Backstreet Relationship

Backstreet Relationship
Chapter 1



Aletta Aqueena Atmaja, ia terlahir di tengah-tengah keluarga berada dan harmonis. Ia merupakan anak kedua dari dua bersaudara. Ayahnya bernama Ronal Atmaja dan Bundanya bernama Reni Salsabila Atmaja. Ayahnya adalah seorang pengusaha sukses yang sudah mendunia. Perusahaan ayahnya sudah tersebar di seluruh benua. Tak heran jika barang yang dikenakan Aletta hampir semuanya keluaran desiner ternama dunia. Namun itu tidak membuat seorang Aletta menjadi sombong. Hal itu justru menjadikan Aletta selalu bersyukur dan memiliki kerendahan hati yang tulus.


Aletta mempunyai kakak laki-laki bernama Ariel Arkana Atmaja. Selisih usia Aletta dengan sang kakak cukup jauh, yakni enam tahun. Sekarang Ariel bekerja membantu ayahnya di salah satu cabang perusahaannya di luar negeri. Ariel sangat sayang dan possesive terhadap adiknya Aletta. Bahkan saat ingin menjalin hubungan pacaran pun Aletta harus lapor dahulu kepada kakaknya dan Ariel akan mengetes seberapa jauh sayang dan kesiapan calon pacar adiknya untuk menjaga dan menyayangi Aletta.


...****************...


Alvaro Gavienedra Hasan, lelaki dengan paras rupawan bak dewa Yunani yang menghiasi wajahnya. Rahang tegas, mata tajam, dan hidung mancung semakin memperjelas ketampanan yang ia miliki. Alvaro dikenal sebagai siswa yang pintar namun jarang sekali bicara dan tidak mudah akrab dengan orang baru. Alvaro terkenal dengan sifat dingin yang melekat sejak ia kecil. Ia jarang berbicara, tapi sekalinya berbicara semua akan diam mendengarkan ucapan yang keluar dari mulut seorang Alvaro.


Semua sikap cuek, dingin dan emosian yang ada pada diri Alvaro akan hilang ketika ia bersama sang pujaan hati. Mereka sudah berpacaran sejak baru memasuki bangku sekolah menengah akhir. Namun tak ada satu orang pun yang mengetahui hubungan yang terjalin antar mereka, kecuali sahabat dan keluarganya.


...****************...


...•Kediaman Keluarga Atmaja•...


Mentari perlahan mulai bergerak muncul ke permuakaan. Menyinari seluruh pelosok negeri. Suara burung silih berganti bersiulan merdu, diiringi hembusan udara sejuk pagi hari. Riuh terdengar bising seorang ibu yang tengah membangunkan anak gadisnya.


"Sayang.....bangun ini sudah jam 06.30 kamu akan terlambat kalau tidak bangun sekarang"


Gadis yang bernama Aletta tersebut mulai terusik dengan perkataan ibunya yang membangunkannya.


"Bentar Bun, Queen masing ngantuk. Lima menit lagi" jawab Aletta, terdengar suaranya kurang jelas karena tertutup selimut tebal miliknya.


"Heh, gada lima menit lima menitan. Ini udah siang sayangg kamu bakalan telat. Bangun nggak" Sembari menepuk pundak putrinya agar terbangun.


Namun nihil, semua cara sudah dilakukan, Aletta belum kunjung bergerak dari tempat tidur. Terlintas dalam benak Reni bundanya, satu cara ampuh yang akan membangunkan Aletta.


"Aletta Aqueena Atmaja, kalau kamu ga bangun sekarang Bunda laporin ke Alvaro ya kamu tadi malam begadang sampai jam 2 nonton drakor" dan benar saja mendengar nama Alvaro, Aletta dengan cepat bangun dari mimpi indahnya.


"Yah.... Bunda jangan gitu dong. Kan bunda tau drakor tuh seru jadi Queen jadi begadang deh" jawab Aletta dengan kesadaran yang masih belum sempurna.


"Makaknya, kamu kalau mau nonton drakor ya kira-kira ajalah Queen. Jangan sampai begadang kaya begini" omel Reni bundanya.


"Iya bun, Queen janji ga begadang lagi" balas Aletta.


"Ga percaya bunda, kalau kamu begadang lagi gimana?"


"Kalau Queen begadang lagi ya Queen janji lagi ga begadang" jawab Queen dengan cengiran tanpa dosanya.


Rena hanya bisa menggelengkan kepala melihat anak gadis satu-satunya itu.


"Yaudah sana kamu cepetan mandi sana. Sebentar lagi Alvaro bakalan dateng. Bunda gamau ya bantu kamu nanti kalau di tanya kenapa telat" Rena kemudian meninggalkan Aletta yang masih duduk di atas ranjang queen size miliknya.


***


Di lain sisi, Alvaro Gavienedra Hasan kini tengah menyiapkan kendaraanya untuk menjemput sang pujaan hati berangkat sekolah. Alvaro terlihat begitu cool dengan seragam yang di keluarkan, dipadukan dengan jaket kulit hitam yang melekat pas di tubuh tegapnya. Rambutnya yang sedikit berantakan menambah kadar ketampanan seorang Alvaro.


Setiap hari ini merupakan rutinitas baginya untuk menjemput sang kekasih. Jam sudah menunjukkan pukul 6.30 dan itu artinya sekolah akan dimulai satu jam kemudian.


Dikarenakan jarak sekolah dengan rumahnya yang cukup jauh, ditambah ia harus menjemput kekasihnya ia berangkat satu jam lebih awal.


Alvaro mulai melaju meninggalkan rumah megah tempat tinggalnya. Dengan kecepatan sedang Alvaro perlahan membelah jalanan ibu kota yang sedikit macet. Namun dengan keahlian bermotor yang ia miliki, ia dapat dengan mudah melesat ditengah padatnya kendaraan yang berlalu lalang.


Dua puluh menit berkendara, membelah jalanan ibu kota. Kini Alvaro telah sampai di rumah Aletta, kekasihnya. Satpam rumah Aletta yang sudah mengenal Alvaro, bergegas membukakannya gerbang.


"Den Varo mau jemput neng Aletta ya. Tunggu aja ya den non Alettanya belum keluar" ujar mang Asep ramah kepada Alvaro.


Alvaro membalas mang Asep dengan senyuman kecil. Ingat, senyuman kecil yang bahkan nyaris tidak bisa dikatakan sebagai sebuah senyuman.


Mang Asep yang sudah hafal sifat Alvaro hanya bisa mengelus dada sembari berucap "untung den varo kasep"


Alvaro kemudian memarkirkan motornya di depan garasi. Kemudian ia berjalan masuk kedalam rumah Aletta. Rena yang tengah menyiapkan sarapan sedikit terkejut dengan kedatangan Alvaro yang tiba-tiba tanpa sepatah katapun.


"Ih Alvaro kebiasaan deh, Bunda jadi kaget kan. Untung bunda ga punya riwayat penyakit jantung" ujar Rena sembari mengelus dadanya melihat Alvaro yang duduk di meja makan.


Tak lama dari itu, Aletta kini menuruni satu persatu anak tangga dengan tergesa-gesa. Sembari menenteng sepatunya, Aletta menuju meja makan untuk menemui Bundanya.


"Tuh orangnya yang ditunggu-tunggu udah siap" Rena menunjuk Aletta menggunakan dagunya.


"Pagi semuanya" melihat keberadaan Alvaro yang tengah duduk anteng di meja makan menciutkan seorang Aletta.


"Ayo Queen, sarapan dulu baru berangkat sekolah"


"Bun sarapannya nanti di sekolah aja ya. Ini udah mau telat nanti kita di hukum lagi" jawab Aletta sembari melirik Alvaro yang tengah menyantap sepotong roti selai coklat.


"Gada ya Aletta Aqueena, kamu pasti lupa. Nanti maag kamu kambuh sayang" ujar Rena


"Yah bun, Queen janji kok bakalan sarapan" rayunya lagi. Namun melihat tatapan mata yang diberikan Alvaro membuat Aletta seketika ciut dan duduk di kursi sebelah Alvaro.


"Sarapan" satu kata yang mampu membuat keras kepala Aletta menjadi lunak. Aletta kemudian mengambil roti yang telah bundanya siapkan.


Meja makan dihiasi dengan kesunyian, sebelum Ronal ayah Aletta datang.


"Wihhh dah rame aja nih. Ayah telat yaa" ujar Ronal mencairkan suasana.


Aletta yang sudah selesai memakan sarapannya beranjak dari duduknya. "Ayah telat, Queen udah selesai sarapan. Queen berangkat dulu ya nanti terlambat" Queen menyalimi tangan kedua orang tuanya kemudian menarik Alvaro untuk berangkat sekolah.


***


Selama perjalanan menuju sekolah, antara Aletta dan Alvaro tidak ada yang memulai pembicaraan. Sebenarnya Aletta ingin memarahi Alvaro karena melajukan motor dengan kecepayan yang tinggi. Namun Aletta tau, sekarang Alvaro sedang dalam keadaan marah.


Tak terasa sampai sudah di warung bu Surti yang berada di belakang sekolah SMA Harapan Bangsa. Di tempat itulah, Alvaro setiap hari menurunkan Aletta.


Aletta tidak mau hubungan mereka diketahui oleh semua orang. Ia lebih memilih hubungannya dirahasiakan saja. Entah apa alasannya


Alvaro selalu saja mengatakan ia ingin hubungannya di ketahui banyak orang. Agar Aletta tidak ada yang berani mengganggunya. Secara Alvaro merupakan pentolan sekolahnya dan tentunya juga ketua geng motor yang banyak di takuti di kota itu.


Alvaro menghentikan motor sportnya, ia kemudian menghadap ke belakang melihat Aletta yang juga akan turun dari motor tersebut.


Ketika Aletta sudah berhasil turun, ia kemudian menyuruh Aletta mendekat ke arahnya menggunakan gerakan tangan. Alvaro kemudian membukakan Aletta helm, karena Alvaro tau Aletta sering sekali kesulitan membuka helm.


Setelah membukakan Aletta helmnya, Alvaro kembali melajukan motornya menuju parkiran sekolah. Dan Aletta mulai berjalan memasuki gerbang SMA Harapan bangsa.


***


Sesampai di parkiran, Alvaro bertemu dengan sahabatnya yang sudah menunggu di atas motor mereka masing-masing.


"Wihhh pak bos dah dateng nih. Bu bos mane" ujar Damian Mahendra sahabat Alvaro yang mempunyai sifat berbanding terbalik dengannya. Damian sangat suka tebar pesona kepada siswi SMA Harapan Bangsa.


"Hmm" Alvaro hanya menanggapi pertanyaan Damian dengan deheman saja.


"Gue udah nanya baik-baik lo malah jawab gitu. Ga like gue" balas Damian dengan sedikit mendrama.


"Heh Dam, jan gitu geli gue lieat muka lo melas kek pengemis" celetuk Ricko yang bergidik melihat drama Damian.


"Udah diem lo kang cilor" balas Damian tidak terima dirinya dikatai mirip pengemis.


"Ye....ngatain kang cilor, lo sendiri kang cilung" balas Ricko tak mau kalah lagi.


"Udah-udah lo bedua kagak ribut sehari aja ga bisa apa, malu tuh ama anak tk bisa ngalah" ujar Bimo yang paling bijak dan pemikirannya dewasa diantara mereka berenam.


Disisi lain, Aletta baru saja memasuki kelasnya. Dia terlihat sedikit lesu yang membuat beberapa teman sekelasnya termasuk para sahabatnya mengernyitkan dahi melihat Aletta.


Pasalnya, jarang sekali melihat Aletta yang seperti tidak memiliki gairah hidup itu.


"Queen gueee, lo kenapa. Sini cerita cantik" ujar Salsa sahabat Aletta yang sedikit centil.


"Letta, my baby kamu kenapa sini cerita sama aa Irfan. Aa Irfan selalu bersedia mendengar keluh kesahmu" ujar Irfan teman kelas Aletta yang friendly.


"Yeee Ujang, semua aja lo panggil baby. Gue jitak juga nih pala lo" ujar Nindia teman Aletta yang juga sering di goda oleh Irfan, Sewot.


"Aduh, neng Nindi juga mau di panghil baby ya. Sini-sini sama aa Irfan yang paling ganteng se SMA Harapan Bangsa" ujar Irfan dengan tingkat kepedean yang tinggi.


"Heh upil Anoa, lo bisa diem kaga sih dari tadi gue denger lu nyerocos mulu kek bebek kawin" kini giliran Karin si gadis tomboy sahabat Aletta yang membuka suara.


Aletta yang melihat teman-temannya ribut, menelungkupkan wajahnya di sela kedua lengannya. Sembari menghembuskan nafas dalam dan panjang, Aletta menegakkan kembali badannya.


"Lo kenapa, pagi-pagi udah kusut begitu. Lo lagi ada masalah?" Tanya Rika sahabat Aletta yang paling baik dan pengertian.


"Hmm, Alvaro dari tadi diemin gue terus. Keknya dia marah ama gue" keluh Aletta.


"Emang Varo marah gegara apa?"


"Gue tadi malem biasalah drakoran sampai jam dua" jawab Aletta dengan sedikit cengiran khasnya.


"Yeuuuu si eneng, pantes aja Varo marah. Lo kalau udah ketemu drakor gabakal inget waktu" kini giliran Salsa yang nyaut sembari menoel pundak Aletta.


Tak lama berselang, bel sekolah sudah berbunyi menandakan jam pelajaran pertama akan segera dimulai. Aletta dan para sahabatnya yang tadi berkumpul di meja Aletta, satu persatu bubar dan kembali duduk ke tempat mereka masing-masing.


***


Beberapa jam sudah berlalu, kegiatan belajar mengajar di SMA Harapan Bangsa akan di jeda terlebih dahulu dengan dibunyikannya bel pertanda istirahat. Siswa bergerombolan keluar dari ruang kelas mereka. Ada yang menuju perpustakaan, lapangan dan juga tentunya banyak yang menuju kantin.


Aletta dan sahabatnya contohnya, mereka beriringan berjalan menuju kantin. Sepanjang koridor kelas 12, tak jarang terdengar suara sapaan kaum adam yang di peruntukkan untuk Aletta dan sahabatnya.


"Salsaaaaa sekarang yang pesen makan lo ya sama gue. Ntar Queen ama Rika yang nyari meja" ujar Karin kepada Salsa.


"Lo bedua mau makan apa" tanya Salsa kepada kedua sahabatnya Aletta dan Rika.


"Gue bakso, sama es teh hangat aja ya" ujar Aletta.


"Yeeeeu si upil kebo malah ngelawak. Mana ada es hangat Queen" ujar Karin sedikit gemas dengan tingkah sahabnya yang satu ini.


"Yaudah Es teh manis, sama baksonya yang puedeeees banget"


"Gue samain aja, tapi baksonya kaga pedes" ujar Rika.


Salsa dan Karin kemudian berjalan menuju outlet mang Ujang penjual bakso di kantin SMA Harapan Bangsa.


"Mang Ujang, Baksonya 4 ya. Yang satu puedeees banget yang tiganya biasa aja" ujar Salsa dengan sedikit nada centilnya.


"Siap neng, mang Ujang buatin dulu" balas mang Ujang sembari mengangkat kedua jempol tangannya.


Lain halnya dengan Salsa, kini Karin tengah memesan es teh manis di bi Tuti. Selesai dengan pesan memesan makanan, mereka kemudian menuju meja yang sudah ditempati Aletta dan juga Rika.


"Yuhuuuu makanan sudah datang" Ujar Salsa dengan suara cemprengnya. Rika yang melihat hal itu hanya memutar bola matanya malas melihat kelakuan sahabatnya yang satu ini.


"Udah cepet, jan banyak gaya lu. Gue laper nih" Tukas Aletta sembari menatap Salsa.


"Iye iye, sabar ngapa mbak. Dari pagi marah-marah bae kerjaanye" cerocos Salsa menanggapi.


Tak jauh dari meja tempat mereka berempat duduk, terlihat enam orang lelaki yang salah satu diantara mereka tengah menatap tajam kearah meja yang di tempati Aletta dan kawan-kawan.


Dia adalah Alvaro sang kekasih. Aletta menyadari tatapan yang diberikan Alvaro dari tadi, namun ia berusaha untuk bodo amat. Meskipun dalam hatinya ia merapalkan doa agar tidak kena marah nanti karena memakan bakso dengan sambal yang banyak.


Aletta menunduk memakan baksonya dengan perasaan yang campur aduk. Sembari berbincang-bincang tak terasa bel masuk sudah mulai kedengaran.


"Yaelah, perasaan gue baru aja duduk di kantin dah bel aja nih" keluh Salsa.


"Yaudah, besok-besok lo bawa bel sendiri aja dari rumah. Biar bisa nyalain kapanpun lo mauu" balas Karin.


"Udah yuk, balik kelas aja. Nanti pak Bambang keburu masuk" ajak Rika mengingatkan temannya.


Mereka berempat kemudian beranjak dari kantin menuju kelas. Di tengah-tengah koridor, Aletta berhenti sembari memegang perutnya yabg terasa mulas.


"Eh guys, kalian duluan aja ke kelasnya gue mau ke toilet bentar ya. Perut gue mulas" ujar Aletta sembari berlari menuju Toilet.


Sesampai toilet, Aletta langsung bergegas dan menyelesaikan urusannya. Selang beberapa menit, Aletta sudah selesai dengan urusan Toilet. Ia kemudian berkaca di wastafeel sebentar kemudian keluar.


Ketika keluar dari toilet, betapa terkejutnya Aletta melihat sosok yang tengah berdiri di depan pintu toilet tersebut.


"Huwaaa Bundaaaaa"


...----------------...


......................


...To be continue...


Halo teman-teman🤗


Makasii ya buat kamu yang udah mau mampir buat baca cerita aku. Btw ini cerita pertama aku, jadi kalau ada kesalahan bisa kasi saran lewat komen yaa😊


Semoga kalian terhibur dengan ceritaku🥰


Sorry kalau banyak typo🙏