Bitter Love

Bitter Love
3 - Hai...



Sejauh apapun kamu berlari. Kalau takdir maunya kita ketemu, kamu gak akan bisa menolaknya.


-Raine Alexandra-


•••


Raine berdecak sebal setiba dirinya di sekolah dengan pintu gerbang yang sudah tertutup. Ini semua karena ia yang harus nangis terlebih dahulu tadi pagi sehingga membuat dirinya kali ini benar-benar terlambat sampai di sekolah. Ya, selama ini dia memang terlambat, tapi terlambat masuk kelas bukan terlambat masuk sekolah seperti saat ini yang hanya bisa menatap datar pagar sekolahnya dari luar.


"Lo telat juga beb?"


Pertanyaan dari suara yang sangat amat di kenalnya, Raine langsung memutar kepalanya kesamping dan mendapati sosok kedua temannya yang menatap datar gerbang sekolah mereka.


"Menurut lo?" tanya Raine balik dengan nada kesal, sebab jawaban nya sudah jelas di depan mata.


"Kemana gitu kuy, gak berminat lagi gue masuk. Yang ada di hukum, ogah sih," ajak Ismy sambil melirik tidak minat sekolah mereka lalu menatap meminta persetujuan kedua temannya.


"Ke cafe aja yuk," ajak Viola melihat Raine yang tengah berpikir.


"Cafe deket SMA Asa Bangsa yuk, gue pengen nyoba kan terkenal tuh," usul Raine dengan mata berbinar menatap kedua temannya yang kini saling memandang kebingungan.


"Jangan kasih kendor Raine, entar makin kabur," kekeh Ismy merangkul pundak Raine menuju mobil mereka yang terparkir tidak jauh dari posisi mereka sejak tadi. Sedangkan Raine hanya mendengus kasar mendengar perkataan Ismy yang ada benernya juga.


Sudah sangat lama mereka di cafe yang letaknya tepat di sebrang jalan SMA Asa Bangsa. Dengan seragam sekolah yang sudah berganti dengan pakaian kasual yang mereka ganti terlebih dahulu. Karena tidak mungkin mereka berkeliaran dengan baju sekolah, bisa-bisa mereka ditangkap satpol PP, oww itu akan membuat masalah mereka semakin banyak.


"SMA Asa lebih besar sekolahnya ya dari pada sekolah kita," ujar Viola yang sejak tadi menatap lekat SMA Asa Bangsa yang kali ini dapat mereka lihat secara lebih dekat.


"Wajar lah namanya juga sekolah elit," jelas Ismy yang mendapat tatapan malas dari Raine juga Viola. Dan yang di tatap malah asik memakan pancake yang sudah ketiga kali di pesannya.


"Sekolah kita juga elit kali," Viola tidak terima atas penuturan Ismy yang seakan memuji SMA Asa Bangsa itu.


"Lebih terkenal Asa kemana-kemana kali," saut Ismy dengan argumennya yang masih bertahan.


"Lo kok jadi muji-muji Asa?" emosi Viola menatap sangar Ismy yang malah mengerutkan keningnya bingung. Menatap Viola yang terlihat tidak bisa menerima fakta kalau SMA Asa Bangsa lebih terkenal daripada sekolah mereka.


"Kenapa pada ribut masalah sekolah sih. Cinta banget lo Vi sama tu sekolah sampe di belain?," ucap Raine tenang namun membuat Viola berpikir atas kelakuannya barusan bersama Ismy.


"Idihh lo tuh yang cinta sama sekolah kita," bantah Viola malah menuduh Raine yang kini menatapnya tajam membuat Viola menyengir lebar dengan Ismy yang menggelengkan kepalanya maklum.


Tidak lama setelah perdebatan tidak bermutu di antara mereka, pintu gerbang Asa terbuka membuat bola mata Raine berbinar dan bersiap untuk segera keluar dari cafe yang sudah sangat lama mereka jadikan tempat persembunyian menemui mangsanya. Sebab tujuan Raine kemari adalah untuk menemui seorang Raffasya Fakhril dan hanya untuk seorang Raffa ia rela melakukan ini semua.


"Kalian bayar dulu punya gue, nanti gue ganti," pesan Raine langsung meninggalkan kedua temannya yang kini melongo terkejut dengan gerakan cepat Raine yang sudah keluar cafe tanpa menunggu perkataan mereka.


"Menurut lo? Yang kali ini Raine akan berhasil?" tanya Viola menatap intens punggung temannya yang tengah berjalan menuju SMA Asa yang mulai keluar satu persatu murid yang ingin pulang ke rumah mereka.


"Prediksi gue sih 50:50," jawab Ismy mengaduk asal jus jeruknya yang tinggal sedikit sambil terus memperhatikan setiap gerak gerik Raine di seberang sana.


"Dengan harapan?"


"Tipis banget sih, karena Raffa itu bukan cowok yang suka di kejar cewek. Setahu gue dia dulu pacaran karena emang Raffa yang suka walau gak lama sih pacarannya karena si cewek denger-denger pindah gitu," jelas Ismy memaparkan info yang ia punya membuat Viola menatap bergantian antara Ismy dengan Raine yang masih menunggu kedatangan Raffa dengan setia.


"Gue gak pernah liat dia kayak gitu. Gue takut dia yang patah," Viola meringis pelan sambil mengusir pemikirannya tentang hal yang belum pernah menimpa temannya itu.


"Gue juga," setuju Ismy sambil merapikan tasnya bersiap pergi dari cafe yang berhasil menguras isi dompet mereka, pantas saja cafe ini terkenal, makannya tidak diragukan enaknya dan Ismy akan ikut memfavoritkan cafe ini.


***


"Hai..."


Sapaan dari orang sangat tidak di harapkan Raffa kehadirannya membuat Raffa berdecak sebal. Entah bagaimana bisa cewek itu masuk ke dalam sekolahnya. Tapi setelahnya Raffa sadar sekolahnya sudah sunyi dan kini hanya anggota ekskul basket yang masih tersisa dan tengah berlatih di lapangan outdoor.


"Lo ngapain kesini?" tanya Raffa tak sedikit pun melihat ke arah Raine yang sejak tadi sudah mengembangkan senyumnya lebar menatap wajah Raffa dalam jarak sedekat ini.


"Mau jumpa lo lah," jawab Raine dengan girangnya dan senyum lebarnya menatap Raffa tak berpaling sedikit pun.


"Lo gak sekolah?" tanya Raffa yang kali ini melirik Raine dari ekor matanya, meneliti sebentar penampilan Raine yang terlihat santai.


"Gue telat masuk, jadinya bolos," jujur Raine dengan pandangan ke arah tengah lapangan melihat beberapa teman Raffa berlatih.


"Kalian jago-jago ya main basketnya. Wajar sih kalau selalu menang," ujar Raine yang hanya di dengar Raffa begitu saja.


"Fa, minum buat lo."


Suara seorang cewek yang berdiri di hadapan Raffa sambil mengulurkan sebotol air mineral memecahkan keheningan di antara mereka.


Raffa dan Raine spontan melihat ke arah orang itu, dengan Raffa yang menerima pemberian cewek itu dan Raine yang menilai cewek itu tak berkedip.


"Lo anak cheers SMA Melati kan?" tanya cewek itu menatap Raine yang langsung mengangguk membenarkan.


"Kok bisa di Asa? Ada perlu apa?" tanya cewek itu lagi namun belum sempat Raine menjawab, pergelangan tangan cewek itu langsung di tarik Raffa menjauh dari hadapannya.


Dari tempatnya Raine masih mendengar kalau cewek itu tidak terima atas kelakuan Raffa.


Raine menatap lekat keduanya dari tempatnya sambil mengingat jelas-jelas wajah cewek itu untuk ia cari tau informasi nya. Siapa dia? Dan punya hubungan apa dengan Raffa? Mereka terlihat dekat. Dan Raine tidak suka targetnya dekat dengan siapapun. Hanya Raine yang boleh dekat dengannya.


"Raffa"


Panggilan dengan suara yang tidak asing lagi di telinganya membuat Raffa menghentikan langkahnya dan memutar tubuhnya untuk melihat si pemanggil yang kini tengah berlari kecil menuju ke arahnya. Saat tau siapa yang memanggilnya ingin rasanya ia segera menuju mobilnya dan meninggalkan orang itu begitu saja. Namun ia masih ada hati untuk tidak sejahat itu.


"Gue pulang bareng lo ya," pinta Raine dengan wajah memohon berharap kali ini usahanya berhasil. Karena ia telah membuang-buang waktunya untuk menunggu cowok itu hingga selesai latihan.


"Lo kemari naik apa, ya lo pulang naik itu lagi," suruh Raffa dengan tatapan datar menyentak Raine yang mengerjapkan matanya terkejut.


"Dan gue juga gak ada nyuruh lo nunggu gue latihan kan? Jadi terserah lo."


Raffa sadar bahwa perkataannya tadi akan menyakiti cewek itu. Tapi Raffa juga jengah dengan kelakuan cewek itu yang benar-benar sangat memuakkan untuk Raffa. Mereka kenal juga tidak tapi cewek itu malah mendekatinya dengan tidak gentar.


Raine menatap datar mobil Raffa yang pergi meninggalkannya seorang diri di sekolah cowok itu. Raine merasa harga dirinya jatuh atas apa yang sudah dilakukan Raffa barusan. Cowok itu kira dia siapa bisa merendahkan Raine seperti itu.


"Lo salah kalau mau main-main sama gue Fa, lo akan tau akibatnya," gumam Raine penuh ketidak sukaan menatap nyalang gerbang sekolah yang membawa Raffa pergi dari hadapannya.


"Gue harap lo yang kali ini gak salah dengan menjadikan Raffa target lo."


Raine terperanjat kaget dan spontan melihat ke arah sosok yang jelas ia kenal dan kini tengah menatapnya remeh.


"Kita lihat aja," tantang Raine yang di senyumi remeh oleh orang itu.


"Gue tunggu kehancuran lo Raine Alexandra," ucap orang itu sambil memainkan kunci motornya meninggalkan Raine yang mendengus sebal menatap kepergian orang itu.


Dengan perasaan kesal setengah mati Raine membawa langkahnya keluar dari sekolah yang membuatnya benar-benar tidak akan melepaskan sosok Raffa begitu mudahnya.


***


"LO DITOLAK RAINE? DEMI APA?"


Teriakan heboh Viola dengan wajah terkejutnya yang terlihat jelas di layar ponselnya saat ini memenuhi suasana kamarnya yang tenang.


Saat ini Raine tengah menceritakan kejadian yang dia alami beberapa waktu lalu sambil melakukan video call bersama ketiga temannya.


Berbeda dengan Viola yang heboh mendengar ceritanya. Ismy kini malah tetap tenang sambil terlihat berpikir membuat Raine sadar akan hal itu.


"Lo bilang tadi ada cewek yang ngasih minum ke Raffa kan Raine? Lo inget muka cewek itu?" tanya Ismy mulai dengan sifat detektifnya membuat Viola memasang telinga lebar-lebar untuk mengetahui info terupdate dari seorang Ismy Febri Rew.


"Ya ingat lah. Lo kira gue secepat itu lupa," sinis Raine merasa kesal karena pertanyaan Ismy seolah meremehkan kemampuan mengingatnya.


"Ini orangnya?" tanya Ismy sambil menunjukkan layar ponselnya yang satu lagi memperlihatkan wajah seseorang yang tengah tersenyum dan Raine sangat mengenal wajah itu.


"Iya dia, kok cepet banget lo dapet?" tanya Raine penasaran dengan Ismy yang malah memutar bola matanya nalas.


"Dia itu anak cheers Asa kali Raine. Masa lo gak tau," jawab Ismy setelah menyimpan kembali ponselnya yang tadi membenarkan posisi nyamannya memperhatikan dengan serius wajah berpikir Raine.


"Gak terlalu menonjol dia jadi gue gak kenal," nyerah Raine karena tidak berhasil sedikit pun mengingat wajah cewek itu di setiap penampilan cheers  SMA Asa.


"Sama, gue juga gak pernah liat dia deh," jelas Viola menyetujui jawaban Raine, Ismy kini menghela nafasnya kasar dan mengangguk memaklumkan kedua temannya yang memang jarang perduli dengan hal-hal sepele di sekitarnya.


"Namanya Lana Shenza, dia suka sama Raffa sejak masuk sekolah di Asa," tutur Ismy tanpa di minta mengagetkan Raine yang kini terdiam ditempatnya sambil mengulang kembali beberapa hal perlakuan Lana kepada Raffa tadi siang.


"Lo kenapa melamun Raine?" tanya Viola menyadarkan Raine yang malah menatap kedua temannya di layar ponselnya dengan serius.


"Nampak sih gelagatnya tadi, tapi dia bukan saingan gue," ujar Raine dengan nada bangga akan dirinya yang jelas jauh di atas cewek itu.


"Saingan lo itu cuman Kiya beb, bukan Lana atau yang lainnya," jelas Ismy dengan tenangnya membuat Viola di tempatnya was-was menunggu reaksi Raine.


"Dia lagi dia lagi. Kenapa harus dia sih?" kesal Raine memasang wajah juteknya karena lagi-lagi nama cewek yang membuat Raine tidak habis pikir itu kembali di ungkit Raine.


"Lo tadi gak ada jumpa sama Kiya emang?"


"Ngapain gue jumpa sama dia. Tujuan gue ke Asa kan mau jumpa Raffa bukan dia," emosi Raine karena pertanyaan Viola benar-benar tidak bermutu.


"Lo belum tau Kiya kan Raine? Lo gak pengen tau?" tanya Ismy dengan nada yang terdengar menantang bagi Viola. Keduanya temannya itu menatap serius wajah Raine yang semakin kesal.


"Harus banget?" tanya Raine terdengar tidak berminat dengan tawaran Ismy.


"Kalau lo nolak lo kalah," tantang Viola dengan senyum meremehkannya.


Raine yang mendengar ancaman Viola dan tatapan menantang kedua temannya membuat Raine mau tak mu menyetujuinya. Karena bukan Raine jika tidak berani melakukan hal-hal gila.


"Besok kita akan ketemuan sama dia," ujar Ismy yang kemudian setelah membahas beberapa hal obrolan mereka selesai dengan Raine yang kini tengah menatap datar langit-langit kamarnya.


Hingga sudut bibir Raine tertarik membentuk senyum uang terlihat mengerikan. "See you Raffa," gumam Raffa sambil membayangkan wajah Raffa yang akan hancur nantinya.


Apakah hal itu akan terjadi? Lihat saja nanti.