
"Huwaaa Bundaaaa"
Teriakan Aletta membuat lelaki yang tengah menunggunya di depan pintu toilet tersebut dengan refleks membekap mulutnya.
"Mmmmm" Aletta sedikit memberontak melepas bekapan tangan Alvaro di mulutnya. Alvaro menatap tajam Aletta.
"Kamu apaan sih, ngagetin orang aja" omel Aletta. Padahal didalam hatinya sudah ketar-ketir melihat tatapan tajam Alvaro.
"Ngapain" tanya Alvaro singkat
"Ngapain apa si" ujar Aletta pura-pura kebingungan.
"Ngapain makan pedas" tanya Alvaro lagi.
"Y-ya mau aja, orang pedes tuh enak" balas Aletta gugup.
"Bagus ya, jadi sakit perut tuh enak ya" Alvaro mempertajam tatapannya.
Alleta hanya diam menunduk sembaru meremas ujung seragamnya.
"Nanti kalau sakit perut jangan nangis ya. Nanti aku beliin lagi seblak, ama boncabe level 30. Biar sekalian" sarkas Alvaro dengan tegas.
Mendengar penuturan Alvaro, Aletta ingin tenggelam dan menghilang saja rasanya. Ia memberanikan diri untuk menatap manik mata Alvaro yang menyiratkan kemarahan.
"Maaf, janji ga ngulangin lagi" ujar Aletta dengan mata yang mulai berkaca-kaca.
"Udah, jangan nangis. Masuk kelas sekarang" suruh Alvaro.
Dengan perasaan hati yang masih tak karuan, Aletta mengikuti ucapan Alvaro untuk kembali ke dalam kelas.
Sama dengan Aletta, Alvaro juga berjalan menuju kelas yang berlawanan arah dengan kelas Aletta.
...****************...
Di dalam kelas 12 IPS 1 tampak kelima sahabat Alvaro duduk berkerumun di satu tempat. Atensi mereka yang tengah kumpul bermain game online tersebut teralihkan ketika Alvaro baru saja memasuki ruang kelas.
"Kemana aja lu Var, ngilang tiba-tiba kek doi" tanya Damian dengan nada tengil khasnya.
Alvaro tak menanggapi pertanyaan Damian, ia lebih memilih ke tempat duduknya. Di tempat duduknya, Alvaro menelungkupkan tangannya bersiap menuju alam mimpi. Ya begitulah kerjaan seorang Alvaro Gavienendra di sekolah tiap harinya.
Seorang Alvaro tidak tidur di kelas sehari saja itu merupakan sebuah anugrah. Tapi walaupun ia selalu tidur di kelas, jangan salah Alvaro merupakan salah satu siswa berprestasi di sekolahnya. Ia sering mewakili sekolahnya untuk olimpiade baik tingkat daerah, sampai tingkat nasional.
Terlihat melalui pintu, tampak seorang berjalan menuju kelas 12 ips 1. Dia adalah bu Irene, guru yang terkenal killer dan mengajar Matematika. Pelajaran yang semua siswa SMA Harapan Bangsa bahkan seluruh Indonesia selalu hindari.
"Selamat siang anak-anak" ujar bu Irene memasuki kelas tersebut. Siswa siswi yang tadinya berkumpul ngobrol bersama temannya kini berhamburan kembali ke tempat mereka duduk masing-masing.
"Siang bu" jawab mereka serentak.
Alvaro yang sedari tadi sudah tertidur, tidak ada tanda pergerakan sedikit pun. Ia tidak merasa terganggu dengan suara bising dari temannya yang berhamburan kembalu ke tempat duduk. Sampai-sampai, bu Irene beranjak dari depan menuju meja Alvaro.
"Ekhem" bu Irene sengaja berdeham agak keras. Namun nihil, masih tidak ada tanda-tanda Alvaro akan bangun. "Bagus ya Alvaro, kamu ini kalau ga tidur di kelas ga afdol ya" omel bu Irene sembari menarik telinga Alvaro.
Alvaro yang merasa tidurnya terganggu, mengangkat kepalanya dan menatap malas bu Irene.
"Kamu bisa tidak jangan tidur di kelas Alvaro" ujar bu Irene marah sembari tangannya berkacak pinggang.
"Stttt ibu bisa diem ga" balas Alvaro. Temannya yang mendengar balasan dari Alvaro merasa bangga, ada juga yang merasa takut karena Alvaro sudah berani sekali dengan guru killer tersebut.
"Alvaro Gavienendra Hasan! Keluar kamu dari kelas saya. Jangan ikut kelas saya untuk dua minggu kedepan!!" Murka bu Irene kepada Alvaro.
Tanpa mengucapkan sepatah kata pun, Alvaro langsung berjalan keluar dari kelas tersebut. Melihat Alvaro keluar dari kelas dengan santainya, bu Irene kembali dibuat cengo oleh muridnya uang satu ini.
"Dasar, anak gada sopan santun. Siapa lagi yang mau menyusul Alvaro keluar. Silahkan!" Ujar bu Irene.
Mendengar perkataan dari guru mereka tersebut sahabatnya Damian, Bimo, Ricko, Reno dan Erick ikut keluar menyusul Alvaro.
"Wiih bu, ibu tau aja saya paling seneng kalau disuruh keluar" timpal Damian sebelum keluar dari kelas.
"Damiannnn awas ya kamu" geram Bu Irene melihat Damian yang berlari meninggalkan kelas tersebut.
...****************...
Alvaro kini tengah menenangkan dirinya di atas rooftop SMA Harapan Bangsa. Tempat itu merupakan tempat favorit Alvaro. Angin yang berhembus dari segala penjuru arah dapat menenangkan pemikiran seorang Alvaro.
Tidak lama mendapat ketenangan yang ia sukai, sahabatnya datang dengan rusuh merusak ketenangan Alvaro.
"Sabi kali sebat dulu kita" ujar Ricko sembari memperagakan gaya merokok.
"Sabilah, gue ada nih" timpal Reno mengeluarkan sebungkus rokok dari kantung celananya. Mereka semua mengambil rokok satu persatu kecuali Alvaro. Bukannya tidak mau, Alvaro hanya tidak ingin membahayakan orang sekitarnya saja.
...****************...
Tidak terasa, jam kini sudah menunjukkan pukul 14.00. Semua siswa terlihat sudah merapihkan meja merka dan bersiap untuk pulang. Lain halnya dengan Aletta, ia tampak sedikit pucat menahan rasa sakit.
"Queen, lo sakit? Muka lo pucet banget" tanya Rika khawatir.
"Nggak, gue cuma sakit perut doang" balas Aletta lemas.
"Gue panggilin Alvaro yaa, biar lo ga perlu jalan ke warung bu Surti" tawar Salsa sama khawatirnya.
"Udah gausah gue kuat jalan kok. Kalian pulang aja duluan" tolak Aletta.
"Apaan si lo Queen, muka lo tuh pucet banget pake segala kuat segala" omel Karin yang dari tadi melihatnya.
"Yaudah, yaudah tapi tunggu sekolah sepi dulu ya sebentar baru panggilin Varo" tukas Aletta dengan nada lemas khas orang sakit.
Karin, Salsa dan juga Rika kini tengah duduk menemani Aletta menunggu Alvaro. Menjelang 20 menit mereka menunggu hp Aletta bergetar menandakan panggilan masuk.
'Dimana'
'Di kelas, kmu masih nunggu?'
'Tunggu'
'A-aku lag-'
'Tutt...'
Baru saja Aletta ingin memberitahu Alvaro, sambungan telepon itu justru mati. "Tunggh aja, Alvaro pasti kesini" ujar Rika menenangkan Aletta yang tanpak gusar.
Benar saja, tak lama dari ucapan Rika tadi, kini Alvaro sudah berada di depan pintu kelas 12 IPA 2 kelas Aletta dan sahabatnya. Alvaro berjalan menuju tempat Aletta duduk dan meletakkan punggubg tangannya di kening sang kekasih.
"Kenapa?"tanya Alvaro mengernyitkan sebelah alisnya.
"Sakit, perutnya" cicit Aletta.
"Hmmm" balas Alvaro dingin sembari menarik tangan Aletta keluar kelas.
"Al, stop nanti kalau ada yang lihat gimana. Ini masih di sekolah" ujar Aletta sembari berusaha melepaskan cekalan tangan kekar Alvaro.
"Semua udah pulang" jawab Alvaro dingin.
Pandangan Alvaro mengarah lurus kedepan, menatap tajam objek di depan matanya. Alvaro menuntun Aletta menuju parkiran dan mengantarnya pulang.
Mengenai sahabat Aletta, setelah kedatangan Alvaro mereka semua pulang dengan kendaraan mereka masing-masing.
...****************...
Sesampainya di rumah Aletta, Alvaro turun meninggalkan Aletta yang masih di atas motor. Melihat hal tersebut Aletta semakin takut, masalah begadang saja belum selesai. Ditambah lagi masalah baru.
"Huft...." Aletta menghela nafas panjanh kemudian menuruni motor Alvaro.
"Eh nak Alvaro, Queennya mana?" Tanya Reni Bundanya Aletta.
"Diluar" jawab Alvaro sekenanya.
'Pasti ada masalah nih kalau kaya gini' batin Reni
Reni melihat Aletta yang nampak pucat dan lemas memasuki kediamannya. Aletta berhampur ke pelukan bundanya yang tengah duduk santai di ruang keluarga bersama Alvaro.
"Eh, eh anak bunda kenapa? Kok lemes gini. Kamu sakit?" Tanya Reni khawatir dengan keadaan putrinya.
"Bundaaaaa perut Queen sakit hiks" adu Aletta dengan isak tangis yang sedari pagi ia tahan.
"Makan bakso aja lagi. Entar aku beliin boncabe jadi campurnya" sarkas Alvaro menatapnya sengit.
"Kamu makan pedes-pedes ya? Kan bunda udah bilang, kamu jangan kaman yang pedes-pedes sayang. Kamu punya sakit maag!" Omel Reni menatap Aletta garang.
"Ih bunda, jangan marah. Tadi Varo juga marah-marah sama Queen. Masa bunda juga marah si" rajuk Aletta dengan memajukan bibirnya.
"Yaudah sana ganti baju. Turun makan siang, minum obat terus tidur. Gada nonton drama korea Queen" perintah bundanya. Dengan langkah gontainya, Queen dengan malas menuruti perintah bundanya tersebut. Sementara Alvaro, dia kini tengah asik dengan dunia gamenya.
Di kamar Aletta, ia terlihat mendumel dengan kata-kata yang ditujukkan kepada kekasih, Alvaro Gavienendra Hasan yang sudah melaporkannya kepada bundanya.
"Awas aja lu, gue gamau ngomong sama lo" ujar Aletta sembari menunjuk foto Alvaro yang berada di meja rias miliknya.
"Mati kek lo, dari tadi diemin gue mulu"
"Sekarang cepuin gue ke bunda"
Dan segala kata-kata makian ia tunjukkan ke foto pacarnya tersebut.
Tidak jauh dari meja rias tempat Aletta mendumal, terlihat Alvaro yang tengah menahan senyum melihat tingkah konyol sang kekasih. Ia tidak tersinggung di kata-katai sepeti itu oleh Aletta. Justru Alvaro merasa Aletta begitu lucu ketika mendumal sepeti itu.
"Udah ngedumelnya?" Tanya Alvaro dari arah belakang.
"E-eh, kok kamu bisa ada disini sih" heran Aletta.
"Ditungguin dari tadi di meja makan malah asik ngedumel sendiri" jelas Alvaro.
Mendengar ucapan Alvaro tersebut, membuat Aletta merasa malu.
"Emm kamu udah lama disana? Kamu denger semua omongan aku?" Tanya Aletta menggigit bibir bawahnya.
"Hmm, denger semua kok" Ujar Alvaro dengan senyuman jahilnya. Aletta yang merasa malu kini menubruk dada bisang Alvaro yang masih mengenakan seragam tersebut. Ia menyembunyikan wajahnya yang merah padam menahan maluny.
"Loh, kok disembunyiin si. Coba mana lihat, mukanya kok merah kayak tomat. Lucu banget" goda Alvaro membuat Aletta semakin mengeratkan pelukannya.
"Ih jangan gitu, maluuuu" rengek Aletta ddngan suara yang teredam dada kekar Alvaro.
"Makaknya sini, liatin dulu mukanya. Jangan di sembunyiin sayang" Alvaro mencoba menjauhkan kepala Aletta dari dadanya.
"Coba sini mana, aku mau liat muka kamu. Tadi aja ngata-ngatain aku sekarang malah malu. Gimana sih yang, yang" ujar Alvaro sembari terkekeh melihat tingkah kekasihnya yang menurutnya itu lucuu.
"Yaudah yuk, kita turun. Bunda dah nunggu di meja makan tuh" ajak Alvaro kepada Aletta.
...----------------...
......................
...To Be Continue...
Thank you buat teman-teman yang udah mau luangin waktu kalian buat baca cerita aku 🥰🥰