamu, tapi cuma minta bantuanmu aja." Ucap Deny membuat waiters itu mengangguk cepat karena panik.
Deny membuka bekapan.
"Apa yang bisa saya bantu?" Tanya si Waiters, wajahnya pucat.
Jeslyn dan Rey keluar dari persembunyiannya, mereka melihat Deny membisikkan sesuatu dan disambut anggukan kepala si Waiters.
⚫⚫⚫
Mela menghela nafas berat melihat pantulan wajah di cermin meja rias. Gaun putih melekat indah di tubuh seksinya dan rambutnya tergulung ke belakang.
Sedari tadi ia terus berbicara sendiri, tak menyangka di hari ini adalah hari pernikahannya. Pernikahan yang tak diinginkan.
"Melani Bastian hari ini lu jadi Nyonya Leonardo..dan gak lama lagi mungkin di jual sama laki lu ke bule. So, bersiaplah tamat riwayat lu hari ini." Ucap Mela pada cermin. Tak lama ia berjalan menuju jendela. Dari sana ia melihat jelas sekitar tiga puluh tamu sudah memenuhi halaman belakang rumah Edo. Tentu saja tamu itu kebanyakan orang bule walau ada beberapa berwajah oriental yang bisa dipastikan dari Korea atau China.
"Apa perlu gue lompat dari jendela ini biar gak jadi nikah?" Gumam Mela lagi, menengok ke bawah. Mungkin berjarak sekitar 3-4 meter dari tempat ia berada dan tentu saja nyalinya ciut membayangkan kakinya patah atau bisa saja langsung mati di tempat.
Bagi Mela, menikah bersama Leon atau melompat dari jendela tak ada bedanya. Sama-sama hidupnya sudah berakhir.
Menanti seorang pangeran datang ? Tentu saja tidak mungkin ! Deny bisa dipastikan sudah berhasil melarikan diri membawa Rey dan Jesyln. Dan tentu saja Deny bukan seorang pangeran ! Itulah yang terbesit di otak Mela mengenai Deny Alfiansyah. Mantan kekasih yang tak pernah berubah ! Egois, menjengkelkan dan keras kepala ! Walau tak dipungkiri ia semakin tampan setelah 4 tahun lamanya tak berjumpa dan sempat membuat hatinya berdebar kencang saat berjumpa pagi tadi.
'Ceklek'
Mela menoleh kebelakang melihat Sophia masuk dengan raut wajah seperti biasa. Congkak dan menyebalkan.
"Maaf, Nona. Anda harus kebawah sekarang juga, Pak Edo meminta saya untuk menjemput dan--"
"Tak perlu repot-repot untuk menjemput saya, Sophia. Saya bisa sendiri." Potong Mela beranjak dan berlalu dari jendela meninggalkan Sophia yang berdehem dan mengepalkan tangan.
Mela berjalan pelan, mengangkat gaun putih agar memudahkan langkahnya saat menuruni tangga. Tepat di ujung tangga Leon berdiri sambil menyeringai menyambut kedatangan Mela, calon istrinya yang memasang wajah masam tidak seperti kebanyakan mempelai wanita lainnya. Ia memonyongkan bibirnya ketika beradu pandang dan membuat Leon tertawa.
"Ayo." Ajak Leon memberi lengannya.
Wajah Mela merah padam melihat Leon terlihat lebih tampan mengenakan setelan jas dan celana berwarna yang sama. Putih.
Mela mencengkram lengan Leon, ia berjalan sambil membusungkan dada. Beberapa pasang mata melihat dan berdecak kagum melihat kecantikan Mela yang tak bosan untuk dilihat. Berbeda dengan gadis-gadis yang pernah Leon miliki... untuk di jual.
"Apa sehabis ini kamu menjual aku ke mereka?" Tanya Mela terus melangkah pelan mengiringi langkah Leon yang berjalan menuju halaman belakang rumah.
Leon menggeleng. "Tidak. Aku akan membunuhmu." Bisiknya sambil melambaikan tangan menyapa beberapa tamu yang sudah memenuhi sebagian halaman rumah.
Mela tertawa kecil sikap Leon yang terlihat lembut di mata tamu. "Bagaimana jika aku yang membunuhmu malam ini?" Tantangnya.
Leon menyambut ucapan Mela dengan gelak tawa, beberapa tamu melihat mereka dengan heran. "Itu takkan bisa, Melani Bastian." Bisiknya.
Mela mencibir. "Dasar brengsek!" Makinya dalam hati.
Seorang waiters pria berjalan mendorong troli menuju meja prasmanan lalu menyuguhkan kue dan merapikannya. Sesekali ia menoleh ke arah depan dimana Leon dan Mela berdiri di depan pendeta.
Acara memang belum dimulai, seorang MC yang memandu acara belum tiba dari toilet sejak tadi. Wajah Leon terlihat kecewa lalu memanggil Sophia dan membisikkan sesuatu.
Beberapa tamu saling berpandangan dan berbisik terheran karena acara belum dimulai. Di balik insiden belum kembalinya sang MC, membuat Mela tersenyum lebar. Terbesit di pikirannya sebuah rencana yang bisa menyelamatkan dari pernikahan tak diinginkan.
"Aku mau ke toilet." Pamit Mela sambil berlalu.
"Tidak boleh!" Cegah Leon, menarik lengan Mela membuat langkahnya terhenti.
"Lepasin aku, Mister. Aku kebelet, apa kamu mau melihat aku mengompol disini?!" Ancam Mela.
Leon perlahan melepaskan cengkramannya dan membiarkan Mela berlalu menuju toilet.
Mela berjalan pelan, sesekali ia menoleh ke belakang memastikan tak ada seorang pun yang mengikutnya saat ini. Kecuali seorang waiters yang mendorong troli kosong. Waiters pria memakai masker yang berjalan mengiringinya.
"Ikut aku." Ajak si waiters, menarik tangan Mela sehingga mengikuti langkahnya.
Mela mengangkat bagian bawah gaunnya, langkahnya terbatas tak sebebas pria yang menarik tangannya sekarang.
"Hei! Lepasin tangan aku!" Mela meronta, menatap pria yang melepaskan troli dan hanya menggenggam tangan membawanya berlari kecil.
Ia menurunkan masker sampai batas dagu dan membuat Mela ternganga. "Deny?! Aku pikir kamu--"
"Kita gak ada waktu banyak, Mel. Kita harus pergi dari sini secepatnya." Potong Deny, mempercepat langkahnya.
"Kamu gak lihat aku sekarang jadi apa?"
Deny menoleh. "Pengantin. Kenapa memangnya?" Tanyanya sedikit acuh.
Mela melepaskan genggaman tangan Deny dan berhenti melangkah. "Ini hari pernikahanku, Den. Jika dia tahu kamu yang membawaku kabur..dia pasti membunuhmu! Sekarang pergilah dan bawa pergi Rey dan Jesyln dari sini. Biarlah aku tetap disini." Tolaknya, membuat Deny terheran tak percaya dengan keputusan Mela yang tiba-tiba.
"Kamu aneh, Mel! Apa Edo sudah cuci otak kamu sehingga kamu jadi begini?!" Protes Deny, keberatan. Dia kembali masuk setelah berhasil mengeluarkan Jeslyn dan Rey hanya untuk membawa pergi Mela dari sana. Tapi tiba-tiba Mela berubah pikiran dan membuatnya kesal.
Mela menghela nafas dan menatap tajam Deny. "Dia Leon bukan Edo! Dan dia tidak mencuci otak ku, Den. Jika aku pergi dari sini dia akan membunuh keluargaku. Itu sebabnya aku gak bisa pergi denganmu. Sebaiknya kamu pergi sekarang." Perintahnya sambil membalikkan tubuh dan bermaksud kembali menuju halaman belakang.
"Tidak!" Deny kembali menarik tangannya.
"Kali ini aku gak akan lepasin kamu seperti yang pernah aku lakuin 4 tahun yang lalu, Mel. Aku menyesal dan terus--"
"Cukup, Den! Aku gak mau mendengar penjelasan dari kamu dan itu masa lalu. Sekarang kamu pergi dari sini!"
Deny menarik tangan Mela membawanya menuju sebuah ruangan kecil dekat meja ruang makan. Mela meronta dan menahan langkah tapi genggaman tangan Deny terlalu kuat.
"Braak"
Deny menutup pintu kencang. Ia mendorong tubuh Mela ke dinding dengan wajah merah padam. "Aku gak akan pergi tanpa kamu, Mel. Kalau kamu mati aku juga akan mati. Aku sudah bilang aku menyesal sudah campakkin kamu karena aku masih sayang kamu!" Ucap Deny lagi.
Mela menepis kedua tangan Deny di bahunya. "Kamu terlambat, Den! Aku istri Leonardo hari ini dan aku harus kesana sebelum dia mencariku." Sahutnya sambil melangkah.
"Aku mencintaimu, Mel!"
Langkah Mela terhenti. Mendengar kalimat tadi membuat senyumnya mengembang tanpa ia sadari.
'Muach'
Mela mengecup lembut pipinya dan membuat wajah Deny kembali merah padam, bukan karena kesal tapi malu sekaligus bahagia, wanita yang ia tunggu selama 4 tahun mengecup pipinya seperti dulu.
"Bye, Den.."
Deny kembali menarik tangannya lalu memiring wajah dan mencium lembut bibir Mela.
"Hangat...ciumanmu gak berubah, Den.." Ucap batin Mela merasakan bibirnya dikulum lembut Deny. Ia ingin meronta tapi tubuhnya tak bisa menolak sentuhan yang sudah lama yang ia nantikan. Sebuah ciuman yang telah lama menghilang.
"Kesana! Kamu cari disana! Harus dapat sekarang juga!"
Deny dan Mela terkejut samar-samar mendengar suara orang dari luar yang seperti sedang mencari seseorang.
Perlahan derap kaki mereka menghilang dan menjauh.
"Aku harus pergi, Den." Pamit Mela.
"Tidak!" Deny menarik tangan Mela lagi.
"Kamu masih menyukai aku, Mel. Aku tahu itu." Wajah Deny memelas, memohon Mela untuk tidak meninggalkannya. Ia tak ingin kembali kehilangan setelah 4 tahun lamanya hanya menjadi stalker.
Mela menggeleng dan melepas tangan Deny dari lengannya. "Aku memang masih suka kamu, Den. Tapi...maafin aku." Ia membuka pintu dan beranjak meninggalkan Deny yang terdiam.
Mela melangkah pelan sambil mengangkat gaun. Ia menoleh ketika seseorang memanggilnya. "Sophia?" Gumamnya melihat Sophia berjalan mendekati diikuti beberapa pria memakai setelan jas, seperti bodyguard.
"Anda kemana saja? Acara akan dimulai sebentar lagi. Tuan Edo sudah menunggu." Sahut Sophia tapi ucapannya disambut cibiran dari Mela.
"Aku tahu, Sophia." Sahut Mela berjalan menuju halaman belakang rumah.
Mela mantap melangkah. Beberapa menit lagi hidupnya akan berubah. Menyandang gelar menjadi Nyonya Leonardo. Si pria bengis.
Leonardo memasukkan kedua tangan di saku celana. Tidak ada senyum di wajah tampannya lebih terlihat sebuah kekesalan menatap Mela. "Apa kau pergi ke Afrika untuk membuang air kecil, Nona Melani?" Tanya Leon setelah Mela tiba dan berdiri di sampingnya memandang pendeta.
Mela melirik. "Aku akan sangat bahagia jika aku bisa pergi kesana sekarang, Mister." Sahutnya dengan suara pelan walau terdengar jelas oleh pendeta.
Leon tertawa kecil. "Aku makin mantap untuk membunuhmu setelah acara ini." Bisik Leon sambil menyeringai.
Pendeta berdehem. Ia tak mengerti dengan percakapan dua pengantin di depannya. Mereka lebih terlihat seperti pemburu dengan mangsanya ketimbang calon suami istri.
Sophia mengambil mic dan memulai acara. Sang MC yang dinanti tak kunjung tiba setelah ijin ke toilet. Sepanjang Sophia berbicara Mela tertunduk teringat kejadian beberapa menit yang lalu ketika berciuman. Hatinya berdebar-debar dan air matanya mengembang. Dalam hitungan menit tak ada lagi kesempatan untuk melarikan diri yang ada hanya menerima nasibnya sewaktu waktu di ujung tanduk.
"Nona Melani Bastian, apakah anda menerima Edoardo Fiano sebagai suami baik dalam keadaan susah ataupun senang?"
Melani terdiam mendengar pertanyaan pendeta.
"Nona Melani?" Tanya pendeta sekali lagi.
Mela tersentak kaget setelah Leon menyikut lengannya. "Hah? Apa?"
'Door'
Mela dan beberapa tamu lainnya terkejut mendengar bunyi letupan pistol dari lantai dua. Suasana menjadi gaduh dan pandangan mereka melihat ke arah jendela.
'Praang' Suara pecahan kaca jendela kali ini membuat semua orang berteriak.
'Bruuk'
Sesosok tubuh pria jatuh terlentang dengan luka tembak di dada tepat di belakang pendeta.
"James?!" Seru Leon, kaget melihat tubuh pria itu adalah James. Ia tewas di tempat dan bersimbah darah.
Sebagian tamu menjerit dan menjadi panik melihat mayat James terjatuh dari lantai atas, begitu juga dengan Leon yang menunjuk ke arah bodyguard barunya dan berteriak.
"Tangkap orang itu!" Perintah Leon, langsung berlari bersama mereka menuju lantai atas.
Mela menoleh ke kanan kiri mencari sosok Deny diantara kerumunan tamu yang mengerumuninya James yang sudah tewas. "Ini pasti ulah kamu, Den." Gumam Mela.
"Kamu pasti lagi nyari aku?!" Ucap seorang pria, cekatan menarik tangan Mela dan membawa berlari kecil.
"Deny?!" Mela berlari sambil mengangkat gaunnya ke atas.
"Apa itu kerjaan kamu?" Tanya Mela, berusaha mengimbangi langkah Deny.
"Bukan. Itu bukan aku." Sahut Deny.
Mela mengerutkan dahi. "Lalu siapa?"
⚫⚫⚫
'Braak'
Pintu 'Copdar no 3' itu terbuka lebar setelah bodyguard Leon membukanya secara paksa. Mereka terkejut melihat seorang wanita dengan wajah bengkak mengenakan gaun putih menghadangkan pistol. Leon yang belakangan masuk, terkejut tak menyangka jika Tia Anastasia mempunyai nyali untuk membunuh James, pria yang sudah membelinya untuk dijadikan istri.
"Buang senjatamu, Tia." Pinta Leon dengan suara pelan.
Tia menggeleng, air matanya menetes sambil mengacungkan pistol ke arah Leon. "Tidak, Mister! Aku sudah membunuh bule itu dan sekarang aku gak takut untuk membunuh lagi!" Ancam Tia, serius dan membuat Leon menelan air liur karena takut jika sewaktu-waktu menembaknya.
Leon mengangkat kedua tangan. "Berikan pistol itu padaku dan aku akan melepasmu pergi dari sini. Aku janji." Bujuk Leon. Ia yakin Tia akan luluh dengan ucapannya yang sejak dulu meminta untuk di pulangkan kepada orang tua nya yang kaya raya.
Tia menggeleng sambil melangkah mundur. "Tidak, kamu bohong! Kamu juga janji akan menikahiku tapi nyatanya menikahi wanita lain!" Tolaknya. Ia juga mantap takkan terbujuk dengan janji Leon lagi.
Leon menyeringai. "Aku janji, Tia. Aku sendiri yang akan mengantarmu pulang ke rumah." Janji Leon lagi.
"Tidak! Aku gak akan terbujuk lagi, Do!" Tolak Tia lagi, bersiap menarik pelatuk.
"Di belakangmu ada orang!"
Tia spontan menoleh kebelakang. Ia tertipu, tak melihat siapapun kecuali jendela yang telah pecah kacanya bahkan pecahan kaca itu bertebaran di lantai.
Leon berlari mencengkram tangan Tia yang memegang pistol lalu mengangkatnya ke atas.
"Lepaskan!" Bentak Tia, mengeratkan genggaman tangannya tak ingin melepaskan pistol itu walau harus melawan Leon yang tenaganya jauh lebih kuat.
Mereka saling tarik menarik pistol hingga saatnya Tia tak sanggup lagi menahan tangan dari genggaman Leon.
'Door'
Leon dan Tia membelalakkan mata. Pistol itu meletup untuk kedua kalinya dan berhasil mengenai salah satu dari mereka.
Tia tersenyum pelan. "A--aku akan pulang hari ini.."
'Bruuk'
⚫⚫⚫ Bersambung ⚫⚫⚫