Bad Boy

Bad Boy
5. jatuh



mengingat ekspresi fany yang lucu membuat gue jadi senyam-senyum sendiri, sumpah gue gapaham kenapa gue sejahat ini, tapi gue bahagia melihat fany menderita. HAHA


saat perjalanan menuju toilet dengan melewati koridor sekolah, saat gue belok ke kanan seseorang dengan tubuh yang lebih tinggi dari gue menghantam bahu gue dan membuat gue terjatuh


"aawwhh" gue terjatuh dan menunduk serta memegang bahu yang terhantam


gue ga melihat siapa yang menabrak, yang pasti saat gue menunduk dia menjulurkan tangannya, tanpa melihat langsung gue meraih tangan itu dan orang itu menarik gue agar gue berdiri ke posisi semula


"maaf ya" gue menunduk merapikan baju lalu mengangkat kepala dan melihat siapa yang menabrak gue


"alex" sambung gue


gue membulatkan mata dan langsung pergi dari hadapannya, namun tangan alex meraih tangan gue


"ada yang luka ga?" tanya alex dengan nada lembut yang belum pernah gue dengar sebelumnya dari mulut alex


"ha?" gua menganga sambil menaikkan alis


"budek, ada yang luka ga?"


gue menempelkan tangan gue didahi alex dan merasakan suhu tubuhnya


"lu ga sakit kan?"


alex menepis tangan gue


"apaan sih lu, orang ditanya malah balik nanya"


"yeh santay kali" gue memutar bola mata malas


"ada yang sakit ga? sini aa tiupin biar sembuh" nada bicara alex kali ini benar-benar membuat gue ingin menonjok bibirnya


"jijik"


gue langsung meninggalkan alex dan menuju ke toilet wanita


saat selesai berurusan dengan toilet, gue kembali ke kelas dan duduk disamping fany. terlihat fany benar-benar marah soal tadi gue suruh puji duduk disampingnya


"jutek amat neng ntar galaku aja" gue menyolek dagu fany


"bacot" balas fany sambil menepis tangan gue


"etdah galak bener kaya anjing kurang asupan"


fany diam tidak menjawab, ia hanya sibuk membaca novel sambil nyender ke tembok. gue memikirkan cara agar fany ga ngambek lagi, tapi gimana? eh gue punya ide


"bali kuy"


fany hanya melirik sinis tanpa menjawab, dan tatapannya langsung kembali ke novel yang dibacanya


"aing traktir deh"


"eneng fany gausah bawa duit, bawa koper aja sama nyawa, semua urusan duit ditanggung yang ngajak"


"naek apaan?" tanya nya jutek


"naek pesawat lah masa naek sendal"


fany ingin sekali ke bali, ia tidak pernah melihat pesona bali yang indah, memang waktu gue kesana, gue ngerasa kayak bali harus dijaga banget biar ga di ambil oleh negara lain gue ngerasa sayang banget sama bali padahal gue orang bandung ga ngerti deh sama diri gue, bali see you.


"oh"


"mau ga?" gue menyenggol bahu fany dengan bahu gue


"yayaya"


"so?"


"yaudah iya"


"tapi jangan ngambek lagi dong, smileee"


"males"


"ah yaudah gajadi kalo gamau senyum"


"lah lah, yaudah ni senyum" fany mulai mengukir sebuah senyuman di bibirnya


"pantes puji ampe klepek-klepek ternyata sodara gue cantik juga ya haha"


"ah kan males ah diledekin mulu"


"ngomongin apa aja tadi sama dia?" tanya gue sambil tersenyum meledek


"gatau ah lun males deh dia lagi dia lagi, giliran udah senyum diledekin lagi


"yaudah iya maaf gitu doang aja ngambek baperan dasar"


"bukan baperan, gue gamau bahas dia lagi pokoknya awas aja lu sampe bahas dia apalagi ledekin gue sama dia"


"ohh udah berani ngancem"


"bukan gitu luna, tapi.. ah bodo lah"


"iya-iya gue paham, yaudah gue minta maaf ya sodara ku yang cantik jelita, janji ga ngambek lagi" gue mengacungkan kelingking


fany pun menyatukan kelingkingnya dengan kelingking gue sebagai tanda bahwa dia udah ga ngambek lagi


mana nih likenya biar aku makin semangat lanjutin ceritanya, sampai ketemu di episode selanjutnya, terimakasih sudah membaca.