
Disinilah mereka, Aletta dan Alvaro. Diruang keluarga kediaman Aletta.
"aw aw, pelan-pelan sayang perih" ucap Alvaro saat Aletta membersihkan luka di lengannya. Aletta tidak menjawab, ia hanya fokus dengan tangan Alvaro yang sedang diobatinya.
"maaf sayang, janji ga aku ulangi lagi" sambung Alvaro, namun dibalas dengan tekanan kuat pada lukanya yang membuatnya meringis kesakitan.
"makanya, bawa motor tuh pelan-pelan" omel Aletta.
"gimana ga kebut-kebutan, kamu gada di sekolah tiba-tiba dapat kabar kamu sakit. Eh taunya pas disamperin anaknya lagi drakoran" cibir Alvaro. Ya, Aletta beralasan sakit agar cepat pulang hanya untuk menghindari Alvaro. Aletta hanya diam, dia membereskan peralatan yang ia pakai mengobati Alvaro dan beranjak dari tempat duduknya.
"mau kemana, masa aku ditinggal" Alvaro mencegah tangan Aletta agar tidak pergi.
"bentar, naruh ini dulu" sembari menunjukkan kotak p3k yang ada ditangannya, Aletta melanjutkan langkah.
Aletta menghampiri Alvaro kembali dengan membawa nampan yang berisi teh hangat dan beberapa cemilan.
"ihh pacar aku ko repot-repot si buatin aku minum" ucap Alvaro berniat menggoda pacarnya.
"ish apasi, kalau gamau yauda buat aku aja" balas Aletta sembari mendengus.
"ututututuut tayang aku, jangan marah-marah terus dong nanti aku tambah cintaaa" Alvaro merentangkan tangannya berharap Aletta mau masuk dalam pelukannya.
Sepertinya dewi fortuna tengah berpihak pada Alvaro, sang kekasih dengan suka rela masuk dalam rengkuhannya dan menduselkan kepalanya di dada bidang Alvaro.
"jangan marah-marah lagi ya" ucap Alvaro sembari mengucap kepala Aletta yang tepat beraada dibawah dagunya.
"maaf kamu jadi nabrak gini gara-gara aku" ucap Aletta tiba-tiba dengan suara yang serak. Rupanya Aletta sejak tadi menangis dalam dekapan sang pacar.
"astaga sayang, jangan nangis ih. Ini bukan gara-gara kamu, ini musibah ajaa" Alvaro mengusap punggung Aletta berusaha menenangi pacarnya.
"lain kali, jangan main-main masalah kesehatan sayang. Aku panik, khawatir sama keadaan kamu"
"iya maaf, ga diulangi lagi" jawab Aletta lirih.
"mauuu" Aletta menjawab dengan semangat dan melepas pelukannya.
"yaudaa, besok malam aku jemput ya kita main kesana" Alvaro tampak tersengum melihat kekasihnya yang senang dan yang paling penting, sudah tidak marah lagi kepadanya.
...****************...
Malam yang ditunggu-tunggu Aletta sudah tiba. Ia sedang sibuk memilih baju yang akan dikenakannya. Jangan tanyakan seperti apa kondisi kamarnya saat ini, sangat berantakan.
Setelah memilih baju dengan waktu yang cukup lama, pilihannya jatuh kepada celana jeans biru dengan atasan kaos putih lengan panjang dan sepatu sneakers putih pula. Sangat simpel, tapi memilihnya membutuhkan waktu yang lama. Setelah Aletta memilih pakaiannya, kini waktunya untuk memoles wajah. Neutral Look, adalah ciri khas Aletta. Dengan tampilan makeup yang natural saja, Aletta sudah mampu memukau banyak orang.
"Queen, sayang ini Varo udah nungguin" Bundanya mengetuk pintu kamar Aletta.
"iya bund, suruh tunggu sebentar. Mau pakai sepatu dulu" Aletta menjawab dari balik pintu kamarnya.
'tuk tuk tuk'
Suara langkah kaki menuruni tangga. Ya, itu adalah Aletta. Dengan balutan baju kaos simpel dan ditambah tas kecil menambah kecantikannya.
"ayoo aku udah siap" ucap Aletta sembari menghampiri Alvaro yang masih duduk di sofa ruang keluarga.
"ayo, pamit sama bunda dulu" Alvaro berdiri beranjak dari sofa dan berjalan menuju dapur tempat bunda Reni sedang membuat jus sehat andalannya.
"bunda, kita berdua pamit dulu ya. Varo izin bawa Aletta main" ucap Alvaro meminta izin pada Reni.
"iyaa, kalian berdua hati-hati ya. Varo bunda titip anak bunda ya, kalau bandel cubit aja gapapa" balas Reni dengan candaan diakhirnya.