
Jangan pernah lupa dengan teori kalau dunia itu sempit.
-Raine Alexandra-
•••
Sore yang tidak terlalu cerah, tapi juga cukup menyenangkan untuk menikmati penghujung hari. Di weekend sore kali ini, Raine dengan kedua temannya memilih menghabiskan waktu sore mereka dengan mengunjungi salah satu cafe yang sudah menjadi langganan mereka.
Sesampainya di cafe, Raine berjalan lebih dulu membiarkan Ismy juga Viola yang masih sibuk membahas film yang baru selesai mereka tonton tadi sebelum singgah kemari. Saat Raine tengah mengedarkan pandangannya untuk mencari tempat duduk mereka. Mata Raine malah menangkap sosok yang sejak beberapa hari belakangan ini yang benar-benar sangat susah kembali ia temui dengan mata berbinar.
Tidak menghiraukan kedua temannya yang dibuat kaget dengan langkahnya yang malah entah menuju kemana, Raine langsung saja berjalan ke arah seorang cowok yang tengah duduk sendiri sambil menatap jalanan di luar cafe.
"Wahh... Kita jumpa lagi," seru Raine terdengar kegirangan, namun tidak dengan cowok itu yang milirik tidak minat Raine yang tanpa permisi duduk di hadapannya sambil menatap nya antusias.
"Lo kok diam aja? Sariawan?" tanya Raine mulai memajukan wajahnya kehadapan Raffa yang sejak tadi terus memandang keluar cafe membuat Raffa akhirnya mengeluaran decakan sebalnya. Karena wajah Raine terlalu dekat dengan wajah Raffa.
"Lo mau apa?" tanya Raffa ketus, untuk pertama kalinya Raine dijutekin oleh seorang cowok. Namun bukan Raine namanya jika saat ini ia tidak tersenyum lebar di bibir merah mudanya, menatap Raffa tidak gentar.
"Kalau nyapa harus ada alasan?" tanya Raine dengan wajah polosnya yang malah membuat Raffa berdecak sebal dan menatap malas wajah Raine di hadapannya.
"Terserah," kesal Raffa bangkit dari duduknya, meninggalkan Raine yang kini menatap datar punggung Raffa yang sudah keluar dari cafe.
"Gila gila seorang Raine Alexandra di jutekin cowok. Harus buat party heboh nihh," seruan teman-temannya yang datang menghampiri meja tempat terjadinya drama klasik tadi membuat Raine menatap malas kedua sahabat hebohnya itu.
"Songong banget tuh cowok," kesal Raine membanting tas gucci hitamnya ke atas meja membuat beberapa pengunjung cafe menatap heran ke arahnya. Sedangkan yang di tatap malah tidak memperdulikan sama sekali.
"Selow beb, Raffa mah cuman kacang lahh buat lo," ujar Viola menatap meyakinkan Raine yang terlihat kesal.
"Tapi gue rasa gak semudah itu deh," bantah Ismy membuat dirinya kini mendapat tatapan sebal dari Viola serta lirikan malas dari Raine.
Ismy menghela nafasnya kasar, tapi bukan Ismy namanya jika tidak menyelesaikan apa yang sudah terucap keluar dari mulutnya. "Lo harus tahu Raine, Raffa itu punya sepupu namanya Kiya."
"Terus hubungan sama sepupunya apa?" tanya Raine emosi, membuat Ismy berdecak sebal.
"Dengerin gue dulu beb, jangan di potong makanya," jawab Ismy tak kalah kesal karena penyampaian informasinya malah diberhentikan tiba-tiba.
"Nah, si Raffa ini sayang banget sama sepupunya. Bahkan dari isu-isu yang beredar mereka bahkan dikira pacaran karena terlalu deket. Apalagi yang gue denger-denger, kalau mantannya Raffa sebelas dua belas sama si Kiya."
"Terus?" tanya Raine menyandarkan tubuhnya sambil menyilang kakinya di bawah meja. Mendengar dengan seksama hasil penelitian seorang Ismy.
"Setelah gue cari tahu lagi. Lo sama Kiya gak ada kesamaan yang bisa buat kalian berpapas sejajar. Jauh, banting banget sifat kalian berdua," jelas Ismy membuat Raine merotasi matanya malas.
"Emang si Kiya Kiya itu gimana?" tanya Viola yang ternyata penasaran dengan sosok yang sejak tadi di bahas oleh Ismy.
"Yang jelas hidupnya enggak kayak kita," jawab Ismy yang malah mendapat kekehan sumbang keluar dari bibir Raine.
"Pasti anak baik-baik," gumam Raine pelan memiringkan kepalanya melihat keluar cafe.
"Jelaslah, Raffa juga cowok baik-baik. Yang cowok gak bener di tim mereka kan cuman Dani doang," saut Ismy dengan semangat memaparkan fakta yang diketahuinya kepada kedua temannya yang selalu salut dengan jiwa stalker teman mereka yang satu ini.
"Jadi maksud lo? Si Raine harus kayak sepupu Raffa gitu?" tanya Viola menatap bergantian antara Raine dengan Ismy yang langsung mendapat anggukan mantap dari si pemberi informasi terakurat itu.
"Kalau si Raine mau. Yang jelas itu info yang gue dapat seminggu belakangan ini," jelas Ismy melirik temannya lalu menyeruput jus mangganya dengan santai.
"Gimana Raine?" tanya Viola memastikan Raine yang sejak tadi terlihat berpikir dengan pandangan kosong keluar cafe.
"Gak ada cara yang lain?" tanya Raine melipat kedua tangannya diatas meja, menatap intens Ismy meminta jawabannya.
"Nothing," jawab Ismy menatap Raine yang kini menatapnya dengan sorot permohonan.
"Seriusan gue harus jadi anak baik? Jadi anak penurut, gak kelayapan malam-malam, gak pergi ke club? Demi apapun itu bukan gue," erang Raine frustasi menutup wajahnya dengan kedua tangan membuat Ismy serta Viola menatap prihatin temannya itu.
"Emang si Kiya itu siapa sih? Sampai harus tipe pacar aja kayak dia. Gila tuh cowok ya," omel Raine dengan wajah sebal membuang pandangannya kembali keluar cafe.
"Namanya Adzkiya Aletha, dia adalah sepupu kesayangan seorang Raffasya Fakhril. Udah jelas Raine seperti apa kedudukan Kiya?" tanya Ismy memperjelas lagi perkataannya akan sosok yang menjadi topik mereka sejak tadi
"Iya iya gak usah di perjelas banget siapa itu Kiya," sebal Raine, merebut gelas jus jeruk Viola yang kini hanya bisa merelakan jusnya di minum oleh Raine.
"Lo nyerah sebelum berjuang? Bukan lo banget tahu gak," ucap Viola menatap Raine yang langsung memberikan tatapan tajamnya kepada Viola yang kini malah menahan napasnya.
"Lo ngeremehin gue?" tanya Raine dengan nada penuh emosi membuat Ismy di antara keduanya menggelengkan kepalanya pelan.
"Ya gak gitu Raine," sanggah Viola karena saat ini tatapan mematikan Raine benar-benar membuatnya kehabisan kata-kata.
"Gimana Raine? Tetap lanjut atau—"
"Lanjut," ucap Raine memotong perkataan Ismy yang kini melirik Viola yang terlihat menghela nafas kasar.
"Let's play the game," gumam Ismy yang hanya mampu di dengar oleh mereka bertiga saja.
Raine yang mendengar itu menghembuskan nafasnya kasar. Karena sepertinya, kali ini adalah sesuatu yang bertolak belakang dengan pribadi seorang Raine Alexandra. Cewek baik-baik? Itu jelas bukan Raine, karena dia adalah pengunjung club rutin setiap malamnya bersama kedua temannya itu.
***
Raine dengan wajah datarnya dan rasa malas yang tak pernah hilang dari dirinya menyusuri koridor lantai satu seorang diri. Dengan tatapan murid SMA Melati yang tak sengaja melewatinya menatapnya tak berkedip. Raine yang menyadari hal itu tidak mau ambil pusing. Toh ia merasa wajar semua itu karena wajahnya.
Sesampainya di kelas Ismy sudah lebih dulu ternyata sampai yang kini menatap kedatangan Raine dengan kening berkerut samar.
"Lo kenapa? Berantem sama bokap lo?" tanya Ismy yang tepat sasaran saat mendapati anggukan Raine yang kini menghela nafasnya kasar.
"Yaudah lah beb, masa bodo aja kayak biasa," ujar Ismy yang malah mendapat lirikan malas Raine.
"Capek juga tau debat mulu sama Tuan Alex terhormat itu," keluh Raine akan perasaan yang saat ini memenuhi hatinya.
"Yah begitulah hidup kita Raine, banyak drama," kekeh Ismy miris begitu juga dengan Raine yang satu frekuensi kehidupan dengan kedua temannya.
Hal ini lah yang membuat mereka menjadi teman seperti sekarang, kisah hidup yang sama membuat mereka bersatu untuk saling menguatkan.
"Kalian kenapa?"
Viola yang baru datang langsung menyerbu keduanya dengan pertanyaan penasarannya sambil mendudukkan dirinya di kursi belakang Raine.
"Biasa lah," jawab Ismy dengan nada malas.
"Gue juga abis drama tadi pagi. Tapi gue tinggal cabut," ujar Viola dengan entengnya yang mendapat tatapan maklum Raine begitu juga Ismy. Karena mereka berdua juga akan melakukan hal itu.
"Udah ah ngapain di bahas. Gak banget sedih-sedih," ucap Viola dengan senyum lebarnya yang akhirnya menular juga kepada Raine.
Sebab entah untuk apa iya memikirkan hal itu, toh orang yang membuat hidupnya bisa seperti ini saja bahkan tidak akan perduli akan rasa sedihnya.
Bel istirahat yang di tunggu sejak tadi akhirnya berbunyi. Membuat semua murid berhamburan keluar kelas untuk menuju kantin. Begitu juga dengan Raine dan kedua temannya yang saat ini tengah duduk manis menunggu pesanan mereka datang.
"Beb, gue ada info baru tentang Raffa," seruan heboh Ismy yang saat ini tengah sibuk dengan iPhone nya membuat alis Raine menyatu keheranan.
"Apaan?"
"Dia ternyata bimble di tempat gue juga," jelas Ismy heboh menatap Raine yang tidak percaya pada sahabat terupdate nya itu.
"Kok lo baru tau sekarang? Padahal lo udah lama bimble di sana?" tanya Viola keheranan yang di angguki Raine setuju.
"Kita beda kelas, dia anak pinter mana mau masuk kelas reguler kayak gue," jelas Ismy sambil meletakkan ponselnya yang berhasil memberikan info penting kepada Raine yang saat ini tengah berfikir.
Tidak lama setelah itu pesanan mereka akhirnya datang, membuat rasa lapar mereka mencuat kembali.
"Mi, mau bantuin gue gak?"
Pertanyaan Raine menghentikan sendokan kedua Ismy yang ingin memakan baksonya yang kini menatap Raine dengan alis menyatu.
"Bantu gue masuk bimble di tempat lo," jelas Raine yang diangguki Ismy tanpa perlu berpikir panjang, sebab tempatnya bimble adalah tempat bimble om nya jadi itu akan sangat gampang bagi Ismy untuk memasukkan Raine kesana.
***
Bel pulang sekolah berbunyi dengan nyaringnya membuat semua penghuni sekolah dengan semangat empat lima meninggalkan sekolah tercinta mereka untuk merebahkan diri pada empuknya kasur.
Raine dan juga Ismy langsung bergegas menuju tempat bimble Ismy untuk segera melancarkan tujuan mereka, ralat maksudnya tujuan Raine bimble di tempat ini. Namun kali ini mereka hanya berdua, Viola tidak ikut serta karena teman mereka yang satu itu tidak mau di repotkan dengan pelajaran tambahan yang semakin membuat kepalanya ingin pecah saja.
Saat mereka berdua ingin menuju ke kelas masing-masing setelah selesai mengurus semua hal untuk dirinya masuk di sini, mata Raine tidak sengaja menangkap kedatangan sosok yang sejak tadi di tunggunya yang tengah mendorong pintu kaca yang tidak jauh dari mereka.
Ismy yang mengetahui hal itu, menepuk sekilas bahu Raine dan membiarkan temannya itu menjalankan aksinya.
"Hello Raffa, masih inget gue kan?"
Sapaan sekaligus pertanyaan dari Raine yang tanpa permisi berjalan di samping Raffa membuat cowok itu berjingkat kaget, terkejut akan kedatangan Raine yang semalam baru di temuinya kini malah sudah melihat kembali senyum lebar yang telah melengkung sempurna menghiasi wajah cantiknya.
"Lo? Ngapain lo disini?" tanya Raffa menghentikan langkahnya, memutar badannya hingga kini mereka berdua saling berhadapan.
"Menurut lo gue di sini ngapain? Ngikuti lo?" tanya Raine tak lepasnya memandang wajah jengah Raffa yang selalu seperti itu jika mereka bertemu.
"Mungkin aja. Lo kan aneh," jawab Raffa tak acuh lalu berjalan meninggalkan Raine yang kini mendengus sebal karena lagi dan lagi ditinggal pergi oleh Raffa.
"Gue juga bimble di sini kali," jelas Raine setelah berhasil menyamakan langkahnya dengan Raffa yang seolah tak perduli dengan kehadiran dirinya.
"Lo di kelas mana?" tanya Raine seolah tidak lelah memberi pertanyaan kepada Raffa yang bahkan kini entah menganggapnya ada atau tidak.
Raffa terus berjalan meninggalkan Raine yang mendengus sebal dengan kelakuan Raffa yang baru kali bisa mengacuhkannya begitu saja. Awas saja Raffa, hari ini mungkin cowok itu bisa mengacuhkannya tapi besok dan seterusnya dia yang akan bertekuk lutut padanya.
"Wahhh... ternyata kita sekelas. Jodoh ternyata gak kemana ya," heboh Raine yang sejak tadi mengikuti langkah Raffa dari belakang sampai kini mereka berdua tiba di depan pintu kelas bimble baru Raine.
Tanpa meminta persetujuan Raffa, Raine langsung menarik Raffa ke arah meja di tengah ruangan yang belum di tempati oleh teman-teman mereka. Sedangkan Raine kini mengambil posisi di kanan Raffa, sehingga membuat Raffa yang duduk di dekat dinding hanya bisa menghela nafasnya kasar. Raine yang mendengar helaan nafas itu melirik Raffa merasa bangga karena satu langkah nya untuk membuat Raffa masuk kedalam permainannya berhasil.