Copdar

Copdar
I'm Yours, Mister !



Deny tercengang melihat Mbok Ijah berdiri dibalik pintu lalu memasuki ruangan sambil menggenggam pistol. Wajahnya yang keriput dan punggungnya sedikit membungkuk berjalan pelan mendekati Deny.


"Kamu gak usah takut. Saya kesini untuk menolong kamu." Ujar Mbok Ijah, berjalan ke arah belakang Deny dan membuka ikatan pada tubuh dan tangannya.


"Hmmp---hmmmp--" Deny berusaha bicara tapi  tersadar jika mulutnya tertutup lakban.


'Sreet'


Mbok Ijah membuka bekapan mulut Deny yang ditutupi dengan lakban. 


"Terimakasih, Mbok." Ucapnya, bernafas lega lalu membuka ikatan pada kedua kakinya.


"Dia sudah menikahinya." Ujar Mbok Ijah.


Deny berhenti membuka lilitan tali di kakinya. Terkejut mendengar ucapan Mbok Ijah, ia mengangkat wajah menatap wanita tua itu dengan tatapan meminta penjelasan. "Apa maksud, Mbok?" Tanyanya, berharap apa yang dikhawatirkan tidak terjadi.


"Leon sudah menikahi Mela. Upacara baru saja selesai, makanya  saya baru bisa menolong kamu sekarang." Terang Mbok Ijah, menyodorkan pistol  pada Deny.


Deny mendengus kesal menerima lalu menyimpan pistol di balik jaketnya. Lagi-lagi hubungannya dengan Mela harus berakhir di tengah jalan. Tapi kali ini bukan karena keegoisannya melainkan menikahi seorang penjahat kelas kakap.


"Saya pastikan tak lama lagi Mela menjadi janda, Mbok. Edo tidak layak menikahinya karena saya--"


"Saya mohon jangan bunuh dia, Sejak kecil Edo banyak menderita. Dia hanya korban kebengisan ayahnya saja." Potong Mbok Ijah sambil memohon dengan wajah memelas. Matanya mengembang kembali teringat masa lalu Edo yang kelam dan menjadi saksi hidup dari kisah cucunya.


Deny mengangguk. "Saya bertugas untuk menangkapnya, Mbok. Tapi jika keadaan saya terancam saya terpaksa melawan." Ia memegang kedua bahu Mbok Ijah sambil membungkuk. "Pokoknya Mbok gak usah banyak pikiran. Saya yang mengurus semua." Ujar Deny lagi dan lanjuti dengan anggukan kepala Mbok Ijah.


'Drrt--drrt--drrt-'


Deny merogoh dan mengeluarkan ponsel dari saku celana jeansnya. Dilayar tertera nama Agus disana dan ia yakin ketua team sekaligus atasannya itu pasti memarahi karena sudah melanggar perintah.


"Hallo, Pak." Deny memulai percakapan. Ia bisa mendengar dengusan Agus dari seberang sana.


"Katakan dimana kamu sekarang?"


⚫⚫⚫


Leon membuka pintu kamar dan mendapati Mela berdiri mematung di depan jendela yang terbuka. Semilir angin malam memenuhi isi ruangan kamar yang sudah dihias cantik ala pengantin baru, bunga mawar dibentuk lambang hati bertebaran di atas ranjang dan semerbak wanginya menenangkan hati siapapun yang menghirupnya kecuali Mela. Walaupun malam ini ia mengenakan gaun tidur berwarna merah di atas lutut dan dilapisi kimono, ia tidak seperti pengantin kebanyakan yang menanti malam pertama dengan sukacita. Pikirannya terbagi dua antara Deny dan Leon. 


Mela memang telah dan sedang menjalin hubungan bersama Deny lagi. Tapi satu sisi kini ia adalah seorang istri dari pria bernama Edoardo atau Leonardo, dua pria dalam satu tubuh. Walaupun tak ada cinta pada Leon tapi pernikahan itu sah dan ia harus melakukan kewajibannya sebagai istri. Melayani suami.


"Tak ada bintang, apa yang kamu lihat?!" Tanya Leon mendekap Mela dari belakang. Dekapannya makin erat walau Mela tak membalas pertanyaan Leon dan pandangannya masih ke depan, melihat rumah yang tak jauh dari tempat mereka berada sekarang.


Mela membalikkan tubuh dan mencoba melonggarkan diri dari pelukan Leon, tapi tak bisa justru membuat tubuhnya makin rapat tanpa celah. Wajahnya hanya berjarak setengah jengkal saja, bahkan aroma wine yang keluar dari mulut Leon pun bisa ia hirup dengan jelas.


Leon mengelus pipi Mela dengan punggung tangan, ingin rasanya ia menghabiskan malam penuh hasrat dan cinta seperti pasangan pengantin baru lainnya. Tapi melihat respon Mela yang hanya diam dan acuh makin membuatnya penasaran untuk mendapatkan perhatian dan cintanya. Seperti yang Deny dapatkan.


"Aku harus tidur, Mister. Aku mengantuk." Itulah kalimat pertama yang dilontarkan Mela untuk menghabiskan malam panjangnya bersama Leon. Malam yang seharusnya indah dan berkesan tapi sikapnya dingin sedingin udara malam di Sukabumi.


Leon menarik pinggang Mela, ia membisikkan sesuatu yang membuatnya terkejut. Sesuatu yang tak ingin ia dengar dari mulut Leon.


"Lalu apa yang kau inginkan dariku sekarang?" Tanya Mela.


Leon mengangkat sudut bibirnya. "Tidurlah denganku." Jawab Leon, santai. Ia mengetahui jika Mela menginginkan hal yang sama, walau menutupi sebuah perasaan didepannya. Perasaan jika wanita itu sudah jatuh cinta padanya.


Mela tersenyum tipis dan menarik ujung tali kimono hingga membuat kimononya terbuka. Leon menelan air liur melihat jelas payudara Mela menyembul sebagian dari balik gaun tidurnya. Ia menyeringai lalu menurunkan kimono dan mengeluarkan dari tubuh Mela.


"I'm yours, Mister." Bisik Mela pelan.


⚫⚫⚫


Sebuah mobil berjalan pelan menuju sebuah rumah di atas bukit. Walau di sepanjang jalan minim penerangan, mereka bisa melihat jelas beberapa rumah yang disinyalir sebagai penginapan milik Edoardo. Sesuai petunjuk yang diberikan Deny beberapa jam lalu.


Mereka sempat melintasi mobil Deny yang terparkir di tepi jalan dan terus melaju ke arah rumah yang paling besar dan bertingkat. Rumah berwarna putih model minimalis modern.


Hampir tiba di atas bukit dua pria menghentikan mobil mereka berdiri di tengah jalan sebelum portal. Salah satu dari pria itu berjalan ke arah supir lalu mengetuk jendela mobil.


'Tok tok tok--'


Pria bertubuh tambun yang selaku menjadi supir membuka kaca jendela setelah mendapat perintah dari kawan di sebelahnya. "Ada apa?" Tanyanya, basa basi.


Pria bertubuh tinggi mengenakan kaos polo putih dan celana jeans itu sedikit menunduk dengan pandangan menyusuri isi mobil. "Penginapan tutup untuk seminggu ini sebaiknya kalian mencari penginapan lain." Ucapnya dengan nada memaksa.


Pria disamping supir mendengus kesal lalu menatap pria itu sambil mengambil sesuatu dari balik jaket. "Apa ini cukup untuk mengijinkan kami mengunjungi penginapan?" Tanyanya, menunjukkan sebuah lencana berharap pria itu segan atau setidaknya memberi jalan untuk melanjutkan perjalanannya. Tapi tidak, ia menoleh ke arah kawannya.


"Hubungi Pak Edo, polisi mau bertemu." Perintahnya.


Pria yang paling tua diantara ketiga rekannya turun dari mobil mendekati pria tadi. "Kami polisi dan berhak masuk tanpa ijin pemilik penginapan ini. Jadi sebaiknya kamu buka portal itu." Pintanya, sambil berkacak pinggang dan memaksa.


Pria penjaga portal itu menatap dengan tatapan datar, tak takut dirinya sedang berhadapan dengan seorang ketua team yang akan menangkap Edo. Agus. Ketua team yang langsung meluncur menuju Sukabumi setelah mendapat petunjuk dari Deny walau sebelumnya mereka berempat telah menyambangi rumah Edo di Bogor dan membawa hasil nihil.


"Saya hanya melaksanakan tugas saja, Pak. Jika bapak mau menunggu silahkan jika tidak--" Ucapan penjaga portal itu terhenti setelah kawannya memberikan ponsel lalu bicara pada panggilan yang sedang berlangsung.


"Sebentar--" Ucapnya pada Agus. Ia berjalan menjauh beberapa meter dari Agus dan bicara di ponsel. Tak lama ia mendekati portal lalu membukanya.


Agus kembali menaiki mobil dan mereka melanjutkan perjalanan menuju sebuah rumah yang paling besar dan paling depan di antara penginapan Edo lainnya. Dari jauh mereka bisa melihat dua pria berbadan tegap dan tinggi memakai seragam bertuliskan 'White Resort' berdiri didepan rumah.


Agus dan anggota team lainnya turun dari mobil, kedua pria tadi membuka pintu dan mengantarkan pada pemilik penginapan. Edoardo, yang sudah berdiri menyambut kedatangan mereka di ruang lobi ditemani Sophia yang berdiri di belakangnya.


"Pak Edoardo? Kami dari kepolisian. Kedatangan kami kesini untuk menjemput Bapak untuk menjawab beberapa pertanyaan terkait hilangnya tiga orang wanita yang menurut kabar terakhir bersama anda." Ucap Agus menyodori selembar kertas bertuliskan 'Surat penangkapan'.


Leon tertawa sambil membuang muka. Sikapnya tenang melayani Agus dan kedua anggotanya yang berdiri di belakang. Ia memasukkan kedua tangan di saku celana dengan sedikit mengangkat dagu. "Apa buktinya saya orang yang anda cari?" Tantang Leon.


"Anda bisa menanyakan itu di kantor polisi." Ujar Agus, menoleh kebelakang meminta anggotanya menangkap Leon lalu kembali menatap tajam pria didepannya yang tersenyum bengis.


'Door--door--door--'


Agus menoleh ke belakang melihat ketiga anggotanya tumbang setelah timah panas mengenai dan menewaskan mereka.


Tubuh mereka terjatuh, darahnya menetes membasahi lantai. Tembakan itu tepat pada sasaran. Hanya orang tertentu yang mempunyai skill tinggi bisa menembak tepat pada spot vital. Dan dua pria berseragam itu telah menembak mereka, pria yang dikiranya adalah  pelayan Resort.


"Apa-apaan ini?!" Tanya Agus tak mengerti, anggotanya dibunuh dengan keji ketika sedang bertugas dan ia tersadar jika berhadapan dengan seorang penjahat berbahaya. Seperti yang pernah Deny dan Rey katakan.


'Tek--'


Leon menodongkan pistol tepat mengarah pada wajah Agus.


Pria yang sebulan lagi akan pensiun dari kepolisian itu, spontanitas mengangkat tangan. "Anda tidak bisa leluasa melawan penegak hukum, Pak Edo. Sebagai warganegara yang baik seharusnya anda--"


'Door--'


Agus terdiam tak sanggup melanjutkan ucapannya. Perlahan ia jatuh berlutut sambil memegang dada setelah timah panas mengenai dada kanannya. Darahnya menyembur ke lantai hingga mengenai sandal Leon.


Untuk terakhir kalinya Agus menatap Leon tersenyum lebar sambil menatapnya tajam, tak ada perubahan raut wajahnya dan tak lama pria itu tertawa lalu menarik pelatuk.


'Door--'


Sekali lagi Leon menembak dan membuat tubuh Agus jatuh tersungkur. Timah panas itu berhasil melumpuhkan bahkan menewaskannya. Tak ada lagi penghalang atau orang yang bisa menangkapnya, sekalipun mereka anggota CIA.


"Bereskan jasad mereka dan kubur menjadi satu! Jangan sampai kalian meninggalkan jejak. Termasuk mobil itu!" Perintah Leon pada kedua pria yang berseragam tadi.


⚫⚫⚫


Nafas Deny terengah-engah setelah berjalan sejauh dua kilometer dari gudang sampai menuju penginapan Edo. Bukan pada penginapan pertama kalinya ia kunjungi tapi pada rumah yang berada di belakangnya. Rumah yang berbeda dimana Mela disembunyikan disana.


Tiba disana, tidak nampak bodyguard berjaga di depan pintu atau sekelilingnya. Terlihat lenggang seakan tak berpenghuni walau beberapa lampu terlihat masih menyala pada beberapa ruangan.


Deny mendongak ke arah lantai dua pada balkon yang terlihat jendelanya terbuka. Memang terlihat kelam, tapi disanalah Mela berada seperti apa yang diucapkan Mbok Ijah beberapa menit yang lalu.


Deny melangkah menuju pintu utama, ia yakin tak ada seorangpun berada disana selain dirinya.


'Ceklek'


Deny menghela nafas lega membuka pintu pintu yang tak terkunci. Pandangannya menyusuri isi ruangan yang tak jauh berbeda dengan rumah sebelumnya, hanya sedikit sempit. 


Ia berjalan mengendap-endap dengan langkah perlahan menuju tangga lalu menaikinya. 


Tiba di lantai dua, ada dua kamar saling bersebelahan. Deny membuka kamar pertama dan menyembulkan kepalanya sedikit untuk mengintip, memastikan jika Mela benar berada disana.


Dalam keadaan kamar yang remang-remang dan jendela terbuka, samar-samar ia bisa melihat seseorang tengah berbaring dari balik selimut yang menutupi sebagian tubuhnya. Seorang wanita.


Deny mendekati ranjang lalu menyentuh bahu wanita itu dan menggoyangkannya pelan. "Mel.." Panggil Deny.


"Mel..bangun." Sekali lagi Deny membangunkannya dengan suara pelan.


Wanita itu membalikkan tubuh dan membuka matanya perlahan. Pandangannya stabil setelah detik ketiga dan terkejut melihat pria di dekatnya tersenyum.


"Deny?! Bagaimana kamu bisa ada disini?!" Tanya Mela spontan bangkit dan duduk.


Deny menarik tangan Mela pelan. "Membawamu pergi dari sini. Ayo buruan." Ajaknya.


Mela melepas genggaman Deny lalu menggeleng. "Maaf, Den. Aku gak bisa pergi sama kamu. Aku sudah menikah dengan dia, walaupun dia sudah membunuh ibu.." Tolak Mela, seketika wajahnya tertunduk dan air matanya menetes. Ia menjadi wanita rapuh setelah menikah dengan Leon tidak seperti Mela yang biasanya yang tegar dan keras kepala.


Deny meraih kedua tangan Mela dan kembali menggenggamnya. "Come on, Mela sayang..sejak kapan kamu jadi lemah kayak gini? Ini bukan Mela yang aku kenal. Please, kita pergi dari sini, gak lama lagi team aku pasti sampai dan menangkap Leon. Kamu gak mau kan tinggal sama pembunuh berdarah dingin kayak dia yang sewaktu-waktu bisa membunuh atau menjual kamu ke orang asing? Ayo kita pergi.." Bujuk Deny lagi tapi gelengan kepala Mela membuatnya menghela nafas kecewa.


"Aku gak bisa, Den..aku sudah ngelakuin semua sama dia. Dan aku sudah gak--"


"Aku menerimamu apa adanya, Mel.." Potong Deny, walau terlihat kesal Leon telah meniduri Mela. Sesuatu yang ia jaga selama berhubungan dengan Mela, dan berharap yang pertama merasakan setelah menikahinya. Tapi semua kandas sudah..wanita yang dicintai sudah mempunyai suami. Seorang kriminalitas yang menjadi targetnya. 


"Tidak, Den. Sebaiknya kamu pergi dari sini sebelum dia melihat dan membunuhmu. Kamu tahu kan betapa kejamnya dia. Biarlah aku disini, aku--"


Deny memeluk Mela, spontan. "Tidak, Mel. Kalau kamu gak mau pergi, aku pun gak pergi. Aku akan selalu disini dan gak mau kehilangan kamu lagi. Sungguh aku gak akan melepasmu kali ini, Mel." Ucap Deny pelan, hembusan nafasnya hinggap di telinga Mela, membuatnya bergidik.


"I love you.." Bisik Deny, membuat air mata Mela semakin menetes melihat kesungguhan Deny sejak menjalin kasih untuk kedua kalinya. Tak seperti dulu yang acuh dan egois.


Deny dan Mela terkesiap mendengar suara Leon dari luar dan suaranya semakin mendekati mereka. 


Mela menunjuk ke arah gorden yang tersimpul, berada di sudut dinding. "Kamu sembunyi disana cepat!" Pintanya lagi.


Deny mengiyakan ucapan Mela walau ia sendiri terheran mengapa harus takut pada Leon, notabene seorang kriminalitas yang harus ia tangkap dan membawanya ke kantor polisi terdekat. Saat ini otaknya tak dapat berpikir panjang mendengar penolakan Mela yang tak menyetujui ajakannya untuk segera pergi dari sana secepatnya. Alhasil, ia bersembunyi tepat pada sudut dinding, menutupi dirinya dengan gorden setinggi tiga meter yang sudah ia buka simpulnya.


'Ctek' Leon menyalakan lampu kamar yang tak terlalu terang dan terkejut mendapati Mela berdiri di balkon.


"Kau sudah bangun?" Leon mendekati Mela yang memeluk dirinya erat karena dinginnya angin malam.


Mela mengangguk. "Ya. Kau dari mana?" Tanyanya, seakan memberi perhatian walau tak berbalik.


Leon sumringah mendengar pertanyaan Mela. Ia merasa secara perlahan Mela pasti akan mencintainya sebagai Leonardo bukan Edoardo apalagi polisi yang sok hebat itu. 


Ia memeluk Mela dan menciumi pipinya perlahan. "Menyelesaikan urusanku." Jawabnya, santai.


Mela mengerutkan dahi. "Urusan? Tengah malam begini?" Ia merasakan Leon menyembunyikan sesuatu. Dan tentu saja sesuatu yang melanggar hukum, karena itulah yang sanggup ia lakukan tak jauh berbeda dengan Edo, Leon hanya meneruskan dan menambahnya dengan sedikit kebengisan.


Leon mengangguk lalu berbisik. "Bukankah sebaik kita tutup jendela ini?" Tawarnya, spontan mata Mela melirik ke sudut kanan. Tempat Deny bersembunyi dan hampir membuatnya menepuk dahi.


Mela berbalik cepat. "Tidak! Tidak perlu, Mister. Gak tahu kenapa, aku merasa kegerahan. Makanya jendela ini gak aku tutup." Cegah Mela, panik jika Leon menyibak gorden menemukan Deny dibaliknya.


Leon mengangkat sudut bibirnya. "Oke, kalau itu maumu. Tapi tubuhmu dingin, Sayang.." Sahutnya sambil memeluk erat.


Mela tersenyum kecut, menyembunyikan rasa takutnya. "Eh? Nanti akan aku tutup. Aku masih kepanasan." Tolaknya lagi sambil mengibas-ngibaskan leher dengan kedua tangannya.


Leon meregangkan pelukannya. "Baiklah. Sebaiknya kau tidur lagi. Aku harus keluar sebentar." Pamitnya.


Mela mengangguk dan tersenyum. Ia harus tampil sebaik mungkin di depan Leon. Agar tak menaruh curiga pada sikapnya yang terlihat dibuat-buat. "Baiklah." Sahutnya.


Leon beranjak dari kamar lalu menutup pintu. Mela menghela nafas lega setelah Leon pergi meninggalkannya. Ia merasa sedang beruntung keberadaan Deny tak diketahui oleh suaminya. Dan inilah saatnya meminta Deny untuk pergi, karena ia takkan pernah bisa meninggalkan tempat itu. Sejauh apapun ia pergi Leon akan memburu dan mendapatkannya, sekalipun keluar negeri.


"Keluar dan pergilah dari sini, Den." Pinta Mela dengan suara pelan.


Deny keluar dari balik gorden. "Aku sudah bilang takkan pergi dari sini tanpa kamu, Mel." Berjalan mendekati lalu duduk disamping Mela.


"Kita pergi dari sini, setelah aku dan team ku bisa menangkapnya. Aku akan menikahi kamu, Mel." Sekali lagi Deny membujuk Mela agar mau pergi bersamanya. Kesungguhan itu memang terlihat dari wajah Deny tidak seperti empat tahun lalu.


Untuk kesekian kalinya Mela menolak ajakan Deny. Baginya bersama Leon adalah solusi mencari aman untuk sementara. Dan ia juga yakin Leon pasti bisa berubah seperti Edo yang sedikit lembut walau butuh waktu dan proses lama. "Tidak, Den. Dia pasti cari aku kemanapun aku berada. Aku gak mau membahayakan orang terdekat aku seperti ibu.." Matanya mengembang mengingat ibunya yang tewas dan mungkin kini ayahnya depresi telah kehilangan istri dan putri satu-satunya.


Deny mengusap pipi Mela pelan sambil berbisik. "Kamu tak perlu cemas, Mel. Aku bisa menjaga diriku. Aku pastikan Edo dihukum berat dan gak ganggu kamu lagi."


Mela menggeleng lalu bangkit dari ranjang. "Itu sulit, Den. Pergilah.." Pintanya lagi sambil melangkah menuju pintu.


Deny mengepalkan tangan kesal melihat sikap Mela yang menjadi pecundang. Ia mengikuti Mela yang sudah membuka pintu. "Pergilah."


"Tidak tanpamu!" Ujar Deny menarik keluar tangan Mela.


"Lepasin, Den!" Pinta Mela, menepis tangan Deny.


'Ctek'


Deny terkejut melihat Leon berdiri disamping pintu kamar sambil menodongkan pistol ke arah pelipisnya. "Selangkah kau membawanya pergi akan kutembak kau!" Hardik Leon bersiap menarik pelatuk.


Wajah Mela pucat pasi, ia masih trauma dengan kejadian penembakan terhadap ibunya kemarin. Ia tak menginginkan hal itu terjadi untuk kedua kalinya. "Lepaskan dia, Mister. Aku yang salah sudah menyuruhnya kesini. Kumohon lepaskan dia.." Mela memohon dengan wajah memelas tapi Leon menatapnya murka. Ia kembali menjadi pria bengis, sikap lembutnya tadi telah menghilang.


"Tidak. Aku akan bawa Mela pulang dan menangkapmu hari ini. Sebaiknya kau menyerah sebelum team aku tiba. Mereka--"


"Sudah kukubur!" Potong Leon menyeringai puas.


Deny membelalakkan mata mendengar celetuk Leon yang terdengar mengada-ada walau tidak menutup kemungkinan pria itu sudah membunuhnya. Karena dia memang seorang pembunuh berdarah dingin.


"Pria tua bersama tiga rekannya sudah kutembak, Pak Polisi. Dan..kau yang terakhir--"


'Bugh--' Deny menangkis tangan Leon hingga membuat pistol itu terjatuh ke lantai dan dilanjuti sebuah tinju tepat pada dadanya.


Tubuh Leon jatuh terlentang dan kepalanya membentur dinding. Mela yang melihat, menutup mulut dengan sebelah tangan terlihat panik ketika darah menetes dari kepalanya. Tepat pada bekas ia menghantam dengan vas bunga beberapa hari yang lalu. 


Leon memegang kepala dan melihat telapak tangannya di basahi darah. "Shit!" Geramnya.


Deny mengambil pistol dari jaketnya dan menodongkan ke arah Leon. Darahnya mendidih teringat akan ucapan Leon yang telah membunuh Agus dan rekan lainnya. "Kali ini gak akan kubiarkan kau hidup Edoardo!" 


'Ctek--ctek--' Deny menarik pelatuk pistolnya tapi tak meletup. Ia terheran lalu mengamati dan ternyata kosong. Tak ada amunisi didalamnya.


Leon tertawa kecil, mencoba bangkit walau tangannya masih memegang kepalanya yang terluka. "Kenapa? Apa kau heran Mbok Ijah memberikanmu pistol tanpa peluru? Apa kau lupa dia itu siapa aku?!" 


Deny berusaha mencerna baik ucapan Leon lalu menoleh ke arah Mela yang menggeleng dan berkata "Lari! Cepat lari!"


Leon mencoba meraih pistol sambil membungkuk. Tetesan darahnya mengucur pelan membasahi sebelah wajahnya.


Deny mengangguk lalu menarik kencang tangan Mela. "Tentu. Tapi bersamamu, Mel." Ajaknya membawa Mela berlari menuju tangga lalu menuruninya.


"Dasar jalang!" Umpat Leon setelah menggenggam pistol melihat mereka berlari.


'Door--' Leon menarik pelatuk dan mengarahkan ke arah mereka berdua yang menuruni tangga.


Meleset ! Tembakannya meleset, hanya berhasil melubangi dinding rumahnya.


Leon berlari mengejarnya walau darahnya makin deras mengucur. "Akan kubunuh kalian berdua!" Geramnya, terus berlari.


'Door--' Sekali lagi Leon mengarahkan pistol ke arah Deny.


"Aaakh--" Deny menjerit, timah panas itu berhasil melukai lengan kanannya dan langkahnya menjadi terhenti begitu tiba di depan pintu utama.


Ia jatuh berlutut sambil memegang lengannya yang mengeluarkan darah. Seketika wajahnya menjadi pucat tak sanggup menahan lukanya.


Mela yang cemas sesekali menoleh ke arah Leon yang berjalan pelan menuruni tangga sambil menyeringai puas.


Tanpa pikir panjang Mela membuka kimononya lalu melilitkan pada lengan Deny untuk menghentikan pendarahannya. "Thanks, Mel." Deny menjawab dengan suara lemah walau rautnya wajahnya perlahan memerah, terlihat membaik.


"Kalian takkan bisa keluar dari sini! Aku pastikan kalian mati hari ini!" Ancam Leon. Ia berjalan dengan sangat pelan, seperti terlihat dipaksakan.


Mela menoleh ke arahnya. "Kumohon biarkan dia pergi, Leon! Aku akan menemanimu selamanya, tapi ijinkan dia pergi dari sini." Pinta Mela, sama seperti tadi.


"Tidak! Aku juga akan membunuhmu, Mel!" Leon menodongkan pistol tepat ke arahnya yang hanya berjarak 5 meter.


'Bugh--'


'Prang--' Deny melempar sebuah pajangan berbentuk burung elang tepat pada perut Leon dan pecah berhamburan dilantai. Membuatnya kembali terjatuh terlentang. 


Mela mengambil pistol Leon yang terjatuh lalu menodongkannya ke arah Leon yang berusaha bangkit. "Jangan bergerak!" Ujarnya.


Leon tertawa kecil. "Kau takkan sanggup membunuhku, Sayang.." Tantang Leon, sekuat tenaga berusaha bangkit walau dalam keadaan lemah.


Air mata Mela menetes, sekilas teringat ibunya yang sangat ia sayangi telah di bunuh oleh suaminya yang bengis dan tanpa rasa bersalah. Ia memang telah jatuh cinta pada Edoardo saat hatinya hampa, tapi bukan pada Leon yang telah melukainya.


"Tidak! Kau salah! Aku sanggup untuk membunuhmu, Leon. Walaupun kau suamiku--"


"Hentikan, Mela. Aku sungguh mencintai--"


'Door--'


Mela menarik pelatuk tepat pada perut Leon dan membuatnya tumbang dalam hitungan detik. Tubuh Leon bersimbah darah dan terjatuh dalam posisi meringkuk. 


"Ayo kita pergi dari sini, Den." Ajak Mela.


⚫⚫⚫


Satu bulan kemudian


Mela mengangkat tangannya ke atas. "Ini indah sekali, Den." Ucapnya mengamati cincin berlian yang melingkar di jari manisnya.


Deny yang berada dibelakang tubuhnya, memeluknya erat. "Tentu, Mel. Susah payah aku mencarinya cuma spesial buat mu aja." Sahutnya sambil mengecup pipi Mela.


Mela berbalik. "Terima kasih, Den. Kau sudah melamarku hari ini. Ayahku pasti senang mendengarnya karena--"


'Drrt--drrt--drrt--' Handphone Deny bergetar disaku celananya lalu mengambilnya. 


"Sebentar, Sayang. Rey menelponku dari kantor. " Ucap Deny,melihat nama Rey tertera di layar. Ia melepaskan pelukannya dan berjalan menuju pantry. Membuka kulkas dan mengambil dua botol soda.


Mela yang masih berdiri di balkon apartemen Deny, memejamkan matanya menikmati pemandangan sore walau langit terlihat mendung. "Eh?!" Mela menutup mulut dengan sebelah tangannya. Perutnya tiba-tiba merasa mual dan ingin memuntahkan sesuatu.


Mela berlari menuju kamar mandi. Tiba di closet ia mengeluarkan semua apa yang telah ia makan hari ini. Bahkan ia bisa melihat jelas potongan spaghetti yang baru saja ia makan bersama Deny beberapa menit yang lalu.


"Uweek--" Ia terus memuntahkannya.


Deny yang samar-samar mendengar suara Mela berlari kecil masuk ke kamar mandi. "Ada apa, Mel? Kamu sakit? Atau kamu alergi?" Ia mencecar Mela dengan beberapa pertanyaan karena panik.


Mela menekan tombol closet lalu membasuh mulutnya pada keran di wastafel. "Aku hanya merasa gak enak badan aja, Den." Sahut Mela, lemah. Seperti baru saja melakukan perjalanan jauh.


Deny menarik tangannya keluar dari kamar mandi. "Ayo kita ke dokter." Ajaknya.


Keesokan harinya


Mela bangkit dari ranjang lalu berjalan dengan langkah gontai menuju kamar mandi setelah mengambil sesuatu. Sesuatu yang diberikan oleh dokter tadi malam.


Mela mengangkat barang itu ke atas dan wajahnya berubah menjadi pucat. Sebuah dua garis merah perlahan timbul dari alat tespek yang ia pegang. Ia hamil. Bukan anak Deny tapi anak..Leon.


Mela kembali berjalan gontai menuju tempat tidur setelah mendengar ponselnya berdering, sebuah notifikasi dari Instagram.


Ia membuka DM dan membaca sebuah pesan dari sebuah akun yang tak ia kenal lalu membacanya pelan.


"Aku merindukanmu, aku ingin kita copdar"