
Tubuh Tia jatuh di lantai setelah pistol meletup tepat di perutnya. Darah mulai membasahi dan mengotori gaun putih, mengubah menjadi berwarna merah.
Leon menoleh melihat dua bodyguard yang mematung di belakang. "Kalian singkirkan dia, taruh di ruang 'Healthy' sekarang juga. Suruh dokter Paul membedah organ tubuhnya!" Perintahnya sambil membuka jas yang sudah terkena noda darah dan melemparnya ke atas ranjang.
Dua bodyguard bertubuh tinggi dan gagah itu mengangguk. "Baik, Pak!" Sahut mereka serempak, membereskan mayat Tia lalu membawanya ke bawah.
Leon berjalan keluar dari ruangan 'Copdar no 3'. Ia berjalan menuju halaman belakang rumah dan tiba disana dihadang beberapa pertanyaan dari tamu yang mendekati.
Sophia berlari menghadang tamu. ”Sebaiknya Tuan ganti baju. Tidak mungkin melanjutkan acara dalam keadaan seperti ini." Ucap Sophia, melihat kemeja dan rompi Leon dibasahi percikkan darah.
Leon tak menggubris ucapan Sophia. Pandangannya menyusuri seluruh halaman rumah yang ramai dengan beberapa tamu saling berbisik memandang penampilannya dan insiden yang baru saja terjadi. Tapi bukan itu yang Leon cari, ia mencari sosok Mela di antara mereka dan.. tak ada. Mela telah menghilang !
⚫⚫⚫
"Tunggu, Den!" Mela melepas genggaman Deny. Ia membungkuk melepaskan high heels lalu membuangnya.
"Ayo, Mel. Kita gak punya banyak waktu." Deny menjulurkan tangannya lagi, sesekali menoleh ke belakang memastikan tak ada melihat mereka.
Mela menerima uluran tangan Deny. "Ayo!" Ajaknya, mengangkat gaun dengan tangan lainnya dan kembali berlari untuk keluar dari rumah yang telah mengurungnya selama beberapa hari ini.
Tiba di halaman depan rumah, langkah mereka terhenti melihat dua bodyguard menghadang dan salah satunya berjalan mendekati mereka.
"Nona Melani, Tuan Edo memerintahkan kami untuk tidak meninggalkan tempat ini dan--"
'Bugh' Deny melayangkan tinju tepat pada wajah bodyguard itu dan membuatnya jatuh tersungkur. Bodyguard yang lainnya mendekat dan mencoba meninju Deny tapi berhasil ditepis dan membalas dengan sebuah tendangan.
Mereka berkelahi hingga posisi Deny harus melawan dua pria itu secara bersamaan.
Mela panik dan sempat berteriak melihat Deny terkena tendangan bodyguard berambut cepak yang tingginya hampir 2 meter, seperti pemain basket. Untungnya Deny bisa menguasai keadaan dan terus melawan serta menepis tendangan dan pukulan. Hal itu wajar bagi Deny yang pernah menjadi atlet taekwondo dan menyandang sabuk hitam.
Mela berulang kali melihat kebelakang berharap Leon tidak mencari dan menyusul ke tempat ia berada sekarang. Ia menjadi bingung karena tidak bisa membantu Deny dan hanya berdiri menyaksikan perkelahian mereka layaknya berada di sebuah arena ring tinju.
'Bruuk'
Kedua bodyguard itu berhasil Deny lumpuhkan dan terjatuh tak berdaya. Keadaan Deny memang tak baik seperti tadi. Beberapa luka mengenai wajah hingga meninggalkan tetesan darah di ujung bibir dan tanda merah pada pipinya.
"Ayo!" Ajak Deny lagi.
Tanpa membuang waktu mereka berjalan keluar gerbang dan berpas-pas an dengan beberapa tamu yang baru saja tiba. Beberapa di antara tamu itu terheran melihat Mela bertelanjang kaki dan berlari bersama seorang pria yang sudah jelas bukan seorang mempelai pria yang mereka kenal. Mereka tak peduli dan terus berlari meninggalkan rumah itu secepatnya.
Mela menghentikan langkah lalu membungkukkan tubuh dengan kedua tangan memegang lutut. Nafasnya terengah-engah setelah lelah berlari dan juga merasakan sakit di tapak kaki. "Sampai kapan kita harus berlari, Den. Kakiku sakit." Seru Mela berusaha menormalkan deru nafasnya yang cepat dan sesekali melihat kebelakang.
"Gak jauh lagi, Mel." Sahut Deny yang berada di depannya lalu menunjuk mobil yang berada sekitar 100 meter dari mereka.
"Rey sudah nunggu kita disana. Ayo, kamu tahan dulu." Pinta Deny.
Mela menggeleng tanda tak mampu. Kakinya terlalu sakit untuk dibawa berjalan.
Deny mendekati lalu berdiri membelakangi Mela dan membungkuk. "Ayo aku gendong kamu." Tawarnya.
"Gak usah, Den. Berat badanku gak kayak dulu. Kamu gak akan kuat." Tolak Mela, lalu tertawa kecil mengingat Deny kerap menggendongnya saat dulu bermain di tepi pantai.
"Ayolah, Mel. Kamu mau Edo menangkap kita lagi?!" Ujar Deny sedikit memaksa.
"Oke..oke." Mela terpaksa menerima tawaran dan menyandarkan tubuh pada punggung Deny.
"Kamu benar, Mel. Kamu berat sekarang." Keluh Deny, belum ada setengah menit menggendong ia sudah kelimpungan membawa Mela.
Sementara Mela tertawa menanggapi ucapan Deny yang baru saja mempercayainya sekarang dan harus membawanya sejauh 100 meter kedepan.
⚫⚫⚫
Dua hari kemudian
"Aku baru aja nyampe rumah, Den." Ucap Mela pada panggilan di ponsel yang ia taruh antara bahu dan telinga. Sementara kedua tangannya sibuk membuka pintu gerbang rumah.
"Kenapa gelap? Apa ibu lupa nyalain lampu?" Tanya Mela dalam hati.
"Den, nanti aku telpon kamu lagi ya. Rumahku gelap banget, kayaknya ibu lupa nyalain lampu depan." Sahut Mela lagi menutup panggilan Deny.
Mela menaruh ponsel di sling bag dan menutup pintu gerbang. Ia mengetuk pintu sebanyak tiga kali tapi tak ada sahutan. "Bu?"
'Tok tok tok tok--'
"Bu?! Aku pulang." Panggil Mela lagi tapi tak ada sahutan dari dalam rumah.
'Ceklek'
"Gak dikunci?!" Gumamnya sambil membuka pintu dan memasuki ruangan yang gelap gulita.
'Ctek' Mela menekan saklar lampu dan terkejut ketika membalikkan tubuh melihat ibunya dalam keadaan duduk di kursi dengan tangan terikat dan mulut yang tertutup lakban.
"Hmmp---hmmmp--" Ibunya Mela berusaha bicara seakan memberitahu sesuatu dari balik lakban yang membekapnya.
"Bu?! Ibu kenapa begini?!" Tanya Mela sambil melangkah mendekati ibunya.
"Itu karena kamu." Ujar seseorang muncul dari balik pintu kamar Mela yang sudah terbuka sebagian.
Mela menoleh ke arah pintu kamar dan melihat pria memakai topi hitam, kemeja putih dilapisi jaket hitam dan celana jeans berjalan mendekati dan membuatnya terkejut setengah mati.
"Le--Leon?" Suara Mela bergetar memanggil nama Leon, pria di dekatnya sekarang. Ia tak menyangka Leon akan mengejarnya sampai ke Jakarta untuk mendapatkannya lagi. Atau mungkin untuk membalas dendam karena telah melarikan diri dari statusnya yang menjadi calon istri saat itu.
Leon melangkah pelan sementara Mela berjalan mundur. "Apa maumu? Sebaiknya kamu pergi dari sini." Ucap Mela, wajahnya pucat melihat tangan Leon menggenggam pistol.
Leon menyeringai. "Untuk menjemput calon istriku yang kabur dari acara pernikahan. Kau masih ingatkan?" Ia balik bertanya dan seketika tatapannya berubah menjadi kesal. Sebelah tangannya terkepal.
Mela menggeleng, ia tak menduga jika itu alasan Leon kembali mendatangi untuk menagih menjadikannya istri. Mungkin lebih tepatnya sebagai tawanan.
"Tidak, Mister. Aku mohon pergi dari sini dan tolong jangan ganggu aku lagi." Mela memohon. Kakinya berhenti melangkah setelah tubuhnya membentur pintu.
"Apa?! Ganggu kamu?!" Leon menjambak rambut Mela dan membuat dagu wanita itu terangkat.
"Aku sudah bilang kalau kamu itu milikku dan aku berhak ganggu kamu seumur hidupmu. Atau kamu ingin aku mengganggu ibumu?" Tangan Leon menodongkan pistol ke arah ibu Mela.
"Hmmp---hmmmp--" Ibunda Mela menggeleng ketakutan dan seketika wajahnya pucat melihat pistol Leon diarahkan tepat di dadanya.
Jantung Mela berdebar kencang. Ia sangat paham dengan siapa ia berhadapan sekarang. Pria yang tak segan-segan untuk membunuh hanya untuk kesenangan dan uang. Leonardo.
"Lalu apa mau mu sekarang?" Tanya Mela, yang bisa dengan jelas mencium aroma rokok dari hembusan nafas Leon yang hanya berjarak beberapa centi saja.
Leon tersenyum lebar seperti memenangkan sebuah sayembara. "Membawamu ke Bogor!"
⚫⚫⚫
Rey mengalami retak pada tulang punggung dan infeksi bekas jahitan usus buntunya. Untungnya cepat mendapatkan pertolongan sehingga Rey tak perlu berlama-lama di ruang IGD. Seperti saat ini, Rey dirawat didalam kamar VIP pada sebuah rumah sakit swasta Jakarta Selatan. Tiap malam Deny menjaga dan merawat walau hanya dua jam lamanya disana, hanya untuk menceritakan perkembangan kasus Edoardo atau hubungan asmaranya dengan Melani yang semakin membaik.
"Kenapa lu matiin?" Tanya Rey ketika Deny mematikan panggilan diponsel.
Deny melirik Rey lalu menaruh ponsel disaku celananya lagi. "Dia baru aja nyampe rumah. Sudah dua hari ini gak ada orang aneh yang ikutin dia dan gue rasa Edo gak akan ngeganggu dia lagi." Sahutnya, yakin jika Edo ataupun Leon menyerah untuk mendapatkan Melani lagi. Tapi tidak dengannya yang berhasil memacari Mela lagi dan segera meringkus Edo esok hari bersama team.
"Apa lu yakin Edo masih di Bogor?" Tanya Rey yang lebih meragukan jika Edo masih berada di Bogor. Bagaimanapun juga jika seorang penjahat pasti akan pergi menuju tempat yang dikiranya aman. Begitu juga dengan Edo dengan segudang kejahatan yang telah ia perbuat.
Deny mengangguk. "Gue yakin dia masih disana. Yang gue tahu dia yatim piatu dan gak punya rumah di kelapa gading sesuai pengakuannya ke Mela. Dan lu tahu gak kalau dia itu punya kepribadian ganda?!"
Mata Rey terbelalak mendengar ucapan Deny. Dia memang pernah mendengar 'penyakit' kepribadian ganda atau gangguan identitas disosiatif (dissociative identity disorder). Jika Edo mengidap 'penyakit' itu bisa di pastikan mengalami trauma berat pada masa kecilnya hingga membentuk kepribadian lain pada tubuhnya.
"Yang kita kenal itu bukan Edoardo tapi Leonardo. Dia lebih bengis dari pada Edo. Menurut pengakuan Mela, Leon yang menguasai tubuh Edo sekarang." Terang Deny.
Rey menatap tajam Deny. Seketika dia merasakan hal buruk yang akan menimpa Mela, sama seperti yang ia rasakan saat di hutan pinus dan itu benar-benar terjadi hingga membuatnya terbaring di rumah sakit saat ini. "Sebaiknya lu telepon si Mela lagi, Den. Gue punya firasat buruk." Pintanya, sedikit memaksa.
Deny tertawa kecil mendengar pinta Rey yang terdengar seperti seorang cenayang. "Lu kayak paranormal aja, Rey. Tenang aja, si Mela pokoknya aman! Gue yakin si Edo, eh si Leon gak bakalan ganggu dia lagi. Gak mungkin buronan sanggup berkeliaran apalagi maen ke Jakarta." Tolak Deny walau sebenarnya hatinya berubah menjadi khawatir dan tanpa sadari tangannya merogoh ke saku celana.
Deny memencet nomor kontak Mela. Ia mengetuk-ngetukkan jari di paha tanda cemas. Sudah 10 detik lamanya hanya mendengar nada sambung tapi panggilannya belum di angkat. "Angkat dong, Mel.." Gumam Deny pelan, berusaha menutupi rasa cemas didepan Rey.
'Tut...tut...tut….tut..'
Untuk kedua kalinya menelepon hanya nada sambung yang Deny dengar.
"Hallo?" Deny memulai percakapan setelah panggilannya di terima.
"Hallo, Mel? Kamu--"
"Hallo juga, Pak Polisi..." Potong suara pria dari seberang sana, berhasil membuat Deny terkejut dan bangkit dari duduknya.
"E--Edo?!" Tebak Deny. Rey pucat setelah mendengar Deny menyebut nama Edo.
"Kenapa, Pak Polisi? Apa kau kaget aku mengangkat ponsel pacarmu? Bukan, tapi calon istriku."
Deny mengepalkan tangannya. Darahnya mendidih membayangkan Edo atau Leon berhasil mendapatkan Mela lagi. Bahkan mengejar hingga ke Jakarta !
"Jangan kau sakiti dia! Se inchi saja kau menyentuhnya aku akan membunuhmu, Do!" Ancam Deny.
Leon tertawa sambil mengelus pipi Mela yang tak sadarkan diri, duduk tepat disampingnya dalam mobil. "*Aku berhak menyentuh dia karena calon istriku! Camkan itu!"
'Tut Tut Tut Tut tut*'
Panggilannya terputus.
"Ada apa, Den? Apa Edo ngedapatin Mela lagi?" Rey penasaran melihat raut wajah Deny yang terlihat kesal dan marah.
Deny memakai jaket, menatap tajam Rey. "Ya. Dia berhasil nyulik Mela lagi. Gue harus pergi ke Bogor sekarang." Pamitnya.
Tiba di depan pintu Deny membalikkan tubuh melihat Rey lagi. "Tolong telepon pak Agus kalau gue gak balik besok." Pinta Deny, ia membutuhkan team esok hari untuk menangkap Edo, tidak untuk hari ini. Ada sesuatu yang harus ia pastikan sebelum team meluncur ke TKP dan membantunya. Sesuatu yang harus ia selidiki sekarang.
Rey mengacungkan jempol. "Oke, sip." Ucapnya dan Deny membuka pintu.
"Den--" Panggil Rey.
"Ya? Apa lagi?" Tanya Deny, membalikkan tubuh. Rey mencoba tersenyum walau wajah cemasnya tak bisa ditutupi. "Hati-hati. Lu masih punya hutang ngajak gue minum ke bar kalau kasus ini kelar." Ucap Rey mengingatkan janji yang ia ucapkan beberapa hari yang lalu.
"Oke, doain gue selamat, Rey. Bye--" Pamit Deny setelah melihat anggukan kepala Rey.
⚫⚫⚫
Deny mengemudikan mobil dengan kecepatan sedang. Saat beberapa meter akan memasuki jalur jalan tol ke arah Bogor, ia membanting stir dan mengambil jalur kembali atau ke arah rumah Mela yang berada di Jakarta timur. Hari memang sudah malam, hampir memasuki waktu dini hari. Tapi baginya mengunjungi tempat terakhir keberadaan Mela adalah keharusan dan ia yakin mendapat sebuah petunjuk begitu tiba disana.
Tak sampai setengah jam Deny tiba di depan rumah Mela. Rumah itu terlihat gelap tak disinari cahaya lampu baik dari teras ataupun bias dari dalam.
Deny memasuki pintu gerbang yang sudah setengah terbuka. Didepan pintu ia mengetuk beberapa kali tapi tak ada sahutan. "Tante?" Panggilnya.
Hening. Tak ada sahutan.
Tangan Deny memegang knop pintu dan membukanya.
'Ceklek'
Mata Deny terbelalak kaget melihat ibunda Mela duduk dalam keadaan tangan dan kaki terikat di atas kursi. Dan yang lebih membuatnya kaget adalah sebuah peluru menembus tepat di dadanya dan percikkan darah menyembur hingga ke lantai.
Satu jam yang lalu
"Membawamu ke Bogor!" Ucap Leon dengan kesal. Matanya melotot dan wajahnya memerah mengingat Mela menggagalkan pernikahannya beberapa hari yang lalu.
Mela menggeleng pelan walau terasa sakit Leon masih menjambak rambutnya kuat. "Tidak, Mister." Tolak Mela. Sekalipun nyawa ibunya berada di ujung tanduk, ia tak ingin mengiyakan ucapan Leon karena pria itu licik, apapun jawaban Mela takkan mengubah keputusan Leon yang tetap akan membawanya pergi dari sana.
Leon menyeringai, ia makin tertarik dengan Mela yang makin lama membantah perintahnya. Dan itu membuatnya ingin segera melanjutkan pernikahannya yang tertunda.
"Kau istriku Mela."
"Tidak! Aku belum menikahimu! Dan kau belum meminta restu dari ibuku." Potong Mela.
Leon kembali menodongkan pistol ke arah ibundanya lalu menarik pelatuk dan..
'Doorr'
"Aaakh--" Mela berteriak histeris melihat peluru menembus tepat di dada ibunya dan semburan darah membasahi lantai keramik yang berwarna putih.
Mela berteriak, menangis sejadi-jadinya. Ia meronta, memukul dada Leon berkali-kali tapi tak berhasil melepaskan dari cengkraman pria bengis rupawan itu. Hingga akhirnya nafas dan jantungnya serasa terhenti dan tak sadarkan diri.
"Sekarang aku gak perlu restu dari ibumu, Mel."
**Saat sekarang, Jakarta timur - kediaman Mela
02.00 WIB**
Di sekitar perumahan Mela telah dipenuhi warga dan beberapa polisi yang sibuk memberi garis polisi. Bahkan beberapa wartawan sudah hadir dan meliput pemberitaan mengenai peristiwa pembunuhan yang pertama kali terjadi di kompleks perumahan itu.
Deny menepuk pundak Agus, ketua team. Ia meminta izin untuk kembali ke rumah sakit menemani Rey. Walau itu hanya sebuah alasan palsu.
"Ok, tapi jangan coba-coba kamu pergi menemui Edoardo sendiri, Den. Besok kita ke Bogor bareng team. Ingat, jangan gegabah!" Ucap Agus yang memberi peringatan pada Deny yang terkadang bertindak gegabah.
Deny menaruh ujung jari pada pelipis. "Siap, Pak!" Jawabnya tegas.
Setelah pamit Deny menaiki mobil dan kembali melanjutkan perjalanan. Ke rumah sakit ? Tidak tapi ke Bogor !
⚫⚫⚫ Bersambung ⚫⚫⚫