Bitter Love

Bitter Love
4 - Who?



Semakin kamu lari menjauh. Semakin aku mengejar kamu, walau ke ujung dunia sekalipun.


-Raine Alexandra-


•••


Siang yang cukup terik. Raine dengan kedua temannya sudah berada di sebuah kedai ice cream yang di katakan oleh Ismy tadi pagi. Menurut info yang di dapat oleh Ismy jika kedai ice cream ini adalah tempat favorit sepupu Raffa yang menjadi musuhnya itu.


Raine yang sudah berada di tempat ini selama hampir setengah jam, sedari tadi hanya sibuk menilai tempat ini, merasa tidak habis pikir dengan sepupu Raffa itu. Entah seperti apa si Kiya Kiya itu, info yang di dapatnya dari Ismy mengatakan jika cewek itu menyukai es krim dan coklat membuat Raine mencap jika seorang Kiya seperti anak kecil.


"Itu mereka." Suara Ismy menghentikan pemikiran Raine yang menerka-nerka sosok yang saat ini akhirnya ia lihat juga, tengah berjalan berdampingan dengan Raffa.


Kedua anak manusia yang sejak mereka masuk kedalam kedai ice cream sampai mereka duduk di kursi dekat dinding kaca, tidak lepasnya di tatap oleh Raine, Ismy dan Viola dengan tidak berkedip.


Hingga Raffa yang beranjak menuju counter untuk memesan es krim mereka membuat Viola menyerukan suaranya. "Cewek itu yang namanya Kiya?" tanya Viola namun tidak sedikitpun mengalihkan pandangannya dari sosok Kiya yang saat ini tengah sibuk dengan ponselnya sambil sesekali melihat ke arah Raffa.


"Cantik juga," ucap Viola lagi yang kali ini berhasil menciptakan decakan sebal keluar dari mulut Raine yang sudah tidak berminat lagi melihat sosok yang di tunggu-tunggu oleh mereka.


"Cantik sih, tapi childish," sinis Raine sambil mengaduk kasar es krim miliknya yang masih tersisa lumayan banyak.


"Namanya Kiya tuan putri beb, wajar dong childish dia kan hidupnya di manja. Beda sama kita yang liar," jelas Ismy kini berhasil mengukir senyum miris di bibir ketiganya. Teringat akan hidup mereka yang jauh dari kata bahagia.


"Punya cowok kayak Raffa manis juga ya," gumaman Viola yang sejak tadi tak lepasnya menatap ke arah meja yang tengah di duduki oleh Raffa dan sepupu kesayangannya itu di dengar oleh Raine yang saat ini menatap temannya itu malas.


"Terus lo mau?" tanya Raine dengan nada tajam dan tatapan datarnya yang membuat Viola kini susah hanya sekedar untuk menelan salivanya.


"Ya... Kalau lo gak mau lagi entar buat gue ya Raine," Viola kini malah menatap Raine dengan senyum konyol dan alisnya yang di naik turunkan membuat Raine mendengus sebal melihat tingkah temannya yang satu itu. Sedangkan Ismy terus sibuk melahap krimnya sambil sesekali melirik ke arah sosok Raffa dan Kiya yang saat ini mereka tengah berbagi tawa yang cukup menggembirakan.


"Gue lama-lama iri ya lihat mereka."


Perkataan Ismy yang tiba-tiba saja terdengar sendu mengagetkan Raine dan Viola yang kini menatap bingung Ismy yang sibuk dengan es krimnya yang tinggal sedikit.


"Udah Mi, balek aja yuk. Kita juga udah tau kan si Kiya yang mana," ajak Viola menatap temannya itu miris. Tidak menyangka temannya yang selalu berusaha baik-baik saja kini terlihat menyedihkan.


"Balik yuk, gue enek liat mereka."


Ismy dan Viola mengangguk mengiyakan ajakan Raine, lalu mereka bertiga segera beranjak dari kedai ice cream itu.


Sebelum Raine benar-benar keluar dari kedai tersebut, ia melirik sebentar ke arah sosok Raffa yang ternyata entah sejak kapan telah melihat kearahnya.


Entah di sadari Raffa atau tidak, Raine mengulas senyum tipis nya lalu segera menyusul kedua temannya yang sudah masuk ke dalam mobil mereka masing-masing.


***


Malam kembali menyapa. Di depan televisi yang tengah terputar sebuah film kesukaannya, Raine duduk bersila di temani dengan cemilan yang ia beli tadi sepulang dari misi mereka memata-matai sosok sepupu Raffa itu.


Saat Raine tengah asik menonton filmnya. Sebuah suara yang sangat tidak di harapkan Raine untuk ia dengar malam ini langsung menghancurkan mood nya dalam sekejap.


"Gak kelayapan lagi kamu?"


Raine mendengus sebal mendengar pertanyaan dari Daddy nya yang baru saja pulang.


"Lagi males," jawab Raine sekenanya. Sebagai sopan santunnya kepada Daddy-nya itu yang kini menatap datar punggung anaknya yang tengah bersandar di sofa melihat serius film dia hadapannya.


"Ke ruang kerja Daddy," perintah Rafi membuat dengusan sebal keluar begitu saja dari mulut Raine yang kini tengah merotasi matanya malas.


"Now"


Raine memejamkan matanya erat, berusaha menahan emosinya saat mendengar perintah Daddy nya yang benar-benar tidak bisa di bantahnya sedikit pun. Sungguh menyebalkan.


"Why?"


Saat ini Raine melupakan apa itu sopan santun, setiba dirinya di ruang kerja Rafi yang kini tengah membelakanginya sambil memegang sebuah buku yang Raine tidak mau tau itu apa.


"Sit up," perintah Rafi berjalan menuju meja kerjanya sambil menunjuk kursi di hadapan Raine yang langsung berhadapan dengannya menggunakan dagu.


"No, why Daddy call me here?" Masih di tempatnya dengan tatapan datar dan nada tegas Raine menatap Rafi yang saat ini tengah menatap anaknya tajam.


Raine yang saat ini malas untuk berdebat dengan Daddy-nya akhirnya pasrah menuruti apa yang di minta Rafi.


Rafi menatap anak tunggalnya itu dengan serius, meneliti wajah sebal Raine yang sejak duduk di hadapannya tidak sedikitpun mau melihat ke arahnya.


"Why didn't you go to school yesterday?"


Raine mendengus sebal saat mendengar pertanyaan Rafi yang tidak jauh-jauh dari seputaran tentang sekolahnya. Raine muak mendengarnya.


"Late"


Singkat, jelas, padat Raine menjawab pertanyaan Daddy-nya sambil melirik sekilas Rafi yang sejak tadi terus memandangnya serius.


"After that where are you?" tanya Rafi kembali mewawancarai Raine yang kini akhirnya mau melihat ke arah Daddy-nya itu dengan tatapan sebal.


"Cafe, bareng Ismy sama Viola," jawab Raine datar sambil membalas tatapan Daddy-nya yang tidak pernah bisa di artikan oleh Raine sejak dulu.


Daddy-nya terlalu sulit untuk ia prediksi.


"Harus sampai SMA Asa?"


Raine membeku di tempatnya. Tidak menyangka jika orang suruhan Daddy-nya benar-benar memata-matai ia dengan sebegitunya.


"What else do you plan right now?"


Raine berdecak pelan, untuk apa Daddy-nya menanyakan hal itu kalau pastinya ia sendiri tidak tau.


"Something that can make Raine happy," jawab Raine dengan senyum tipisnya menatap Rafi yang kini malah menghela nafasnya kasar.


Raine sadar jika kelakuan nya sangat tidak baik. Tapi semua itu Raine lakukan agar ia di perhatikan oleh Daddy-nya seperti saat ini.


"Stop Raine. Don't play your crazy game anymore," tegas Rafi tetapi malah menciptakan kekehan kecil keluar dari mulut Raine sambil menggelengkan kepalanya pelan.


"Stop? Sorry Dad, the game is too exciting," jelas Raine dengan senyum lebarnya membayangkan apa yang pernah berhasil di dapatnya dari permainan gila mereka.


Melihat para mantan-mantannya memohon kepadanya, melihat mantan-mantannya menangis karena dirinya. Uhhh itu membuat harga diri Raine sangat tinggi.


Walau permainan Raine seakan tidak punya hati, tapi Raine ingin menunjukkan jika perempuan juga bisa mematahkan hati mereka yang terkadang seenaknya saja dengan para wanita.


"Kapan kamu akan berhenti?"


"Saat Raine udah bosen," jawab Raine dengan tatapan datarnya membuat Rafi menatap anaknya itu tak kalah datar.


"Raffasya Fakhril, tim inti ekskul basket SMA Asa. Sangat baik dalam bidang akademik dan memiliki fans yang cukup banyak."


Perkataan Rafi yang tiba-tiba saja menyebutkan informasi tentang Raffa tanpa sadar membuat Raine membuka sedikit mulutnya. Terkejut atas apa yang di dapat Daddy-nya itu dari orang suruhannya.


"Kamu yakin sama dia?"


Pertanyaan Daddy-nya benar-benar menggores harga diri Raine yang selama ini telah ia bangun susah payah.


"Daddy ngeremehin Raine?" tanya Raine memajukan sedikit wajahnya ke hadapan Rafi yang kini menilai anaknya lalu tersenyum tipis.


"Daddy harap, setelah Raffa gak ada cowok lain yang seperti mantan-mantan kamu."


Setelah mengatakan itu tanpa mempersilahkan Raine untuk keluar dari ruang kerjanya. Rafi langsung menuju sebuah pintu di ruangannya yang menuju ke arah kamarnya.


Meninggalkan Raine yang kini di buat sebal oleh Daddy-nya. Karena perkataan Rafi tadi benar-benar meremehkannya.


"Memangnya siapa si Raffa itu. Buat semua orang ngeremehin gue," dengus Raine sebal, berdiri dengan kasar dari kursinya dan dengan langkah lebar meninggalkan ruang kerja Daddy-nya yang mungkin sudah beristirahat di kamarnya.


Setelah akhirnya Raine bisa berbicara dengan cukup baik bersama Daddy-nya tanpa ada pertengkaran, malah hal ini yang di dapatnya dari obrolan mereka yang selalu di nantikannya. Sangat menyebalkan.


Awas saja Daddy-nya itu, akan ia buktikan kalau Raffa itu juga sama seperti cowok pada umumnya. Busuk.