
"Aku Leon, bukan Edo!"
Sophia mengangkat tangan dan mengangguk berulang kali. "Ba--baik. Apapun nama Tuan saya gak peduli."
"Namaku Leon! Panggil aku Leon!" Potong Leon, kesal. Wajahnya memerah, Sophia tak menuruti ucapannya.
"Oke.. oke, Tuan Leon." Akhirnya Sophia menyebut nama itu walau sebenarnya tak mengerti seorang pria remaja berdiri di depan menatap penuh dendam dan marah. Tidak seperti biasanya yang hanya tertunduk takut dan menangis.
"Aaakh--" Lastri berteriak memasuki ruangan diikuti Mbok Ijah.
Lengkingan teriak Lastri memenuhi ruangan melihat jasad Rendra bersimbah darah ditambah lagi sepucuk pistol ada di genggaman tangan Edo, anak satu-satunya.
Lastri berlari mendekati jasad Rendra lalu meraung menangis sejadi-jadinya. Tak lama ia menoleh ke arah Edo yang berdiri mematung tak jauh darinya dengan tatapan benci dan marah.
Lastri bangkit berjalan mendekati Edo. Ia menampar dan menggoyang-menggoyangkan kedua bahu Edo yang terdiam dengan sebelah tangan memegang pipinya yang terasa perih.
"Anak setan! Lihat apa yang sudah kamu perbuat?! Membunuh ayahmu sendiri! Anak tak tahu diri!" Hardik Lastri, penuh emosi dan berulang kali menampar pipi Edo hingga membuatnya terjatuh.
"Sudah Lastri!" Seru Mbok Ijah, melerai Lastri yang akan memukuli Edo lagi.
"Biarkan saja, Mbok! Aku menyesal melahirkan dia. Aku benar-benar menyesal!" Sahut Lastri dan ucapannya membuat air mata Leon mengembang.
Leon mencoba bangkit. Ia menatap tajam Lastri yang wajahnya memerah karena emosi.
"Apa?! Kamu mau membunuh ibumu, seperti ayahmu itu?!" Tantang Lastri.
Leon menggeleng, menoleh ke arah Rendra. "Dia bukan ayah Edo. Bukankah kalian lupa dia menuduh Edo anak haram?!" Tanya Leon ke arah Lastri dan Mbok Ijah yang terheran dengan ucapannya.
Mbok Ijah mendekati Leon. "Apa maksudmu, Do?" Tanyanya pelan, memegang lengan Leon.
Leon menepis. "Apa kalian lupa jika dia--" Ia menunjuk Rendra dengan pistol.
"Sudah bilang jika Edo anak haram. Bukan anaknya! Apa sekarang kalian mengelak ucapan dia?!" Tolak Leon.
"Edo..ayahmu gak sungguh-sungguh bicara seperti itu, Nak. Dia hanya emosi saja." Ucap Mbok Ijah lagi, berusaha menurunkan emosi Edo yang masih menatapnya bersama Lastri dengan tatapan penuh kebencian.
"Tidak. Aku tahu jika yang ia bilang itu benar. Edo melihat wanita jalang ini tidur bersama Om Edi beberapa bulan yang lalu. Dan itu hasil hubungannya!" Leon menunjuk perut Lastri yang membuncit.
Lastri mengepalkan tangan dan seketika wajahnya pucat pasi seperti seorang tersangka di pergoki aparat keamanan.
Mbok Ijah menoleh ke Lastri dengan tatapan tak percaya. "Apa itu benar, Las?" Tanyanya dengan nada tak percaya.
Lastri mengangkat dagu, itu salah satu bukti ia berlindung diri menutupi dari kesalahannya. "A--aku mencintainya, Mbok. Rendra tak bisa memberiku keturunan. Dia mandul!" Ucapan Lastri membuat Mbok Ijah memegang dadanya, tak menyangka jika keponakannya berani melakukan hal kotor bersama adik iparnya.
Mbok Ijah menggeleng tak percaya dan terbesit di pikirannya mengenai Edo. "Lalu bagaimana dengan Edo?"
Lastri tersenyum tipis teringat akan sesuatu indah sebelum ia menikah dengan Rendra. Sesuatu yang berasal dari kesalahannya juga. "Dia anak David. Lihatlah wajahnya yang tampan dan bola matanya yang coklat. Membuat aku selalu merindukannya, Mbok.." Jawabnya sambil mengelus kandungannya yang berumur 5 bulan.
Mbok Ijah membelalakkan matanya, tak percaya lagi dengan segala dosa yang sudah diperbuat Lastri. David adalah seorang bule Portugis yang pernah bekerja pada ayah Lastri sebagai manajer penginapan yang berada di Sukabumi. Memang David hanya setahun bekerja disana tapi ia menghilang tanpa jejak hingga kini keberadaannya tidak diketahui siapapun hingga kini.
"Lastri, kau---"
"Aku mencintainya, Mbok. Seandainya saat itu ayah gak menjodohkanku dengan Rendra..mungkin sekarang aku hidup bahagia dan gak seperti ini." Potong Lastri, air matanya menetes mengingat pernikahan dengan Rendra hanya sebuah bentuk kerjasama saja dalam bisnis. Tanpa cinta.
Mbok Ijah menggeleng tak menyangka telah membesarkan keponakannya dengan etika dan norma tapi telah melakukan hal yang terlarang. "Kau sudah merusak hidupmu dan Edo, Las." Ia menunjuk ke arah Edo.
"Lihatlah! Karena ulahmu, Edo selalu menjadi pelampiasan kemarahan Rendra. Tubuhnya tak jauh dari hukuman yang belum tentu dia perbuat. Kamu hanya menangis tapi gak bisa melindungi dia. Apa ini dinamakan seorang ibu?!" Ucap Mbok Ijah, seakan menampar kedua pipi Lastri. Tapi wanita itu tertawa kecil.
"Lalu bagaimana denganmu, Mbok?! Sebagai seorang nenek juga tak bisa melindungi dia. Hanya bisa menonton seperti aku." Ia membela diri dari tuduhan Mbok Ijah yang terdiam.
Sophia yang sedari tadi hanya menyimak dan menonton percakapan mereka mulai memahami alasan mengapa Rendra sering mengeluhkan masalah rumah tangganya. Istri yang kurang perhatian dan anak yang tak mirip sama sekali dengannya. Intensitas itulah yang menumbuhkan bunga-bunga cinta di antara mereka berdua dan berakhir di ranjang, walau tak sampai mengandung buah dari cinta mereka. Seperti yang Lastri katakan jika Rendra mandul.
"Sudah.. sudah.. hentikan!" Celetuk Sophia, menghentikan pertikaian antara bibi dan keponakan itu. Ia menunjuk ke arah jasad Rendra.
"Sekarang kita harus urus jasad pak Rendra, sebelum polisi datang dan menangkap Edo." Ucap Sophia lagi.
Lastri tersenyum. "Aku ada ide." Sahutnya.
⚫⚫⚫
Lastri membersihkan tangan dari noda darah. Tugas sebagai perawat yang sering melihat dokter mengambil organ tubuh untuk transplantasi akhirnya terwujud juga. Dan kali ini ia bertindak sebagai dokter yang mengambil beberapa organ tubuh Rendra untuk di jual di pasar gelap.
Sebenarnya Lastri bukanlah wanita jahat seperti layaknya pembunuh berdarah dingin, mengingat kebencian terhadap Rendra membuat ia berani melakukan itu dan secara tidak langsung suaminya telah mengajari untuk berperilaku menjadi orang yang menghalalkan segala cara untuk mendapatkan uang. Seperti yang sering Rendra kerjakan, selain menjadi manajer penginapan ia juga melakukan human trafficking pada wanita nakal yang pernah ditidurinya.
Setelah mengubur Rendra, tak lama datanglah dua pria menemui Lastri. Cara berpakaian mereka rapi layaknya pekerja kantoran. Memakai setelan jas dan dasi.
Edo, mengintip perbincangan mereka yang terlihat sangat serius. Ia juga melihat salah satu pria itu memberi sebuah koper pada Lastri. Kedua pria itu menerima sebuah box berukuran persegi dan Edo tahu jelas itu adalah organ tubuh Rendra.
Dari sanalah Edo banyak belajar mengenai kejahatan yang ayah dan ibunya perbuat. Hingga meneruskan dan menjadikannya sebuah pekerjaan mendapatkan uang banyak secara instan.
Lalu apakah Edo seperti Rendra ? Meniduri wanita psk lalu menjualnya ? Tidak ! Sekalipun tidak pernah Edo meniduri wanita sebelum mengenal Melani Bastian. Ia memanfaatkan sosial media untuk mendapatkan target dan dijadikan korban kejahatannya.
Dengan wajah tampan dan mempesona, Edo berhasil banyak meluluhkan hati wanita dan mengiming-imingi akan dinikahkan walau sebenarnya itu hanya kebohongan dan tentu saja para wanita itu untuk dijual bukan di nikahi.
Saat sekarang
Mbok Ijah terdiam setelah teringat kejadian masa lalu yang menjadikan Edo seperti ini bahkan asal muasal lahirnya jiwa Leon. Jiwa pemberontak dari Edo yang lemah.
"Hentikan semua ini, Leon. Serahkan dirimu pada polisi agar hidupmu tenang." Ucap Mbok Ijah, melihat Leon masih menodongkan pistol ke arah Deny.
Leon menggeleng dan menyeringai menatap Deny. "Tidak, Mbok. Aku akan membunuhnya sekarang." Balas Leon, kesal melihat wajah Deny yang menyunggingkan bibir.
"Karena dia, pernikahanku batal dan dia juga telah tahu banyak tentang aku. Jadi...tak ada alasan untuk ku membiarkan dia hidup." Leon bersiap menarik pelatuk dan tak sabar membunuh Deny.
'Bugh'
Deny kembali menendang dan Leon berhasil menepis dan membalas dengan tendangan. Mereka terus bertarung, sementara Mbok Ijah keluar dari kamar dan pergi menuju suatu tempat.
⚫⚫⚫
"Nomor yang anda hubungi sedang tidak aktif atau berada di luar jangkauan--"
Agus menutup panggilan setelah tiga kali menghubungi Deny hanya suara operator yang ia dengar. Ia menatap tajam Rey yang terbaring di ranjang menanti sebuah penjelasan dan alasan Deny meluncur ke TKP tanpa team. Walau sudah diberi peringatan tadi malam.
"Apa kamu tahu alasan Deny bertindak sendiri tanpa melibatkan team?" Tanya Agus, seperti menginterogasi seorang tersangka pada Rey yang tersenyum kecut.
Rey menceritakan asal mula perjalanan mereka pada kasus yang sedang mereka tangani sekarang hingga membuatnya ia bisa terbaring di rumah sakit. Agus yang mendengar dan menyimak cerita Rey, mulai mengerti jika kasus wanita yang beberapa bulan terakhir ini menghilang ada kaitannya dengan pembunuhan ibu dari wanita yang bernama Mela Bastian. Tetapi bagi Agus, Deny sudah bertindak gegabah untuk menuntaskan kasus tanpa kerjasama team sekalipun kasus ini berkaitan dengan masalah pribadinya.
Berdasarkan cerita Rey, tanpa menunda waktu Agus bersama dua anggota lainnya pun meluncur menuju Bogor. Baginya Deny dalam keadaan bahaya melawan pria bernama Edoardo sendiri tanpa partner kerja, sekalipun ia polisi dan memiliki pistol.
⚫⚫⚫
Leon jatuh tersungkur setelah mengenai tendangan Deny. Bibirnya berdarah mengenai lantai lalu mengusapnya dengan tapak tangan.
"Katakan dimana kamu menyembunyikan Mela?!" Tanya Deny, yang keadaannya juga tak jauh beda dengan Leon. Beberapa luka tergugat di wajahnya.
Leon mengangkat ujung bibirnya. "Tidak akan ku beritahu. Dia calon istri ku dan aku sudah menidurinya semalam. Dan kau hanya mantan pacarnya!" Sahutnya sambil berusaha bangkit.
Deny berjalan mendekati Leon yang berdiri dengan tubuh terhuyung-huyung. Ia mengeluarkan pistol dari balik jaketnya. "Aku berhak tahu karena aku polisi. Selain itu Mela hanya mencintai aku bukan kau!" Ucapnya, melototi Leon.
Leon menggeleng, ia menyandarkan tubuhnya di depan lemari baju. "Tidak akan kuberitahu sebelum kau melangkahi mayatku!" Gertaknya. Mata Leon melirik kebelakang tepat pada pintu kamar yang sudah terbuka lalu tersenyum lebar.
'Zettt'
Tubuh Deny bergetar dan matanya mendelik ke atas setelah stun gun berhasil merobohkan kesadarannya. Ia terjatuh lemah ke lantai, pistol di genggamannya terlepas.
Leon menepuk tangan dan tertawa kecil memandang Sophia dan dua bodyguardnya. "Terimakasih, Sophia. Kau selalu membantuku." Ucapnya melihat Sophia mengangkat dagu karena bangga.
"Kurung dia di gudang belakang. Aku harus memberinya pelajaran." Perintah Leon pada kedua bodyguard-nya.
Mereka mengangguk setuju. "Siap, Pak!" Seru mereka serentak memapah tubuh Deny dan membawanya keluar kamar.
"Apa kau sudah mendapatkan pendetanya?" Tanya Leon pada Sophia.
"Sudah, Tuan. Setengah jam lagi dia tiba dan aku rasa harus mengobati luka di wajah Tuan dulu, sebelum mengadakan upacara pernikahan." Sahut Sophia, mendekati Leon yang meringis menyentuh wajahnya yang terluka mengeluarkan darah.
"Tidak perlu. Coba kau panggil Mbok Ijah dan suruh ia mengobatiku." Perintah Leon lagi sambil menepis tangan Sophia yang akan menyentuh wajahnya.
Sophia mengangguk, tak bisa menolak titah bos nya yang sewaktu-waktu bisa berubah kepribadian. Tapi ia tahu sekarang berhadapan dengan pria bernama Leon. Pria bengis yang tak ada ubahnya seperti seorang pembunuh berdarah dingin. Bukan Edo, pria berhati lembut dan lemah.
"Baik, saya cari beliau di bawah dulu." Pamit Sophia, membalikkan tubuh dan kembali berjalan menuju pintu.
"Sophia." Panggil Leon lagi.
"Ya?" Sophia menoleh.
"Dandani Mela dan suruh ia mengenakan gaun merah. Ini hari spesial kami berdua. Aku ingin ia terlihat berbeda."
Sophia mengangguk lagi. "Baik, Tuan." Ucapnya lalu berlalu dari kamar.
⚫⚫⚫
Leon tersenyum lebar setelah Mela mengatakan 'Ya saya bersedia' di depan pendeta untuk menerimanya menjadi suami, walau wanita itu menjawabnya dengan isak tangis dan suara terbata-bata.
Kini Leon bernafas lega memiliki Mela secara sah sebagai istri. Dari sekian banyak wanita yang ia dekati dan dapatkan walau untuk menjadi 'Copdar star', hanya Melani Bastian yang ia sukai sama seperti yang Edo rasakan.
"Anda bisa menciumnya sekarang, Pak Edo." Ucap pendeta pada Leon.
Mela menatap Leon sebentar lalu menunduk pasrah. Tak banyak yang bisa ia perbuat karena status nya kini seorang istri dari Edoardo atau Leonardo, pembunuh dari ibu kandungnya.
Leon memiringkan wajah dan mendekati bibir Mela yang terkatup. Tangannya memegang pipi Mela yang basah dan mengusapnya. "I love you, Mel." Ucapnya pelan dilanjut dengan sebuah ciuman lembut pada bibir Mela.
Mata Mela terpejam, dibalik kebengisan Leonardo, pria itu mengulum bibirnya lembut...lebih lembut dari ciuman Deny. Dan membuatku terlena.
"Gue gak boleh terlena! Dia udah bunuh ibu, Mel. Dan lu harus balas dendam demi kematian ibu!" Ucap batin Mela.
Leon melepaskan ciumannya dan acara pernikahan mereka yang hanya dihadiri tak banyak orang itu pun terlaksana dengan baik. Dan kini ia menyandang sebagai seorang suami dari Melani Bastian, wanita yang sama disukai oleh Edo.
Leon mengajak Mela berdansa bersama, tiada henti ia mengagumi kecantikan Mela dengan gaun merah sepanjang mata kaki dengan belahan sampai paha. Dadanya yang berukuran sedang menyembul dari belahan gaunnya. Tak ada pria normal menolak wanita secantik dan mempesona istrinya begitu juga tawanannya. Deny.
Di sebuah ruangan
Deny tersadar dan membuka matanya pelan. Dia berada di sebuah ruangan yang luasnya hanya 10x10 meter dan dikelilingi barang yang tak terpakai.
Gudang. Itu yang ada dipikirannya sekarang. Leon mengurungnya di sebuah gudang yang hanya berdinding kayu. Kedua tangan dan kakinya terikat pada sebuah kursi begitu juga dengan mulutnya yang ditutup dengan lakban.
Deny merasa tengkuknya perih setelah seseorang menyetrumnya beberapa saat yg lalu. Ia jengkel karena selangkah lagi berhasil menangkap Edoardo dan membawa Mela pulang. Tapi untuk kesekian kalinya penjahat itu menggagalkan aksinya. Laksana seekor belut yang licin untuk di genggam, selalu gagal.
Deny menggoyang-menggoyangkan tubuh, mencari celah untuk bisa terlepas dari tali yang mengikatnya. Tapi tak bisa.
Deny tertegun ketika mendengar derap langkah mendekati gudang. Ia juga bisa mendengar suara anak kunci yang berputar di lubang kunci dan mengeluarkan bunyi 'Tek'.
Kenop pintu berputar lalu terbuka membuat Deny tercengang melihat seseorang dari balik pintu tersenyum lebar menatapnya.
Ia menelan air liur melihat orang itu memasuki gudang dengan tangan menggenggam barang miliknya.
Pistol !
⚫⚫⚫ Bersambung ⚫⚫⚫