Bitter Love

Bitter Love
Prolog



Sorak sorai kehebohan yang terjadi di lapangan SMA Melati membuat Raine beserta kedua temannya, Ismy dan Viola hanya menatap datar kehebohan itu sambil meneguk minum mereka untuk menghilangkan rasa kering di tenggorokan mereka setelah lelah meneriaki sekolah mereka untuk memberi semangat. Namun nyatanya lagi dan lagi SMA mereka kalah dengan SMA Asa Bangsa. Dan hampir semua sekolah mengakui kehebatan bermain SMA itu.


"Udah nemuin target baru Raine?" tanya Viola setelah mendudukkan dirinya di sebelah Raine yang sejak tadi tak melepaskan pandangannya pada kehebohan di lapangan sekolah mereka.


"Udah dong. Orangnya bahkan ada disini gak perlu di cari-cari lagi." Bukan Raine yang menjawab pertanyaan Viola, melainkan Ismy yang kini dengan senyum lebarnya melihat ke arah satu sosok lelaki yang tengah tertawa lepas bersama timnya di tengah lapangan.


"Siapa?" tanya Viola penasaran mengikuti arah pandangan kedua temannya lalu setelahnya ia mengerutkan kening bingung.


"Yang mana?" tanya Viola lagi ternyata tidak peka akan tatapan kedua temannya yang jelas-jelas mengarah pada sosok dengan punggung nomor 16 anak basket SMA Asa Bangsa.


"Yang paling ganteng di antara mereka," jawab Ismy tidak melepaskan sedikit pun matanya dari setiap gerak gerik orang tersebut.


"Boleh juga selera lo Raine," ucap Viola yang langsung tersadar dengan memberikan cengiran lebarnya menatap Raine yang kini tengah menatapnya tajam.


"Emangnya lo, yang ganteng di mata lo kan cuman oppa Korea lo itu," kesal Ismy menyuarakan isi hati Raine yang saat ini malas berdebat dengan temannya yang satu itu.


"Yeee, oppa gue ganteng lah jelas. Lo aja yang gak mau ngakuin," balas Viola membela dirinya. Raine yang berada di antara keduanya mendengus sebal mendengar perdebatan kedua temannya yang selalu saja tidak pernah bermutu.


"Udah debatnya?" tanya Raine datar menatap gantian temannya yang langsung mengangguk takut karena Raine itu wajahnya seperti dewi tapi jika marah sangat menyeramkan.


"Cabut, ganti baju," ujar Raine langsung bangkit dari duduknya, menyampirkan tasnya ke bahu, lalu berjalan lebih dulu meninggalkan Ismy dan Viola yang kini saling pandang sebentar dan langsung menyusul langkah Raine yang sudah menghilang di lorong koridor menuju ke ruang ganti pakaian.


Selesai mereka mengganti pakaian cheers mereka dengan pakaian sekolah, kini mereka tengah berjalan menuju kelas mereka dan menjadi pusat perhatian.


Mereka bertiga adalah Ratu sekolah SMA Melati, ketiga cewek dengan wajah di atas rata-rata dan berkuasa di sekolah ini. Pesona mereka tidak ada yang bisa menolak terlebih lagi jika mereka bertiga sudah berjalan di koridor, terlihat seperti model yang tengah melakukan catwalk. Bukan terkesan lebay namun secantik itulah mereka bertiga terlebih seorang Raine darah blasterannya membuat Raine jauh lebih cantik.


"Lo gak niat nyamperin dia Raine?" tanya Ismy setibanya mereka di kelas dan mendudukkan diri mereka di kursi masing-masing dengan keadaan kelas yang masih sunyi karena teman mereka yang lain masih heboh di luar.


"Kalau mangsa udah masuk kandang langsung terkam aja Raine," saut Viola menambah kan bumbu agar Raine yang sejak tadi terlihat diam memikirkan tindakannya sebelum lelaki yang beberapa hari ini sangat susah untuk di temui nya itu bisa untuk ia kurung dalam permainannya.


"Heh lo yang pake kacamata," teriakan Raine yang mengarah kepada sosok lelaki dengan gaya cupunya yang tengah melintas di depan kelas mereka membuat Ismy juga Viola saling pandang kebingungan dengan tingkah tiba-tiba Raine yang tidak pernah mereka duga dari dulu.


"I...iya, kenapa... manggil gue?" tanya cowok itu takut-takut setibanya ia di hadapan Raine yang menciptakan decakan sebal keluar dari mulut Raine.


"Anak SMA Asa udah pulang belum?" tanya Raine to the point.


Cowok itu yang memang baru dari lapangan langsung menggeleng pelan membuat Raine memutar bola matanya malas. "Kalau gue tanya tuh jawab," sentak Raine membuat cowok itu terkejut karena suara tinggi Raine di depannya.


"Belum pulang, mereka masih ganti baju," jawab cowok itu sambil menunduk ketakutan. Ismy juga Viola yang melihat itu meringis pelan. Kasian melihat cowok itu tengah berhadapan dengan Raine yang saat ini terlihat mengerikan.


"Bagus. Lo pergi sana," usir Raine dengan nada datarnya sambil menunjuk pintu dengan dagunya.


Setelah cowok cupu itu keluar kelas sambil berlari, Raine langsung menggeledah tasnya mencari sesuatu yang saat ini di butuhkannya untuk memulai perkenalannya dengan targetnya yang akan berkesan untuk cowok itu.


"Lo mau ngapain Raine?" tanya Viola penasaran, melirik Ismy yang mengangkat bahunya tidak tau lalu memilih dengan seksama melihat Raine yang sibuk dengan pulpen dan telapak tangannya yang entah apa ditulis Raine di sana.


"Lo nulis apa sih Raine?" kepo Viola bangkit dari kursinya mendekati Raine yang langsung menutup tangannya.


"Entar kalian juga bakal tau."


Setelah itu Raine langsung pergi keluar kelas kembali meninggalkan kedua temannya yang kini sudah di buatnya penasaran dengan tingkah Raine yang aneh saat ini.


"Ikut aja lah," pasrah Ismy segera menyusul Raine dengan Viola yang mengangguk mengiyakan saja.


Entah kejutan apa yang akan di buat Raine hari ini.


Sesampainya Ismy dan juga Viola di koridor lantai satu, mereka langsung mendapati sosok Raine yang tengah bersandar di dinding koridor sambil melihat ke arah parkiran sekolah mereka.


"Lo ngapain di sini?" lagi lagi Viola benar-benar tidak bisa menahan rasa penasarannya. Raine yang mendengar tuntutan pertanyaan penasaran Viola hanya melempar senyum tipisnya sambil melihat ke arah rombongan tim basket SMA Asa.


"Raffa," teriakan Raine yang tiba-tiba sambil berlari pelan ke arah rombongan itu membuat Ismy dan Viola kini paham. Ternyata Raine sudah memulai permainan mereka yang entah untuk ke berapa kalinya.


"Lo yang namanya Raffakan? Raffasya Fakhril?" tanya Raine yang berhasil menciptakan kerutan samar di dahi cowok itu serta sorak sorai heboh dari teman-temannya yang ternyata juga ikut berhenti.


"Cabut deh kalian," suruh cowok itu terdengar tegas sehingga membuat semua teman-temannya bersorak kecewa melanjutkan langkah mereka menuju kendaraan masing-masing.


Setelah cowok di hadapan Raine itu memastikan semua teman-temannya keluar dari area SMA Melati dan hanya tersisa satu orang cowok di antara mereka yang kini terlihat bingung, membuat manik mata cowok itu akhirnya kembali menatap sosok Raine di depannya yang sejak tadi menilai cowok yang cukup di gilai di SMA Asa itu.


"Iya, gue Raffa. Kenapa?"


Mendengar pertanyaan cowok yang Raine panggil Raffa itu, ia langsung mengulurkan tangannya di hadapan Raffa sehingga membuat Raffa menatapnya keheranan tetapi Raine tidak perduli akan hal itu.


"Nama gue Raine, Raine Alexandra," ujar Raine dengan senyum secerah matahari siang ini yang sejak tadi sudah menyengat kulit mereka.


Dengan masih merasa kebingungan sekaligus keheranan dengan Raine yang sedikit pun tidak melunturkan senyumnya, Raffa menyambut uluran tangan Raine yang tanpa Raffa duga langsung digenggam erat sehingga membuat Raffa terkejut melihat wajah dengan senyum lebar di hadapannya.


"Senang berkenalan dengan lo," setelah itu Raine dengan langkah anggunnya berjalan melalui Raffa yang masih belum bisa mencerna keadaan yang beberapa detik tadi terjadi.


Lain halnya dengan Raine, kini ia malah meloncat kegirangan bersama kedua temannya dan bertos ria sambil menatap punggung Raffa dari tempat persembunyiannya.


"Let's start play the game," gumam Raine, Ismy dan Viola dengan senyum kecil yang terlihat mengerikan berhasil terulas di wajah cantik mereka.


Sedangkan Raffa kini terlihat membulatkan matanya terkejut saat melihat di tangannya terdapat tulisan dengan sebuah kalimat yang jelas Raffa tahu darimana asalnya.


"Cewek gila," maki Raffa dan di tempatnya Raine masih bisa mendengar hal itu. Dengan senyum sinisnya Raine menatap punggung Raffa yang berjalan menuju mobilnya bahkan karena kesalnya Raffa tidak sadar sudah meninggalkan temannya yang kebingungan.


"Welcome in my life, Raffa," gumam Raine sambil menggenggam erat tangannya yang terdapat tulisan yang kini juga sudah tertulis di tangan Raffa yang mulai meninggalkan sekolahnya.