
Mau sampai kapan kita main kejar-kejaran gini? Memangnya kamu gak capek menghindari aku yang akan terus mengejar kamu?
-Raine Alexandra-
•••
"Raffa," teriakan seorang cewek yang kini tengah berlari kecil ke arah sosok Raffa yang baru saja keluar dari gedung bimble mereka membuat Raine harus kembali menelan kalimat nya yang ingin mengajak ngobrol kembali cowok itu.
Karena hari ini ia belum puas mencecoki Raffa dengan tingkah menyebalkannya.
Raine yang penasaran dengan sosok yang memanggil Raffa akhirnya mempercepat langkahnya dan mencari posisi yang pas untuk melihat keduanya tanpa di ketahui Raffa.
"Aku kangen banget sama kamu. Kamu apa kabar?" Tanya cewek itu yang dapat Raine dengar dari tempatnya.
"Kamu kapan balik kemari? Kenapa gak ngabarin?" Tanya Raffa dengan tatapan tidak percaya tetapi malah membuat cewek di hadapan Raffa itu menggembungkan pipinya sebal.
Raine yang memperhatikan setiap tingkah cewek di depan Raffa benar-benar terlihat tidak jauh dengan sifat Kiya yang ia lihat saat di kedai ice cream kemarin.
Raine yang ingin tau lebih jauh tentang cewek itu segera mengambil iPhone nya dan mencari gambar yang tepat agar Ismy bisa memberikannya sebuah informasi yang sangat membuatnya penasaran saat ini.
"Ngapain lo disini?" Pertanyaan dari cewek yang tadi di kelas sempat beradu argumen dengannya membuat Raine berdecak malas.
Raine melirik tidak minat orang itu, "Bukan urusan lo," jawab Raine langsung berjalan meninggalkan cewek itu yang kini menatap heran dengan Raine yang malah kesal dengannya.
"Cewek aneh," gumam cewek itu menatap sosok Raine yang masuk ke dalam mobilnya dan meninggalkan area gedung bimble mereka.
***
"Lo yakin pengen tau tentang cewek ini?" Tanya Ismy yang kini sudah berada di hadapan Raine malam ini. Sambil menatap bergantian antara iPhone dan Raine di hadapannya.
Semua itu karena rasa penasaran Raine yang benar-benar tidak bisa di tunda hingga besok saat mereka bertemu di sekolah. Akhirnya malam ini Raine mengajak Ismy bertemu di cafe favorit mereka. Minus Viola yang entah kenapa tidak bisa di hubunginya.
Anggukan yakin Raine yang kini tengah memakan pastanya membuat Ismy menghela nafas kasar sambil menatap serius Raine yang sambil mengunyah makanannya menatap Ismy keheranan.
"Lo seriusan mau tau?" Tanya Ismy lagi memastikan yang malah membuat Raine geram.
"Iya Ismy ku sayang. Gue sangat amat mau tau banget itu cewek siapa," jawab Raine dengan nada sebalnya lalu meminum jus strawberry nya sambil tidak melepaskan tatapannya dari Ismy yang kini malah menghela napasnya kasar.
"Dia mantan Raffa."
Bola mata Raine saat ini seakan ingin keluar dari tempatnya saat mendengar perkataan Ismy yang benar-benar di luar dugaannya.
"Apa? Mantan?" Tanya Raine seolah masih belum percaya dengan pendengarannya atas perkataan Ismy yang kini di angguki benar sebagai jawaban atas pertanyaannya barusan.
"Mantan terindah Raffa. Mungkin masih ada di hati Raffa. Karena info yang gue dapet setelah Raffa putus dari cewek itu dia gak pernah deket lagi sama cewek lain selain Kiya," papar Ismy dengan gamblangnya yang entah kenapa malam ini benar-benar sulit di cerna oleh otak Raine.
Sebab satu fakta yang di dapatnya saat ini benar-benar membuat Raine tercengang.
Raine langsung membandingkan dirinya dengan sosok cewek yang tadi sore dilihatnya dengan dirinya kini. Benar-benar tidak ada yang sama. Walau jelas ia jauh lebih cantik dari cewek itu. Namun tetap saja, cantik bukan point pertama dalam kriteria seorang Raffa.
Target yang menyusahkan.
"Menurut lo gue harus kayak mereka gitu? Kayak si Kiya sama si cewek itu?" Tanya Raine setelah keluar dari pemikirannya yang membuatnya pening seketika.
"Maybe."
Jawaban Ismy membuat Raine tersenyum kecut. Mendekati sosok Raffa dan mendapatkan hati cowok itu adalah cobaan buat Raine sekaligus tantangan yang menarik untuknya.
Sebab, mantan-mantannya dulu hanya di rayu dan mengandalkan wajah cantiknya langsung luluh begitu saja. Sedangkan Raffa bahkan dia sudah memotong urat malunya tetap saja di lihat juga tidak. Sekarang Raine mengakui jika Raffa adalah sosok yang tidak semudah itu untuk di taklukkan oleh nya.
"Menurut gue kalau gue jadi mereka gue ngilangin sifat asli gue dong?" ujar Raine setelah sibuk berpikir di tengah keheningan mereka.
"Iya sih, lo gak jadi diri lo lagi. Mending lo tetep jadi sosok Raine aja, karena mau gimana pun kalau udah cinta tipe mah kalah," jelas Ismy yang setuju dengan pemikiran Raine yang kini membuat keduanya terkekeh pelan.
Tidak menyangka kalau menjadi diri sendiri adalah keputusan terbaik dari dilemanya selama ini. Tapi yang di katakan Ismy benar, sekalinya cinta kriteria gak akan pernah di liat lagi. Cinta itu kan bodoh, akal seakan tidak berfungsi lagi.
Saat mereka berdua kini tengah sibuk dengan makanan masing-masing. Tiba-tiba saja bola mata Raine membulat sempurna, membuat Ismy yang menyadari hal itu langsung mengikuti arah pandang Raine yang mengarah kepada sepasang anak manusia yang tengah berjalan dengan lengan si cowok yang di genggaman erat oleh cewek yang berjalan di sebelahnya menuju ke salah satu meja yang di tunjukkan oleh pelayan di cafe ini.
"Panjang umur banget mereka," gumam Ismy lalu kembali melanjutkan sesi makannya.
Tapi tidak dengan Raine yang sejak tadi terus menatap setiap gerak gerik keduanya. Terlebih pada sosok cewek di depan Raffa yang dengan anggunnya menyebutkan nama makanan pesannya sambil bertanya dengan lembut kepada Raffa yang di balas dengan hangat oleh cowok itu.
"Udah entar lo sakit hati liatin mereka terus," ujar Ismy menyentak Raine dari keseriusannya yang kini sudah mendengus sebal pada Ismy yang malah mengangkat alisnya bingung.
"Ngapain gue sakit hati sama mereka," balas Raine dengan kasar mengaduk jusnya sambil melirik kedua anak manusia yang tengah tertawa itu dari ekor matanya.
"Lo tenang aja Raine. Di dalam permainan kita gak ada larangan lo buat jatuh cinta sama target lo," ucapan Ismy membuat Raine yang mendengarnya langsung tersedak minumannya hal itu malah membuat Ismy terkekeh pelan melihat respon Raine di hadapannya saat ini.
"Apaan sih Mi. Selama ini kan gak pernah tuh gue naruh hati," omel Raine setelah selesai membersihkan mulutnya sambil menatap sebal Ismy yang kini malah menatapnya penuh arti.
"Percaya deh sama gue Raine. Yang kali ini target lo beda," jelas Ismy membuat Raine spontan melihat ke arah sosok Raffa yang tepat saat itu juga melihat ke arahnya.
Namun hanya sebentar karena Raine langsung memutus kontak mata mereka.
"Grogi Raine?" ledek Ismy dengan senyum kecil di bibirnya. Terlihat senang menggoda Raine.
"Lo nyebelin banget Mi. Sumpah lo ngeselin," emosi Raine tetapi malah menciptakan kekehan bahagia keluar dari mulut Ismy dengan merdunya.
"Balik yuk beb, kasian entar lo makin panas liat mereka," ajak Ismy sambil memanggil waiters untuk membayar pesanan mereka. Ralat Raine yang membayar makanan mereka.
"Lo gak waras Mi malam ini," kesal Raine bangkit dari duduknya setelah transaksi pembayaran mereka selesai dan langsung meninggalkan Ismy yang kini menggelengkan kepalanya tidak habis pikir dengan temannya yang satu itu.
Benar-benar lucu padahal baru di goda seperti itu.
***
Sepulang sekolah Raine tidak langsung pulang seperti kedua temannya yang mungkin sudah berkelana di dunia mimpi.
Kini Raine dengan seorang diri dengan seragam sekolahnya yang telah ia ganti saat mengunjungi mall terlebih dahulu, tengah berdiri di sebuah rumah yang tidak terlalu besar namun terlihat sangat terurus dengan taman bunga yang memperindah rumah yang setiap bulan jika dia ada waktu akan di kunjungi nya.
Panti Asuhan Kasih Bunda
Itulah tulisan di depan rumah tersebut yang tulisannya hampir memudar karena terkena paparan cahaya matahari dan hujan.
"Kak Raine," teriakan anak-anak kecil dengan wajah ceria mereka langsung menyambut kedatangan Raine yang baru beberapa langkah menyusuri pekarangan rumah ini.
"Haii, apa kabar semuanya?" Tanya Raine sambil berjongkok menyamakan tinggi dengan beberapa anak-anak di panti asuhan ini yang menyambut kedatangannya seperti biasa.
"Baik kak. Kakak kemana aja kok gak main kemari semalam-semalam?"
Pertanyaan dari salah satu anak yang usianya lebih tua di antara yang lain membuat Raine mengulas senyum lembutnya.
"Kakak sibuk, makanya baru bisa main kemari," jelas Raine yang diangguki mereka mengerti. Karena ibu di panti ini sudah menjelaskan jika Kak Raine mereka sedang sekolah.
"Ohhh ya, kakak bawa sesuatu loh untuk kalian," ujar Raine sambil meraih kantung plastik yang dibawanya, kini membuat mata anak-anak tersebut terlihat berbinar senang melihat apa yang di bawa oleh Raine.
"Bagi ke temen-temen yang lain ya," suruh Raine sambil mengelus lembut rambut salah satu anak di depannya yang mengangguk patuh.
"Iya kak Raine," setelahnya mereka langsung berjalan masuk sambil membawa kantongan plastik yang kini terlihat tidak sabar untuk melihat isinya.
"Loh Raine kenapa gak masuk?" Pertanyaan beranda terkejut dari seorang wanita paruh baya dengan hijab panjang dan wajahnya yang menenangkan membuat Raine langsung berjalan cepat menuju ke arah sosok itu dan langsung memeluknya dengan erat.
"Gimana kabar Ummi?" Tanya Raine setelah merenggangkan pelukannya pada sosok wanita paruh baya yang kini menatap lekat sosok Raine.
"Alhamdulillah Ummi baik. Raine gimana? Sehat?"
"Seperti yang Ummi liat. Raine sehat," jawab Raine dengan senyum yang tak pudar dari wajahnya saat ini.
"Ayuk masuk, anak-anak lagi heboh tu milih makanan sama mainan yang kamu bawa," ajak Ummi Aisyah — pengurus di panti ini yang sudah Raine anggap seperti ibunya sendiri.
Banyak sisi baik tersembunyi dari sifat-sifat jelek Raine yang sudah di kenal orang.
Raine itu terlalu pandai menutupi semua dengan topengnya. Tidak ada yang benar-benar tau apa yang dia rasa selain orang-orang yang di percayanya.
Seperti kata pepatah kenali dulu orang itu baru nilai dirinya. Jangan menilai sebelum mengenal, maka kamu akan salah.
Tapi kebanyakan orang-orang sekarang lebih memilih menilai tanpa mengenal. Jadi mereka tidak pernah tau sisi baik orang tersebut yang sudah lebih dulu di cap buruk.
Sungguh sangat miris bukan. Menghakimi tanpa fakta.