Copdar

Copdar
Tertangkap lagi



Mela melempar handphone ke atas ranjang karena kaget. Satu hal yang ia tahu jika istilah 'Copdar' hanya diketahui orang tertentu atau orang yang ada sangkut pautnya dengan mantan suaminya yang telah menghilang.


 Edo yang berhasil ia tembak, sampai kini jasadnya tak ditemukan, begitu juga dengan Sophia dan Mbok Ijah yang menghilang seperti di telan bumi.


Polisi sudah mengeledah Resort Edo dan rumahnya yang berada di Hutan Pinus, bahkan melacak rumah mewah yang berada di area Jakarta Utara tapi tetap tidak menghasilkan apapun. Mereka menghilang dan hari ini seseorang sudah menerornya dan tentu saja membuat Mela ketakutan.


'Ting tong ting tong'


Mela tertegun seseorang memencet bel rumahnya dan untuk kedua kalinya bel itu berbunyi. Tanpa berpikir panjang dan berharap itu adalah Deny yang sedang bertandang, ia berlari kecil menuju pintu sesudah menyibak gorden dan melihat hanya seorang kurir yang mengantarkan paket.


"Cari siapa ya?" Tanya Mela menyapa kurir itu yang menundukkan kepala dan menyembunyikan setengah wajahnya dengan masker. Ditangannya menggenggam kotak yang dibungkus kertas coklat.


"Nona Melani Bastian?" Tanya si kurir.


"Ya, itu saya. Ada apa?" Mela balik bertanya dan terkejut setelah melihat kurir itu membuka masker dan menyeringai.


"Aku mencarimu, Sayang." Dengan cekatan pria itu membius Mela dengan sebuah sapu tangan dan berhasil menumbangkannya dalam hitungan detik. "Sudah kubilang kau hanya milikku, Mel. Kali ini kau tak bisa pergi dariku," gumamnya lalu membopong tubuh Mela dan menaruhnya didalam mobil.


❤❤❤


Mela membuka mata pelan dan terkejut melihat langit-langit dan lampu kamar berbeda dengan dikamarnya. Ia baru tersadar jika tidak sedang berada di rumahnya ! Setelah seseorang sudah membiusnya tadi.


"Kau sudah bangun?"


Mela bangkit dan terduduk di ranjang. Wajahnya memucat melihat pria berjalan mendekat sambil tersenyum sinis.


 "Apa kau tak merindukan suamimu, Mel?"


"Edo?" Akhirnya Mela menyebut nama suaminya yang sudah lama tidak terlontar dari mulutnya. Suami yang sudah ia pastikan telah tewas setelah berhasil menembaknya, walau jasadnya menghilang.


"Aku Leon, bukan Edo." Leon memberitahu dan langkahnya terhenti di bibir ranjang lalu merangkak mendekati Mela yang perlahan menurunkan tubuh dan kembali berbaring. "Kenapa? Apa kau kaget melihatku masih hidup?" Tanyanya lalu memutar bola matanya cepat. "Kau penembak paling buruk didunia, Sayang. Tembakanmu hanya menggores kulitku. Lihatlah.."


Leon mengangkat kaosnya hingga batas dada dan Mela melihat jelas bekas jahitan.


"Apa maumu lagi? Tidak bisakah aku hidup tenang, Mister?" Tanya Mela dengan tatapan memohon tapi Leon  mengubris tatapan minta iba itu.


Leon mengangkat sudut bibirnya sebelah dan membalas sinis Mela yang terbaring pasrah. "Tidak ada." Ia menjawab lalu mengusap pipi Mela dan mengecupnya pelan. "Aku hanya menjemput istriku saja karena sudah sebulan kau pergi, Mel. Aku merindukanmu.."


Mela meronta dan memukul kedua dada leon. "Lepaskan aku, Mister! Biarkan aku pergi dari sini dan jauh darimu! Lepaskan aku!" Ia berteriak tapi Leon berhasil mencengkram tangannya dan menaruh disamping kedua telinga Mela. "Tidak! Aku tak kan melepaskanmu dan bahagia bersama polisi itu, Mel! Karena aku tahu kau sedang mengandung anakku!"


"Hah?!" Mela terperangah mendengar ucapan Leon. Ia dan Deny menutup baik-baik kehamilannya dari siapapun termasuk ayahnya yang serumah dengannya. Tapi Leon mengetahuinya sekarang. "Da--darimana kau tahu aku sedang hamil?" Tanyanya yang penasaran.


Leon masih menatapnya tajam seperti tadi, seperti serigala yang siap menerkam mangsa. "Itu tidak penting, Mel. Karena bagiku kau dan bayi dalam perutmu itulah yang penting. Jadi jangan lagi kau berharap bisa melarikan diri lagi dariku. Kali ini aku tak main-main. Camkan itu!" Ancamnya tapi tangan Leon perlahan menarik ke atas midi dress Mela dan mengeluarkan dari tubuhnya.


"Kau mau apa?" Mela menutupi kedua dada dengan kedua lengan yang menyilang didepannya.


Leon menyeringai. "Melakukan apa yang biasa suami istri lakukan!"


❤❤❤


Air matanya menetes bersamaan air itu mengalir membasahi tubuhnya. Meratapi nasibnya yang kembali menjadi tawanan Leon dimana sewaktu waktu nyawanya terancam karena ia tahu pria itu tak ubahnya seorang psikopat.


'Braak'


Mela tertegun melihat pintu kamar mandi itu terbuka dan Leon berdiri dibaliknya dalam keadaan naked. "Tidak bisakah kau sabar menanti ku selesai?" tanyanya tapi Leon terus berjalan mendekat lalu memeluknya lagi.


Mereka berdiri dibawah pancuran dan Leon mengecup bahunya lalu menciuminya bertubi-tubi seperti tadi. Tak banyak yang dapat Mela lakukan untuk melawan Leon yang kuat selain pasrah dan menerima untuk kedua kalinya tubuhnya di jamah. Semakin sering Leon menjamahnya, semakin besar hasrat Mela untuk merasakan rasa itu.


❤❤❤


"Kamu kemana sih, Mel?!" Deny menggerutu kesal setelah berulang kali ia menghubungi Mela tapi hanya suara operator yang membalas.


"Nomor yang anda hubungi sedang tidak aktif atau diluar jangkauan--"


Untuk kesekian kalinya juga Deny menutup panggilan itu lalu melempar handphone ke atas sofa lalu duduk dan meremas rambut.


'Drrt..drrt..drrt..'


Tangan Deny spontan meraih handphone dan berharap Mela yang menghubunginya. "Om Bayu?" Gumamnya menyebut nama ayah Mela.


"Hallo, Om?" Sapa Deny memulai percakapan. Tak lama Bayu membalas dan bertanya mengenai Mela.


Wajah Deny memucat, mendengar beberapa kalimat dari Bayu berhasil membuat kedua kakinya lemas. Rasanya ia tidak sedang memijak bumi dan seketika perasaannya jadi tak enak, mengkhawatirkan Mela yang menghilang.


Deny bangkit dan bergegas pergi menuju perumahan Mela untuk mencari petunjuk dan ia yakin ini ada hubungannya dengan pria yang bernama Edoardo, suami Mela.


Selama perjalanan menuju rumah Mela bersama Rey, tiada henti Deny terus berdoa dan berharap jika kecemasannya terjadi. Berharap Mela hanya pergi menemui teman dan akan kembali lagi, tapi sayangnya dari informasi yang ia dapatkan dari teman dekat Mela tidak mengurangi rasa cemasnya. Satu-satu petunjuk untuk menyelidiki kepergian Mela hanya ada di TKP alias tempat terakhir Mela berada. Dan itu ada di rumah.


❤❤❤


Deny dan Rey mencermati cctv yang mereka dapatkan dari rumah tetangga Mela. Mereka terkejut melihat sebuah mobil jenis MPV dan seorang pria yang memakai seragam kurir turun dari mobil tersebut.


Rasa cemas Deny makin bertambah melihat Mela berhasil dibius oleh kurir dan dibawa paksa kedalam mobil yang disinyalir pria itu adalah Edo.


"Itu pasti Edo!" Seru Deny.


"Lu benar, Den!" Timpal Rey yang hafal betul perawakan tubuh Edoardo. "Terus kita harus gimana lagi sekarang? Edo sudah bawa si Mela dan kita stuck disini. Gak ada petunjuk lagi."


Deny berpikir sebentar. Menurutnya tidak mungkin Edo membawanya ke Bogor atau Sukabumi, ia menyakini Edo masih berada di sekitar Jabodetabek. Selain cctv itu ia membutuhkan pantauan luas cctv lainnya dan ia teringat dengan Dewo yang bekerja di NTMC karena itu petunjuk terakhir di pikirannya sekarang. "Come on, Rey. Kita harus minta bantuan Dewo sekarang," ajaknya yang bergegas bangkit dari meja kafe lalu beranjak menuju pelataran parkir.


"Wait, Den!" Panggil Rey yang segera menutup laptop dan berlari mengejar Denny.


❤❤❤