
Jangan cuman sekedar tahu. Tapi sebenarnya kamu tidak paham.
-Raine Alexandra-
•••
Pagi kembali menyapa. Raine dengan malas-malasan menuruni anak tangga dengan tas yang tersampir di bahu kanannya. Padahal Raine masih butuh tidur panjang, karena tadi malam ia baru tidur jam 4 pagi.
Semua karena tugas yang harus di kumpul pada hari ini. Dan ia yang baru pulang jam 2 pagi dari club harus menunda acara tidurnya demi tugas menyebalkan itu.
Raine yang ingin menuju meja makan tersentak kaget, saat dirinya melihat sosok Daddy-nya yang tengah duduk di meja makan, menikmati sarapan yang di sediakan oleh Bik Juli sambil sesekali sibuk memperhatikan iPad di tangannya.
"Morning Dad," sapa Raine sekedar basa-basi dengan Daddy-nya sambil menarik bangkunya dan menjatuhkan dirinya di sana yang dihadapannya sudah tersedia nasi goreng serta susu untuk sarapannya pagi ini.
"Hari ini kamu pergi sekolah Daddy yang antar."
Kunyahan nasi di dalam mulut Raine langsung terhenti, dengan matanya yang melotot terkejut dengan penuturan Daddy-nya yang benar-benar tidak bisa di terimanya.
"Why Dad? Raine isn't a child," tidak terima Raine menatap marah Daddy-nya yang malah hanya melirik Raine sebentar.
"Dad don't want you to run away again."
Satu kalimat Daddy-nya membungkam Raine yang saat ini meremas kuat sendoknya.
Raine sekarang ingat hari ini adalah hari yang sangat tidak di harapkan olehnya. Benar-benar rutinitas yang membuat Raine tersenyum miris akan dirinya.
"It's up to Daddy."
Dengan perasaan kesal Raine tetap menghabiskan sarapan dengan di sadarinya jika Rafi melihatnya diam-diam.
"Daddy tunggu di depan."
Raine mendengus kuat sepeninggal Daddy-nya yang sudah pergi meninggalkannya yang masih merasa kesal duduk terdiam di depan piring bekas sarapannya yang telah tandas.
"Buruan Non, nanti tuan malah marah."
Perkataan Bik Juli yang tengah merapikan bekas sarapan mereka membuat Raine dengan kasar berdiri dari duduknya dan melangkah dengan ogah-ogahan.
Bik Juli yang melihat tingkah Raine menggelengkan kepalanya maklum dengan helaan nafas yang keluar dari mulutnya. Ia sebenarnya kasian dengan Raine, tapi semua demi kebaikan majikannya itu juga.
***
Sesampainya di sekolah Raine menatap malas sekolahnya. Sebab Daddy-nya benar-benar sangat menyebalkan karena mengantarnya hingga ke dalam sekolah.
"Daddy ada urusan di sekolah."
Penjelasan Daddy-nya yang langsung keluar dari mobil meninggalkan Raine yang lagi-lagi mendengus kasar sambil menatap malas punggung Daddy-nya yang berjalan memasuki gedung sekolahnya—SMA Melati.
"Lo di anter bokap lo beb? Demi apa?"
Pertanyaan heboh Viola langsung menyambutnya sesampainya ia di kelas yang langsung di jawabnya dengan anggukan lesu.
"Palingan karena takut si Raine kabur lagi," ujar Ismy yang sangat tepat sasaran.
Membuat Raine semakin menekuk wajahnya masam. Sebab Raine sangat tidak ingin terjebak dengan hari menyebalkan ini.
"Padahal gue udah mau ngajak Lo jalan-jalan," seru Viola kecewa yang di tatap malas oleh Ismy.
"Lo gak bimbel dong beb hari ini?"
Pertanyaan Ismy membuat Raine tersadar akan jadwal bimbelnya sekaligus waktunya untuk membuat rusuh ketenangan Raffa.
"Yahhh... Padahal gue mau recoki dia lagi," kecewa Raine memangku dagunya sambil menatap sendu ke arah Ismy.
"Masih ada hari esok kali beb."
"Lo kira jumpa Raffa gampang," omel Raine menatap sebal Viola yang malah menyengir tidak berdosa.
"Beb gue ada info baru."
Perkataan Ismy setelah ia mempertimbangkan matang-matang tentang infonya kali ini langsung membuat Raine menatap serius Ismy dengan berpangku dagu.
"Apaan?" Tanya Viola yang ikut penasaran dengan berita yang akan di sampaikan Ismy yang saat ini malah terlihat ragu menatap Raine.
"Saingan lo bakal nambah. Dan yang kali ini benar-benar saingan terberat lo beb."
Raine mengerutkan keningnya bingung, menatap Ismy tidak paham. "Maksudnya?"
"Mantan Raffa yang lo liat semalam. Ternyata pindah sekolah lagi kemari."
Raine yang mendengar info dari Ismy untuk kelangsungan rencananya malah memutar bola matanya malas.
"Masih cinta aja pake acara sok-sokan pindah segala. Nah udah putus ehh malah balik lagi," kesal Raine dengan dengusan sebalnya.
"Mantan Raffa? Lo udah jumpa beb?" Tanya Viola yang memang tidak tahu menahu akan informasi yang satu itu.
"Siapa juga yang mau jumpa sama tu cewek. Gue gak sengaja liat karena dia nyamperin Raffa di tempat bimbel," sewot Raine dengan perasaan kesalnya saat mengingat tingkah manja dan juga tangan cewek itu yang dengan gampangnya melingkar manis di lengan Raffa.
Mantan yang menyebalkan. Masih cinta aja belagu.
"Tapi mereka gak satu sekolah sih beb. Si Jasmine sekolah di SMA Cikal Bangsa," jelas Ismy lagi yang ternyata masih memiliki info untuknya.
"Jiwa detektif lo keren ya Mi. Bisa banget tahu hal-hal sedetail itu banget," kagum Viola berdecak tidak percaya membuat Ismy memutar bola matanya malas.
"Gak usah lebay," omel Raine yang kesal dengan Viola yang mengembungkan pipinya sok imut.
"Nama mantan Raffa tadi siapa?" Tanya Raine tiba-tiba tersadar akan perkataan Ismy yang kini menatap bingung temannya yang satu itu.
"Jasmine. Jasmine Fakhirah," jawab Ismy tetapi malah membuat Raine kini terlihat berpikir.
"Gak asing banget namanya. Macem pernah denger gue," gumam Raine menatap Ismy yang malah mengangkat bahunya tidak tahu.
"Orangnya cantik gak Mi?"
Pertanyaan Viola membuat dirinya kini di tatap tajam oleh Raine dan juga Ismy. Membuatnya langsung menyengir lebar, sambil terkekeh pelan.
"Iya-iya maaf. Kan gue kepo."
"Cari tahu aja sendiri," sebal Raine membuat Viola menatap serba salah temannya itu.
"Mi nanti kirim photonya ke gue ya," bisik Viola dengan wajah memohonnya yang di jawab dengan helaan nafas kasar Ismy menatap malas temannya yang satu ini.
Cantik, tapi sangat menyebalkan.
•••
Bel pulang sekolah telah berbunyi dengan nyaringnya. Membuat kelas dalam sekejap langsung kosong seketika.
Ketika semuanya bersemangat untuk pulang, lain halnya dengan Raine yang sejak tadi berharap jika jam pelajarannya di perpanjang hingga sore.
Tapi sayang beribu sayang, aturan tetaplah aturan. Jadi Raine mau tidak mau suka tidak suka harus pasrah menghadapi hari yang tidak akan menyenangkan lagi setelah ini.
"Yuk beb. Bokap lo pasti udah nunggu di bawah," ajak Viola berjalan mendekati Raine yang sejak tadi menunduk lesu sambil memainkan asal iPhone nya.
"Biarin aja bokap jemput gue kemari kalau dia emang sayang sama gue."
Ismy dan Viola saling pandang, lalu kembali menatap Raine yang sudah menjadikan lengannya sebagai bantal.
"Apa kata lo aja deh beb. Kita tungguin lo kok sampe Daddy lo datang kemari," ujar Ismy diangguki setuju oleh Viola. Mereka berdua langsung duduk kembali di kursi masing-masing sambil sibuk dengan iPhone masing-masing.
30 menit berlalu begitu saja. Ismy yang sudah bosan dengan kegiatannya melirik ke arah Raine yang kini malah memejamkan matanya. Ismy yang melihat wajah damai Raine mengulas senyumnya tipis.
"Daddy Raine sebenarnya datang jemput gak sih?" Tanya Ismy dengan suara berbisik melihat ke arah Viola yang hanya menjawab dengan gelengan pelan lalu melirik ke arah sosok Raine yang sudah terlelap di alam mimpinya.
"Dia tidur beneran?" Tanya Viola dengan pandangan takjub akan apa yang ada di depan matanya.
"Yailah Vi, lo kira dia pingsan," kesal Ismy lalu bangkit dari duduknya yang di tatap bingung oleh Viola.
"Lo mau kemana oy?" Tanya Viola menyusul langkah Ismy yang keluar kelas dengan langkah pelan karena tidak ingin mengganggu tidur Raine.
Derap langkah sepatu yang beradu dengan lantai membuat bola mata Ismy serta Viola yang sejak tadi menyusuri area parkiran langsung berubah haluan menuju ke arah sumber suara.
Mereka berdua membulatkan mata terkejut saat mata mereka menangkap sosok yang sudah setengah jam lebih mereka nantikan akhirnya kini datang juga.
"Dimana Lexa?"
Pertanyaan yang di dapat Ismy dan Viola setibanya Daddy Raine di hadapan mereka membuat kepala Ismy serta Viola hanya bisa berputar melihat ke dalam kelas. Dimana terdapat Raine yang tengah tertidur dengan pulasnya.
"Raine tidur om," jelas Ismy yang di angguki paham oleh Rafi sambil berjalan mendekati anak gadisnya.
"Lexa, wake up," bisik Rafi dengan pelan membuat Raine bergerak merasa terganggu karena bisikan di telinganya.
"Apaan sih ganggu aja," omel Raine sambil menutup telinganya.
Ismy yang melihat itu menghela nafas kasar, berjalan mendekati Ayah dan anak itu membuat Rafi menatap penasaran dengan apa yang akan di lakukan oleh teman anaknya itu untuk membangunkan si putri tidur.
"Raine, Raffa dateng tuh nyari lo."
Spontan Raine langsung bangun dari tidur nya sambil melihat sekelilingnya kebingungan antara terkejut sekaligus masih sibuk mencerna akan apa yang di dengarnya di tengah ketidaksadarannya.
"Can be to go?"
Suara Daddy-nya yang terdengar jelas di sebelahnya membuat Raine memutar kepalanya dan langsung terkejut saat mendapati sosok Rafi yang kini tengah berdiri di sebelahnya sambil melipat kedua tangan di depan dada dengan pandangan yang membuat Raine membeku di tempat.
"Sialan lo Mi, pake bawa-bawa Raffa segala," kesal Raine sambil mengusap kasar wajahnya untuk menghilangkan rasa kantuk sekaligus terkejutnya.
"Is it done?"
Raine mendesah jengkel mendengar pertanyaan Rafi yang benar-benar sangat menyebalkan.
"Oke fine, come on," kesal Raine langsung bangkit dengan kasar dari duduknya dan menarik kesal ranselnya lalu berjalan lebih dulu meninggalkan Rafi yang hanya bisa menghela nafasnya kasar.
Ismy serta Viola yang melihat amarah Raine tersenyum miris melihat sahabatnya yang sudah bukan hal asing lagi bagi mereka akan drama seperti barusan.
"Om"
Panggilan Ismy menghentikan langkah Rafi yang akan menyusul anak gadisnya, melirik sebentar ke arah Ismy dengan alisnya yang terangkat.
"Menurut Ismy, Om jangan terlalu tegas sama Raine. Dia cuman butuh perhatian Om."
Ismy menggigit bibir dalamnya setelah selesai mengatakan kalimat itu kepada sosok Rafie Dima Alexandra. Yang kini hanya menatapnya sebentar dengan datar, lalu segera membawa langkahnya meninggalkan Ismy dan juga Viola yang saling pandang sambil tersenyum kecut.