Bitter Love

Bitter Love
5 - Not Type?!



Terus lah berlari dari ku. Hingga kamu lelah. Dan aku yang menang.


-Raine Alexandra-


•••


Siang yang cukup terik, di tengah lapangan yang terpapar langsung sinar matahari. Raine melihat dengan datar teman-temannya yang tengah sibuk bermain bola basket yang saat ini menjadi pelajaran mereka hari ini. Sedangkan ia hanya duduk di pinggir lapangan sambil berteduh di bawah pohon agar dirinya tidak kepanasan.


"Enak ya yang punya tiket khusus," perkataan yang menjerumus sindiran itu membuat kepala Raine langsung melihat ke arah orang itu yang tanpa meminta izin padanya dengan seenaknya sudah duduk di sampingnya.


"Bukan urusan lo," balas Raine tidak suka dengan pandangannya yang terus melihat ke arah teman-temannya.


"Katanya anak cheers, tapi olahraga aja selalu duduk di pinggir lapangan," ujar orang itu lagi yang berhasil membuat Raine kesal setengah mati. Bisa tidak orang di sebelahnya saat ini lenyap saja dari bumi ini. Selalu saja mencari masalah dengannya.


"Lo gak tau apa-apa," geram Raine menatap tajam orang di sebelahnya yang kini malah tertawa mengejek.


"Oh ya? Mereka lagi latihan basket tuh. Gebetan lo anak basket kan? Masa lo gak bisa main basket," sindir orang itu lagi membuat Raine yang tidak mau terus di kecilkan oleh orang mengesalkan di sebelahnya dengan kasar bangkit dari duduknya dan langsung berlari menuju kumpulan teman-temannya yang membuat Ismy serta Viola membelalakkan mata mereka terkejut mendapati sosok Raine yang tiba-tiba ingin ikut bermain bersama mereka.


"Lo gila mau ikut main?" kesal Viola menatap tidak percaya Raine yang malah dengan yakinnya mengangguk tanpa ragu sedikit pun.


"Bapak gak ngijinin kamu," tegas guru olah raga mereka yang membuat bola mata Raine berputar malas.


"Ayolah pak, saya mau buktiin sama orang sombong itu kalau saya bisa main basket," jelas Raine sambil melirik tidak minat sosok yang ternyata masih di tempatnya sambil menatap ke arah mereka semua dengan senyum yang tidak tau artinya apa.


"Raine, gak usah di denger omongan dia. Dia tuh gak tau apa-apa," jelas Ismy merasa kesal dengan orang yang kini malah dengan tenangnya duduk santai di pinggir lapangan. Benar-benar tidak ada kerjaan, padahal dia pasti ada jam pelajaran saat ini.


"Biarin aja lah pak Raine ikut kita main. Selama ini enak banget dia gak pernah olahraga, mentang-mentang anak pemilik sekolah," seru salah seorang teman sekelasnya yang langsung membuat Ismy serta Viola mendelik tajam ke arah orang tersebut.


Namun ternyata seruan itu di setujui oleh teman mereka yang lainnya membuat Raine kini merasa mendapat dukungan untuk kenekatannya kali ini, karena pasti gurunya itu akan mengijinkan dirinya untuk ikut bermain.


"Baiklah kamu boleh ikut, tapi hanya satu kali permainan," jelas guru mereka yang membuat Raine mengangguk antusias, serta senyum yang mengembang lebar di bibirnya.


"Bapak kok ngijinin sih. Raine kan gak—"


"Udah biarin aja, Raine tau gimana jaga dirinya," potong Ismy sebelum Viola mengutarakan kekesalannya pada guru mereka yang sudah mulai menyebutkan nama-nama yang akan bermain saat ini.


Pritt...


Bunyi peluit yang menandakan permainan dimulai membuat Raine langsung mengambil bola yang di lemparkan oleh guru mereka di tengah lapangan hingga kini bola tersebut Raine lah yang berhasil menguasai sambil memasuki daerah lawan.


Operan, drible dan gerakan menghindar yang di lakukan Raine membuat semua orang yang melihat gerakan Raine itu di buat takjub. Tidak menyangka selain mempesona dengan gerakan cheers nya Raine ternyata juga jago bermain basket.


Berbeda dengan Ismy dan Viola, kedua teman yang sangat tau tentang Raine sedari tadi menatap cemas setiap pergerakan Raine. Takut jika salah langkah saja, maka Raine akan mencelakai dirinya dan itu akan berimbas pada sekolah yang akan kena amukan Daddy Raine.


"Yeay"


Sorakan heboh teman-temannya karena untuk ketiga kalinya Raine berhasil menciptakan point sehingga membuat kelompoknya kini memimpin nilai.


"Gue ngerih Mi sumpah. Takut tu anak jatuh," ngeri Viola namun tidak menghilangkan tatapan kagumnya akan kemampuan Raine dalam bermain basket, jelas mereka berdua tau kalau Raine memang sangat jago. Hanya saja ada beberapa hal yang menyebabkan Raine tidak pernah bisa menunjukkan kemampuannya itu.


Pritt...


Bunyi peluit yang menandakan berakhirnya sesi permainan mereka membuat teriakan heboh tim Raine yang berhasil menang membuat helaan napas lega lolos dari mulut Ismy dan Viola secara bersamaan yang sejak tadi mereka tahan.


"Keren gak gue?" Tanya Raine sambil menerima uluran botol minum dari Ismy yang hanya bisa mengangguk mengiyakan karena memang permainan Raine selalu keren.


"Ternyata lo jago juga main basket. Gue kira enggak bisa," sindiran dari orang yang membuat Raine berakhir di lapangan kembali di tangkap indra pendengarannya.


"Lo kenapa sih seneng banget buat hidup Raine susah?" Geram Viola menatap tajam orang yang kini malah tersenyum sinis menatap ketiganya.


"Dia sendiri yang buat hidupnya susah sama permainan gila kalian itu," sinis orang itu sambil menatap tidak suka ke arah Raine yang hanya membalas dengan tatapan datar andalannya.


"Mau lo apa sih Din?" Tanya Ismy yang benar-benar tidak habis pikir dengan cewek itu yang sejak dulu tidak pernah suka dengan Raine.


"Liat temen lo tambah susah," jawab cewek bernama Dini itu yang langsung melenggang pergi begitu saja.


***


Bel pulang sekolah berbunyi dengan nyaringnya. Membuat semua murid SMA Melati menghembuskan napas lega, akhirnya penderitaan mereka di hari ini berakhir juga.


"Raine," panggilan Ismy menghentikan gerakan tangan Raine yang tengah merapikan bukunya.


"Kenapa?"


"Gue hari ini gak bimble ya. Ada urusan," jelas Ismy tetapi malah menciptakan kerutan samar di dahi Raine juga Viola yang ikut mendengarkan.


"Biasalah," jawab Ismy akan tatapan keduanya yang kini mengangguk paham. Paham akan urusan apa yang dimaksud oleh Ismy.


"It's okay. Semoga hari ini gue beruntung," ucap Raine dengan nada yakin tidak yakin nya saat kembali mengingat balasan Raffa sejauh ini padanya.


"Harus yakin dong," ujar Viola mendekat ke arah Raine yang kini hanya mengangguk pelan.


"Good luck Raine," seruan dengan senyum lebar di wajah Ismy dan Viola membuat Raine membalasnya dengan anggukan pelan dan senyum tipisnya. Memancarkan kecantikan seorang Raine yang sebenarnya. Namun selama ini harus di tutupi dengan topeng jahatnya.


Karena belum tentu yang terlihat jahat hatinya juga jahat. Begitulah Raine, ia memang terkenal kejam dan tidak punya hati. Tapi sebenarnya Raine tidak seperti kata mereka yang hanya melihat Raine dari luarnya.


Akhirnya setelah menempuh beberapa waktu di jalanan yang lumayan padat, Raine sampai di tempat bimble barunya.


Saat keluar dari mobil mata Raine langsung menangkap sosok Raffa yang ternyata baru sampai juga sama seperti dirinya.


"Hai..." sapa Raine langsung mensejajarkan langkahnya dengan Raffa yang hanya meliriknya dari ekor mata.


"Kita jodoh ya kayaknya, datangnya samaan," ujar Raine tidak memperdulikan dengusan sebal Raffa yang terus saja berjalan di sampingnya, seolah-olah tidak menganggap kehadirannya.


"Kok diem aja sih? Ngomong dong. Punya mulut itu digunakan untuk ngomong, bukan malah diem," omel Raine dengan nada sebalnya sambil mengerucutkan bibirnya kesal.


"Ngomong sama lo itu gak ada manfaatnya," saut Raffa mengagetkan Raine yang kini mematung di tempatnya, membuat Raffa berjalan meninggalkannya.


"Raffa ih kok kayak gitu ngomongnya," sebal Raine sambil mengejar langkah Raffa yang tengah menaiki tangga setelah ia tersadar dari keterkejutannya. Karena akhirnya Raffa mau juga mengeluarkan suaranya walau itu adalah kata-kata yang sangat menyakitkan.


"Raffa kok hobby banget sih diem. Nanti gak bisa ngomong baru tau."


Raffa yang mendengar kekesalan Raine hanya melirik cewek itu dari ekor matanya yang kini tengah berjalan di belakangnya. Lalu setelahnya ia segera mempercepat langkahnya membuat Raine mendengus sebal melihat kepergian Raffa dari jangkauannya.


"Awas aja lo Fa," gumam Raine kesal sambil mengepalkan tangannya.


Raffa itu benar-benar menguji kesabaran sekaligus rasa malunya yang tiba-tiba hilang begitu saja.


"Raffa jahat ih masa ninggalin gue," rengekan manja Raine setibanya ia di dalam kelas dan menjatuhkan tubuhnya pada bangku di sebelah Raffa membuat cowok itu hanya bisa menghela nafasnya kasar.


Mimpi apa Raffa bisa di pertemukan dengan cewek sejenis Raine. Gila.


"Tuh kan di ajak ngomong diem. Gue cabe juga nanti biar mau ngomong," ujar Raine lagi dengan nada sebal dan wajah malasnya menatap Raffa yang kini akhirnya mau melihat ke arahnya.


"Lo bisa diem gak sih? Gue lakban juga mulut lo lama-lama."


Raine refleks langsung memegang mulutnya, takut dengan Raffa yang terlihat serius dengan perkataannya.


"Jahat," sendu Raine membuang pandangannya dengan bibir yang mengerucut sebal. Tidak habis pikir dengan kecuekan Raffa. Padahal info yang ia dapat dari Ismy Raffa itu adalah orang yang humble bukan seperti yang saat ini tengah ia cari perhatiannya.


"Makanya jadi cewek jangan ganjen," gumaman cewek di sebelahnya membuat Raine melirik tidak suka orang itu yang kini dengan santainya sibuk memainkan ponselnya.


"Suka-suka gue," balas Raine berhasil membuat orang itu menatap tidak bersahabat Raine yang sejak tadi sudah menatap tajam cewek itu.


"Bukan tipe Raffa," ucap cewek itu lagi yang kali ini malah membungkam Raine karena ia teringat dengan perkataan Ismy tentang bagaimana tipe seorang Raffa yang tidak jauh beda dengan sepupunya.


Dan Raine benar-benar sangat jauh dari si Kiya Kiya itu. Apa karena itu Raffa selalu menolak kehadirannya? Apakah ia harus berubah demi permainan yang sudah terlanjur ia sanggupi?