Bitter Love

Bitter Love
2 - Place Favorit



Kemanapun kamu pergi. Kamu akan selalu berjumpa dengan ku. Nikmatilah.


-Raine Alexandra-


•••


Malam kembali mengganti tugas matahari. Malam ini Raine telah siap dengan balutan dress silver ketat tanpa lengan yang sangat jelas mempertontonkan lekuk tubuhnya. Di depan cermin rias Raine terlihat tengah mengaplikasikan lipstick merah terangnya sebagai sentuhan terakhir penampilannya untuk malam ini.


Karena malam hari adalah waktu bagi seorang Raine Alexandra yang sebenarnya.


Getaran iPhone nya di dalam sling bag yang berada di atas tempat tidurnya, membuat kaki jenjangnya melangkah anggun menuju kasurnya.


"Lo dimana beb?" pertanyaan dari Ismy dengan suara nyaris berteriak karena dentuman musik yang memekakkan telinga menyeruak di dalam panggilan membuat Raine refleks menjauhkan ponselnya dari jangkauan telinganya.


"Lagi otw gue," jawab Raine menyampirkan tas chanelnya, berjalan menuju pintu kamar dengan iPhone yang masih menempel di telinganya.


"Buruan. Anak-anak udah pada nyari lo," saut Viola tak kalah berteriak membuat Raine memutar bola matanya.


"Iya iya bawel."


Tanpa menunggu balasan dari kedua temannya, Raine langsung memutuskan panggilan telepon begitu saja. Memasukkan iPhone nya kembali, menyusuri anak tangga untuk menuju lantai bawah rumahnya.


"Mau kemana non?" pertanyaan langganan Raine setiap dia akan pergi sudah menyambutnya di anak tangga terkahir.


"Biasalah bik. Daddy udah pulang bik?" tanya Raine mengedarkan pandangannya ke penjuru ruangan yang selalu terlihat sunyi. Tidak pagi, tidak siang, terlebih lebih malam hari. Seperti tidak ada kehidupan.


"Tuan katanya pergi keluar kota non. Ada urusan bisnis," jawab Bik Juli—asisten rumah tangga di rumah Raine yang berkerja sejak ia bahkan masih kecil.


"Bagus. Raine pergi ya bi. Dadaaaa..."


Dengan senyum yang merekah lebar, Raine mempercepat langkah kakinya yang dibalut high heels silver yang tidak terlalu tinggi untuk segera keluar rumah. Karena saat ini ia benar-benar ingin cepat sampai di tempat kedua temannya berada. Dimana lagi jika bukan club. Tempat Raine bisa lupa tentang kehidupannya.


Hampir setengah jam Raine membelah jalanan yang tidak terlalu macet. Suara dentuman musik yang memekakkan telinga, dan suasana temaram dengan lampu kelap kelip dari lantai dansa menyambut kedatangan Raine yang kini dengan mulusnya mendaratkan bokong indahnya di sofa sebelah kedua temannya yang sejak tadi entah sudah berapa gelas telah mengalir membakar tenggorokan mereka.


"Lama ya beb, tumbenan lo?" tanya Ismy yang ternyata masih sadar, menatap Raine yang menyandarkan tubuhnya sambil menyilangkan kaki jenjang putihnya dengan santai.


"Biasalah, lihat kondisi. And aman," jawab Raine menarik sudut bibirnya tersenyum lebar.


"Gak biasanya, bokap lo kemana?" tanya Viola yang jelas benar-benar masih sadar. Karena temannya yang satu itu baru meminum satu gelas red wine.


"Pergi. Gitu sih kata Bik Juli," jawab Raine acuh, menenggak red wine miliknya dengan santai, melirik Ismy dan Viola yang kini malah saling pandang.


"Kemana? Tumbenan gak jaga lo 24 jam?" tanya Viola yang entah kenapa malam ini benar-benar super kepo. Padahal Ismy saja kini sudah kembali menuangkan white wine nya hingga tersisa sedikit lagi dalam botol.


"Bodo. Gak perduli gue," jawab Raine tidak suka. Karena topik mengenai Daddy nya adalah sesuatu yang paling malas untuk dibahas oleh Raine.


"Udah tahu temen lo gak akan perduli sama bokapnya. Masih juga lo tanya," papar Ismy setengah sadar karena cewek itu malam ini benar-benar banyak minum. Sudah tiga botol white wine habis dinikmatinya seorang diri.


"Gila. Gue baru dateng lo udah mabok aja," seru Raine tidak percaya yang hanya di kekehi tidak jelas oleh Ismy yang kembali menuangkan white winenya ke dalam gelas.


"Lo aja yang lama," balas Ismy membanting gelasnya ke atas meja lalu menyandarkan tubuhnya sambil memejamkan matanya. Karena kini kepalanya terasa berat. Dia benar-benar mabuk.


"Ni bocah kalau udah ke club gak tepar gak seneng gue rasa," omel Viola menatap malas Ismy yang kini sudah sibuk dengan dunianya sendiri.


"Dia kenapa?" tanya Raine, bingung dengan Ismy yang tiba-tiba over mengonsumsi wine seperti malam ini. Seperti ada yang tidak beres.


"Biasalah. Nyokapnya," jawab Viola yang di angguki paham oleh Raine. Karena jelas tahu apa masalah yang menimpa teman super updatenya satu ini.


Mereka bertiga masing-masing sudah tahu akan kekelaman hidup mereka. Alasan yang membuat mereka terjun ke dalam dunia malam seperti ini. Menikmati minuman yang membakar tenggorakan mereka, mendengarkan hingar bingar musik berdentum yang memekakkan telinga. Sebab, di sinilah tempat mereka bertiga bisa melupakan apa yang selama ini menghimpit mereka dengan kejam.


"Yang lain kemana?" tanya Raine sibuk mengedarkan pandangnnya ke meja bar yang terdengar riuh gelak tawa dari kumpulan para cowok yang tidak terlalu jelas wajahnya.


"Udah pada cabut lahh. Lo sih lama," jawab Viola menenggak kembali segelas red wine nya lalu sibuk kembali dengan ponselnya.


"Gila gercep banget," saut Raine tidak percaya membenarkan posisi duduknya sambil melirik Ismy yang mengigau tidak jelas ditengah-tengah mereka.


"Mereka aja sih gak heran."


Raine mengangguk kepalanya maklum. Karena jelas ia tahu, bahwa teman-teman yang mereka jumpai di club ini datang bukan hanya sekedar untuk pelarian diri. Namun lebih dari itu, liar. Dan mereka bertiga masih bisa membatasi hanya sekedar menenggak alkohol tidak untuk sampai kehilangan harga diri dengan para pria hidung belang.


Raine tidak melepaskan pandangannya dari kumpulan para cowok di meja bar yang kini saling tertawa satu sama lain. Raine menarik seulas senyum tipis di bibirnya, bangkit dari posisi duduknya, berjalan dengan anggun menghampiri kumpulan para cowok itu. Setidaknya untuk memastikan apa yang sejak tadi di lihatnya.


"Woy beb mau kemana lo?" tanya Viola heran karena temannya itu tiba-tiba pergi begitu saja. Viola ingin mengejar langkah Raine, namun ia tidak mungkin meninggalkan Ismy yang sedang meracau tidak jelas, bahkan kini menangis. Viola yang melihatnya menatap sahabatnya itu miris.


"Haii boy," sapa Raine ramah, mendaratkan bokong indahnya di salah satu kursi bar kosong di sebelah seorang cowok yang terkejut menatap kedatangan Raine yang kini menatap mereka dengan senyum super lebar.


"Lumayan. Tapi temen gue udah pada cabut. Ya biasalah, cari kamar," kekeh Raine membuat lima cowok di antaranya ikut terkekeh pelan. Karena tidak hayal jika para pengunjung club tidak berakhir di kamar.


"Dua temen lo mana?" tanya Gery yang sibuk mengedarkan pandangannya ke arah dalam club mencari keberadaan kedua temannya Raine.


"Ada tuh disana. Ismy udah tepar," jawab Raine menunjuk sebuah ruangan VIP yang kedap suara. Tempat ngumpul favorit mereka bertiga.


"Kirain gue lo udah gak mau ke club lagi. Secara," uapan Dani yang tiba-tiba, membuat Raine yang berada di sebelah cowok itu menatap bingung cowok di sebelahnya yang kini sibuk memainkan bibir gelas bekas vodka yang telah kosong.


"Maksud lo?" tanya Raine melirik keempat teman Dani yang menuju ke tempat dimana kedua temannya berada.


"C'mon lo gak usah sok gak tahu deh Raine," jawab Dani memutar tubuhnya hingga kini ia bisa menatap wajah cantik Raine lebih jelas.


"Lo apaan sih. Gajelas banget," kekeh Raine sumbang, membuang pandangannya ke arah kumpulan botol alkohol yang tersusun rapi di lemari.


"Kenapa kali ini harus Raffa? Lo tahu kan? Dia itu bukan kayak mantan-mantan lo," papar Dani akan apa yang ia tahu akan permainan cewek blasteran itu dengan kedua temannya. Dani bahkan muak akan kelakuan ketiganya.


"Ternyata lo tahu. Gue harus ngasih reward apa buat lo nih?" tanya Raine dengan gaya angkuhnya menatap tidak takut tatapan tajam Dani untuknya.


"Berhenti sama permainan gila lo itu. Jangan Raffa, yang lain aja," jelas Dani tetapi malah membuat Raine tertawa cukup keras sambil menggeleng-gelengan kepalanya.


"Gak bisa. Raffa sudah ter stempel sebagai sasaran gue selanjutnya," balas Raine tidak sedikit pun gentar akan tatapan mematikan Dani.


"Lo kok jahat sih sebagai cewek?" tanya Dani dengan emosi yang sudah tidak bisa di kontrol oleh cowok itu.


"This is game Dani. You know?"


"Apa yang bakal lo dapat kalau lo berhasil dapetin Raffa?" tanya Dani tak sedikitpun melepaskan tatapannya dari wajah iblis Raine.


"Dia hancur. Kayak mantan-mantan gue," jawab Raine penuh percaya diri, dengan mambayangkan hal itu akan terjadi.


"Gue berharap hal itu gak kebalik," ucap Dani sinis, menatap Raine remeh yang kini sudah menatapnya nyalang penuh emosi.


"Maksud lo? Gue gitu yang hancur? Ohhh, gak akan," jelas Raine dengan penuh keyakinan kalau ia akan menang di permainan kali ini.


"Lihat aja nanti," saut Dani acuh lalu segera bangkit dari duduknya berjalan keluar club meninggalkan Raine yang kini menatap sinis punggung tegap Dani yang semakin menghilang dari pandangannya.


"Emang siapa Raffa sampai bisa buat gue bertekuk lutut. Ganteng sih? Tapi mantan gue bahkan ada yang lebih ganteng dari dia tuh," gumam Raine mengangkat bahunya acuh lalu segera bangkit dari duduknya kembali mendatangi kedua temannya yang kini sudah saling mengobrol asik dengan Ismy yang dengan nyenyaknya tidur bersandar di bahu Ari. Jekpot sekali temannya, mabuk tapi tahu saja mana cowok ganteng yang bisa di jadikan sandaran.


***


Pagi kembali menyapa. Terik matahari yang menyelinap masuk melalui celah kedalam kamar seorang gadis yang bahkan tidak sedikit pun terusik sengatan matahari yang menimpa wajahnya. Bahkan ia terlihat semakin nyenyak dalam mimpinya.


Seorang pria paruh baya dengan setelan santainya menggeleng kan kepalanya takjub saat ia masuk kedalam kamar anak gadisnya dan mendapati sang pemilik kamar masih berkelana di alam mimpi.


"Lexa, wake up. You will be late to school," suara tegas dari pria paruh baya yang tengah menatap datar si putri tidur dengan kedua tangan yang menyilang di depan dada.


"Five minute please, I'm very sleppy you know," gumam Raine setengah sadar karena merasa terusik oleh suara yang mengacaukan mimpi indahnya.


"Sleppy? What time are you doing home last night?" tanya pria paruh baya itu yang kali ini dengan kalimat tegas terdengar marah namun tetap memasang wajah datarnya menatap anak gadisnya yang kini malah semakin memeluk erat gulingnya. Mengisyaratkan jika ia membutuhkan waktu tidur yang lebih lama lagi.


"Shut up, don't distrub my sleep," racau Raine merasa kesal sambil menutup wajahnya dengan bantal.


Rafi—Daddy Raine menarik paksa bantal Raine membuatnya gadis itu langsung bangun dan melototkan matanya, namun makiannya tertahan saat ia mendapati Daddy nya yang kini tengah menatapnya tajam.


"Daddy," panggil Raine sambil menelan ludahnya susah payah. Ia sadar telah masuk kedalam kandang singa kelaparan.


"Where did you go last night?" tanya Rafi dengan sorot mata tajam meminta kejujuran dari putri satu-satunya yang kini malah terlihat panik.


"Dad, Lexa—"


"You Going to club. Right?" potong Rafi karena tidak sabar menunggu jawaban Raine yang pastinya banyak memiliki macam alasan.


"Okey, iya Lexa tadi malam dari club. Daddy puas?" balas Raine dengan emosi yang tiba-tiba mencuat saat melihat kilatan marah di mata Daddy-nya saat ini.


Rafi yang melihat amarah di wajah Raine hanya menatap datar wajah anak gadisnya itu, lalu setelahnya ia melempar kembali bantal yang ia tarik paksa ke atas kasur lalu berjalan keluar kamar tanpa mengucapkan sepatah kata pun lagi.


"Urghhhhh...,"


Teriak Raine frustasi sambil membuang semua apapun yang berada di dekatnya, membuat kamarnya saat ini berserakan. Disusul suara tangis Raine yang kini sudah menyembunyikan wajahnya di balik lipatan lututnya.


"You don't know what I feel Dad," gumam Raine sambil segugukan menahan tangis sekaligus amarah yang sebenarnya tidak ingin ia rasakan di pagi ini namun sialnya ia harus merasakan lagi dan lagi di setiap paginya.