
Hari sudah menunjukkan waktu sore. Alvaro baru saja pulang dari kediaman Aletta. Ia mengendarai motor dengan kecepatan sedang. Ia sampai di rumahnya sudah menjelang magrib.
Alvaro memarkirkan motornya kemudian masuk melalui pintu garasi.
"Eh, sayang udah pulang ya" sambut Susi mama Alvaro yang tengah menyiapkan makanan di meja makan. Alvaro menghampirinya kemudian memeluk sang mama.
"Ihh Varo bersih-bersih dulu sana. Jangan deket-deket mama, kamu masih bau" omel Susi mamanya.
"Iya, iya Varo mandi" gerutu Alvaro melepas pelukannya.
"Selesai bersih-bersih, langsung turun ya makan malam. Papa sebentar lagi pulang" ujar mamanya sedikit berteriak.
Tak lama berada dalam kamarnya, Alvaro kembali turun untuk makan malam bersama kedua orang tuanya. Bertepatan dengan sampainya Alvaro di meja makan, Renaldi papanya juga baru pulang bekerja. Tidak menunggu lama, keluarga itu langsung melakukan kegiatan rutinnya, makan malam bersama.
Di tengah kegiatan makan malam tersebut, mama Alvaro membuka suara
"Al, Queen kok ga pernah kamu ajak main ke sini sih. Mama kangen tau udah lama ga ketemu" tanya Susi kepada putranya.
"Besok ma, besok Varo ajak main ke sini deh" jawabnya yang masih fokus dengan makanan di depannya.
"Besok kamu kuliah rencana mau ngambil apa Al?" Tanya Papanya penasaran.
"Gatau pah, Varo pengennya sih ambil bisnis tapi di luar pah" balas Alvaro yang fokusnya mulai teralihkan.
"Bagus dong, papa dukung apapun keputusan kamu" Renaldi memberi suport kepada putranya.
"Ih kok di luar, janganlah. Kalau Al kuliahnya jauh disini mama sama siapa?" Ucap Susi melarang anaknya.
"Kan ada papa ma, lagian Varo juga udh gede ini" jawab Alvaro.
"Tapi kamu tahu papa kan, setiap hari sibuk di kantor terus. Mama kesepian, jangan ya. Kamu kuliahnya di deket sini aja" kembali Susi melarang anaknya.
"Ah udahlah ma, orang Varo juga baru masuk kelas 12 ini. Masih lama lagi ma" balas Varo menenangkan mamanya.
Alvaro kemudian beranjak dari meja makan. Sebelum itu, ia mencium kedua orangtuanya terlebih dahulu. Ya, itu merupakan kebiasaan Alvaro sedari kecil. Walaupun Alvaro terkesan dinginĀ dan cuek terhadap orang lain, beda jika ia bersama dengan keluarganya. Ia akan berubah menjadi Alvaro yang manja, banyak omong dan tentunya bawel dan cerewet.
***
Di tempat yang berbeda, tepatnya kediaman Aletta. Tampak Aletta sedang merebahkan tubuhnya diatas kasur king size nya sembari menatap langit-langit kamar. Ia sedang menunggu pesan dari kekasihnya yang tam kunjung datang.
"Huft, bisa-bisanya Alvaro ga ngabarin gue sampe jam segini" monolognya melirik jam dinding yang bertengger di dinding kamar yang bernuansa putih tersebut. Bosan sudah bergelut dengan pemikirannya, Aletta beranjak dari tempat tidur menuju kamar mandi. Ia berencana melakukan aktivitas rutinnya setiap malam. Yap apalagi kalau bukan skincarean.
Baru saja hendak membasuh muka, suara dering handphone milik Aletta berdering nyaring. Aletta kemudian menunda kegiatannya tersebut dan mengambil hp nya.
Alvaroš
Nama itulah yang tertera di layar ponsel pintar miliknya. Ssgera Aletta angkat panggilan tersebut sebelum si empu akan marah-marah padanya jika panggilannya tidak di angkat.
'Kemana aja si, lama banget ngangkatnya' pertanyaan pertama yang Aletta dengar setelah mengakat panggilan dari Alvaro.
'Udah dari Toilet - ' balas Aletta memutar bola matanya jengah.
'Kan kamu bisa bawa hp kamu ke toilet Queen. Jangan bikin aku khawatir deh" sela Alvaro.
'Ih kamu gila ya, orang toiletnya aja di kamar aku kok malah bawa hp' balas Aletta tak mau kalah.
'Kamu udah makan?' Tanya Alvaro mengalihkan pembicaraan.
'Udah, kamu?' Tanya Aletta balik.
'Udah, barusan aja selesai' jawab Alvaro.
'Eh by, besok pulang sekolah pulangnya ke rumah aku ya. Mama maj ketemu kamu katanya kangen' tutur Alvaro menyampaikan keinginan mamanya.
'Boleh, kebetulan aku juga kanget banget sama mama Susi. Udah lama banget ga ketemu' balas Aletta antusias.
'Yaudah kalau gitu. Sekarang tidur, gada drakoran, gada begadang. Langsung tidur, ingat Aletta Aqueena?' Perintah Alvaro menyuruh Aletta segera tidur.
'Iya, iya tapi ga janji' cicit Aletta namun masih terdengar oleh Alvaro di sebrang sana.
'Langsung tidur Queen, aku denger ya. Nanti aku kesana kalau kamu belum tidur awas aja' ancam Alvaro.
'Yaudah iya aku tidur nih bye!' Ketus Aletta karena dilarang begadnag menonton drama kesumaannya.
Tidak melupakan kegiatannya yang tadi tertunda, Aletta kini tengah asik dengan dunianya sendiri. Membalurkan berbagai macam skincare di area wajah dan tubuhnya yang lain. Selesai dengan kegiatan per Skincareannya, ia menjalankan perintah Alvaro untuk segera tidur. Ia tidak mau esok hari Alvaro akan mendiaminya seperti tadi pagi.
***
Pagi sudah menjelang, mentari dengan gagah menampakkan eksistensinya. Disambut dengan suara siulan burung yang bersahutan. Diiringi embun yang membasahi bumi, juga hembusan angin sejuk pagi hari. Suasana yang sangat nyaman untuk melanjutkan tidur kembali.
Di kediamannya, Alvaro kini tengah bersiap menuruni tangga rumahnya menuju meja makan.
"Pagi ma" sapanya pada Susi mamanya.
Selesai dengan kegiatan sarapannya, Alvaro berpamitan kepada orang tuanya.
"Jangan lupa nanti pulang sekolah ajak Queen main ke rumah ya" ujar mamanya mengingatkan.
"Iya ma, Varo ingat. Varo jalan dulu ma pa" pamitnya pada kedua orang tuanya.
Seperti biasa, sebelum berangkat menuju sekolah, sudah menjadi kebiasaan Alvaro untuk menjemput Aletta. Mereka selalu bersama setiap harinya. Namun anehnya, sampai mereka sudah menduduki bangku kelas 12 tidak ada satupun siswa SMA Harapan Bangsa yang mengetahui hubungan mereka. Yaaa terkecuali sahabat mereka berdua.
"Pagiii" sapa Aletta yang sedari lima menit yang lalu sudah menunggu Alvaro di depan teras rumahnya.
"Tumben kamu siapnya pagi" heran Alvaro melihat Aletta.
"Mck, siap pagi di komentar. Apalagi trlat beuh udah di diemin gue" gerutu Aletta jengah dengan pertanyaan Alvaro tadi.
"Yakan maksudnya kamu jarang banget loh siap pagi gini. Ada apa gerangan si sayang" tanya Alvaro dengan sedikit nada candaan.
"Ihhhh apa si Varo, jangan gila deh" Aletta memberenggut melihat tingkah jahil Alvaro yang menggodanya pagi-pagi.
"Yaudah yuk naik, nanti telat" ajak Alvaro memberi Aletta helm. Alvaro tidak memasangkan Aletta helm seperti perempuan pada umumnya. Karena setiap hati Alvaro menggunakan motor, juga melatih Aletta untuk bisa melepas dan menggunakan helm tanpa bantuan Alvaro.
"Pegangan yang, aku mau ngebut nih" Alvaro sengaja menyuruh Aletta untuk memelukknya.
"Yeu itu mah kamu yang pengen" balas Aletta. Mendengar jawaban dari Aletta membuat Alvaro merealisasikan perkataan yang awalnya hanya untuk mendapat pelukan dari zang kekasih.
Brumm, brumm, brummm (anggap aja suara moto)
Tanpa meminta persetujuan dari kekasihnya, Alvaro melajukan motornya dengan kecepatan tinggi yang membuat Aletta refleks memeluk Alvaro. Karena tujuannya sudh tercapai, Alvaro perlahan memelankan laju kendaraannya sembari menahan senyumnya.
"Heh kamu kalau mau mati jangan ngajak-ngajak dong. Aku masih mau makan indomie kuah pake telur setengah mateng tau" omel Aletta kepada pacarnya.
Mendengar penuturan sang kekasih Alvaro tidak bisa menahan senyumnya.
"Lagian kamu disuruh pegangan malah ga mau"
Alvaro melajukan kendaraannya dengan kecepatan sedang. Dua puluh menit berlalu, kini Alvaro dan Aletta sudah sampai di tempat biasa Aletta turun.
"Udahan aja yu backstreetnya" ujar Alvaro ketika Aletta memberinya helm.
"Ih, jangann. Aku gamau nanti di serang fans kamu yang fanatik. Apalagi si Angel" tolak Aletta.
"Kan ada aku yang jagain kamu Yang" bujuk Alvaro lagi.
"Tunggu waktu yang tepat aja ya" ujar Aletta sembari memainkan matanya agar Alvaro menerima keputusannya. Dengan lemas Alvaro menganggukkan kepalanya. Aletta kemudian berjalan terlebih dahulu menuju sekolah baru disusul oleh Alvaro di belakangnya.
***
Seperti sekolah pada umumnya, Suasana kantin SMA Harapan Bangsa tampak sangat ramai dikarenakan jam istirahat baru saja dimulai.
Di area kantin sudah terdapat Aletta dan sahabatnya. Mereka terlihat tengah menikmati kudapan yang tengah tersaji di depannya.
"Wess lo tau ga, Angel yang tiap hari ngejar-ngejar Alvaro?" Tanya Salsa dengan antusiasnya.
"Tau kenapa" tanya balik Karin. Aletta yang mendengar Salsa hanya menautkan alisnya bingung.
"Kemarin dia ngebully adek kelas yang nyatain perasaan sama Alvaro. Parah banget sii lo aja yang jadi pacarnya Alvaro santai aja" jelas Salsa.
"Yeu mymoonah, kan Queen ama Alvaro backstreet mana ada yg tau kecuali kita-kita" timpal Rika.
"Yaudah si, yang penting Alvaronya ga nanggepin tu adek kelas kan?" Balas Aletta kepada Salsa.
Tidak lama setelah itu, dari meja seberang meja mereka ribut terdengar suara Angel yang tengah menggoda Alvaro.
"Heh, Dam lo minggir sana. Gue mau duduk deket my baby Al" ujar Angel, kelas 12 IPA 3 yang sejak dulu menyukai Alvaro.
"Heh kuyang. Lu jadi cewek genit banget si. Alvaro tuh ga bakal suka sama lu" tukas Ricko jengah melihat kelakuan Angel yang tak ada hentinya.
"Lo diem aja deh, orang Alvaro nya aja dari tadi diem aja" balas Angel sewot. Angel kemudian duduk menyempil diantara Damian dan Alvaro. Dengan tidak tahu malunya, Angel mengglayutkan tangannya manja di lengan Alvaro. Namun detik berikutnya, ia tersentak karena Alvaro yang menarik kasar lengannya dari gelayutan Angel.
"Lepas najis" Alvaro bangkit kemudian berlalu dari tempat tersebut.
Di meja sebelah, Aletta yang melihat semua kejadian tadi, ingin rasanya ia menjambak Angel yang telah beraninya menggoda pacarnya. Aletta kemudian menyusul Alvaro.
...----------------...
......................
...To Be Continue...
Thank you yaaa udah nyempetin waktu buat baca cerita akuš„°**š¤**