
*Marshel*
Dengan malas tangan Marshel terulur meraih ponselnya yang tergeletak begitu saja di atas sofa. Sedetik kemudian dia menghempaskan badannya di tempat empuk itu. Diliriknya Venus, adik kesayangannya yang kini sudah terlelap diatas ranjang rumah sakit sambil memeluk boneka dodomong.
Marshel membuang nafas kasar saat sekelebat bayangan wajah Ariestya melintas di ingatannya. Sekeras apapun dia berusaha melupakan, namun kenyataannya dia masih ingat betul pada wanita itu. Wanita yang secara tidak langsung berhasil membuat dada Marshel bergemuruh hebat hanya dengan mengingatnya.
Tatapan Marshel terfokus pada benda kecil yang kini ada dalam genggaman tangannya. Dengan lincah jarinya mengklik salah satu menu dan mulai mendownload aplikasi biru yang dulu sempat ia agung-agungkan. Tak butuh waktu banyak Marshel sudah berhasil masuk ke dalam akunnya yang lama. Akun yang sudah hampir 4 tahun tidak ia buka. Beruntung ia masih ingat dengan email dan password yang dulu ia gunakan untuk mendaftar.
“Gak ada?” Gumam Marshel setelah mengetikkan nama Ariestya di kolom pencarian. Dia berfikir sejenak dan sebuah senyum tersungging saat dia ingat satu nama. Ia segera mengetik nama itu dan berhasil menemukan satu nama yang cocok dengan foto profil yang sangat ia kenali.
“Sekarang aplikasi ini kan di ambil alih sama emak-emak,” monolog Marshel sambil memperhatikan rentetan foto yang terunggah di akun itu. Akun dengan nama Februarina Rin, ibu kandung Tya dan Lili.
Tak lama satu foto berhasil menghentikan gerak jari jempol Marshel. Foto keluarga yang diunggah tiga tahun lalu, memperlihatkan empat orang dalam satu frame. Marshel lebih tertarik memperhatikan wajah dua gadis yang berdiri di belakang orang tuanya. Senyum kedua gadis itu memang terlihat sama. Sama persis dan sama-sama cantik. Ariestya yang tampil dengan gaya anggun menambah kesan kedewasaannya. Dan gadis disebelahnya, Lili, terlihat ceria sangat cocok dengan wajahnya yang manis.
Marshel menghela nafas panjang mendapati tak ada informasi tentang kedua gadis itu. Tak ada akun yang sesuai dengan Tya atau bahkan Lili. Cukup sulit bagi Marshel untuk menemukan Tya yang menghilang dari hidupnya secara tiba-tiba. Tapi setidaknya dia sekarang yakin, bahwa gadis yang tak sengaja dia tabrak tadi ada hubungannya dengan Tya. Lebih tepatnya adik kandung Tya. Dan pertemuannya dengan Lili adalah takdir yang dibuat Tuhan untuknya.
.
.
Langit sudah gelap saat Marshel berniat untuk keluar dari rumah sakit setelah ibunya, Danira, datang dan mengatakan akan menginap malam ini. Awalnya Marshel berencana untuk pulang, namun setelah menimbang-nimbang dan kenyataan dia harus kembali lagi esok harinya, Marshel pun memutuskan untuk menemani ibunya dan menginap lagi. Terlebih saat di lobby rumah sakit mata Marshel menangkap sosok yang sudah tak asing lagi baginya.
“… gagal move on kan lo?” Ucap seseorang yang berhasil Marshel curi dengar.
“Nggak ya, udah sana pulang!” Perintah Lili sambil mencibik saat lelaki, yang tak lain adalah Doni, terus saja menggodanya.
Marshel tersenyum memperhatikan wajah Lili yang cemberut dan kemudian sebuah capitan mendarat di lengan laki-laki yang langsung mengaduh seraya menjauhkan diri dari gapaian tangan Lili. Marshel beringsut ke dekat gucci besar yang ada di sudut ruangan, saat ia melihat Lili berjalan ke arahnya. Beruntung gadis itu tak mengetahui keberadaan Marshel dan berlalu begitu saja.
Lili masih belum menyadari bahwa kini ada seseorang yang mengikuti langkahnya menuju kantin rumah sakit. Dengan santai Lili memesan es jeruk, karena ia merasa sangat haus dan ingin minuman dingin yang bisa melegakan tenggorokannya. Tak lama Lili pun mendapatkan es jeruk yang dia pesan, namun tiba-tiba seseorang menabrak lengannya dari belakang dengan cukup keras. Sehingga cup es yang dia pegang terlepas begitu saja dari tangannya. Lili mengeram tertahan dan siap meluapkan kekesalannya pada orang itu.
“Maaf, aku gak sengaja…”
Namun anehnya setelah mendengar suara itu dan melihat siapa tersangka yang sudah menabraknya, emosi Lili menguap seketika. Dia kembali terpana, terkesima dan terkesiap. Terpana menatap wajah tampan yang sudah dilihatnya siang tadi. Terkesima karena suara yang keluar dari bibir merah itu bukan bentakan, namun suara yang merdu dan tulus. Berbanding terbalik dengan apa yang sudah Lili dengar sebelumnya. Dan yang terakhir terkesiap. Lili masih mematung saat laki-laki itu berjongkok di hadapannya dan memungut cup es jeruk yang kini sudah kosong lalu membuangnya ke tong sampah yang tak jauh dari tempatnya berdiri.
“Biar aku ganti minuman kamu, sekali lagi maaf ya,” ucap Marshel berhasil mengembalikan kesadaran Lili.
“Ohh, ehh nggak usah kak.. Gak apa-apa, biar aku beli lagi, cuma es jeruk kok.”
“Biar aku yang ganti, sebagai permintaan maafku juga karena tadi siang udah kasar sama kamu.”
“Hah?? Ehh… Kakak masih ingat sama aku?” Tanya Lili yang tak mengira bahwa laki-laki itu masih mengingatnya. Padahal pertemuan mereka hanya sekilas dan itu karena tidak disengaja.
Marshel tak menanggapi pertanyaan Lili karena dia sedang memesankan minuman baru untuk Lili. Seulas senyum terlukis diwajah Marshel saat ia melirik Lili dan mendapati gadis itu sedang menatapnya.
“Aku Marshel, nama kamu siapa?” Tanya Marshel seraya mengulurkan cup berisi es jeruk pada Lili yang kemudian menerimanya dengan sungkan.
Marshel terkekeh dan mengangguk yakin melepas kepergian Lili. Tapi… itu hanya sesaat. Tanpa membuang waktu Marshel kembali mengikuti Lili. Dia menjaga jarak dan memastikan kemana gadis itu pergi. Marshel beringsut mundur saat melihat Lili memasuki ruang rawat inap. Beberapa waktu Marshel diam, sebelum akhirnya dia duduk dan mengeluarkan benda berwarna biru dari dalam saku hoodie-nya.
“Librana Oktavia…” Gumam Marshel memperhatikan beberapa kartu identitas didalam dompet yang sudah berhasil ia curi tadi.
“It will be so… easy…” Monolog Marshel seraya menghela nafas panjang. Ia merapikan lagi kartu identitas Lili kedalam dompet dan berjalan pelan menuju ruangan Abim di rawat.
“… please, dont be like this!”
Lagi-lagi Marshel mencuri dengar perbincangan Lili dengan seseorang saat ia sedang berdiri di dekat kaca nako yang sedikit terbuka. Jadilah dia bisa mendengar dengan jelas pembicaraan mereka.
“Jangan seperti ini Libra, ku mohon…”
Marshel tersenyum miring dan beranjak mendekati pintu lalu mengetuknya. Tak ada sahutan. Ia mengetuknya lagi dengan sedikit lebih keras. Selang beberapa waktu Lili membuka pintu dan terlihat terkejut melihat siapa yang berdiri didepannya kini.
“Ini dompet kamu? Aku tadi nemuin ini di kantin.” Ucap Marshel mengulurkan dompet milik Lili.
“Astaga, iya kak, ini dompetku. Ya ampun, aku kok bisa gak sadar sih kalau dompetku hilang. Makasih banget ya kak..”
“Iya, lain kali hati-hati. Jangan teledor!”
“Hehe… iya kak… Sekali lagi makasih ya kak.”
“Heem, by the way, siapa yang sakit? Pacar ya?” Tanya Marshel seraya mengintip kedalam ruangan dan dia melihat laki-laki terduduk di tapi ranjang sedang menatapnya dengan wajah masam.
“Bukan kak, temen. Bukan pacar.” Jawab Lili cepat membuat Marshel menarik sebelah sudut bibirnya.
“Ya udah kalau gitu… see you!” Ucap Marshel yang langsung berlalu pergi tanpa menunggu persetujuan Lili.
"Who is he? "
.
.
.
....
To be continue...😀
Ketemu lagi kita, maafkan akuh yg lama tenggelam di dalam selimut... tetangga 🤣🤣