Copdar

Copdar
I'm Leon !



I AM LEON !


Mela membuka mata perlahan. Sinar lampu kristal yang tergantung di atas langit-langit membuat ia memicingkan matanya sebelah.


Pandangannya menyusuri sekeliling ruangan tempat dimana ia berada sekarang. Sebuah kamar mewah. Mela mencoba bangkit untuk duduk di atas ranjang. Selimutnya melorot hingga bagian pinggang dan terkejut melihat tubuhnya tak mengenakan baju.


Ia kembali menarik selimut  hingga batas leher dan keterkejutannya belum berakhir sampai disitu. Tepat di sampingnya seorang pria tampan terbaring dalam keadaan sama.


Mela menelan air liur, dan melihat jelas pria yang terbaring disampingnya.


Leon ! Pria yang sudah membunuh ibunya dengan sepucuk pistol tadi malam.


Air mata Mela spontan menetes membayangkan kematian ibunya dan keadaan sekarang. Leon yang bengis telah merenggut segalanya. Termasuk keperawanan yang selama ini ia jaga.


Isak tangis Mela membuat Leon terjaga. Ia membalikkan tubuh dan tersenyum melihat Mela mengusap air mata sambil menutupi tubuh dengan selimut berwarna merah marun.


"Good morning, Mela sayang." Sapa Leon, tersenyum layaknya pasangan sedang honeymoon. Tanpa memperdulikan tangisan Mela.


Leon bangkit dari ranjang. Tubuhnya yang polos membuat Mela memalingkan wajah ke arah jendela yang masih tertutup gorden walau bias matahari pagi memasuki dari sela-sela ventilasi.


Leon menutupi tubuh dengan kimono sambil berjalan ke arah jendela lalu menyibak gorden. Melihat sinar matahari membuat Mela memicingkan mata dan menutupi wajah dengan tapak tangannya. 


Seiring bias matahari, udara sejuk juga memenuhi ruangan setelah Leon membuka penuh jendela. Ia berjalan menuju balkon sambil menikmati udara segar ditemani kicauan burung dipagi hari.


Mela terkejut melihat beberapa pohon cemara berdiri tegak di luar sana. Berbeda saat terakhir berada di ruangan 'Copdar no 5', yang hanya pohon pinus yang memenuhi pemandangan.


"Dimana kita berada sekarang? Aku tahu ini bukan di Bogor." Tanya Mela, yakin jika Leon membawanya ke tempat yang berbeda.


Leon membalikkan tubuh melihat Mela yang terduduk diranjang dengan tangan menarik selimut menutupi sampai batas dada. Ia tersenyum lalu mengangguk. "Kau benar, Sayang. Kita tidak sedang di Bogor. Tapi tempat dimana aku akan menikahimu lagi hari ini. Walau hanya di depan pendeta tanpa tamu." Ia menjawab lalu memalingkan tubuh dan melanjutkan memandangi pohon cemara.


"Kau takkan bisa menikahiku, Mister. Walaupun aku telah--"


"Menidurimu?! Ya, aku memang sudah menidurimu, Mel. Apapun akan aku lakukan untuk mendapatkanmu walau harus merebutmu dari Deny!" Sahut Leon tanpa berbalik dan fokus menatap pohon cemara dan sepasang burung gereja yang bertengger diatas ranting.


Mela kembali menangis dengan wajah tertunduk. Hidupnya sudah berakhir sekarang. Leon berhasil menculik dan menjadikannya tawanan lagi, tak ada yang diharapkan untuk hidup bahagia apalagi menjalin kasih dengan Deny.


Isak tangis Mela membuat Leon mengepalkan tangan, kesal. Ia tak menyukai mendengar suara tangisan seperti yang sering ia dengar semasa kecilnya. Edo lemah yang selalu menangis.


"Berhentilah kau menangis, sebaiknya kamu mandi sekarang. Aku menunggumu di bawah." Pinta Leon ketika melintasi Mela lalu membuka pintu dan beranjak dari kamar.


'Ceklek'


Mela menoleh ke arah pintu yang baru saja tertutup. Berulang kali ia mengusap air matanya yang terus menetes lalu bangkit dari ranjang menuju kamar mandi.


⚫⚫⚫


Deny menghentikan dan turun dari mobil 500 meter sebelum mencapai rumah Edoardo. Derap langkah panjangnya memecah keheningan di hutan Pinus ketika kakinya menginjak ranting-ranting kering yang bertebaran di tanah. Udara dingin Bogor membuatnya menyilangkan kedua tangan didepan dada, bahkan hembusan nafasnya berwarna putih di udara.


Langkah Deny makin mendekati rumah bertingkat bermodel klasik dengan gerbang tinggi. Tiba disana tak ada bodyguard atau seorangpun yang menyambut kedatangannya seperti terakhir kali ia bertamu.


Terlihat tak berpenghuni. 


Deny menggoyang-goyangkan gerbang sambil memanggil nama Edo. "Edoardo keluar kau!" Panggilnya, tapi tak ada sahutan atau seseorang yang keluar dari dalam rumah.


Ia kembali menggoyangkan gerbang tapi aksinya terhenti ketika seorang wanita berteriak dari belakang.


"Berhenti! Kamu bisa merusaknya!" Cegah wanita itu.


Deny membalikkan tubuh melihat seorang wanita tua mengenakan kebaya dan dengan bawahan kain panjang yang dililit. 


"Dia gak ada disini. Sebaiknya kamu pergi!" Pinta wanita itu, ditangannya menggenggam sebuah sapu lidi.


"Ibu siapa? Saya gak pernah liat ibu sebelumnya." Tanya Deny. Ia berusaha mengingat tapi memang merasa tidak pernah bertemu sebelumnya di rumah Edo.


"Mungkin pembantu baru." Pikir Deny melihat penampilan wanita itu seperti mbok-mbok yang ada di desa.


Wanita tua itu menatap tajam Deny tanpa senyum. Tatapannya seperti ingin memberi tahu sesuatu namun tertahan.


"Untuk apa kamu mencari bocah itu?" Tanya wanita itu lagi.


Deny berpikir sebentar mencerna kata 'bocah' pada kalimat yang baru saja ia dengar. "Bocah? Maksudnya Edo?" Ia kembali bertanya dalam hati.


"Saya mencari Edo. Saya harus menangkap dia." Jawab Deny, lantang.


Wanita tua itu membuka gerbang lalu masuk dan diikuti Deny dari belakang. "Mereka pergi. Hanya tinggal saya sendiri di rumah ini." Ucapnya lagi.


"Mereka pergi kemana, Bu?" Tanya Deny yang makin penasaran.


Langkah Deny terhenti melihat wanita tua itu membalikkan tubuh dan menatap tajam lagi. "Akan saya kasih tahu dimana mereka sekarang tapi sebelumnya kamu harus mendengar cerita saya."


⚫⚫⚫


Suara deru mesin mobil Deny terhenti tepat di tepi jalan pada sebuah perbukitan. Dari jarak 100 meter ia bisa melihat sebuah rumah bertingkat model minimalis disana.


Seperti apa yang Mbok Ijah, wanita tua yang ia temui dua jam lalu, katakan jika Leon mempunyai sebuah penginapan di daerah Sukabumi. Tanpa menunda waktu Deny langsung menuju tempat itu dan berhasil menemukan rumah yang dimaksud.


Ia bernafas lega setelah mengetahui lokasi itu mempunyai sinyal untuk telekomunikasi, tidak seperti saat di hutan pinus.


Deny terus berjalan hingga akhirnya ia tiba didepan rumah yang tak ada gerbangnya. Sebuah mobil Pajero terparkir didepannya dan bisa dipastikan mobil itu milik Leon.


Deny mengendap-endap lalu bersembunyi di balik pohon cemara besar begitu melihat seorang wanita paruh baya yang disinyalir adalah Sophia keluar rumah bersama dua orang bodyguard berpakaian rapih dengan setelan jas.


Mereka menaiki mobil lalu beranjak meninggalkan tempat itu. Setelah merasa keadaan aman Deny mendekati pintu utama.


'Ceklek'


Pintu tak terkunci dan tak ada seorang pun yang menyambut kedatangannya baik itu pembantu ataupun Leon.


Deny berjalan pelan. Pandangannya mengarah pada tangga yang akan membawanya menuju lantai dua.


"Mereka pasti di atas." Tebak Deny, bicara sendiri sambil melangkah pelan menuju tangga.


"Cari pendeta lain jika dia berhalangan. Aku mau hari ini juga menikahinya!" 


Deny terkesiap mendengar samar-samar suara Leon keluar dari kamar menuju tangga. 


Deny berlari menuju sebuah ruang kecil di bawah tangga lalu bersembunyi.


'Tuk tuk tuk tuk'


Suara langkah Leon memenuhi ruangan saat menuruni tangga. Ia masih berbicara di ponsel dengan wajah serius dan sesekali mengumpat ketika lawan bicaranya berbicara.


"Brengsek!" Umpat Leon setelah mematikan panggilan diponsel. Ia terdiam mengepalkan tangan begitu tiba di lantai bawah sambil berpikir sebentar.


Leon kembali melangkah menuju pintu utama lalu beranjak pergi.


'Braak' 


Deny keluar dari tempat persembunyiannya lalu berjalan menaiki tangga. Pandangannya tertuju ke arah kamar paling ujung. 


Deny membuka kenop pintu pelan lalu masuk dan kembali menutupnya. Pandangan Deny menyusuri ruangan yang di isi dengan furniture minimalis begitu juga dengan ranjang yang terlihat berantakan.


Kosong. Tak ada seorang pun disana.


Ia berjalan menuju kamar mandi yang pintunya tertutup lalu membukanya.


"Mel? Apa kamu disini?" Panggil Deny dengan suara pelan.


Hening tak ada sahutan sama sekali.


Deny membalikkan tubuh dan terkejut melihat Leon berdiri dibalik pintu dengan sepucuk pistol ditangannya.


"Aku tak menyangka jika kita bisa bertemu lagi, Pak polisi." Leon berjalan memasuki kamar sambil menodongkan pistol.


Deny mendengus dan terlihat santai walau nyawanya sedang terancam. "Sebaiknya kau menyerah. Kami sudah mengepungmu, Pak Edo. Hmm..apa aku harus memanggilmu Leonardo?" 


Wajah Leon memerah mendengar namanya disebut. Tak ada yang boleh memanggil nama itu selain Mela, tapi sepertinya Mela sudah banyak bercerita tentang keadaannya sekarang. Dan makin membuatnya kesal orang itu adalah Deny, polisi sekaligus mantan kekasih Mela.


Leon melototi Deny yang menatapnya tajam. "Takkan ada seorang pun yang bisa menangkapku. Sekalipun kau anggota CIA. Dan Mela sudah menjadi milikku, sebaiknya kau tak usah merebutnya." 


Leon menyeringai. "Karena kami sudah melewati malam yang indah. Kau bisa menebak, 'kan?" Ia tertawa kecil melihat Deny terdiam.


 "She is virgin. Dan aku pria yang pertama yang menyentuhnya." Sambungnya lagi, membuat wajah Deny memerah kesal dan mengepalkan kedua tangannya.


"Tapi aku orang yang dia cintai!" Seru Deny, tak mau kalah.


Leon menggeleng sambil melotot. "No! Dia tidak mencintaimu. Bahkan saat kami melakukannya hanya namaku yang dia sebut. Itu sudah jelas jika anda hanya bertepuk sebelah tangan, Pak Deny." Ucapnya lagi.


Deny tertawa kecil lalu membalas tatapan Leon yang menantangnya. "Terserah apa katamu. Selain menjemput Mela aku harus menangkapmu karena kau sudah melakukan banyak kejahatan. Dan ingat.." Ia menunjuk ke arah wajah Leon.


"Kau sudah kami kepung!" Ancam Deny tapi Leon tertawa terbahak-bahak mendengar ancamannya.


Leon kembali melangkah menodongkan pistol ke arah kepala Deny. "Sebelum kalian berhasil menangkapku, aku sudah membunuhmu dahulu. Dan aku---"


"Hentikan, Leon!" 


Leon menoleh mendengar suara seorang wanita yang sangat ia hafal sekali.


"Mbok Ijah?!" Serunya, tak percaya jika wanita tua itu bisa berada di tempatnya sekarang. Wanita yang sudah membesarkannya sebagai pengasuh sedari bayi.


Mbok Ijah jalan dengan sangat pelan mendekati Leon yang masih menodongkan pistol ke arah Deny.


"Hentikan, Nak. Berhentilah kau berbuat jahat. Sampai kapan kau seperti ini? Bukankah kau sudah mendapatkan semua?" Tanya Mbok Ijah, mengingatkan Leon tentang masa lalu Edo yang kelam. Edo yang lemah dan hanya menangis setiap saat.


"Aku melakukan semua ini juga demi kebahagian Edo. Dia terlalu bodoh untuk melawan bahkan--" Leon tertawa.


"Saat ayahnya kubunuh dia menangis. Mbok juga tahu kan, jika setiap hari si Rendra itu sering memukuli bahkan mengurungnya di ruang 'Roommate'. Tapi.. untuk apa dia menangisi orang yang bukan ayah kandungnya?!" Suara Leon bergetar, air matanya mengembang mengingat semua apa yang Edo rasakan saat masih kecil hingga lahirlah jiwa berontak pada tubuh kecil itu. Dialah Leon.


"Dia ayahmu! Ayah kandungmu!" Seru Mbok Ijah serius.


"Tidak!" Bentak Leon.


"Dia bukan ayahku atau ayah Edo!" Protes Leon dan ingatannya kembali pada masa kecil Edo yang kelam.


Bogor, 12 tahun yang lalu


"Ampun, Yah. Sakit, Yah.." Edo remaja menangis memohon ampun ketika seorang pria mencambuk dengan sebuah ikat pinggang pada tubuhnya yang setengah telanjang.


Beberapa bekas luka lebam memenuhi sebagian tubuh Edo, begitu juga lengkingan teriaknya memenuhi ruang bawah tanah ketika ujung ikat pinggang itu melesat di tubuhnya lagi.


Rendra, pria yang di panggil 'Yah' itu, makin kalap mencambuk Edo. Umpatan demi umpatan terlontar dari mulutnya bahkan berulangkali menyebut hal yang membuat Edo enggan untuk mendengarnya. Sebuah tuduhan.


Edo duduk meringkuk sambil terus memohon. Menahan sakit dan menangis hanya itu yang ia bisa. Tak ada seorang pun yang dapat menolong. Lastri, ibunya dan Mbok Ijah hanya menonton sambil menangis di luar kerangkeng.


"Dasar anak haram! Kamu cuma bisa mempermalukan saya saja! Anak tak tahu diri!" Umpat Rendra, nafasnya terengah-engah lalu berhenti mencambuk karena lelah. 


Rendra menoleh kebelakang, melihat tajam ke arah Lastri.  "Ajari anakmu dengan benar, jika tidak aku akan membunuhnya nanti malam!" Ancam Rendra, membuka pintu kerangkeng dan beranjak dari sana.


Lastri dan Mbok Ijah lari berhamburan masuk kedalam kerangkeng setelah Rendra meninggalkan ruangan yang gelap dan pengap itu.


Lastri duduk berlutut memeluk Edo yang menangis. "Maafin ibu, Nak..ini semua salah ibu.." Ucap Lastri dengan suara bergetar dan air matanya menetes untuk sekian kalinya melihat Edo menjadi pelampiasan kemarahan Rendra.


Mbok Ijah mengusap punggung Lastri, ia pun menangis. "Sudahlah Lastri, sebaiknya bawa Edo ke kamar sekarang. Saya harus segera mengobatinya." Pintanya. Sebuah kalimat yang sama ia lontarkan setelah Edo di siksa oleh Rendra.


Lastri bangkit dan berdiri. Ia mengangkat kedua lengan Edo. "Ayo kita pergi dari sini, Do." Ajak Lastri.


Beberapa jam kemudian


Edo bangkit lalu duduk di bibir ranjang. Seketika ia menutup kedua telinga setelah mendengar  bisikan.


"Bunuh mereka!"


Ia makin merapatkan kedua tangannya dan menggeleng sambil menutup mata. "Tidak!" Edo berteriak. Tapi suara itu jelas terdengar di telinganya.


"Bunuh mereka, Bodoh!" 


Suara itu kembali datang dan membuat Edo terjatuh dari ranjang dan...pingsan.


Beberapa menit kemudian Edo membuka matanya lalu tersenyum. Ia bangkit lalu berjalan meninggalkan kamar menuju kamar Rendra.


Edo membuka laci meja kerja dan mengambil sesuatu dari dalamnya lalu berjalan keluar kamar. Ia melanjutkan langkah menuruni tangga dan memasuki sebuah ruangan yang telah dihadiri beberapa orang asing dan dua wanita berpakaian seksi.


Disana terlihat Sophia mengenalkan salah satu wanita cantik itu pada mereka. Tapi ucapannya terhenti setelah melihat Edo memasuki ruangan dan berjalan mendekati Rendra sambil menggenggam sepucuk pistol.


'Door!'


Edo menembak tepat pada dada Rendra dan spontan para tamu berlari berhamburan sambil berteriak ketakutan. Tapi Tidak dengan Sophia yang hanya berteriak memanggil nama Edo berulang kali.


Edo menurunkan tangan lalu menoleh ke arah Sophia sambil menatap tajam tanpa rasa penyesalan. 


Ia berjalan mendekati Sophia dengan tangan masih memegang pistol. Jantung Sophia berdebar kencang dan wajahnya menjadi pucat melihat Edo tak seperti biasanya. Dengan tatapan berbeda.


"Hentikan, Tuan Edo.." Suara Sophia bergetar saat jarak Edo hanya beberapa meter saja.


Edo menodongkan pistol tepat mengarah wajah Sophia sambil menyeringai.


"Aku bukan Edo tapi--"


"Leon!"


⚫⚫⚫ Bersambung ⚫⚫⚫