Bad Boy

Bad Boy
21. kecewa



libur setelah pelepasan disekolah menjadi suatu kebahagiaan bagi murid-murid.


gue sedang berhadapan dengan tv sambil chattan dengan ka bima


"lu gamau kemana gitu?" tanya fany yang tiba-tiba datang


"paling malem"


"yaudah gue jalan ya"


"mao kemana lu?"


"nonton, sekalian ke BreadTalk gue lagi pengen beli roti"


"gue nitip shilin nanti gue ganti duitnya"


"oke"


fany pun pergi meninggalkan gue


tiba-tiba ka bima menelfon gue


"halo?" ucap gue


"siapa nih?"


"luna"


"bukan"


"lah terus siapa?"


"calon ibu dari anak-anak aku"


"yah bisa aja"


"mau keluar jam berapa sayang?" tanya ka bima


"terserah ka bima aja"


"oke jam 8 aku jemput ya"


"pagi?"


"malem lah"


"kirain"


"ini aja udah jam 3 sore"


"ya besok"


"gamau besok ah, kangennya sekarang"


"baru juga ketemu kemaren, udah kangen aja"


"kamu sih pake pelet"


"dih engga astaghfirullah"


"becanda sayang" ucap ka bima sambil tertawa


"kamu udh solat ashar?" tanya ka bima


"belum"


"lah kan udah adzan"


"serius? ko disini belum"


"disini udah tau, baru aja selesai"


tidak lama kemudian adzan pun berkumandang


"eh baru adzan nih ka"


"yaudah aku ke masjid dulu ya"


"okedeh"


ka bima langsung mematikan telfonnya dan gue segera bergegas untuk solat ashar


***


setelah solat magrib gue menunggu ka bima, tapi dari jam 5 sore dia ga bales WhatsApp gue


sampe gue selesai solat isya pun ka bima belum bales WhatsApp gue


"lah, lu gajadi jalan?" tanya fany yang baru saja pulang


fany menyodorkan shilin kepada gue


"gatau, ka bima beloman bales wa gue dari magrib" ucap gue sambil menerima shilin dari fany


"yah parah jadi korban php"


"badmood gue"


gue memberikan uang kepada fany untuk mengganti uang shilin


"udah gausah"


"lah tumben lu" gue terkejut


"kali-kali memberi sama orang yang ga mampu"


"eh sialan gue mampu makanya gue ganti nih"


"maksud gue gamampu jalan beli sama doinya" fany berlari ke kamarnya sambil tertawa meledek gue


"gue tandain muka lu ye fan" teriak gue


gue kembali membuka WhatsApp untuk melihat apakah ka bima membaca pesan gue atau tidak. namun, tetap saja nyatanya zonk


waktu mulai menunjukkan pukul 20:00 gue sudah rapih dari solat isya tadi namun ka bima masih belum membaca pesan dari gue


gue badmood, benar-benar badmood. kalian sama ga sih kayak gue? kalo gajadi pergi tapi tanpa ada alasan sedikitpun.


tidak lama kemudian ka bima menelfon gue lewat WhatsApp


"hallo" ucap ka bima


gue tidak menjawab


"maaf sayang, aku tadi bantuin sherly"


gue terdiam dan membulatkan mata


"sherly mana?" tanya gue


"sherly angkatan aku waktu smk"


"oh, yang waktu itu suka sama kamu"


"apasih lun, aku minta maaf"


"baru juga kemaren ketemu mama, senang-senang sama mama sekarang udah nyakitin hati aja"


"apasi ya Allah luna"


"yaudah lah mau tidur aja, selamat bermesraan"


"aku bisa jela—"


gue mematikan telfonnya


gue benci, benar-benar benci banget sama ka bima gue rasanya pengen nonjok mukanya, tapi..


dicium ajadeh.


gue segera mengganti baju piyama ke kamar. gue melihat notif di handphone ka bima menelfon sebanyak 120x. tapi gue ga peduli, karena menganggu jadi gua silend


gue menuju kamar fany dan mengetuknya


tidak lama kemudian fany membuka pintu dan melihat gue dengan tampang terkejut


"lu kenapa luna"


fany mengusap air mata yang ada di pipi gue


"gue boleh masuk?"


gue pun duduk di atas kasurnya fany begitupun dengan fany


"kenapa lu? ka bima?" tanya fany antusias


gue mengangguk


"kenapa dia?"


"dia deket lagi sama mantan gebetannya"


"ka sherly?" fany menaikkan kedua alisnya


"iya"


"wah benar-benar tuh cewe"


"dia gajadi jalan sama lu sampe ga ngabarin lu cuma gara-gara ka sherly?" sambung fany


"iya"


"gabisa dimaafin"


ucap fany sambil mengepal tangannya


"lu ngapa sih" ucap gue


"kesel gue, udah bikin lu nunggu"


"nunggu apa"


"ya dulu kan lu ngejar-ngejar dia sampe bikin lu nunggu tu berapa tahun, lagi juga ngapain mau aja disuruh nunggu"


"lu juga ngapain mau aja ngejar alex padahal alex ga respon"


"ya sekarang kan udah jadi milik gue, intinya happy ending"


gue menatap fany sinis


"terus ini gimana dong?"


tiba-tiba ada yang mengetuk gembok gerbang


"eh siapa tuh" ucap fany


"liat yuk" ajak gue


"yuk"


gue dan fany pun turun ke bawah untuk mengecek


gue membuka pintu dan..


"ngapain kesini?" tanya gue jutek


gue menyilangkan tangan di bawah dada


"aku minta maaf, aku bisa jelasin semuanya"


gue terdiam, tiba-tiba ada wanita yang turun dari mobil yang berbeda namun mobilnya berhenti disamping mobil ka bima dan ia berjalan melewati gerbang rumah gue lalu berdiri tepat disamping ka bima


gue membulatkan mata, amarah gue semakin meledak-ledak


"aku ga ada apa-apa kok lun sama bima, bima cuma bantuin aku nganter papah aku ke rumah sakit"


"maksudnya?" ucap gue sambil menurunkan tangan


"rumah aku sama bima satu komplek, tapi semenjak bima pacaran sama kamu aku ga ada perasaan apa-apa sama bima, waktu itu bima emang udah rapih banget dia lewat depan rumah aku dan aku minta tolong sama bima buat anterin aku sama papah aku ke rumah sakit karena penyakitnya kumat"


kini perasaan gue menjadi merasa bersalah


"bima udah cerita semuanya soal kamu marah ke dia, dia minta tolong ke aku buat jelasin semuanya ke kamu. aku juga minta maaf gara-gara aku kalian ga jadi jalan" sambung wanita itu


"masuk dulu ka" ucap gue sambil tersenyum


wanita itu adalah ka sherly, kaila sherly sifabella. primadona angkatan ka bima yang terkenal cantik dan baik. dia sempet ngejar-ngejar ka bima cuman ka bima hanya ingin temenan saja sampai ka bima jadi milik gue akhirnya ke sherly mengalah dan memilih untuk undur diri


"maafin aku ya ka bima udah suudzon, maafin aku juga ya ka sherly" ucap gue


"gapapa kok lun, wajar kalo marah karna bima ga ngasih tau ke kamu sekalinya ngasih tau dia bawa-bawa nama aku"


gue ga ngerti lagi kenapa bisa seposesif dan sebocah ini, marah ke cewe yang baik kaya ka sherly menurut gue suatu perbuatan yang kejam. btw kalo kejam kenapa gue lakuin ya?


"iya ka, maaf banget karna aku udah salah sangka. kalo dari awal ka bima bilang aku pasti izinin kok atau kalo perlu aku ikut ke rumah sakit"


"aku yang harusnya minta maaf, gara-gara aku kalian ga jadi jalan udah gitu berantem pula" ucap ka sherly


"aku ka yang harusnya minta maaf"


"aku lun"


"udah-udah ini kenapa pada ribut sih soal minta maaf doang, intinya kita bertiga saling memaafkan" ucap ka bima


"jadi jalan ga?" ka bima menaikkan alisnya sambil menatap gue


"udah malem tau, aku udah pake piyama"


"kayaknya ada yang abis nangis nih" ka bima menyipit matanya


gue langsung mengusap pipi


"dipipi ga keliatan kok, tapi matanya bengkak tuh, berapa jam nangisin pria tampan?"


"dih apaan sih" ucap gue jijik


ka sherly dan fany tertawa


"kalo luna mau jalan gapapa aku kan bawa mobil sendiri"


"eh bentar aku mau nanya, kalo ka sherly bisa bawa mobil waktu kerumah sakit kenapa minta tolong ka bima?"


"kalo ke rumah sakit pake mobilnya bima lun, tapi aku duduk dibelakang kok sama papah aku karna aku juga ga kepikiran buat ngeluarin mobil dan bimanya maksa-maksa pake mobil dia aja yaudah deh akhirnya aku ngalah. terus pas papah aku udah di rumah sakit aku minta tolong sama bima buat jagain bentar karna aku mau ambil mobil. jadi aku pulang naik ojol dan kerumah sakit lagi pake mobil sendiri"


"dan waktu aku nelfon kamu itu pas sherly pulang" ucap ka bima


"aku ga nanya" ucap gue


"dih apaan sih"


gue, ka sherly, dan fany tertawa kecil karna mukanya ka bima melas


"yaudah lun aku balik lagi ke rumah sakit ya" ucap ka sherly


"astagfirullah, aku sampe lupa bikinin minum" ucap gue sambil menepuk jidat


"nih lagi anak satu diem aja" sambung gue melihat ke fany


"gue lagi aja" ucap fany


"gausah lun, aku juga lagi buru-buru kok"


"tapi keadaan papahnya ka sherly gimana?"


"alhamdulilah udah dipindahin ke ruang rawat, tadi di icu"


"alhamdulilah" ucap gue dan fany bebarengan


"yaudah aku pamit ya"


"serius ka gamau minum dulu?"


"gausah lun makasih"


"gue cabut ya bim"


"iya sher nanti paling gue sama luna nengokin ke rumah sakit"


"okedeh"


"hati-hati ya ka"


"iya lun"


ka sherly meninggalkan kami bertiga


"gue kekamar ya" ucap fany


"iya-iya"


jangan lupa untuk memencet tombol like, silahkan berkomentar yang sopan, dan jadikan novel ini sebagai novel favorit dengan cara memencet tanda love dihalaman novel, terimakasih sudah membaca