
Malam itu, Alvaro meninggalkan Aletta dikediamannya. Aletta tidak mau menemui Alvaro, dan akhirnya Alvaro memutuskan untuk pulang. Alvaro mencoba menghubungi Aletta melalui telpon, tetapi nihil tidak ada jawaban. Bahkan, Aletta sepertinya sengaja mematikan telpon genggamnya.
Keesokan harinya, Alvaro seperti biasa akan menjemput Aletta untuk berangkat bersama menuju sekolah. Ia menjemput Aletta pada jam yang sama, namun sangat disayangkan Aletta telah jalan terlebih dahulu dengan supir yang mengantarnya. Alvaro dibuat semakin pusing dan menyesal telah mengatakan hal yang tadi malam. Jika bisa waktu diputar kembali, Alvaro tidak akan berbasa basi dengan Bunda Aletta.
Mengetahui pujaan hati telah berangkat bersama supir, tanpa babibu, Alvaro bergegas menaiki motornya dan melesat membelah ramainya jalan ibu kota dipagi hari. Sesampainya di sekolah, Alvaro berniat untuk menghampiri Aletta kedalam kelasnya, melihat kondisi dan situasi yang masih memungkinkan mereka untuk saling berinteraksi dikarenakan siswa yang datang baru beberapa orang saja. Baru Alvaro melangkahkan kakinya menuju kelas Aletta, handphonenya bergetar menandakan ada pesan masuk. Menghentikan langkahnya, Alvaro merogoh saku celananya dan mengeluarkan hp.
Pesan tersebut ternyata berasal dari sang pujaan hati, Aletta. Melihat yang muncul dilayar hp adalah kontak kekasih yang diberi nama "Mine ♥️" Alvaro menyunggingkan senyumannya. Senyuman yang tadinya merekah, kini kembali terlihat masam setelah membuka isi pesannya. Bagaimana Alvaro tidak kesal, Aletta memberi pesan 'jangan temui aku di kelas, kalau kamu nekat mending kita putus aja' Kata itulah yang dikirim Aletta kepadanya. Alvaro hanya bisa menghela nafas sembari memasukkan kembali hp yang digenggamnya.
...****************...
Hari itu, Alvaro lalui dengan perasaan yang masih tidak karuan. Pikirannya hanya bagaimana cara meminta maaf pada Aletta. Waktu sudah menunjukkan pukul 15.00, waktunya kegiatan belajae mengajar usai. Kini Alvaro tengah berdiri tegap didepan kelas Aletta menunggu kekasih keluar. Banyak pasang mata terheraan melihat Alvaro berdiri di koridor jurusan mereka. Mereka tidak mau mencari masalah dengan Alvaro pun hanya bisa memendam rasa penasarannya. Cukup lama Alvaro menunggu Aletta yang tak kunjung keluar. Alvaro hanya melihat teman Aletta saja, ia menghampiri dan mencegahnya.
"Aletta mana" tanya Alvaro kepada Rika, Karin dan Salsa.
"tadi Aletta pulang duluan, dia sakit dijemput supirnya" Karin menjawab mewakili teman-temannya. Tanpa pamit, Alvaro berlari meninggalkan ketiga teman pacarnya dan menuju parkiran motor.
"yeuu tu orang apa jelangkung si. Datang gada yang undang, eh pergi gada kata makasinya" Salsa menggerutu sembari menatap kepergian Alvaro.
"bukannya jelangkung itu yang datang tak dijemput, pulang tak diantar ya" Rika bertanya dengan muka kebingungannya.
"dah cabut, keburu dicari nyokap" Karin menimpali kebingungan Rika.
Disisi lain, Alvaro tengah melajukan motornya dengan kecepatan tinggi. Ia khawatir akan kondisi Aletta. Perasaannya kalut, ia tidak bisa berpikir jernih. Yang ada dipikirannya saat ini ialah, cepat sampai di rumah sang kekasih. Namun sangat disayangkan, ditengah perjalannya menuju rumah Aletta, ia tidak sengaja menabrak bapak-bapak penjual asongan yang sedang menjajakan jualannya di pinggir jalan.
'bruk'
Suara motor Alvaro yang menghantam aspal. Ia terjatuh terpental cukup jauh. Luka-luka disekujur tubuhnya tidak dirasakannya. Ia bergegas bangun dan memastikan orang yang ditabrak itu baik-baik saja. Sejak ia jatuh beberapa saat lalu, banyak orang yang mengerumuni bapak penjual asongan. Alvaro masuk dalam kerumunan dan membelah lingkaran orang yang mengerumuni korban. Syukurlah, korban tidak ada luka.Yang menjadi permasalah disini ialah jualan korban yang berhamburan dan banyak yang rusak.
"ganti rugi lu, jualan bapaknya ancur begitu" timpal warga yang lain. Dan memicu keributan dengan suara warga yang meneriaki Alvaro.
"sudah-sudah, lebih baik kita ngomongnya pelan-pelan. Gaperlu pake nada tinggi gitu. Lagian ini mas nya ga kabur" ucap bapak-bapak berpeci hitam berusaha menenangkan warga.
"mas namanya siapa" sambung pak Asep, bapak berpeci hitam.
"Alvaro pak" jawab Alvaro sembari menjabat tangan pak Asep.
"jadi gimana nak Alvaro, bapak ga minta yang aneh-aneh. Bapak cuma minta nak Alvaro ganti dagangan bapak ini aja" tutur pak Asep dengan sopan.
"saya ganti pak semua kerugiannya. Saya juga bakalan kasi uang buat bapaknya mungkin ke tukang urut atau buat kebutuhan sehari-hari" jawab Alvaro dengan tegas.
"tapi pak, saya cuma ada uang cash dua juta. Disekitar sini ada ATM ga pak, buat nambahin uangnya" tanya Alvaro.
"tidak perlu ke ATM nak Alvaro, dua juta saja sudah sangat lebih dari cukup" balas pak Asep.
"yang bener pak, ini gapapa saya ambil uang sebentar dulu buat tambahannya" Alvaro menawarkan untuk kembali mengambil uang.
"tidak apa-apa nak, itu saja uangnya sudah sangat cukup. Kamu ada mau bertanggung jawab saja, saya sudah sangat senang" kini bapak penjual asongan itu angkat bicara.
"yasudah, sekarang serah terima uangnya ya. Masalahnya udah selesai, dan terima kasih nak Alvaro sudah menajdi orang yang bertanggung jawab" pak Asep menjabat tangan Alvaro dan sedikit menepuk pundaknya. Setelah selesai urusannya, Alvaro kembali menaiki motornya yang sudah diparkirkan oleh warga setempat. Ia tak lupa mengucapkan terima kasih dan berpamitan kepada warga yang ada disana.
Alvaro kembali melajuka motornya menuju kediaman Aletta, ia kembali memikirkan kondisi pacarnya itu.